
Dengan jelas ia masih bisa mendengar rintihan suaminya. Ingin rasanya Maya melabrak orang yang telah membuat suaminya dan dia terjebak di situasi sulit.
Ia mengangkat wajahnya yang sembap. Tangannya gemetar membuka tasnya. Mengambil gawainya dan mengirim pesan kepada Ibunya.
Ia tidak mungkin ke sana. Apalagi dalam keadaan menangis. Pasti selama ini alasan yang ia berikan ketahuan.
Dengan membaca basmalah, Maya bangkit. Ia membuka pintu kamar. Walau ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada suaminya.
Ceklek.
Mendengar suara pintu terbuka, Arland sontak bangun. Wajahnya semakin pucat. Bahkan ia sudah tidak mengenakan atasan.
Glek.
Maya meneguk ludahnya kasar. Namun tak urung kakinya tetap melangkah. Berusaha meyakinkan dirinya. Semoga keputusannya benar.
Melihat Arland hanya diam menatapnya. Maya memilin gamisnya. Lalu, kalimat itu meluncur begitu saja.
“Sa—saya ... ak—akan memberikan hakmu,” lirihnya.
Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Arland. Hanya suara napas yang terasa menyesakkan. Arland meraih tangan Maya.
“Saya tahu niatmu baik. Akan tetapi, saya tetap memandangmu sebagai wanita yang saya harus hormati,” ujar Arland di tengah menahan hawa nafsunya.
“Kamu adalah istriku. Apakah aku harus menuruti hawa nafsuku untuk tetap menuntaskannya, sementara kamu tidak menginginkannya?” Maya menunduk.
“6 bulan kita bersama. Tidak ada yang kita lakukan selain bertengkar setiap hari. Sering kali isak tangismu saya dengar di sepertigaan malam. Apakah saya harus bejat kepadamu saat rintihanmu terdengar memilukan?” Air mata Maya bercucuran. Menyadari setiap pertengkaran ia yang memulai.
Terlalu takut dengan pernikahannya. Takut jika Arland seperti papa kandungnya. Hanya menyakiti dan lepas tanggung jawab. Meninggalkannya seorang diri.
Maya tidak siap terluka. Dia berusaha menjaga jarak. Takut mencintai lelaki di hadapannya. Lelaki yang bertutur lembut. Tidak seperti biasanya.
“Sekarang keluarlah.” Maya mengangkat wajahnya. Senyum tulus ia lihat pertama kali dalam pernikahan mereka.
“Saya—“ Arland menarik tangannya. Memejamkan mata saat rasa sakitnya mulai hampir merenggut kesadarannya.
“Tidak mungkin kita melakukannya. Kamu tahu, saya mungkin akan lepas dari sakit ini. Akan tetapi, kamu yang akan merasa sakit. Melayani nafsuku dengan hati yang pasrah. Kamu seorang istri, bukan seorang *******,” ujar Arland membuat Maya menunduk.
Maya menghapus air matanya. Ia tertampar keras dengan ucapan suaminya. Bayangan setiap hari yang mereka lewati terlintas.
Arland yang memberinya uang dan dia yang menyiapkan Arland makanan, pakaian dan terpenting selalu izin.
Hanya saja mereka ada saja perdebatan. Apalagi saat ia ingin UN. Betapa ia melampiaskan segala emosinya kepada Arland.
Hinaan yang ia dapatkan lampiaskan juga kepada suaminya. Rasa takutnya ia lampiaskan. Semua ia lampiaskan.
Maya sungguh menyesal. Tidak membuka mata saat melihat laki-laki di depannya bisa saja baik andai ia tidak memancing pertengkaran.
“Mas,” panggil Maya pertama kalinya. Dadanya terasa dihantam batu besar. Mengingat dengan jelas, ia mudah memanggil orang dengan ‘mas’ sementara suaminya sendiri? Ia bahkan menghinanya.
“Aku sungguh rela hiks,” isaknya, “jangan buat aku berdosa. Hiks ... aku tahu selama ini aku selalu menunjukkan rasa tidak sukaku hiks. Aku tidak benar-benar membencimu hiks.”
Arland hanya diam mematung. Sebelum ia memberanikan diri mendekap istrinya. Hangat. Terasa begitu hangat saat ia memeluknya.
“Hiks aku hanya takut, bahkan sangat takut. Hiks ... aku anak yang tidak diingkan hiks. Pernikahan kita juga hanya berdasar perjodohan hikss ... aku takut,” isak Maya. Tangannya memeluk suaminya erat.
