KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
42


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part42


Ken akan memulai aktivitasnya seperti biasa. Sementara Aya di rumah bersama Alden. Menunggu Ken pulang menjadi rutinitasnya.


Setelah mengantar suaminya ke depan. Aya masuk ke dalam bersama Alden. Bermain di depan TV. Mainan Alden terlalu banyak karena hampir setiap bepergian kakek dan neneknya akan membelikannya mainan.


Apalagi Ken yang memang memanjakan putranya. Pasti menambah koleksi mainan putranya. Meski Alden lebih sering melempar mainan yang dibelikannya daripada bermain.


“Nda,” panggilnya. Ia melempar mainannya dan tertawa. Aya menggelengkan kepala dan mengambilnya dan Alden kembali melemparnya.


“Duh, anak aku, kok, hobi lempar barang, ya? Semoga besarnya nanti dia kalau nikah enggak banting bininya,” gumam Aya.


Drrttt ....


Ponsel Aya berbunyi. Ia meraihnya dan melihat nama Maya tertera di sana. Langsung ia menggeser warna hijau. Muncul wajah Maya sambil menyengir.


“Assalamualaikum, Kak Aya!” sapanya ceria.


“Wa’alaikum salam,” jawab Aya.


“Huuhuuu mana Adek? Aku kangen banget pakai banget double banget sama dia.” Aya memutar bola matanya. Ia langsung membawa putranya ke pangkuannya.


“Adek coba lihat siapa itu,” ujar Aya. Maya yang melihat Alden semakin rindu.


“Aaa,” ujar Alden. Ia memukul-mukul layar ponsel Aya.


“Kayaknya Adek mau mukul kamu hahaha,” ujar Aya membuat Maya cemberut.


“Dia pasti kangen juga. Ihh pipinya minta digigit. Bakpao banget. Makin rajin makan, ya, Kak?” tanya Maya.


“Iya. Rajin makan, rajin tidur dan rajin minum ASI. Cuma gini kewalahan karena dia sekarang aktif banget apalagi sudah bisa jalan,” ujar Aya. Ia melepas putranya yang sudah meronta.


“Sudah bisa lari-lari juga, dong?” tanya Maya antusiasi.


“Bisa, sih. Cuma masih keseringan jatuh. Kesandung sama kakinya sendiri. Nanti kalau sudah 2 atau 3 tahun pasti sudah bisa lari-lari tanpa jatuh,” ujar Aya.


Maya terlihat mangut-mangut, “Enggak ada rencana tambah anak, Kak?”


“Ada, sih. Tunggu Adek 5 tahun dulu. Kata Mama biasa anak seusia Adek kalau dapat Adek bisa rewel kebangetan. Apalagi usia begini lagi butuhnya pengawasan ketat sama perhatian lebih,” jelas Aya.


“Semoga saja kalau mengandung anak kedua Kak Aya cewek. Biar sepasang begitu, terpenting Kim-nya ada, hehehe,” ujar Maya cengengesan.


“Hahaha, aamiin. Kalau kamu sendiri sudah isi apa belum?” tanya Aya.

__ADS_1


“Alhamdulillah Hartono sudah jadi, hehehe.” Maya terlihat tersipu.


Aya sendiri mengucap syukur mendengarnya. Ia mengucapkan selamat kepada Maya, “Alhamdulillah, syukurlah. Hartono akhirnya telah tercetak, tinggal menunggu dia launching di dunia, ahaha.”


Mereka Akhirnya bicara soal kehamilan. Apalagi Maya baru mengalami dan dia meminta tolong kepada Aya agar memberinya tips-tips selama kehamilan.


Betapa lucunya Maya saat mengatakan dia selalu mengalami morning sick dan kelewat manja kepada Arland. Ia merasa harga dirinya turun saat meminta suaminya memeluknya lebih dulu.


Padahal dulu pasti ia menendang suaminya. Bahkan tidak peduli jika suaminya berangkat kerja. Kali ini ia akan merengek minta ikut atau Arland tinggal saja di rumah.


“Kapan rencana kamu pulang?” tanya Aya.


“Insha’Allah minggu depan. Mas Arland katanya sudah banyak kerjaannya numpuk,” ujar Maya.


“Bawa oleh-oleh yang banyak,” ujar Aya. Maya mengangguk. Sebelum mereka mengakhiri video callnya.


***


Kabar bahagia tentu menyelimuti keluarga Rahardian dan Sammuel. Menanti cucu mereka yang disebut-sebut sebagai Hartono oleh Maya.


