KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
30


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part30


Suasana haru menyelimuti keluarga besar Wijaya dan Rahardian. Cucu pertama mereka telah lahir. Tidak hentinya bayi mungil itu menjadi rebutan untuk mereka pandang.


Saat ini mereka semua keluar dan membiarkan sepasang suami-istri itu di dalam. Apalagi Aya ingin menyusui bayi mereka.


“Sungguh tampan,” puji Aya kepada putranya.


Ya, anak pertama mereka adalah laki-laki. Begitu tampan dan putih. Matanya bulat lucu dan terlihat sekali Ken mewarisi ketampanannya kepada sang putra.


Membuat Aya merasa ini tidak adil karena putranya hampir tidak memiliki kemiripan dengannya kecuali kelopak matanya.


“Dia mirip kamu banget, Ken,” ujar Aya tanpa mengalihkan tatapannya dari putranya. Sungguh bayi kecil itu menghipnotisnya.


“Tentu karena aku yang buat,” ujar Ken.


“Kan aku juga. Kok, Adek miripnya kamu saja,” ujarnya mengembungkan pipi.


“Namanya juga aku yang sering kerja keras,” ucap Ken bangga.


Ken memainkan tangan putranya. Terlihat begitu lucu saat telunjuknya dipegang erat. Membuat bibir Ken terangkat. Sementara Aya, mengelus pipi putranya yang sehalus bulu ayam.


Ia teramat bahagia karena sudah menjadi seorang Ibu. Rumah tangganya telah lengkap. Ia bersyukur akan hal itu.


“Namanya siapa?” tanya Aya kepada suaminya.


“Kalau dia cewek ingin aku berikan nama Kenaya. Gabungan dari nama kita, tetapi Adek cowok. Maka namanya—“ Aya menatap suaminya dengan mata polosnya. Seolah menunggu pengumuman.


Ken tersenyum geli, “Namanya  Alden Atma Rahardian.”


Nama yang Ken pilihkan untuk putranya adalah Alden Atma Rahardian. Alden sendiri masih gabungan nama mereka. Alya dan Ken.


Bibir Aya merekah. Ia menyukai nama putranya. Akhirnya setelah menempuh debat nama yang cukup panjang dari era 90-an sampai era 20-an.


Terlihat Alden terlelap dengan damai. Aya memberikan putranya kepada perawat setelah mencium pipi putranya bergantian. Ken pun melakukan hal yang sama.


***


Setelah tinggal hampir seminggu di rumah sakit. Aya kembali ke rumahnya. Suasana rumahnya sangat ramai.


Apalagi kehebohan mereka untuk Adek. Sangat menjadi-jadi. Belum lima menit digendong Arin, Dewi sudah minta. Para lelaki tak mau kalah dengan istrinya. Mereka berebutan sampai pecah tangis putra Ken.


“Oek ... eok ....” Ken menghela napas. Ia mengambil putranya dan memberikan pada istrinya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


Terpaksa Dewi dan Arin ke kamar Alden. Mereka antusiasi menyiapkannya. Sementara Maya ikut membantu juga dengan membuka box perlengkapan bayi.


“Hehehe, wajar, dong, Ken. Namanya cucu pertama,” ujar Aya kepada suaminya. Ken tersenyum tipis.


“Iya, Cuma kasihan saja. Waktunya tidur malah jadi rebutan,” ujar Ken. Tidak bosan ia menatap wajah putranya.


Akhirnya ia memiliki putra yang menggemaskan. Tidak tahu berapa menggemaskannya jika sudah dewasa. Semoga saja kepolosan istrinya tidak menurun.

__ADS_1


***


Ken belajar menjadi Ayah yang sigap. Memperhatikan istrinya yang membersihkan putra mereka kala pipis atau BAB.


Bahkan pria ini, ketika pergi ke kantor, tidak sabar ingin pulang. Ia masih menunggu 40 hari agar putranya dapat melihat.


Beberapa kali ia juga mengajak Alden bicara walau bayi itu tidak paham. Hanya saja bibirnya kadang tersenyum sendiri.


“Kamu belum berangkat, Ken ... eum Mas,” ujarnya gelagapan. Masih belum terbiasa dengan panggilan barunya untuk suaminya.


Panggilannya berbuah saat Arin dan Dewi menegurnya. Apalagi ia sudah menjadi seorang Ibu. Tidak baik memanggil nama suaminya langsung dengan nama.


Ken tidak mempermasalahkan sebenarnya jika Aya langsung memanggil namanya. Akan tetapi, ia menurut saja kalau itu jalan menuju kebenaran dan kebaikan.


Ia pun tidak memanggil nama Aya, meski kadang tetap saja mereka berdua kadang lupa. Namanya manusia pasti bisa khilaf. Apalagi kebiasaan mereka berdua sejak dulu saling memanggil nama.


“Masih mau main sama Adek,” ujar Ken lesu. Ia menggesekkan hidungnya dengan hidung mungil putranya.


“Nanti pas pulang lagi,” ujar Aya dan mendekati suaminya. Ia menarik Ken menghadap ke arahnya. Lalu, tangannya terulur memasangkan dasi.


“Ingat istri dan anak di rumah. Jangan jelalatan. Jika rumput tetangga lebih hijau. Maka burung tetangga pun lebih berkicau,” ujarnya membuat Ken langsung menarik hidungnya.


“Enghhhh! Keennnnn!” teriaknya.