Ia menumpahkan segala isi hatinya. Tentang perasaan yang telah menghantuinya. Lalu, ia menarik dirinya. Menggumamkan kata maaf kepada suaminya.
“Keluarlah,” pinta Arland membuat Maya merasa hatinya retak. Ia menunduk. Apakah kesalahannya tidak bisa dimaafkan? Ia tersenyum miris.
Dagunya diangkat oleh Arland. Matanya terkunci dengan tatapan Arland. Terlihat di sana ada dambaan.
“Aku sangat menginginkanmu sekarang. Namun, aku tidak adakan melakukannya hanya karena nafsu,” ujarnya. Ia menghapus air mata Maya.
“Bisa berakhir nanti. Kalau begitu biar aku di luar. Kamu tidur di kamar. Kunci pintunya,” ujar Arland.
Maya mengangguk. Hatinya terasa hangat kembali. Ia sepertinya harus mengurangi pikiran negatifnya.
Bahkan malam ini mereka tidak sadar telah membuka hati satu sama lain. Mengubah nama panggilan yang biasanya kaku lebih santai.
Bibir keduanya tertarik ke atas sebelum pintu tertutup rapat. Maya menguncinya. Meski ia tidak yakin akan tidur karena memikirkan suaminya.
***
Seorang gadis berdiri di depan dengan raut wajah kesal dan pasrah. Semalam ia tidak tidur sampai dini hari. Akhirnya ia telat ke kampus. Padahal ia mahasiswa baru.
Jangan harap laki-laki di depannya akan menolongnya. Yang ada dia di suruh keluar. Tidak mengikuti kelasnya dan pasti tidak ada nilainya.
Matanya memelas seolah mengatakan, “Maya mohon, Bang.”
“Keluar!” Mahasiwa di dalam kelas bergerak gelisah dan duduk tegak mendengar suara dosennya begitu lantang.
Mereka tidak menyangka jika ketegasan yang dimiliki Kenan Rahardian berlaku pada adiknya sendiri. Tidak peduli dia siapa.
Dengan pasrah Maya keluar. Ia tahu di kampus ia harus memandang kakaknya sebagai dosen. Bisa saja ia memandang kakaknya sebagai kakak, tetapi tidak untuk Ken. Dia akan memandangnya sebagai mahasiswi yang telat.
__ADS_1
Tidak ada toleransi untuk kelasnya Ken. Telat langsung diusir. Tidak akan ada cela untuk memohon.
Di tengah rasa dongkolnya, Maya berpapasan dengan suaminya. Mendadak ia menjadi canggung dan malu.
“Tidak ada kelas?” tanya Arland. Maya tidak menyangka suaminya bertanya.
“Aku telat,” ujarnya. Lalu, ia menatap kesal suaminya.
“Kamu tidak membangunkanku,” ujarnya.
“Aku kira tidak ada jadwal kuliah,” ujar Arland.
Maya sudah tidak tahu harus berkata apa. Mereka masih canggung apalagi ini pertamanya mengobrol tanpa bertengkar.
Arland mengajak Maya ke ruangannya. Membuat wanita ini merasakan dagdigdug. Setiba di sana, suaminya mengunci pintu.
Mereka duduk cukup berjarak. Berulang kali Maya menggeram dalam hati. Tidak ada topik yang pas untuk mereka angkat.
Ia mengeluarkan buku-bukunya. Sampai kertas tercecer dari bukunya. Arland mengambilnya dan melihat.
“Sini!” pinta Maya. Ia berusaha merebutnya. Namun, Arland berdiri dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Om!” panggil Maya kesal.
“Nilaimu anjlok, nilai C tidak boleh keseringan,” ujar Arland membuat Maya menatapnya jengkel. Salahkan rumah tangga mereka. Jadinya, ia tidak bisa konsentrasi belajar.
“Kamu ternyata sangat bodoh,” ujar Arland santai membuat Maya memukulnya.
Arland mengambil buku-buku Maya membuat gadis itu berteriak kesal. Arland memutari kursi menghindari Maya.
“Hahaaha Hartono. Jadi, kamu ternyata sangat ingin punya anak namanya Hartono?” goda Arland melihat coret-coretan Maya.
“Ish! Balikin!” Maya begitu kesal. Namun, Arland terus gencar menggodanya. Masih berlari karena Maya terus mengejarnya.
Bruk!
“Hahaha ******! Syukurin Hartono!” ledek Maya melihat suaminya tersandung meja.
***
TBC.
Santai jangan buru-buru ada Hartono di antara Om Bule Kesasar dan Ukthy Bar-bar. Kayaknya yang kebelet ingin ada Hartono bukan Maya lagi, tetapi tante onlinenya Adek.
