KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
41


__ADS_3

Sejak tadi wanita itu hanya tersenyum manis. Tidak ada wajah bersalah di wajahnya. Hanya ada tatapan menggoda kepada adik iparnya.


Mungkin sekarang waktunya ia membalas kejahilan adik iparnya. Apalagi di sini ada mertuanya. Ia mulai terkikik geli sendiri.


Ken yang melihat istrinya hanya menggelengkan kepala. Tahu pasti apa yang membuat istrinya tertawa tidak jelas.


“Ekhm, jadi Maya sama Mas Arland sekarang lebih suka bangun kesiangan?” tanya Aya membuat Maya menatapnya kesal.


Tian tertawa mendengar penuturan menantunya. Apalagi saat melihat wajah kesal putrinya. Beda dengan Arland yang tetap memasang wajah datarnya.


Di depan keluarga mereka Aya memanggil Arland dengan sebutan Mas Arland. Tahu sendiri Ken yang menegurnya. Biar Arland juga tidak merasa seperti orang asing di sini.


“Ma, Kak Aya suka banget ngejek,” adu Maya kepada Dewi.


“Kamu dulu juga suka memanfaatkan kepolosan kakakmu itu,” ujar Dewi membuat Aya memelet lidah ke arahnya.


“Ebruuuuuu ... ebrruuuuu ....” Alden membuat bibirnya berbunyi saat melihat ibunya. Seolah ia membantu ibunya mengejek Maya.


“Adek saja tahu,” ujar Aya.


“Sudah ... enggak baik berantem di depan makanan,” ujar Ken.


“Kalau bukan di depan makanan berarti boleh?” tanya Aya dengan wajah tanpa dosanya.


Melihat Ken ingin menjitaknya, Tian menarik menantunya. Ia tertawa melihat kelakuan Aya dan Ken yang tidak berubah. Dari kecil hingga mereka besar, tetap saja sama.


“Suka banget KDRT,” ejek Aya.


“Yuk, makan. Papa pimpin doa dulu,” ujar Dewi. Mereka berdoa sebelum makan.


***


Sudah dilanda rasa kebosanan di rumah, akhirnya Aya ikut suaminya ke kantor. Ia membawa putranya. Di sana terlihat sekretaris Ken.


Bibir Aya menyeringai. Masih ia ingat dengan jelas sekretaris Ken pernah melarangnya masuk dan memanggilnya dengan sebutan adek.


“Ekhm,” dehemnya. Ekor matanya melirik sekretaris Ken. Terlihat banyak karyawan yang terpaku pada Aya dan Alden.

__ADS_1


Apalagi terlihat senyum Ken yang mengembang tiap kali berinteraksi dengan istri dan anaknya. Mereka jadi iri dan sekaligus bahagia melihat atasan mereka yang jarang senyum, sekarang murah senyum.


“Masih kesal sama sekretaris Mas?” tanya Ken diangguki Aya.


“Kan, dia harus tahu kalau aku bukan adek-adek. Aku seorang Bunda,” ujarnya sambil mengedipkan mata membuat Ken tergelak tawa.


“Duduk di sofa dulu. Kalau ngantuk masuk ke kamar saja,” ujar Ken diangguki istrinya. Ia berjalan ke kursi kebesarannya.


Mulai menekuni berkas-berkas yang sering Aya sebut pelakor karena dapat menyita perhatian suaminya berjam-jam.


***


Kala senja mulai menyapa, Ken membereskan berkas-berkasnya. Ia masuk ke dalam kamar di ruangannya. Melihat putra dan istrinya terlelap.


Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Begitu damai dan polos wajah istrinya.


“Sayang,” panggil Ken lembut. Ia mulai menepuk pelan pipi istrinya.


Mata Aya mengerjap. Ia mengumpulkan nyawa sebelum menanya jam. Ia tidak sadar terlelap setelah menyusui Alden.


“Hoaam ... astagafirullah.” Aya bangkit dan menyandarkan wajahnya di dada suaminya. Dengan sabar Ken mengelus punggung istrinya.


