
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part24
Di dalam ruangan serba putih, sepasang suami-istri tengah duduk di hadapan wanita yang memakai jas putih. Senyum ramah menyambut kedatangan mereka.
“Ada keluhan?” tanya Dokter. Membuat Aya menatap Ken. Ia sudah berkeringat dingin.
Pagi-pagi suaminya mengajak ke rumah sakit. Aya kira suaminya mau memeriksa soal kesehatan karena muntah-muntah. Akan tetapi, ia malah berakhir di ruangan dokter kandungan.
“Ekhm, begini, Dok, saya mau istri saya diperiksa. Apakah dia hamil atau tidak,” ujar Ken.
“Baiklah. Silakan berbaring di atas bangkas. Saya akan memeriksa Anda,” ujar Dokter sambil mencari alatnya.
Aya beranjak bersama Ken. Tangannya menggenggam erat suaminya. Bagaimana jika negatif? Suaminya sudah terlihat berharap sekali. Takut mengecewakan Ken.
“Kapan terakhir telat datang bulan?” tanya Dokter Indah. Ia mulai memeriksa Aya sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
“Eum ... saya lupa, Dok,” cicitnya. Ia tidak ingat kapan ia terakhir datang bulan. Terlalu sibuk dengan kegiatannya.
Dokter tersenyum membuat Ken semakin berharap. “Selamat, ya, Pak Ken, istri Anda positif hamil,” ujarnya membuat pasutri ini dilanda rasa bahagia. Rona bahagia menghiasi wajah mereka. Ken sampai lupa tempat, ia mengecup kening istrinya. Tanda rasa bersyukur dan bahagia. Tak lupa ia ucapkan rasa terima kasih kepada Allah.
“Terima kasih, Sayang.” Aya mengangguk. Ia tidak tahu kapan bulir-bulir bening jatuh di pelupuk matanya. Ia sangat terharu. Akhirnya perjuangannya setiap malam berbuah hasil juga.
Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter sebelum pergi. Tidak sabar memberitahukan kabar membahagiakan ini kepada orang tua mereka.
Setiba di rumah, Ken memeluk erat istrinya. Menghunjaminya ciuman sampai Aya tertawa. Anugrah terindah di pernikahan mereka.
Mereke segera menelepon orang tuanya. Memberikan kabar bahagia itu. Mereka semua turut bahagia akan kehamilan Aya.
Bahkan merek mendapat banyak wejangan agar menghindari apa saja yang bisa membahayakan kehamilannya.
“Itu, denger, ‘kan kata mama. Kamu harus turuti semua keinginan aku karena bawaan Debay,” ujar Aya merasa menang. Semua keinginannya akan terkabulkan. Ken hanya mengangguk.
Ia akan menjadi suami dan ayah siaga untuk istri dan calon anak mereka. Menikmati perannya sebagai suami. Walau permintaan istrinya kadang aneh-aneh.
__ADS_1
Ia tidak mau anaknya ileran. Baik dan buruknya biarkan ia yang tanggung. Risiko bumil di dekatnya banyak tingkah.
“Sekarang buatkan aku kimchi,” ujarnya membuat Ken mengerutkan kening. Lalu, ia teringat dengan makanan khas Korea itu. Sontak Ken menatap datar istrinya.
“Ingat, Adek yang mau,” ujarnya dan tersenyum manis. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Mendorong pelan suaminya.
“Aku tidak tahu cara membuatnya,” ujar Ken sambil menahan tangan istrinya yang terus mendorongnya.
“Ada google. Google serba tahu.” Enteng sekali ucapannya. Ken tahu ada google bisa membagikan resepnya, tetapi ia yang tidak tahu cara masaknya walau ada step by step-nya.
“Beli saja, aku tidak tahu. Kamu mau Adek makan makanan yang cara buatannya hancur? Kasihan Adek kalau makan makanan entah kelebihan micin atau garam,” alibi Ken.
“Yahhh ... enggak mau, dong. Aku enggak mau Adek kelebihan micin. Dia harus jadi generasi milineal,” ujarnya terperangkap oleh akal-akal Ken. Ken mengulum senyum.
Akhirnya Ken memesankan istrinya makanan khas Korea. Tentu saja yang sudah berlabel halal. Ia tidak mau anaknya dan istrinya makan makanan yang tidak halal untuk agama mereka.
