KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
27


__ADS_3

Sorry salah up part 🙏😳


#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part27


Jendela terbuka lebar. Membiarkan bayu memainkan surainya. Matanya yang biasa memandang jahil, terlihat redup.


Menatap bintang-bintang yang barangkali menawarkan cahaya untuknya. Rambut yang selama ini ia bungkus ia gerai.


Menerawang jauh tentang hidup yang ia jalani. Hatinya sungguh gelisah. Perlahan tetesan kristal tumpah dari pelupuk matanya.


Membiarkan bulan menyaksikannya. Tidak ada niat untuk melapnya sampai seorang pria masuk ke dalam kamarnya yang tidak terkunci.


“Maya,” panggilnya lembut.


Maya segera menghapus kasar air matanya. Namun, tangannya ditahan. Digantikan sapuan lembut dari tangan orang yang sudah ia anggap seorang kakak untuknya.


“Kenapa, hm? Ada masalah di sekolah?” tanya Ken. Maya tidak biasanya menangis. Gadis remaja berusia 19 tahun ini hatinya setegar kerang.


Maya menunduk. Memainkan tangannya. Tidak sanggup menatap atensi Ken. Sudah banyak yang Ken dan keluarganya lakukan untuknya.


Termasuk membiayai hidupnya. Orang tuanya tidak ada. Bukan meninggal dunia. Akan tetapi, mereka meninggalkannya.


Anak hasil kesalahan menurut ayahnya. Dia lahir tanpa kesadaran orang tuanya melakukannya. Namun, Maya bersyukur ia lahir dalam pernikahan sah orang tuanya. Bukan anak hasil di luar nikah.


“Katakan pada Abang.” Ken mulai membangkar rokoknya dan mengisapnya pelan. Asap putih itu melebur sama seperti perasaan Maya.


Sepasang tangan mungilnya memeluk Ken. Menangis tanpa suara. Sebelah tangan Ken mengusap surainya.


“Hiks ... hiks ... Maya enggak suka sama perayaan tiap tahun di sekolah. Hikss selalu saja meminta orang tua hadir,” isaknya.


Ken memejamkan mata. Ingin sekali ia memukul Ayah Maya. Memberikan pelajaran pada lelaki bejat itu. Menelantarkan Maya.

__ADS_1


“Bukannya Mama sama Papa sering datang?” tanya Ken. Maya memang memanggil papa dan mama Ken sebutan yang sama. Kadang ia memanggil tante dan om, maka Dewi akan marah.


“Maya tahu, Bang. Mama sama Papa datang. Hiks ... Maya cuma sedih,” adunya. Ia tidak membenci hidupnya. Menjadi anak yang tidak diinginkan.


“Kamu dapat cemoohan lagi?” tebak Ken. Maya diam, sepertinya dugaan Ken benar. Memang Maya sering dipandang seperti benalu. Masuk ke keluarga Ken seolah dia seperti putri mereka.


Bahkan Dewi dan Tian mengajak Maya ikut ke perayaan perusahaan mereka. Dengan lantang mengatakan Maya adalah putri mereka.


Maya menarik dirinya. Mengusap air matanya dan melirik kaus Ken yang basah akibat air matanya. Melihat Ken tersenyum, ia ikut tersenyum.


“Ketika Allah memberimu ujian seberat apa pun itu. Jangan meminta kepadanya untuk meringankan bebanmu, tetapi mintalah kepada Allah agar memberimu kekuatan untuk melewatinya,” ujar Ken.


“Kenapa Allah tidak hentinya memberi Maya cobaan, Bang?” tanya Maya.


“Karena Allah menyayangimu. Allah membiarkanmu cobaan untuk mengangkat derajatmu.” Ken mengacak rambut Maya. Tangannya terulur menutup jendel kamar Maya.


“Tidur, jangan pikirkan mereka.” Maya mengangguk dan naik ke kasurnya. Sebelum Ken pergi, ia menatap Maya.


“May ....” Maya menatap Ken dengan tatapan bertanya.


***


Rupanya usul demi usul masih berlanjut. Nama Adek sedang didiskusikan di ruang keluarga Tian. Terlihat lelaki tua itu antusiasi membahas nama calon cucunya.


“Saran Maya kemarin Hartono,” timpal Maya membuat Ken mendelik ke arahnya.


“Jangan. Itu nama sudah lama. Masih tren tahun 90-an. Biar Mama yang kasih usul nama buat Adek,” ujar Dewi.


Ken menatap mereka datar. Ia hanya menyimaknya.


“Bagaimana kalau  Yuyu Tinting? Biar sama seperti Ayu Ting-Ting,” usulnya membuat Ken mengembuskan asap di mulutnya kasar. Matanya masih menatap Ibu datar.


“Jangan, nanti kalau Adek besar dia mendapat alamat palsu,” ujar Aya polos. Maya terbahak-bahak bersama para tetua.

__ADS_1


Kali ini Tian angkat bicara, “Bagaimana kalau Adek namanya Ronaldo. Biar besarnya bisa main bola.” Dewi dan Arin sontak menggelengkan kepala.


“Sudahlah, biar Aya saja,” lerai Aya. Mereka menatap Aya dengan pandangan penasaran.


“Setelah dipikir-pikir nama yang cocok untuk Adek, Rara Mirzani.”


“Biar apa coba?” celutuk Maya.


“Biar bisa nyinyirin tetangga kalau sudah gede,” jawabnya polos.


Mereka menolak. Kasihan Adek kalau besar hobinya nyinyir. Saran mereka semua makin lama makin hancur. Mulai dari Zukiman, Zukijang, sampai Sudirman.


Ken sudah kesal. Terlihat dari raut wajahnya. Ia meletakkan puntung rokoknya di atas asbak. “Heran gua yang buat kenapa mereka yang sibuk cari nama,” batin Ken.


“Stop!” Ken membuat mereka berhenti berdebat dan memberikan usulan nama.


“Bukan Zukijang, Sukiman atau Sudirman. Kalian tidak perlu cari nama untuk Adek,” larangnya membuat mereka dongkol.


“Lah, kenapa, Bang?” tanya Maya kesal.


“Yang buat siapa?” tanya Ken.


“Kamu,” jawab mereka kompak.


“Artinya Ken yang berhak ngasih nama karena hasil kerja keras Ken,” ujar Ken kesal. Membuat mereka terpaksa mengalah.


“Tapi, Aya juga berhak, ‘kan? Soalnya kita sama-sama bikin adek-adek. Tadi malam juga  bekerja sama lagi,” tanyanya polos.


Ken memejamkan mata. Tawa mereka pecah seketika.


“Dasar leluhur gempur,” ejek Tian.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2