KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
45


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part45


Sejak pingsan suaminya menjadi overprotektif. Mau ke kamar mandi saja ia mau menggendongnya. Makan saja harus di kamar.


Awalnya ia membiarkan saja karena memang kondisinya lemah. Walau saat ini masih lemah. Akan tetapi, ia rutin memakan obatnya sesuai anjuran dokter.


Belum lagi suaminya mendadak cuti. Padahal sudah berulang kali ia melarangnya. Ada mama dan mertuanya yang datang menginap untuk merawatnya.


Namun, suaminya tidak mau dibantah. Ia mengatakan bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah. Untuk urusan kampus, ia mengatakan akan resing dari pekerjaannya.


“Mas, kamu serius mau resing dari kampus?” tanya Aya berulang kali.


“Iya. Aku mau resing dari sana. Cukup kerja di kantor saja,” jawab Ken. Salah satu alasan dia berhenti mengajar adalah istrinya. Ia tidak mau banyak waktu di luar dan tidak ada waktu untuk istrinya.


Baginya pekerjaan bisa dicari, tetapi waktu bersama istri dan anaknya tidak akan bisa dicari dan diputar ulang kembali.


Apa artinya uang dan pekerjaan jika anak dan istri merasa diabaikan? Lagian ia cukup kaya. Berhenti mengajar tidak akan mempengaruhi apa-apa.


Melihat istrinya menatapnya sedih, Ken mendekat. “Bukan karena kamu sakit, aku memang mau berhenti. Kamu tahu ‘kan kalau mengajar adalah hobiku. Aku sudah cukup selama ini menjalaninya,” ujar Ken.


“Iya dan terima kasih untuk semua,” ujar Aya. Ken mengangguk.


***


Arland dan Maya datang ke rumah Aya setelah mereka habis cek up di rumah sakit. Terlihat wajah bahagianya.


Maya duduk di tepi kasur Aya sedangkan Ken dan Arland ke depan mengobrol dan membawa Alden. Meninggalkan Aya dan Maya di sana.


“Bagaimana kandungan istri kamu?” tanya Ken memulai percakapan.


“Sehat. Cuma Maya keseringan marah enggak jelas. Belum hamil saja dia bar-bar, tambah hamil makin bar-bar,” ujar Arland disambut gelak tawa Ken.


Untung saja istrinya tidak bar-bar, tetapi ngidamnya itu, loh. Ken dibuat kewalahan dan malu. Apalagi mengingat dia menyanyi di depan mahasiswanya sendiri.


“Tapi, pasti ada enaknya, ‘kan,” goda Ken dan bibir Arland merekah. Mereka sama-sama tertawa saat pemikiran mereka sama. Dasar jantang otak plus.


“Yah ... aaa,” racau Alden. Ia mulai menunjuk bolanya. Ken segera memberinya dan membuat putranya kembali bermain.


Maya datang dan mengantarkan kopi untuk mereka berdua. Disusul dengan Aya yang berjalan lambat. Ken menarik istrinya duduk.


“Kan aku bilang di kamar saja. Turun tangga lagi,” omel Ken. Aya memutar bola matanya kesal.


“Aku sudah mendingan. Aku malah pengap kalau di kamar terus,” ujarnya. Ken mengangguk saat melihat wajah Aya cemberut.


“Uhhh gak sabar tunggu Hartono keluar,” ujar Aya membuat Arland menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Memangnya benaran mau namanya Hartono?” tanya Ken kaget. Ia kira hanya main-main saja saat mereka mengatakannya.


“Iyalah, Bang. Memangnya kenapa, sih? Hartono sudah bagus banget,” sewot Maya.


“Ya kali nanti anak kamu gede bakal malu,” ujar Ken menatap adiknya jengkel. Kasihan nanti keponakannya jadi bahan ejekan.


“Kok protes, sih, Mas?” tanya Aya. Ia menatap suaminya memicing, “Kan yang buat Mas Arland sama Maya. Hasil getaran mereka berdua.”


Arland tersedak dengan kopinya. Ia mengusap tenggorokannya yang terasa sakit. Matanya menatap datar Aya yang terlihat biasa-biasa saja.


“Nanti, kalau aku hamil nama anakku Kim Kenaya,” ujarnya senang.


“Cuma di Indonesia, Bro. Ada nama calon anaknya, bikinnya belakangan,” ujar Ken membuat Arland mengangguk setuju.


“Kalau cewek namanya Hartini?” tanya Ken.


“Enggak tahu. Maunya aku begitu, tetapi Mas Arland membuat kesepakatan kalau anak kami selanjutnya dia yang berikan nama,” ujar Maya tidak rela.