Meski Aya mencintai hal berbau Korea. Ia hanya menonton video bukan drakor. Ken pernah melarangnya dan ia menurut saja.
Aya sendiri duduk santai di ruang tamu. Kakinya ia luruskan. Tangannya sudah memegang es krim. Menunggu kepulangan suaminya sambil menikmati kartun Upin dan Ipin.
Saking asyiknya ia menonton. Ia tidak sadar suaminya sudah datang. Ken hanya menggelengkan kepala mendengar istrinya.
“Jangan sampai kayak Mei-mei. Semuanya suka. Nanti, aku enggak dikasih jatah dia juga suka,” batin Ken.
“Makan, Sayang,” ujarnya sambil meletakkan semangkuk Kimchi. Iler Aya hampir menetes. Ia baru saja mau melahapnya, tetapi Ken menahannya.
“Baca doa,” ujarnya. Aya menyengir. Ia segera membaca doa dan memakannya. Terlihat sekali ia lahap. Belum hamil saja ia sudah doyang makan, apalagi berbadan dua begini. Nafsu makannya semakin banyak.
Setelah Aya makan, ia bersandar di dada suaminya. Sementara tangan Ken sesekali mengelus perut istrinya. Mereka mencari tentang kehamilan di internet.
Salah satu judul artikel menarik perhatian Ken. Ia senyum-senyum sendiri. Kalau ini bagaikan diberi bongkahan emas.
“Ternyata kalau wanita hamil. Dia menjadi agresif,” batinnya.
“Aku enggak agresif,” sanggah Aya saat ikut membacanya. Pipinya sudah merona merah. Bayangan malam saat ia minta suaminya mengambilkan mangga terlintas.
__ADS_1
Ken tersenyum geli. Istrinya belakangan ini sok nolak. Pakai ancam segala, ujung-ujungnya minta tambah.
“Hm ... siapa, ya, tadi malam—“ Aya langsung memotong ucapan Ken. Bibirnya mengerucut.
“Kan bawaan Adek,” ujarnya memelas. Ken tidak tahan untuk tidak melepas tawanya.
“Hahaha, ternyata Adek yang mau, bukan Aya,” ujar Ken membuat Aya tersenyum kecil.
***
Sejak tadi Ken begitu fokus pada kertas-kertas di hadapannya. Ia sedang mengajar di kelas Aya. Memberikan mereka tugas.
Namun, ia merasa diawasi. Ken mengedarkan pandangannya. Biasanya tidak ada mahasiswanya yang berani main-main dan tidak serius. Mereka akan fokus ke buku paket masing-masing, seolah benar-benar menyukai buku.
Saat Atensinya bertemu dengan atensi istrinya. Ia menghela napas. Tatapan itu—tatapan yang menginginkan sesuatu. Ngidam apa istrinya di tengah pelajarannya?
Aya mengangkat gawainya. Bibirnya berbicara tanpa suara. Namun, Ken dapat menangkap maksud istrinya. Ia segera mengambil ponselnya.
Terlihat ada chat dari istrinya. Ken membulatkan matanya. Tidak percaya dengan keinginan istrinya. Ia langsung menggeleng.
Aya yang melihat suaminya menggeleng, langsung mengirim chat kembali.
[Please, Sayang. Maunya Adek.]
Senjata andalannya selain potongan jatah. Ken memejamkan mata. Bisa turun pamor tentang predikatnya menjadi dosen killer.
Keinginan istrinya membuat Ken ingin menjitak wanita itu. Namun, ia cukup tahu bahwa ia harus tanggung jawab karena ia yang membuat istrinya hamil.
“Ya Allah, Adek. Enggak ada apa Sayang keinginan kamu yang lain? Tega banget menyiksa Ayah kamu begini,” batin Ken.
Ia maju ke depan membuat semua mahasiswanya sontak menatap ke depan. Mereka kira ada penyampaian penting. Sampai mereka mati-matian menahan tawa.
***
Hayoo, kali ini Bumil ngidam apa?
__ADS_1
Selamat, ya KENAYA dan selamat kepada pembaca jadi calon tante, heheeh. Kira-kira Adek minta apa, ya?