Obsesi memiliki anak bernama Hartono belum pudar. Awalnya Arland mengira itu hanya canda semata. Makin ke sini, ia menangkap keseriusan istrinya.


Tentu saja ia menolak keras. Bisa malu putranya jika besar. Akan tetapi, Maya malah marah dan mengatakan dia akan membuat Hartono dengan pria lain.


Tentu saja Arland tidak rela. Terpaksa ia menuruti kemauan istrinya. Dengan syarat jika putra atau putri mereka selanjutnya harus ia yang memberinya nama.


Seperti itulah ucapan Maya kepada suaminya. Mertuanya hanya mendukung saja. Semoga saja putranya tidak merasa malu jika besar nanti.


***


Seminggu kemudian. Aya dan Ken pergi ke Bandara. Menjemput Maya dan Arland. Alden juga ikut menjemput tante dan omnya.


“Itu mereka,” tunjuk Ken. Sontak Aya melambaikan tangan.


“Hey! Im here ... im hereee!” Ken tersenyum canggung melihat tingkah konyol istrinya. Ditambah Maya yang mulai konyol juga.


“Annyeonghaseyo!” Maya menunduk membuat Aya ikut menunduk. Mereka berdua tertawa dan saling memeluk.


Arland dan Ken saling menatap. Tatapan mereka seolah mengatakan, “Istri kita satu server, Bro.”


Mereka berjalan ke tempat parkir dan selama perjalanan ke sana, Maya dan Aya banyak bercerita. Apalagi tentang negara Ginseng.


Rasanya Aya mulai iri. Ia ingin ke sana dan belum dibawa oleh suaminya. Terpaksa ia mendengar cerita Maya yang entah kelewat seru atau hanya ilusi wanita hamil mudah itu.


“Pokoknya seruuu banget! Apalagi di sana ada banyak jajan. Topi-topi lucu lagi,” ujarnya semangat.

__ADS_1


Aya hanya mengiyakan. Nanti dia harus merengek kepada Ken dibawa ke sana. Sementara Ken menyusun kata karena tahu betul sifat istrinya.


Mereka mengantar Maya dan Arland ke Apartemennya. Sebelum turun Maya mencium pipi keponakannya yang terlelap.


“Makasih, ya, Ken,” ujar Arland. Ken mengangguk.


Aya melambaikan tangan. Lalu, menutup jendela kaca mobilnya. Matanya langsung berbinar. Ia menatap Ken yang fokus mengemudi.


“Mas, kita kapan ke Korea?” tanyanya. Ken masih tidak bergeming. Sudah ia duga.


“Mas,” panggil Aya dan Ken tidak menjawabnya. Membuat Aya kesal.


“Woy Kenan Rahardian, istrimu kapan ke Korea?!” tanya Aya kesal. Sebelah tangan Ken menarik pipi istrinya.


“Ish! Kapan Mas?” tanya Aya mengusap pipinya.


“Tunggu lebaran monyet,” ujar Ken membuat Aya menatapnya kesal.


“Mana ada lebaran monyet,” ujar Aya kesal.


“Ada.” Aya mengerutkan kening.


“Masa sih?” Sepertinya otaknya mulai koslet kembali.


“Hm, itu yang lagi natap aku kalau lebaran namanya lebaran monyet,” ujar Ken. Lengan Ken langsung dipukul Aya.


“Jahat banget. Kamu yang monyetnya!”


“Kamu,” ujar Ken.


“Kamu,” balas Aya tidak mau kalah.


“Kamu yang ingin ke Korea. Jadi, kamu yang monyetnya,” ujar Ken.


“Kamu yang—“ Aya mulai berpikir. Tidak ada kata yang mampu ia balas untuk suaminya.


“Au ah gelap,” ujarnya bete.


“Masih terang juga. Coba lihat langit. Masih siang,” ujar Ken sengaja membuat Aya kesal.


“Hahahaha, bercanda, Sayangku.” Tangan Ken terulur mengusap surai istrinya. Membuat Aya yang semula cemberut, tersenyum tipis.


“Tunggu Adek bisa dibawa ke mana-mana. Daripada honeymoon, kita mendingan family time sama Adek,” ujar Ken diangguki Aya.


“Hihihi, kalau Adek sudah 5 tahun, kita ke Korea dan pasti bawa pulang dua Adek lagi,” batinnya senang.

__ADS_1


***


TBC.


__ADS_2