KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
51


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part51


Mendengar istrinya berada di kantor polisi. Pria itu segera datang ke alamat yang telah diberitahunya. Dadanya lega.


Ia menoleh ke samping dan melihat putranya sudah terlelap. Sejak tadi ia mulai meracau mencari bundanya. Untung saja ia dapat membujuknya.


Kembali ia fokus pada kemudinya. Jalanan masih ramai. Tampak orang berlalu lalang. Aktivitas yang tetap berjalan meski malam semakin pekat.


Butuh hampir satu jam tiba di kantor polisi. Ia turun dari mobil dan mengitarinya untuk membuka pintu mobilnya. Ia mengendong putranya secara hati-hati. Takut terbangun.


Sempat melenguh sebentar, sebelum putranya mencari posisi nyaman di dalam gendongan sang ayah. Kembali ditutup pintu mobilnya dan masuk ke dalam kantor polisi.


Ia bertanya dan di antar ke ruangan Park Han. Setiba di sana ia melihat istrinya duduk sambil menunduk.


“Aya,” panggil Ken. Ia segera menghampiri istrinya. Aya yang mendengar namanya disebut, langsung menoleh. Air matanya tumpah kembali. Ia memeluk suaminya, tetapi tidak erat karena ada Alden di tengah mereka.


“Hikss huwaa Mas, aku takut,” isaknya. Ken mengusap pelan punggung istrinya. Tangis Aya mulai reda.


“Terima kasih, Pak. Maaf karena istri saya merepotkan kalian.” Park Han dan rekannya mengangguk.


Mereka berbincang sejenak sebelum Ken dan Aya pergi. Di dalam mobil Aya bersama Ken saling diam. Di pangkuan Aya ada Alden yang masih terlelap.


Aya memainkan tangannya di pipi putranya. Membelainya lembut. Ia sibuk dengan pikirannya. Melihat Ken tentu dia senang. Bagaimana jika ia tidak ditemukan? Dia bisa jadi pengemis di Korea. Sungguh tidak lucu ketika ia berniat liburan malah menjadi hiburan untuk orang lain.


***


Mereka tiba di hotel. Aya membaringkan Alden di kasur. Ia harus mandi dulu dan mengganti pakaiannya. Ken duduk di tepi kasur. Menunggu istrinya selesai membersihkan diri.


Setelah Aya keluar dengan kimononya. Ia berjalan ke lemari. Mengambil piama. Lalu, ia mengikuti Ken yang berjalan ke sofa di kamar mereka.


Aya duduk tidak tenang. Masih takut dengan kejadian tadi. Apalagi wajah Ken begitu datar. Ia tahu Ken pasti marah kepadanya. Ia sungguh menyesal.


Ken melirik istrinya yang menunduk. Memejamkan mata dan mengatur debaran di dadanya. Ia mungkin marah karena kecerobohan istrinya. Namun, rasa khawatirnya juga dominan.


Pelan tapi pasti ia mengikis jarak antara ia dan istrinya. Tangannya terulur menangkup wajah istrinya. Di mata itu, jelas sekali ada penyesalan dan ketakutan.


“Maaf,” cicit Aya.


“Dimaafkan.” Aya menatap tidak percaya suaminya. Semudah itu? Ken melepas emosinya, demi istrinya. Baginya emosi hanya akan membuat masalah semakin runyam. Tidak ada masalah yang bisa selesai jika harus diselesaikan dengan emosi.


“Mas,” lirih Aya.


“Aku marah, sangat. Tetapi, aku terlalu mencintaimu. Amarah aku sirna. Betapa egoisnya dan begonya aku, ketika aku memohon kepada Allah agar melindungimu dan kembali menemukanmu, malah aku maki, lampiaskan emosiku, lampiaskan rasa khawatirku kepadamu,” ujar Ken membuat Aya meneteskan air mata, “Aku akan menjadi orang yang tidak pandai bersyukur jika kembalinya kamu kepadaku malah aku luapkan dengan amarah.”

__ADS_1


Ken mengusap air mata istrinya. Sudah terlalu bengkak mata Aya. Ia tidak bisa bayangkan berapa lama istrinya menangis. Bahkan pakaian basahnya baru terganti setelah pulang dari kantor polisi.


Tidak ada yang Aya bisa lakukan selain memeluk erat Ken. Tempat ternyaman dalam hidupnya berada dalam dekapan suaminya. Ini adalah rumahnya. Tempat ia bisa mencurahkan rasa senang dan sedihnya.


“Kamu belum makan, ‘kan?” tanya Ken. Aya mengangguk dalam pelukan Ken. “Sama. Kita makan dulu, sebelum istirahat.”


“Hari yang melelahkan,” batin Ken.


***


Ken sudah lengkap dengan pakaian casualnya bersama putranya. Istrinya masih tidur. Ken tidak berniat membangunkan istrinya. Biarkan saja masih tidur.


Ia mengajak putranya sebentar berjalan-jalan di sekitar hotel. Sekalian mereka berdua jajan. Sungguh Alden terlihat senang. Dengan gemas Ken mengabadikan foto putranya.


Ia meminta tolong kepada orang yang lewat di sana untuk mengambil gambarnya bersama putranya. Ucapan terima kasih ia lontarkan usai berselfi ria.


Ternyata hotel ini memiliki taman di sampingnya. Kunjungan yang bagus untuk wisatawan. Apalagi di sini banyak jajan yang menggoda indra pengecap.