“Oekkk ... oekkk ....” Ken langsung menoleh. Aya meringis. Bisa-bisanya ia teriak saat ada putranya. Pasti anaknya terkejut.


“Cup ... cup ... maafkan Bunda, Sayang,” ujar Aya mencoba menenangkan putranya.


Bayi mungil itu akhirnya diam. Ia memegang tangan Aya dan mengisapnya.


***


Aya menatap putranya terlelap. Tidak terganggu dengan usapan lembut ibunya. Sesekali ia tersenyum dalam tidurnya. Membuat Aya bertanya-tanya dalam hati, apakah putranya sedang bermimpi?


Senyuman Alden sangat memikat. Mungkin kelak ia menjadi sosok idaman seperti Ayahnya.


“Assalamualaikum,” sapa Maya. Kepalanya menyembul di balik pintu.


“Masuk, May,” ujar Aya.


Maya menghampiri keponakannya. Bolehkan ia menganggap Adek sebagai keponakan? Mengingat ia diangkat sebagai putri dari keluarga Rahardian.


“Ih jadi benar namanya Alden bukan Hartono?” tanya Maya.


“Iya, keren, ‘kan?” tanya Aya. Maya hanya memutar matanya.


“Kerenan juga Hartono. Kebayang kalau besar Adek dipanggil Ton, uhhh apalagi di sekolahnya Ono, lucu banget. Ahhh kiyowo,” ujar Maya sudah membayangkan Alden sekolah.


“Ngaco kamu. Nanti, kalau sudah menikah kamu kasih nama anakmu Hartono kalau cewek Hartini,” kesal Aya.


“Iyalah. Tunggu saja nanti kalau aku nikah pokoknya anakku harus Hartono,” ujar Maya penuh tekad. Sungguh kasihan sekali kelak yang menjadi suaminya.


“Itu, sih, mau kamu. Kalau anak kamu dipanggil Tono bagaimana?” tanya Aya membuat Maya mencibir.

__ADS_1


“Hartono pokoknya ambang cowok perkasa nan gagah,” tandasnya.


“Semoga jodohmu Mr. Arland. Biar anakmu namanya setengah zaman dahulu kala dan zaman milineal. Hartono Sammuel,” ucap Aya menggabungkan nama Hartono dengan nama Mr. Arland.


“Amit-amit. Jelek banget sih, doanya, Kak,” kesal Maya.


“Sudah, ah. Nanti Adek kebangun lagi,” ujar Aya. Ia ikut berbaring di samping putranya.


***


Aya sedang menimang-nimang putranya. Mertuanya dan Ibunya baru saja pulang. Ia hanya menanti kepulangan Ken.


Ckelek.


Pintu kamar terbuka. Terlihat Ken datang dengan wajah semeringahnya. Setidaknya rasa lelahnya terbayar setelah pulang melihat istri dan anaknya.


“Aku mandi dulu,” ujarnya. Ia tidak mau habis beraktivitas di luar dan langsung menyentuh putranya.


Sangat berisiko karena banyak debu dan badannya berkeringat. Kulit bayi pun sangat sensitif. Jadi, sebaiknya ia mandi dulu.


“Uh, Adek ganteng banget,” puji Ken. Ia sudah selesai mandi dan meminta agar ia yang menimang putranya.


Aya memberikannya dengan hati-hati. Terlihat sekali Ken bahagia. Ia ikut bahagia karena buah hati mereka sangat disayang suaminya.


Tiba-tiba wajah Aya murung. Coba saja ia bisa memiliki anak kembar. Pasti yang cewek mewarisi wajahnya. Bukan ia tidak bersyukur cowok. Hanya saja ia ingin cewek juga.


“Kenapa?” tanya Ken. Ia menyadari wajah murung istrinya.


“Nanti semoga Allah berikan kita anak lagi. Aku berharap kalau cewek dia wajahnya sama kayak aku,” ujarnya.


“Aamiin. Jangan sedih, dong. Insha’Allah, kita buat proejek baru lagi,” ujar Ken membuat Aya tersenyum lebar. Lalu, mereka terkikik geli.


“Meneruskan leluhur?” canda Aya dan Ken mengangguk.


“Kalau cewek namanya Kenaya?” tanyanya. Ia mengingat ucapan suaminya di rumah sakit.


“Iya,” sahut Ken.


“Aku maunya ada Kimnya biar kek cewek Korea begitu,” ujar Aya. Ken membuang napas.


“Janganlah, Sayang,” tolak Ken halus.


“Ya sudah. Projek ini tidak bisa dilanjutkan karena tidak memenuhi persyaratan kerja sama kita. Aku tahu kamu sangat tahu tentang menjalin kerja sama yang baik dan bagaimana jika clien kecewa,” ujar Aya kesal. Ken ingin menjitak istrinya sayangnya ada putra mereka yang ia timang.


“Sini Adek,” ujar Aya dan mengambil putranya.


“Yank,” rengek Ken.


“Yankkan saja dirimu, Mas!”Marah karena patnernya tidak mau.


***


TBC

__ADS_1


Ciee sudah ada namanya. Keponakan online namanya Alden Atma Rahardian, tetap saja mereka nyaman panggil Adek. Sudah kebiasan. Di next part pasti ada sesekali kisah Arland dan Maya aku selipkan, hehehe.


Pelukan dulu Tante Online 😂


__ADS_2