
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part38
Setelah insiden jatuh, suaminya tidak membuka suara. Mungkin malu atau kesal. Siapa suruh menggoda istrinya.
Terlihat Arland sudah lengkap. Mereka akan datang ke rumah orang tua Maya. Mengingat semalam mereka tidak jadi ke sana.
Arland sudah lengkap dengan baju kaus miliknya dan celana panjang berwarna hitam. Istrinya sendiri memakai gamis warna hitam.
“Enggak ada ketinggalan?” tanya Arland.
“Enggak ada, Mas,” jawab Maya seraya memasang sabuk pengamannya.
***
Sesampai di rumah orang tua Maya, terdengar suara begitu ramai. Rupanya ada Alden juga. Kehebohan yang diciptakan putra dari Ken.
Teriakannya begitu membahana. Jangan lupa semua mainannya ia lempar dan gigit.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Mereka menjawab serentak.
“Duh, ponakanku lagi ngapain?” tanya Maya dan mencium pipi gembul Alden. Ia ikut bermain dengan Alden sedangkan Arland bergabung di sofa.
Mereka terlibat obrolan seru. Berbeda dengan para wanita yang lebih memerhatikan tingkah Alden. Apalagi mereka berteriak sendiri melihat Alden berjalan cukup jauh sampai terjatuh kembali.
“Aaaaa ... aaaaa,” racau Alden.
“Adek gemesin banget, ingin bawa pulang,” ujar Maya.
“Enak saja. Makanya buat sendiri,” celutuk Ken. Tidak rela anaknya ingin dibawa pulang.
“Iya. Masa Adek mau kamu bawa. Kamu ‘kan bisa bikin sendiri,” timpal Aya membenarkan suaminya.
“Iya, katanya kemarin mau banget punya anak namanya Sukarto,” ujar Tian membuat Maya kesal kepada papanya.
“Hartono, Pa, bukan Sukarto,” ujar Maya membuat Tian mangut-mangut.
__ADS_1
“Nah, kapan Hartono lahir?” tanya Dewi kepada putrinya. Maya menghela napas. Pasti topik itu lagi dan lagi. Ia tidak tahu alasan apa lagi.
“Jangan bilang kamu sibuk belajar, mau fokus ke kampus. Aya saja menikah dan tidak menunda punya anak,” ujar Dewi saat tahu jika Arland pasti menyela.
Merasa terpojok, Maya menoleh kepada suaminya. Sebenarnya para orang tua tahu keduanya canggung. Tidak sekali pun mereka melihat Arland dan Maya bicara begitu dekat.
Awalnya mereka kira karena baru menikah. Wajar saja pengantin baru malu-malu. Namun, setelah setengah tahun, tidak ada yang berubah.
“Insa’Allah, Ma. Jika sudah dikasih,” ujar Arland membuat Maya tidak lepas menatapnya.
“Aamiin,” sahut Aya membuat mereka ikut mengaminkan.
***
“Kenapa mereka kaku sekali?” tanya Aya kepada suaminya saat tiba di kamar Ken.
“Mereka belum bisa beradaptasi, Sayang.” Ken membelai lembut surai istrinya. Mereka bisa berduaan begini jika putra mereka tidur.
Ken bisa melihat putranya memang menggemaskan. Namun, sepertinya putranya sebagai rivalnya saat ini.
Pasti fokus utama istrinya adalah putra mereka. Bahkan kadang ia menjadi tak kasat mata karena Alden memonopoli Aya.
Ada saja yang dilakukan putranya untuk menarik perhatian istrinya. Membuat Ken terpaksa mengalah.
“Mungkin.”
Mereka tidak bisa membayangkan ketika mereka bersama orang lain. Belum tentu mereka akan sebahagia ini. Terpenting belum tentu juga ada yang menerima kekurangan Aya seperti Ken. Hanya Ken yang menganggap kekurangan istrinya adalah kelebihannya.
“Kalau Adek umurnya 5 tahun kita bikin adek-adek Kim, ya, Mas,” ujar Aya membuat Ken tersenyum tipis.
“Iya,” sahut Ken pendek.
***
Sebenarnya rasa canggung masih menyelimuti kedua pasutri ini. Sejak masuk ke kamar mereka hanya diam.
“Soal Mama—“ Maya menatap suaminya yang hanya tersenyum simpul.
“Mau ibadah bersama?” Maya merasa jantungnya berdebar kencang. Pipinya bersemu merah. Dia merutuki dirinya.
__ADS_1
“Ak—aku—“ Maya panas dingin. Gugup bukan main. Apalagi saat Arland mendekatinya.
“Tidak apa-apa jika belum siap,” ujar Arland.
“Ingat, May. Menolak suami adalah hukumnya dosa,” batin Maya kepada dirinya sendiri.
“Maya siapa, kok, Mas,” ujarnya mantap.
Arland yang sudah berbaring, bangkit duduk. Menatap istrinya mencari kesungguhan. Terlihat memang Maya bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
Maya melepas hijabnya. Membiarkan mahkota yang ia bungkus dilihat suaminya. Rambut hitam panjang yang berkilau. Sungguh sangat cantik.
Arland begitu terpukau. Tangannya terulur menyentuh rambut istrinya. Bersyukur mendapat wanita yang menjaga keindahannya. Ia bersyukur akan hal itu.
“Entah, sejak kapan hati ini berlabuh untukmu. Aku melakukannya dengan cinta. Menyerahkan semua hanya untukmu, Mas. Entah adakah cinta dihatimu atau tidak ada, aku ikhlas,” batin Maya.
“Aku ingin sekali kamu tahu, ini bukan nafsu semata. Sejak kapan benih cinta ini tumbuh di hati? Aku tidak tahu. Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Aku melakukannya dengan cinta. Entah, kamu menerimanya dengan cinta atau hanya untuk menyempurnakan agamamu atau memenuhi pinta kedua orang tua kita,” batin Arland.
“Bismillahirahmanirahim.”
Maya membiarkan suaminya membawanya ke surga dunia. Melakukan hal yang telah lama mereka tunda.
***
Kicauan burung mulai terdengar. Membuat kedua kelopak mata wanita yang semalam menyerahkan mahkotanya kepada suaminya.
Betapa terkejutnya dia melihat suaminya. Apalagi posisi mereka saling memeluk. Otaknya belum mencerna kejadian semalam.
Brak!
“Aaaaaaaa! Apa yang Om Bule lakukan?!” tanya Maya panik. Dia kembali menendang suaminya sampai terjatuh di lantai.
“Akh,” ringis Arland. Untung ia memakai boxernya. Namun, tetap saja pemandangan seperti itu membuat Maya merona malu.
“Astaga ... aku ....” Maya merutuki sikapnya setelah kesadarannya terkumpul. Melihat Arland berjalan ke kamar mandi tanpa sepatah katah.
Sudah pasti pria itu marah. Bukan pagi yang menyenangkan sehabis semalam, malah ia mendapati sikap bar-bar istrinya.
“Duh, **** banget gue,” rutuk Maya.
__ADS_1
***
TBC.