
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part34
Setelah pulang dari rumah mertuanya. Aya dan Ken ke belakang rumah mereka. Masih pagi dan sinar matahari sangat baik untuk menjemur.
Mereka membiarkan Alden ikut berjemur juga. Bayi mereka cukup tenang. Matanya mengerjap lucu. Lengkap dengan tangan mungilnya yang ia isap.
Sesekali bibir Alden mereka saat melihat anggukan wajah ibunya. IA mulai meracau tidak jelas. Membuat Aya dan Ken semakin gencar mengajaknya bicara.
“Celuk bakkk!” Alden tersenyum membuat Ken tertawa. Kondisi Alden juga baik. Kata Dokter bobotnya sudah bagus.
Hanya saja ketika harus imunisasi, anak mereka pasti rewel dan deman. Akhirnya begadang menjaganya. Ketika Aya terlalu lelah dan tidak mendengarnya, maka Ken yang bangun.
“Sehat selalu jagoan Bunda,” ujar Aya.
“Aamiin.”
***
Saat ini Maya dan Arland di kosan Maya. Dia dipaksa oleh Dewi untuk mengambil barang-barangnya. Tidak begitu banyak karena Maya hanya membawa beberapa baju dan alat kebutuhan wanita lainnya.
Arland membantu Maya mengemasnya. Masih sama-sama diam membisu. Mereka seperti orang asing saja.
Arland mengangkat barang Maya. Membiarkan istrinya pamit kepada Ibu kosannya. Lalu, mereka ke Apartemen Arland.
Kesan pertama yang Maya dapat setelah sampai di sini adalah manly. Warna paduan antara hitam dan putih.
Perabotan lainnya tidak begitu banyak. Khas lelaki sekali. Di sini Maya bisa menebak, suaminya adalah pencinta miniatur Spiderman.
Di dalam kamar Arland pun sangat rapi. Hanya ada satu lemari dan juga meja yang sedikit panjang. Serta sofa panjang satu.
Di bagian dekat balkon Apartemen ada kasur memanjang muat dua orang. Langsung menghadap ke luar. Nyaman untuk bersantai kala sore menyapa.
Maya menyeret kopernya dan menyusun bajunya di lemari Arland. Sementara Arland entah ke mana. Mungkin di dapur.
Maya masih asyik menatap kamar Arland. Sampai ia ke meja yang mungkin sering dipakai Arland memeriksa tugas-tugas mahasiswanya.
Di sana terletak satu foto membuat Maya mengambilnya. Di sana foto Arland bersama kedua orang tuanya sedang tersenyum lebar ke kamera.
Di lehernya ada kalung mendali dan tangannya memegang sebuah piala besar. Dari pakaiannya, sepertinya ia mengikuti lomba basket.
__ADS_1
“Ekhm.” Maya langsung meletakkannya. Ia memutar bola matanya. Tidak mau menoleh sama sekali.
“Saya akan pindahkan beberapa buku saya. Kamu bisa memakai itu untuk belajar,” ujar Arland.
Maya hanya mengangguk. Ia menggeser tubuhnya saat Arland mendekat. Membiarkan suaminya mengambil beberapa buku tebal di sana.
Kalau Maya sendiri, ia bisa tergolong pintar. Akan tetapi, sedikit malas sehingga ia selalu merasa otaknya tidak mampu.
Maya mengikuti Arland lewat ekor matanya. Melihat punggung suaminya hilang di balik pintu coklat. Bisa ia tebak jika itu adalah ruang kerja Arland.
Ia menyusun buku-bukunya. Setelahnya, berbaring di kasur. Ngomong-ngomong ia belum pernah melepas hijab di depan Arland.
Bahkan mereka shalat sendiri-sendiri. Arland yang selalu keluar ke masjid, sedangkan Maya shalat di rumah.
***
“Enghhhh!” Maya melenguh. Ternyata ia jatuh tertidur. Suaminya sudah tidak ada. Ia melirik Jam. Mungkin suaminya di kampus.
Maya mengumpulkan nyawa sebelum ke kamar mandi untuk membuang hajatnya dan mencuci muka. Ia keluar dan mengambil gawainya.
Ahjussi.
Dia mengirim pesan kepada suaminya. Mereka memang bertukar nomor pada malam perjodohan. Itu juga karena permintaan orang tua mereka.
[Ya.]
“Ck, dasar Ahjussi. Keyboard hpnya mungkin sudah habis. Bilang hati-hati, kek,” sewot Maya.
Ia terpaksa memesan taksi karena motornya ada di rumah Ibunya. Belum sempat ia bawa ke sini. Di perjalanan Maya tidak sengaja melihat seorang pria terjatuh.
Di sini termasuk jalan sepi. Maya segera meminta sopir menepi dan tanpa sungkan dia langsung menghampirinya. Mata Maya membulat melihat pria itu terluka.
“Astagafirullah. Mas enggak apa-apa?” tanya Maya. Dia membantunya untuk dudu di pembatas jalan.
Untung motor pria yang ia tolong metic sampai ia tidak kesusahan. Matanya bergerak liar.
“Mas bisa bawa motornya?” tanya Maya. Laki-laki itu hanya sesekali meringis dan mengangguk.
Maya berdiri dan memberikan uang kepada sopir taksi. Ia akan di sini. Membiarkan sopir pergi.
Tangannya mencari sesuatu di tasnya. Sebuah lap warna biru. Ia menarik tangan pria itu. Membuat pria itu mematung saat tangan lembut itu melap tetesan darah di tangannya tanpa eskpresi jijik.
__ADS_1
“Kita harus ke rumah sakit,” ujar Maya panik.
“Tidak apa-apa. Aku akan pulang,” ujarnya.
Maya yang keras kepala tetap ingin membawanya ke rumah sakit. Pria itu mengalah dan membiarkan dia diboceng Maya.
Di rumah sakit, Maya tetap menunggunya. Betapa leganya Maya melihat pria yang ia tolong sudah diobati.
“Terima kasih,” ujarnya.
“Sama-sama,” jawab Maya. Mata pria itu jatuh pada hijab Maya. Terlihat noda darahnya di sana.
“Oh, ya. Kenalkan aku Angga Adijaya. Namamu siapa?” tanyanya.
“Maya, Mas,” jawab Maya.
***
Maya pulang menggunakan taksi. Ia mengantar Angga ke rumah pria itu. Namun, saat Angga memaksa ingin mengantarnya ia menolak.
Dia tidak jadi ke rumah Ken. Akhirny pulang ke Aparteman suaminya. Di sofa ternyata sudah ada Arland.
Maya mengucapkan salam begitu lirih. Arland tentu menjawabnya. Ekor matanya menangkap hijab istrinya.
Ingin rasanya Arland bertanya kenapa hijab Maya bisa ada darah, tetapi ia tahan. Namun, tubuh Arland malah bergerak. Tangannya menyentuh hijab Maya sampai gadis itu refleks terkejut.
Bruk!
“Awwww!” Maya membulatkan matanya. Dia tidak sengaja menendang masa depan yang bisa memberinya Hartono.
“Akhhh!” Maya meringis melihat Arland penuh kesakitan. Namun, ia tidak meminta maaf.
“Yak! Siapa suruh kamu mesum, Ahjussi!”
Arland yang kesakitan ditambah istrinya malah menyalahkannya menjadi kesal, “Arghhh ... Ukthy bar-bar! Hampir saja kamu hancurkan masa depanku!”
Maya meringis dalam hati, “Ya Allah, semoga baik-baik saja. Itu jalan hadirnya Hartono.”Biar bagaimana pun, iya tidak ingin bercerai.
***
TBC
__ADS_1