“Iya,” jawab Aya pendek. Ia menarik diri dan mengikat rambutnya. Lalu, beralih menatap putranya.


“Aku gendong saja. Kamu bawakan tasku sama jasku saja,” ujar Ken. Ia mengulung lengannya samoai sebatas siku. Dasinya ia longgarkan dengan kancing atas baju terbuka.


Dengan hati-hati ia menggendong putranya. Aya mengekori suaminya. Ken sempat bertegur sama dengan sekretarisnya. Sebelum mereka pulang.


***


Sudah hampir dua bulan Maya dan Arland belum pulang. Aya sedikit rindu kepada Maya. Pasalnya setiap hari pasti adik iparnya akan datang curhat.


Tapi ia tetap bahagia mendengar jika Maya dan Arland sudah akur. Memulai rumah tangga mereka tanpa rasa canggung.


“Kenapa?” tanya Ken.


“Kangen Maya,” ujar Aya membuat dahi Ken menyerit. Tumben, pikirnya.

__ADS_1


Saat ini mereka di belakang rumah. Melihat Alden yang mulai lancar berdiri karena sudah dua bulan berarti Alden sudah 1 tahun 1 bulan.


Begitu lucu saat ia mulai berjalan dengan pantat bontotnya akibat popok yang ia pakai. Hanya saja Aya mulai kewalahan karena putranya suka sekali keluar.


Pasti merengek-rengek minta di bawa keluar. Apalagi saat ia shalat, pasti putranya datang di depannya. Menarik kerudungnya.


Bahkan ia akan menangis saat tidak dihiraukan oleh Aya. Namun, tetap saja Aya melanjutkan shalatnya karena ia tahu keutamaan shalat.


“Nda ... aaa,” ujar Alden mulai menarik baju Aya. Aya langsung menggendongnya. Matanya mengikuti arah tunjuk putranya.


“Mau apa, Sayang?” tanya Aya. Ia juga masih sulit memahami perkataan Alden yang hanya satu kata dan itu pun tidak jelas.


“Nanti, Sayang. Sekarang kita masuk ke dalam. Mataharinya sudah tidak bagus,” ujar Ken menimpali. Ia meraih putranya.


Alden mulai meronta sebelum tangisnya pecah. Ia ingin bermain jauh, tetapi Aya dan Ken tidak mengizinkannya.


Takut karena Alden suka sekali menggigit apa saja yang diberikan. Seperti mainannya pasti digigit. Apalagi ponsel Aya kalau ia menyimpannya di kasur dan putranya langsung menggigitnya.


“Huwaa ....” Ia masih meronta minta dilepaskan. Menunjuk pintu kamar saat ia di bawa ke kamar.


“Duh, Adek, nanti main lagi, Sayang. Sore kita keluar lagi. Sudah panas sekali,” bujuk Aya.


Mata putranya sudah sembap sekali. Hidungnya memerah dan tangannya masih menunjuk pintu. Jalan pintas yang Aya ambil adalah berbaring dan menarik putranya.


Ia menepuk-nepuk pelan bokong putranya. Sambil tangannya mulai mencari video kartun. Ia memberikan kepada putranya.


Tangis Alden berhenti. Ia melihat video itu. Bibirnya mulai meracau. Mengira jika video yang ditontonnya mengajaknya mengobrol.


“Aaaa,” racaunya. Aya menghela napas. Ketika putra Rahardian mengamuk rasanya ingin meledakkan kepala karena tangisnya tidak mau berhenti.


“Aaa,” ejek Ken.


Aya menatap suaminya dengan datar. Ken tertawa, “Mau cucu,” ujar Ken sambil menunjuk dada istrinya. Ia mengikuti putranya. Langsung saja dilempar batal oleh Aya.


"Dasar mesum!"


“Hahahaha.” Ia tertawa melihat ekspresi istrinya yang kesal bercampur malu.

__ADS_1


***


TBC.


__ADS_2