KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
31


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part31


Ken duduk di teras rumahnya sambil merokok. Tidak mungkin ia merokok di dalam kamar. Apalagi ada anaknya.


Di sini ia tidak sendiri. Ada Tian dan juga Atma menemaninya. Mereka sama-sama mengobrol. Apalagi kalau bukan soal pekerjaan. Laki-laki tidak akan jauh dari topik sana, kecuali para wanita akan berganti topik demi topik lainnya.


Seperti sekarang, di kamar Aya mereka mengobrol. Melihat Adek yang tengah minum asi. Terlihat lahap sekali dan Aya bersyukur putranya ini tidak rewel. Dia lebih tenang dan hanya menangis jika sedang pipis, BAB dan kelaparan.


“Gak sabar Adek besar biar main-main sama Maya,” ujar Maya antusiasi.


“Sabar, Nak. Adek baru seminggu sudah mau liat saja Adek besar,” ujar Dewi.


“Iya, Kan, Maya nggak sabar, Ma,” ujar Maya lesu.


“Ingat, kesabaran itu harus ada dan tidak terbatas. Agar kamu tahu artinya menghargai sesuatu yang kamu miliki. Kesabaran akan melatihmu untuk menjaga apa yang kamu miliki. Kalau kamu dengan mudah mendapatkannya, maka dengan mudah juga kamu bosan memilikinya,” tutur Dewi.


“Iya, Ma. Maaf, deh,” ujar Maya. Ia memeluk tante sekaligus Ibu angkatnya. Dewi mengelus lembut hijab biru maya.


“Maya sebentar lagi ujian, ‘kan?” tanya Arin.


“Iya, Tante,” jawabnya. Memang tinggal seminggu lagi ia akan UN. Melepas masa putih abu-abunya.


“Maya rencananya mau kuliah di mana?” tanya Aya tiba-tiba menimpali.


Maya menunduk. Sebenarnya ia sudah tidak enak selalu dibiayai oleh Tian dan Dewi. Meski berkali-kali ia tepis karena takut melukai hati orang tuanya. Ia sudah berjanji tidak sungkan.


“Belum tahu, Kak,” jawabnya.


“Bagaimana kalau di kampus Aya? Lagian Abang kamu ngajar di sana,” usul Dewi. Maya hanya mengangguk setuju saja.


Mereka masih berbincang seputar kampus Maya. Mengenai apa saja yang ia akan lakukan ketika baru masuk dan menanyakan seperti apa masa OPSEK.


Dengan antusiasi Aya menceritakan semua. Dari pengalaman yang ia dapat saat OSPEK. Bagaimana ketika ia mendapat senior yang buruk dan seenaknya. Bagaimana ia mendapat banyak tugas. Semua ia ceritakan.


Maya jadi sedikit takut  untuk kuliah. Apalagi dia maunya kerja sebenarnya. Ketimbang kuliah dan belajar. Baginya sampai SMA saja sudah cukup.


Namun, Ken pasti menolak dan ingin adiknya ini mengejar pendidikan tinggi. Walau Maya sendiri punya alasan khusus. Otaknya sudah tidak sanggup belajar.


Ia takut malah menyia-nyiakan biaya yang dikeluarkan orang tuanya. Apalagi Ken terkenal cerdas, berwibawa dan paling penting, Dosen di sana pula.


Mengingat soal kampus, Maya jadi tidak nafsu ketika harus bertemu dengan Mr. Arland. Bisa saja pria itu mengerjainya.


“Sebenarnya otak Maya sudah enggak sanggup,” cicitnya membuat tatapan Dewi dan Arin beralih menatapnya.


“Maafin, Maya,” lirihnya. Takut mengecewakan Dewi. Namun, ia mengangkat wajahnya saat mendapat elusan lembut di kepalanya.


“Aya juga enggak sanggup belajar. Malah nilainya banyak yang anjlok,” ujar pria itu yang tak lain adalah Ken. Sontak istrinya cemberut.

__ADS_1


“Jadi, jangan khawatir,” ujar Ken dan Maya tetap menggelengkan kelapa. Ken cukup tahu sikap keras kepala adiknya.


“Terus cuma mau sampai SMA?” tanya Ken datar. Maya mengangguk ragu. Takut Abangnya marah.


“Kalau begitu lest privatem” ujar Ken. Ia juga tidak mau memaksa Maya. Nanti adiknya ini berpikir lain dan tertekan. Cukup selama ini mental Maya tertekan. Dia tidak mau menambahnya.


***


Hari-hari yang dijalani Ken dan Aya dihiasi dengan kehadiran si kecil. Bagaimana mereka harus terjaga ketika Alden deman setelah imunisasi.


Ini sudah masuk 5 bulan pasca melahirkan. Alden tentunya sudah bisa melihat. Bahkan ia sering tertawa saat Ken mengeluarkan suara kecil ‘Drack’ di mulutnya.


Seolah ia paham dengan perkataan ayahnya. Padahal hanya bunyi lidah yang Ken pantulkan. Memang anak kecil seperti Alden akan mudah tertawa.


Seharian ini Ken memonopoli putranya. Istrinya sedang menjemur pakaian dan ingin memasak. Akhirnya ia yang menjaga Alden.


“Cepat besar jagoan Ayah,” ujar Ken. Ia mencium bertubi-tubi putranya.


Alden sendiri sudah punya kamar. Terlalu cepat, tetapi itulah antusiasi mereka. Banyak mainan yang sebenarnya belum bisa Alden mainkan.