“Demi Hartono, May. Berkorban sedikit tidak apa-apa,” ujar Aya.


“Kenapa, sih, May suka banget sama nama Hartono? Memangnya ada apa dengan nama Hartono?” tanya Ken.


“Kenapa dengan Hartono?” tanya Arland menimpali pertanyaan Ken.


“Hoh, kenapa Hartono? Jangan-jangan ... mantan kamu, ya?” tanya Aya membuat Maya ingin menjitaknya.


“Kamu enggak ada mantan karena enggak laku, ‘kan?” tanya Aya membuat Maya kesal. Selalu saja kesal kalau bicara dengan Aya, tetapi hebatnya kenapa dia suka sekali mengajak Aya bicara.


“Idih, banyak yang naksir. Cuma menolak. Maaf hati ini bukan persimpangan,” ujar Maya sombong.


Aya mencibirnya, “Kayak aku, dong, May. Gini-gini dapat kayak Ken.”


“Itu, sih karena kamu yang lamar Bang Ken. Kebelet mau ke KUA,” ujar Maya.


“Tapi, Ken juga kebelet, kok. Iya, ‘kan, Sayang?” Mata Aya memelas menatap Ken.


“Iya, aku yang kebelet sampai dipingit saja mau belajar matematika,” sindir Ken membuat Maya dan Arland terbahak-bahak.


Aya memukul pelan Ken. Sebelum Ken memeluknya. Mereka mulai bicara tentang nostalgia tentang masa putih abu-abu mereka.


***


Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir. Hanya beraktivitas seperti biasa. Tanpa sadar waktu terus berlalu.


Yang tidak pernah menunggu adalah waktu dan yang paling dikejar adalah waktu juga. Waktu bisa dikatakan adalah segalanya.


Manfaatkan waktu sebaik-baiknya karena setiap waktu yang dilewati hanya akan mampu diingat tanpa bisa kembali ke masa itu.

__ADS_1


Minggu lalu, Arlan dan Maya resmi pindah rumah. Mereka membeli tanah kosong di dekat rumah Ken. Membangun rumah megah di sana.


Mereka sengaja membuat tembok penghubung. Jadi, Maya dan Aya sering bertemu. Aya juga merasa berdekatan dengan Maya membuat pekerjaannya ringan.


Adik iparnya selalu mengambil Alden. Jadi, ia bisa mengurus dirinya seperti semula.


“Nda ... aaa!” racau Alden. Ia berada di rumah Maya.


“Tunggu Bunda kamu, Sayang. Duh, perutku kok ngilu-ngilu gini,” ujar Maya.


Ia duduk di karpet tempat Alden bermain. Usia kandungannya sudah memasuki bulan 9. Hanya menunggu hari untuk melahirkan.


“Aaaa ....” Terlihat Alden begitu ceria saat bermain.


Maya menekan pelan perutnya dan mulai mengusapnya. Ternyata hamil besar begini membuat ia tidak bisa beraktivitas banyak.


“Mam,” ujar Alden kepada Maya.


“Ih anak Aya gin-gini ternyata bisa bahasa Inggris. Panggil Mam segala,” ujar Maya takjub. Dia menyetujui permintaan Arland yang memanggil mereka ‘Mommy dan Daddy’ hanya itu yang bisa Arland lakukan untuk menyelamatkan anaknya kelak dari ejekan teman-temannya.


“Mam!” racau Alden.


“Iya, Adek. Itu ada mobil-mobilan,” ujar Maya.


Mata Alden sudah berkaca-kaca, “Mam.”


Maya mulai panik saat mendengar Alden menangis. “Duh, padahal gue nyaut. Adek mau apa, Sayang?” tanya Maya mendekati Alden.


“Duh, repot, deh. Bunting besar gini jadi susah gerak,” gerutunya.


“Mam,” ujar Alden.


Aya tergopoh-gopoh masuk. Baru ia membuka pintu rumah Maya sudah mendengar tangis putranya.


“Nda ... huwaaa mam,” ujar Alden.


“Astaga anak Kak Aya dari tadi manggil aku sudah nyaut, loh,” ujar Maya. Jangan sampai ia dikira tidak memperhatikan Alden.


“Maya anak aku itu bukan manggil. Dia mau makan,” kesal Aya. Maya melongo.


Melihat Aya duduk dan mengambil biskuit di atas meja. Segera ia memberikan kepada putranya. Tangis Alden langsung berhenti.


“Ndusmu Mam. Ternyata mamam. Ini , nih, risiko punya laki Bule jadinya ngira semua sekitar barubah jadi Inggris,” batin Maya.


***


TBC.

__ADS_1


__ADS_2