Bukan hanya Ken yang berfoto. Di sini banyak melakukan hal sama. Bahkan di sudut sana, ada kursi putih panjang dengan atas berbentuk angsa yang saling memadu kasih, sepasang suami-istri duduk bersama anak-anaknya.


Hotel ini memang rekomen untuk liburan bersama keluarga. Apalagi ada tempat main untuk anak-anak. Tidak membosankan, bahkan dari atas kita bisa menikmati pemandangan dari taman Inmora.


Air mancur yang di sekelilingnya dilengkapi dengan lampu hias warna-warni menyorot ke dalam air. Membuat air tampak berwarna-warni seperti pelangi.


“Kita ke kamar sekarang, Dek.” Ken membawa putranya kembali dan membeli beberapa makanan untuk Aya.


***


Ia berjalan ke kamar mandi. Memutuskan mandi dan memakai pakaian santainya. Ia kembali berbaring saat kepalanya masih berdenyut sakit.


Ceklek.


Aya menoleh dan muncul suami serta anaknya yang terlihat bahagia. Mereka menghampiri Aya. Alden langsung duduk di atas pangkuan bundanya.


“Habis dari mana, Dek?” tanya Aya kepada Alden.


“Nda,” racau Alden. Ia memamerkan senyumnya membuat Aya ikut tersenyum.


“Yuk, makan.” Aya menurut dan membawa putranya ke sofa. Setelahnya, Aya dan Ken membiarkan Alden duduk atas karpet berbulu. Bermain dengan robot-robotnya.


“Kemarin kenapa bisa kesasar?” tanya Ken.


“Kemarin aku jajan. Enggak tahu, rasanya lezat. Aku jelajahi semua tanpa sadar aku sudah jauh. Aku Cuma ikuti orang-orang dengan antusiasi. Kamu tahu sendiri, pantai ramai-ramainya. Aku tidak tahu cara kembali. Aku pikir ke kanan jalan pulang, ternyata aku semakin ke sasar.”


Ken mendengarnya dengan baik.

__ADS_1


“Aku mulai panik. Aku nangis di sana. Tidak ada yang bisa membantuku. Mereka hanya mengajakku bicara, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka katakan.”


Aya cemberut membuat Ken tersenyum tipis. “Kamu ‘kan bisa beli bebeknya baru kembali. Mau jajan bisa aku temani sama Adek. Kamu sudah aku bilangin jangan jauh-jauh. Ngeyel, jadinya kesasar,” ujar Ken membuat Aya semakin cemberut. Ia tahu salah. “Ini otak kamu ‘kan enggak banyak pengatahuannya,” lanjut Ken membuat Aya menatapnya kesal.


“Maksud kamu aku oon?” kesal Aya. Ken mengangguk membuat Aya mencubitnya.


“Aww, sakit, Yank.” Gini-gini cubitan Aya pedis.


“Kamu bilang aku oon. Meski se-oonnya aku, lebih oon lagi bule di kantor polisi itu, loh. Masa *** saja enggak tahu,” sewot Aya.


“Kemarin dia juga modus sama aku manggil ‘say’ segala. Baru kenal juga sudah manggil sayang. Aku baru kesasar di pantai saja bule sudah naksir, bagaimana kalau aku kecebur di pantai dan jadi mermaid. Bisa-bisa semua orang di sana jatuh cinta,” cerocosnya membuat Ken menghela napas.


“Masa, sih, dia manggil say? Orang mana tahu kalau kamu bilang ***. Pakai bahasa Inggris,” ujar Ken.


“Pakai, kok,” ujar Aya dongkol.


“Apa?”


“Yellow ***,” ujarnya membuat Ken menjitaknya. Aya langsung merengut kesal.


“Mana ada Yellow ***,” kesal Ken.


“Ada, yello kuning bau ***. Dulu pas kecil sering diejek begitu di sekolah yang suka warna kuning,” sanggah Aya.


“Ini, ini, menantu paling the bestnya Mama Dewi yang konon katanya bisa bahasa Korea,” ejek Ken.


“Au ah, ge—“ Ken langsung memotong ucapan istrinya, “Bilang gelap, aku matikan lampu.” Aya menatap Ken jengkel.


“Ih, siapa juga mau bilang gelap. Aku mau bilang au ah terang,” kilahnya. Paling bisa memang Nyonya Rahardian ngeles.


“Kita lain kali enggak usah liburan di luar negeri. Ambyar, baru sehari saja kita bukan liburan malah petak umpet,” ujar Ken.


“Memang kita main petak umpetnya kapan?” tanya Aya polos.


“Kamu yang petak umpet. Hampir jadi anak jalanan di sini,” ujar Ken menarik pipi Aya kuat.


“Massssss sakittt!” Tawa Ken meledak membuat Alden menoleh.


“Emmmm ... aaa!” Ken dan Aya langsung menoleh. Tahu sekali kalau putranya sudah ‘emm’ pasti—


“Itu, Yellow ***. Sana cebokin, Yank,” ledek Ken. Aya menggelengkan kepalanya.


“Adek beol, ya,” ujar Aya. Dia membawa putranya ke kamar mandi. Meninggalkan Ken yang duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.


“Untung sayang,” gumam Ken.

__ADS_1


***


TBC.


__ADS_2