KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
33


__ADS_3

Setelah pertemuan Maya dengan Arland di cafe. Keduanya tidak pernah bertemu lagi. Maya sibuk ikut sekolah sore karena persiapan untuk UN.


Sementara Arland juga sibuk di kampusnya. Beda dengan Aya dan Ken. Mereka hanya sibuk mengurus bayi mungil mereka.


Apalagi kelucuan anak mereka mulai terlihat. Dari racauannya yang mereka tidak pahami saat Aya mengajaknya mengobrol.


“Ugh ... kenapa, Sayang?” Hanya pertanyaan begitu saja putranya sudah tertawa. Seolah ibunya baru saja melawak.


Putra mereka sudah akikah. Walau hanya mengundang kerabat dekat, tetapi tetap saja ramai. Apalagi cucu dari dua perusahaan terkenal.


“Jadi, bener seminggu lagi pernikahan Maya, Mas?” tanya Aya. Ia tidak ikut saat acara peresmian lamaran.


“Iya, Sayang.”


Ternyata kalau jodoh memang tidak akan ke mana-mana. Semoga saja rumah tangga Maya dan Arland bisa utuh.


***


Hari ini, di saat ia harus memikirkan ujian 3 bulan lagi yang ia hadapi, ia malah memikirkan pernikahannya. Pernikahan yang akan berlangsung hari ini.


Maya telah disulap begitu cantik. Kebaya putih membungkus tubuhnya dengan hijab yang tetap menutup mahkotanya. Tangannya pun telah diukir hena yang begitu cantik.


Ia duduk di tepi kasurnya. Saat ini jantungnya berdebar tidak karuan. Suara kerumunan orang terdengar jelas.


Mempelai penganti pria dan rombongannya telah datang. Maya semakin dilanda rasa cemas. Namun, doa dia berusaha meyakinkan diri karena pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya adalah jawaban dari doa sepertigaan malamnya.


Meski ia tidak bisa ungkiri jika ia sangat kesal dengan pria itu. Di tengah berperang dengan batinnya. Suara Arland terdengar jelas.


Begitu tegas dan lancar mengucapkan ijab kabul. “Saya terima nikah dan kawinnya  Maya Syakira Rahardian dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai,” ucap Arland.


“Bagaimana para saksi?”


“Sah!”


Maya mengusap air matanya. Hatinya bercampur aduk antara sedih dan bahagia. Bahagia karena dia sudah menikah. Sedihnya ia dan suaminya tidak bisa akur.


Muncul Dewi mengajak putrinya ke bawah. Betapa Maya menghipnotis semua tamu undangan. Mereka bercak kagum. Seolah melihat bidadari surga.

__ADS_1


Sampai di sana, Arland menoleh ke samping. Jelas sekali dia sama terpukaunya melihat kecantikan Maya.


Arland mengulur tangan membuat Maya meraihnya. Ia mencium takzim tangan suaminya. Sementara Arland mendaratkan kecupan di kening Maya.


Keduanya sama-sama menahan napas. Canggung dengan situasi mereka. Lalu, mereka melakukan rangkai acara selanjutnya.


***


Acara kedua dilanjut. Malam ini Maya menggunakan gaun panjang berwarna hitam. Sementara Arland memakai jas hitam dan kemeja putih.


Mereka sama-sama duduk di pelaminan. Tamu bergilir mengucapkan selamat kepada mereka. Tentu mereka akan tersenyum dan masing-masing mengaminkan dalam hati.


“Selamat, ya, May. Hihihi Adek pasti senang kalau Hartono cepat lahir,” bisik Aya saat memeluk Maya. Sontak pipi gadis itu merona malu.


“Ck,” decaknya membuat Ken menarik hidungnya.


“Bang Ken,” kesal Maya.


“Makanya kalem,” ujar Ken, “selamat, ya, May. Enggak terasa adeknya Abang sudah jadi istri.”


Mata maya memanas. Ia memeluk erat kakaknya. Laki-laki yang selalu menjadi sandaran untuknya. Kala ia senang maupun berduka.


Ken dan Aya mengucapkan selamat juga kepada Arland. Lalu, mereka turun ke bawah karena putra mereka titipkan dengan Tian.


Resepsi mereka megah. Apalagi semua hadir menyaksikan pernikahan penerus dari Sammuel Group.


***


Resepsi mereka telah berakhir. Maya ke kamarnya dengan hati berdebar tidak karuan. Ia menggigit kukunya saking cemasnya.


“Astaga ... harus ngapain gue,” batinnya.


“Enggak mungkin, ‘kan, gue sama dia  arghhhh. Huwaaa mau punya anak Hartono, tapi gak mau kalau bapaknya si Ahjussi,” jeritnya dalam hati.


Ia segera membersihkan diri. Untung Arland belum ke kamarnya. Setelah mandi, Maya sengaja memakai hijab. Lengkap dengan kaus kakinya.


Ia sedikit canggung apabila membuka hijab di depan orang lain selain keluarganya. Walau kini Arland bukan orang lain, melainkan suaminya. Halal untuk melihatnya.

__ADS_1


“Enggak mungkin, ‘kan gue minta dia tidur di sofa kayak di novel-novel yang gue baca. Bisa-bisa gue dilaknat malaikat,” ujarnya.


Ceklek.


Maya sontak menoleh saat terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Arland di sana. Masuk dengan wajah datarnya.


Tanpa banyak kata pria itu masuk ke kamar mandi. Sepertinya ia lelah juga. Apalagi tamu mereka banyak sekali.


Maya duduk di tepi kasurnya dengan cemas. Ia segera berbaring setelah mendengar suara air di dalam kamar mandi berhenti.


Ia berpura-pura tidur. Menutup matanya erat. Selimut ia tarik sampai dagunya. Ia merasa kasurnya ada tekanan. Namun, tidak ada tanda-tanda jika ada orang di dekatnya tidur.


Maya membuka matanya dan melihat Arland membawa bantal. Seolah tahu jika suaminya mau tidur di sofa. Maya bangun.


“Tidurlah di kasur,” ujarnya membuat Arland menoleh, “tidak apa-apa.”


Arland berbalik dan menyimpan bantalnya. Ia segera naik ke kasur. Bibirnya masih terkunci rapat.


“Ternyata pria ini sangat kaku dan pendiam,” batin Maya. Ia memutuskan berbaring dengan posisi terlentang seperti Arland.


Sengaja mereka berdua terlentang. Bisa saja sebenarnya keduanya saling membelakangi. Namun, tahu betul apa dosanya membelakangi suami atau pun istri.


Meski mereka sama-sama belum mencintai. Biarlah mereka mencoba saling menghargai. Walau kemungkinan itu sangat kecil.


***


Suasana di pagi hari di kediaman Rahardian sangat ramai. Apalagi ada anggota baru di keluarga mereka. Sejak tadi Maya diledek habis-habisan dengan Aya.


“Bagaimana sudah cetak Hartono?” tanyanya membuat Arland tersedak.


Sementara Ken menekan pangkal hidungnya. Istrinya tidak tahu tempat. Harusnya ia merahasiakan tentang keinginan Maya.


“Hartono?” batin Arland. Ia cukup tahu kata mencetak. Namun, kenapa dia harus mencetak Hartono? Maya sendiri ingin menenggelamkan dirinya.


***


TBC.

__ADS_1


Ternyata, Guys. Hartono masih jadi misteri.


__ADS_2