
Menahan segala kesakitan yang ia rasakan akibat tendangan maut istrinya. Ia berusaha bangkit dan berbaring di kasur. Entah, baginya tenaga Maya seperti tenaga kuda Nil.
Melihat suaminya dibanjiri keringat dingin, Maya menjadi panik sendiri. Ia naik ke kasur dan mendekati suaminya.
“Le ... Bule ... ya Ahjsuhhi!” panggil Maya.
Arland membuka matanya kesa, “Tanggung jawab.”
“Tanggung jawab apanya?” tanya Maya jutek.
“Sakit, arghhhh!” Maya menjadi terkejut.
Sepertinya suaminya benar-benar kesakitan. Mau tak mau matanya langsung tertuju ke sana. Pipinya terbakar. Ia segera membuang pandangannya.
Apalagi otaknya yang sangat konek dengan masa begituan. Beda dengan Aya yang hanya suka vidio idol musik. Sementara Maya suka nonton drakor yang kadang ratingnya kelewat batas.
Meski ia sering kali mengingatkan diri tentang tidak boleh karena umurnya belum cukup. Namun, teman-temannya yang suka K-pop pun membuat ia mati penasaran.
Dia tidak polos, apalagi memang masalah pelajaran IPA. Ia paling menyimak mata pelajaran tentang cara reproduksi manusia.
“Bisa enggak jangan bar-bar,” ujar Arland kesal.
“Dengarnya Ahjussi, saya tidak akan menendangnya kalau Ahjussi tidak menyentuh saya,” sewot Maya.
“Ck, dengar, ya. Saya sama sekali tidak berpikir mesum seperti kamu. Saya tidak tertarik dengan tubuh datarmu,” ejek Arland membuat Maya langsung memukulnya bertubi-tubi dengan bantal.
“Muka Ahjussi yang datar!” kesal Maya.
Ia meninggalkan kasur dan berjalan ke kamar mandi dengan wajah marahnya. Setiap kali ada saja yang membuatnya bertengkar dengan suaminya.
Arland bangkit dan meringis. Baru sehari Maya jadi istrinya hidupnya sudah berubah. Wanita itu terlalu sagar untuk ukuran remaja.
“Minta dirukyah,” gumam Arland.
***
Beberapa kali wanita yang mengikat asal rambutnya tertawa. Mendengar cerita pengantin baru di depannya.
Ekspresinya benar-benar lucu ketika marah. Apalagi adegan saat ia tidak sengaja menendang masa depan suaminya.
“Pokoknya kalau sama dia bawaannya kesal,” ujarnya menggebu-gebu.
Ken yang mendengarnya hanya menatap adiknya datar. Beda dengan istrinya yang merasa terhibur dengan cerita Maya.
“Tapi, kamu sudah periksa, ‘kan?” tanya Aya polos.
“Apanya?” tanya Maya.
“Periksa a—“ Ken langsung membekap mulut istrinya. Bahaya baginya. Kata yang bisa saja membuatnya panas dingin.
__ADS_1
“Sayang, language, please. Ada Adek,” tegur Ken. Aya menyengir.
Maya langsung paham dan memutar matanya. Tidak mungkin dia melihatnya. Melihat wajah suaminya saja dia dongkol.
“Tapi, Mr. Arland enggak kenapa-napa, ‘kan?” tanya Aya.
“Iya,” jawab Maya cuek.
“Syukurlah, hampir saja Hartono tidak ada di dunia ini,” gumamnya.
***
Situasi sangat tidak mendukung bagi Maya. Saat ia pulang dari rumah Ken malah hujan deras. Untungnya ia sudah tiba di Apartemen suaminya.
Matanya hanya menatap piringnya. Makan tanpa suara bersama Arland. Arland masih kesal dengan Maya karena menendangnya. Maya sendiri kesal karena dikatakan bertubuh tripleks.
Walau saja tubuhnya begitu, tetapi ia tidak suka dihina. Baginya suaminya saja yang terlalu kelebihan asupan di Inggris.
Setelah makan, Arland ke ruang kerjanya. Maya membereskan piring kotor mereka dan mencucinya.
“Pernikahan apa ini?” batin Maya berbisik. Sesaat Maya tertegun. Bisikan yang menghantam ulu hatinya.
Jika terus begini bersama Arland, besar kemungkinan mereka akan pisah. Bayangan rumah tangga orang tuanya terlintas.
Setiap saat orang tuanya bertengkar. Tanpa peduli ada dia yang menyaksikannya. Hanya ada kepuasan bagi mereka saat saling menghina.