#KENAYA (Ken dan Aya)
Dengan jelas ia masih bisa mendengar rintihan suaminya. Ingin rasanya Maya melabrak orang yang telah membuat suaminya dan dia terjebak di situasi sulit.
Ia mengangkat wajahnya yang sembap. Tangannya gemetar membuka tasnya. Mengambil gawainya dan mengirim pesan kepada Ibunya.
Ia tidak mungkin ke sana. Apalagi dalam keadaan menangis. Pasti selama ini alasan yang ia berikan ketahuan.
Dengan membaca basmalah, Maya bangkit. Ia membuka pintu kamar. Walau ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada suaminya.
Ceklek.
Mendengar suara pintu terbuka, Arland sontak bangun. Wajahnya semakin pucat. Bahkan ia sudah tidak mengenakan atasan.
Glek.
Maya meneguk ludahnya kasar. Namun tak urung kakinya tetap melangkah. Berusaha meyakinkan dirinya. Semoga keputusannya benar.
Melihat Arland hanya diam menatapnya. Maya memilin gamisnya. Lalu, kalimat itu meluncur begitu saja.
“Sa—saya ... ak—akan memberikan hakmu,” lirihnya.
Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Arland. Hanya suara napas yang terasa menyesakkan. Arland meraih tangan Maya.
“Saya tahu niatmu baik. Akan tetapi, saya tetap memandangmu sebagai wanita yang saya harus hormati,” ujar Arland di tengah menahan hawa nafsunya.
“Kamu adalah istriku. Apakah aku harus menuruti hawa nafsuku untuk tetap menuntaskannya, sementara kamu tidak menginginkannya?” Maya menunduk.
“6 bulan kita bersama. Tidak ada yang kita lakukan selain bertengkar setiap hari. Sering kali isak tangismu saya dengar di sepertigaan malam. Apakah saya harus bejat kepadamu saat rintihanmu terdengar memilukan?” Air mata Maya bercucuran. Menyadari setiap pertengkaran ia yang memulai.
Terlalu takut dengan pernikahannya. Takut jika Arland seperti papa kandungnya. Hanya menyakiti dan lepas tanggung jawab. Meninggalkannya seorang diri.
Maya tidak siap terluka. Dia berusaha menjaga jarak. Takut mencintai lelaki di hadapannya. Lelaki yang bertutur lembut. Tidak seperti biasanya.
“Sekarang keluarlah.” Maya mengangkat wajahnya. Senyum tulus ia lihat pertama kali dalam pernikahan mereka.
“Saya—“ Arland menarik tangannya. Memejamkan mata saat rasa sakitnya mulai hampir merenggut kesadarannya.
“Tidak mungkin kita melakukannya. Kamu tahu, saya mungkin akan lepas dari sakit ini. Akan tetapi, kamu yang akan merasa sakit. Melayani nafsuku dengan hati yang pasrah. Kamu seorang istri, bukan seorang *******,” ujar Arland membuat Maya menunduk.
Maya menghapus air matanya. Ia tertampar keras dengan ucapan suaminya. Bayangan setiap hari yang mereka lewati terlintas.
__ADS_1
Arland yang memberinya uang dan dia yang menyiapkan Arland makanan, pakaian dan terpenting selalu izin.
Hanya saja mereka ada saja perdebatan. Apalagi saat ia ingin UN. Betapa ia melampiaskan segala emosinya kepada Arland.
Hinaan yang ia dapatkan lampiaskan juga kepada suaminya. Rasa takutnya ia lampiaskan. Semua ia lampiaskan.
Maya sungguh menyesal. Tidak membuka mata saat melihat laki-laki di depannya bisa saja baik andai ia tidak memancing pertengkaran.
“Mas,” panggil Maya pertama kalinya. Dadanya terasa dihantam batu besar. Mengingat dengan jelas, ia mudah memanggil orang dengan ‘mas’ sementara suaminya sendiri? Ia bahkan menghinanya.
“Aku sungguh rela hiks,” isaknya, “jangan buat aku berdosa. Hiks ... aku tahu selama ini aku selalu menunjukkan rasa tidak sukaku hiks. Aku tidak benar-benar membencimu hiks.”
Arland hanya diam mematung. Sebelum ia memberanikan diri mendekap istrinya. Hangat. Terasa begitu hangat saat ia memeluknya.
“Hiks aku hanya takut, bahkan sangat takut. Hiks ... aku anak yang tidak diingkan hiks. Pernikahan kita juga hanya berdasar perjodohan hikss ... aku takut,” isak Maya. Tangannya memeluk suaminya erat.
