KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
52


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part52


Kesalahan akan menjadi pelajaran berharga untuk setiap orang yang mengalaminya dan pengalaman pun, akan menjadi guru terbaik dari masa lalu. Sejak tersesat akibat kecerobohannya, Aya tidak berani keluar tanpa Ken.


Ia akan menggenggam tangan suaminya. Kalau pun, ia beranjak hanya sekitarnya saja, yang masih dijangkau atensi suaminya.


Sudah banyak yang ia lewati dalam liburannya. Dari mengunjungi pulau Jeju, dan kebun stroberi. Menjelajahi pusat perbelanjaan di Seoul. Mereka memborong beberapa pakaian untuk dibawa pulang sebagai buah tangan mereka.


Liburan keluarga akan selalu Aya sukai mulai detik ini. Di sini, bukan hanya tawa atau kesenangan semata yang ia dapat. Akan tetapi, momen berharga bersama keluarganya. Jika ia diminta untuk memilih antara bulan madu atau liburan keluarga. Maka, ia akan memilih liburan bersama keluarganya.


Dari mula bersahabat, hanya sebatas sahabat yang bergantung sampai timbul rasa tidak rela. Pernikahan ini membuat ia perlahan dewasa. Mengerti arti mengurus rumah tangga, dicintai dengan tulus dan tahu kasih sayang keluarga kecil.


“Hari ini liburan terakhir kita, ya, Mas?” tanya Aya kepada Ken.


“Iya, Yank. Sudah seminggu, loh. Kantor enggak bisa aku tinggal lama-lama,” ujar Ken. Mereka sudah seminggu di Korea.


“Iya, deh,” jawab Aya lesu. Sebentar lagi ia akan pulang ke negara kelahirannya.


Hari ini memutuskan packing karena besok mereka ambil penerbangan pagi. Untuk itu, ia harus mengemas dari sekarang. Setelah selesai, ia, Alden dan Ken jalan-jalan kembali.


Mereka mengabadikan beberapa moment. Apalagi Alden suka sekali Ken mengabadikannya. Apalagi saat putranya tertawa.


“Kamu ke sana aku fotoin, Yank,” pinta Ken.


Aya segera menghampiri putranya. Aya berpose lucu membuat Alden ikut mengambil pose lucu seperti bundanya. Sontak Aya memeluk gemas putranya. Alden terpekik karena merasa digeletik.


“Sini, dong, Mas. Foto bertiga,” ujar Aya. Ken mendekat dan merangkul istrinya.


“1 ... 2 ... 3 ... cekrettt!”


Tampak mereka tersenyum lebar ke arah kamera. Beberapa kali mereka mengambil gambar, dari terkonyol sampai serius. Bahkan tak peduli mereka memperlihatkan kemesraannya membuat beberapa orang lewat menatap mereka dengan pandangan iri dan senyum.


***


Aya berbaring di kasur bersama Alden. Paha Ken menjadi bantal Aya. Wanita anak satu itu memainkan gawainya.

__ADS_1


Ia tersenyum lebar ke arah gawainya setelah muncul wajah Maya. Terlihat wajah suntuk Maya di sana.


“May!”


“Assalamualaikum,” sindir Maya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Aya sambil cengengesan.


“Ononi mana?” tanya Aya membuat Arland yang duduk di samping istrinya merengut mendengar suara Aya menyebut anak kembarnya ononi.


“Lagi tidur. Lagian sudah malam. Kita beda jam, loh, Kak.”


“Tahu, kok. Makanya sengaja telepon,” ujar Aya membuat Maya dongkol.


“Bagaimana jadi belum adik buat Adek?” tanya Maya.


“Belum. Kiran kamu ini kayak kue, dibikin langsung jadi,” celetuk Ken.


“Kok, Maya pulang-pulang dulu hamil, Mas?” tanya Aya kepada Ken.


Maya menitip beberapa oleh-oleh. Lalu, bercerita tentang si kembar karena Aya kangen dengan keponakannya.


“Sudah, May. Mau ronda malam dulu, hihihi,” ujar Aya terkikik geli membuat Maya memutar bola mata malas.


Klik.


“Mas bikin adek-adek, yuk. Kan terakhir berada di Korea,” ujarnya membuat Ken tertawa.


“Dasar agresif,” ujar Ken, “Kelonin dulu Adek. Kan enggak mungkin kita ronda ada Adek. Bisa-bisa Adek jadi hansipnya.”


Aya mengacungkan jempol. Ia memberi ASI kepada putranya dan menepuk-nepuk pelan bokong Alden. Sampai keduanya jatuh tertidur.


“Dasar Aya, katanya mau ronda malam, malah tidur,” decak Ken. Ia menyelipkan rambut istrinya dan mencium kening Aya dan juga putranya.


***


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, mereka tiba di Indonesia. Aya menghirup udara seolah merindukan udara di Indonesia.

__ADS_1


Mereka langsung mencari Maya dan Arland. Setelah bertemu langsung saling memeluk. Di perjalanan Aya dan Maya lebih banyak mengobrol bersama Alden.


Mereka tiba di rumah disambut dengan orang tua mereka. Aya tersenyum lebar dan memeluk mereka satu per satu. Ken memberikan Alden kepada Tian dan menyeret kopernya masuk. Maya membantu kakaknya dengan menenteng tas, dan Arland mengeluarkan oleh-oleh yang di bawah kedua pasutri itu.


“Duh, liburannya seru banget, ya, mantu Mama senyum-senyum terus,” ujar Dewi saat mereka semua kumpul di ruang tamu.


“Iya, dong, Ma. Seru banget pakai banget.”


Ken yang menatap datar istrinya. Ia duduk di dekat Arland dan membakar rokoknya. Putranya di kamar tidur dan si kembar juga tidur di kamar. Aman saja kalau mau merokok.


“Kak Aya ke pantai jemuran kayak bule-bule enggak?” tanya Maya.


“Enggak,” ujar Aya cemberut. Hari pertama ke pantai malah kacau karena berakhir di kantor polisi.


“Ya, enggak seru, dong. Aku saja jemuran di sana,” ujar Maya membuat Aya mayun mendengar Maya begitu pamer.


“Tapi ... tapi, kamu ke sana enggak pernah dipanggil sayang sama bule, ‘kan?” tanya Aya dengan dagu terangkat. Ken memijat pangkal hidungnya mendengar perkataan istrinya.


Dewi dan Arin saling memandang takjub. Maya membulatkan matanya. Sementara Tian dan Atma bertos ria melihat Aya ternyata punya pesona yang kuat.


“Mantu Rahardian memang TOP!” Aya tersenyum lebar mendengar Tian memujinya.


“Wah, bagaimana ceritanya, Nak?” tanya Dewi antusiasi. Tidak salah punya menantu seperti Aya, pikirnya.


Aya menyengir, “Waktu itu Aya kesasar. Terus disamperin bule. Eh, tahu-tahu bulenya bilang apa, ya,” ujarnya mulai mengingat perkataan bule itu, “Em ... dia bilang what say, ih lupa. Apa coba maksudnya what say? Apa, Sayang? Kan songong banget. Mana begonya kebangetan, *** aja enggak tahu.”


Senyum mereka pudar. Tersisa hanya senyum paksa. Mereka saling melirik sementara Arland menahan tawanya bersama Maya.


“Apes mulu kalau istri gua ngomong,” batin Ken.


“Mana ada artinya Say sayang. Say itu artinya katakan,” kesal Maya.


“Iri bilang Bos,” ujar Aya dengan wajah santuynya.


***


TBC.

__ADS_1


__ADS_2