Hati Maya tercabik-cabik. Setetes air mata tumpah di pelupuk matanya. Andai dia masih sendiri. Ia akan menumpahkan tangisnya pada Ken.
Apalagi di group anak OSIS. Banyak pembahasan di sana. Mengingat akan ada acara persembahan di hari kelulusan mereka.
Maya masih belajar hingga larut malam. Bahkan saat Arland keluar ia hanya melirik sekilas dan belajar kembali.
Materi-materi yang ia dapatkan membuat ia pusing. Ada banyak soal dan dia tidak paham. Mana jaringannya tiba-tiba jelek karena hujan.
“Arghhh. Besok mau dikumpul dan gue baru menyelesaikan beberapa soal!” batin Maya frustrasi.
Mungkin otaknya bisa berpikir jika pertanyaannya essay. Hanya jawaban sesuai nalarnya. Akan tetapi, ini pilihan ganda yang banyak jawaban mengecoh.
“Enggak mungkin gue minta tolong sama Ahjussi,” batinnya.
Betapa kesalnya ia melihat jaringannya berubah menjadi E. Harapannya pupus saat suara gemuruh terdengar nyaring. Menghantam keras tanah dan membuat gemercik suara hujan semakin deras.
Derttt ....
[Besok kumpul tugas kalian. Ibu sudah memberikan waktu 5 hari mengerjakannya. Bagi yang tidak mengerjakan keluar dari kelas Ibu.]
Mata Maya melemas membacanya. Gurunya mengirim pesan di group kelas mereka. Apakah harapannya? Ingin menyahut seperti lain, jaringannya kembali hilang.
“Ya Allah, jaringan ini seperti ada dan tiada. Kadang datang dan hilang seperti doi,” batin Maya. Mulai sikap bucinnya kambuh.
__ADS_1
Arland menatap Maya dengan tenang. Lalu, ia melirik jam dinding di kamarnya. Sudah Jam 00:07.
Tidak ada tanda-tanda Maya akan beranjak dari sana. Membuat Arland belum memejamkan matanya. Ia menghela napas.
Haruskah ia mengalah?
Saat ingin bertanya, ternyata Maya lebih dulu berbalik dan bertanya kepadanya, “A—apa Ahjussi sudah ngantuk?”
“Tidak,” jawab Arland.
“Em ... bisa bantu buat mengerjakan soal?” Maya merasa harga dirinya telah jatuh. Akan tetapi, sangat buruk hukuman yang akan ia dapat. Keluar dan guru yang melihat siswa di luar saat jam belajar akan membawanya ke WC. Demi Allah, WC sangat bau di sekolahnya. Terutama WC cowok.
Arland bangkit dan mendekati Maya. Ia menarik kursi dan duduk di dekat Maya. Matanya melihat soal-soal yang Maya belum kerjakan.
Maya menoleh. Wajahnya suaminya diterpa cahaya temaram lampu belajarnya. Sungguh tampan sekali. Apalagi memang blasteran.
Hidung mancung, rahang tegas, alis tebal dan ia baru sadar jika suaminya memiliki ginsul. Bagi Maya ini sangat tidak adil. Bukankah yang punya ginsul itu harus manis? Suaminya malah terlihat kejam dan dingin.
“Saya bisa membantumu.” Arland menoleh membuat Maya seketika menjadi salah tingkah. Dadanya berdebar tidak karuan.
“Ah, ya.” Maya merutuki sikapnya. Bisa-bisanya ia memuji pria di sampingnya.
“Ada syaratnya,” jawab Arland sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Tangannya ia lipat di depan dada.
“Apa?” tanya Maya kesal. Ia kira suaminya sudah bermurah hati membantunya ternyata ada persyaratan.
“Saya ingin tahu kenapa harus mencetak Hartono?” tanya Arland membuat Maya membulatkan matanya.
“Kak Aya hanya mengada-ngada,” jawabnya cepat.
“Tidak. Saya rasa kamu bisa baca ini.”
Arland menyodorkan ponselnya. Maya ingin mengubur hidup-hidup Aya.
Nyonya Rahardian.
[Mr. Arland, GWS.]
[Untuk?]
[Masa depan, Mr. Arland. Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa Mr. Akan tetapi, sebaiknya diperiksakan kepada Dokter. Takutnya Hartono tidak bisa jadi.]
[Hartono? Kenapa saya harus dihubungkan dengan Hartono?”
“Karena Hartonolah yang akan Anda cetak setiap setiap hari, Sir. Calon putra kebanggaan kalian.]
Maya menutup wajahnya. Malu sekali rasanya. Ia harus tahu kepolosan Aya sudah masuk fase oon.
***
__ADS_1
TBC.