Ia menumpahkan segala isi hatinya. Tentang perasaan yang telah menghantuinya. Lalu, ia menarik dirinya. Menggumamkan kata maaf kepada suaminya.
“Keluarlah,” pinta Arland membuat Maya merasa hatinya retak. Ia menunduk. Apakah kesalahannya tidak bisa dimaafkan? Ia tersenyum miris.
Dagunya diangkat oleh Arland. Matanya terkunci dengan tatapan Arland. Terlihat di sana ada dambaan.
“Aku sangat menginginkanmu sekarang. Namun, aku tidak adakan melakukannya hanya karena nafsu,” ujarnya. Ia menghapus air mata Maya.
“Bisa berakhir nanti. Kalau begitu biar aku di luar. Kamu tidur di kamar. Kunci pintunya,” ujar Arland.
Maya mengangguk. Hatinya terasa hangat kembali. Ia sepertinya harus mengurangi pikiran negatifnya.
Bahkan malam ini mereka tidak sadar telah membuka hati satu sama lain. Mengubah nama panggilan yang biasanya kaku lebih santai.
Bibir keduanya tertarik ke atas sebelum pintu tertutup rapat. Maya menguncinya. Meski ia tidak yakin akan tidur karena memikirkan suaminya.
***
Seorang gadis berdiri di depan dengan raut wajah kesal dan pasrah. Semalam ia tidak tidur sampai dini hari. Akhirnya ia telat ke kampus. Padahal ia mahasiswa baru.
Jangan harap laki-laki di depannya akan menolongnya. Yang ada dia di suruh keluar. Tidak mengikuti kelasnya dan pasti tidak ada nilainya.
Matanya memelas seolah mengatakan, “Maya mohon, Bang.”
“Keluar!” Mahasiwa di dalam kelas bergerak gelisah dan duduk tegak mendengar suara dosennya begitu lantang.
Mereka tidak menyangka jika ketegasan yang dimiliki Kenan Rahardian berlaku pada adiknya sendiri. Tidak peduli dia siapa.
Dengan pasrah Maya keluar. Ia tahu di kampus ia harus memandang kakaknya sebagai dosen. Bisa saja ia memandang kakaknya sebagai kakak, tetapi tidak untuk Ken. Dia akan memandangnya sebagai mahasiswi yang telat.
Tidak ada toleransi untuk kelasnya Ken. Telat langsung diusir. Tidak akan ada cela untuk memohon.
Di tengah rasa dongkolnya, Maya berpapasan dengan suaminya. Mendadak ia menjadi canggung dan malu.
“Tidak ada kelas?” tanya Arland. Maya tidak menyangka suaminya bertanya.
“Aku telat,” ujarnya. Lalu, ia menatap kesal suaminya.
“Kamu tidak membangunkanku,” ujarnya.
“Aku kira tidak ada jadwal kuliah,” ujar Arland.
Maya sudah tidak tahu harus berkata apa. Mereka masih canggung apalagi ini pertamanya mengobrol tanpa bertengkar.
Arland mengajak Maya ke ruangannya. Membuat wanita ini merasakan dagdigdug. Setiba di sana, suaminya mengunci pintu.
Mereka duduk cukup berjarak. Berulang kali Maya menggeram dalam hati. Tidak ada topik yang pas untuk mereka angkat.
Ia mengeluarkan buku-bukunya. Sampai kertas tercecer dari bukunya. Arland mengambilnya dan melihat.
“Sini!” pinta Maya. Ia berusaha merebutnya. Namun, Arland berdiri dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Om!” panggil Maya kesal.
“Nilaimu anjlok, nilai C tidak boleh keseringan,” ujar Arland membuat Maya menatapnya jengkel. Salahkan rumah tangga mereka. Jadinya, ia tidak bisa konsentrasi belajar.
“Kamu ternyata sangat bodoh,” ujar Arland santai membuat Maya memukulnya.
Arland mengambil buku-buku Maya membuat gadis itu berteriak kesal. Arland memutari kursi menghindari Maya.
“Hahaaha Hartono. Jadi, kamu ternyata sangat ingin punya anak namanya Hartono?” goda Arland melihat coret-coretan Maya.
“Ish! Balikin!” Maya begitu kesal. Namun, Arland terus gencar menggodanya. Masih berlari karena Maya terus mengejarnya.
Bruk!
“Hahaha ******! Azab Hartono itu!” ledek Maya melihat suaminya tersandung meja.
***
__ADS_1
TBC.