Ken hanya pasrah saat Ibunya membelikan anaknya kereta. Membiarkan Papanya membelikan Alden bola, sementara mertuanya papa Atma membelikan Alden bulu tangkis.


Sunggu tidak ada yang bisa Alden mainkan. Bahkan anak itu hanya tahunya tidur dan minum asi.


“Bang,” sapa Maya. Ia baru selesai dari kosannya. Lalu, ke sini dengan motornya.


“Cepat saja nikahnya, May. Biar bisa gendong sendiri,” ujar Ken membuat Maya cemberut.


“Enggak mau,” tolaknya.


“Kenapa?” tanya Ken.


Tatapan Maya menjadi sendu, “Aku takut, Bang. Pernikahanku bisa seperti ‘mereka’ dan apakah ada laki-laki yang mau sama Maya setelah tahu jika Maya terlahir bukan karena keinginan ‘mereka’?”


Ken cukup tahu sampai kapan pun luka itu tetap membekas di hati adiknya. Namun, ia tidak mau Maya sampai berpikir pendek.


Masa lalu biarlah berlalu. Jika masa lalu tersulit untuk dilupakan, maka jangan lupakan. Simpan ia di sudut hatimu dan berusahalah berdamai dengannya.


Biarkan catatan usang itu terlipat dan menjadi kenangan. Ada kalanya menyambut catatan baru. Barangkali ada bahagia di sana yang sedang menanti.


“Kamu ada pacar?” tanya Ken.


“Abang ‘kan tahu, Abang ngelarang pacaran. Katanya dosa,” ujar Maya membuat Ken tertawa. Pasalnya dia sendiri pernah pacaran beberapa kali sebelum menikah dengan Aya.


“Kali ada saja. Kalau begitu mau nikah, dong? Abang tahu tipe mana yang cocok buat kamu.”


Maya menatap Abangnya dengan mata memicing, “Memangnya tipe seperti apa yang cocok buat Maya?”


“Tegas, dewasa dan pastinya punya pandangan luas terhadap segala sesuatu. Keras tetapi untuk kebaikan dan kamu yang notabenya cewek berpikir mesum, masih labil, suka nongkrong ke cafe, dan keras kepala, butuh sosok pria seperti itu,” papar Ken.

__ADS_1


“Tahu ah, Maya maunya Jungkook,” ujar Maya membuat Ken menjitak Adiknya pelan.


“Abang,” kesal Maya tertahan karena ingat ada Alden.


“Abang jodohin mau?” Maya tampak berpikir dan mengangguk. Ia lebih menyerahkan masalah percintaannya kepada Ken.


Ia tahu Ken tidak mungkin memberikan yang buruk kepadanya. Lagian selama ini, ia tidak menanggapi pria-pria yang mendekatinya.


Sebenarnya Maya ini cantik, banget malah. Sayangnya, ia terlalu takut melangkah. Bayangan rumah tangga yang hancur selalu menghantuinya.


Sekolah atau pendidikan? Sebenarnya ia cukup lama menanggung tatapan remeh yang temannya layangkan. Ada saja yang menyebar rumor jika ia anak yang tidak diinginkan dan mengemis pada keluarga Ken agar mau menampungnya.


Meski memang Maya anak tidak diinginkan pada orang tua kandungnya. Akan tetapi, ia tidak mengemis kepada keluarga Ken. Keluarga Ken sendiri yang mengambilnya usai pertengkaran hebat yang terjadi pada malam Ibu dan Ayahnya saling talak.


Sangat terekam jelas kala itu. Usia Maya masih 11 tahun. Untuk menyaksikan itu, mentalnya terguncang. Menjadi trauma dengan keluarga.


“Nanti aku bilang sama Mama dan Papa,” ujar Ken. Lagi-lagi adiknya mengangguk.


“Terus Maya jadi lest private, ‘kan?” tanya Maya.


“Enggak tahu. Liat mau suami kamu bagaimana,” ujar Ken membuat adiknya menyerit heran.


“Lah, katanya aku enggak masalah enggak kuliah. Ihhh, Bang Ken kok plin-plan, sih,” kesal Maya.


“Setelah dipikir-pikir, kamu harus kuliah.” Maya mendengkus kesal. Tahu begitu, kemarin dia enggak senang.


***


Maya telah pamit pulang karena sudah sore. Meninggalkan Aya dan Ken di kamar yang sedang diam-diaman. Aya masih mode ngambek.


“Kata orang enggak baik diaman lewat 3 hari,” ujar Ken memecahkan keheningan. Aya hanya diam membisu. Ia memainkan tangan putranya yang sedang minum asi.


Ken melirik Aya. Ia mengacak rambutnya. “Kenapa, sih, hobi banget ngambeknya lama?” tanya Ken sambil memeluk istrinya dari belakang.


Aya masih diam.


“Iya, aku ngalah. Kalau kita punya baby cewek namanya Kim Kanaya. Bagaimana?” tanya Ken. Aya memutar sedikit kepalanya. Melihat wajah suaminya.


“Bener, ‘kan?” tanyanya.


“Iya,” jawab Ken pasrah. Istrinya yang kebelet ingin anaknya ‘Kim’ dan Adiknya kebelet ingin ‘Hartono’. Dua namanya yang sungguh terlampau beda generasi.


“Astaga ambyar penduduk +62 kalau begini,” batin Ken.


***


TBC.


Jejaknya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2