
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part47
Kini yang tinggal hanya Arland dan Maya di kamar. Masih menatap putra dan putri mereka. Sejak tadi Arland tidak bersuara.
Berbeda dengan Maya yang begitu cerewet. Namun, ia merasa tiba-tiba akward moment bersama suaminya.
Batin Maya bertanya-tanya dengan tingkah suaminya. Yang dilakukan Arland hanya menatap putra dan putrinya.
“Apa Mas Arland enggak suka, ya, sama namanya,” batin Maya.
Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya, “Mas, menurut Mas bagus enggak namanya?”
Arland mengangkat wajahnya. Menatap istrinya degan tatapan yang membuat Maya sadar kalau suaminya terlihat enggang.
“Setiap nama bagus,” jawab Arland, “bukan nama anak kita enggak bagus. Akan tetapi, aku mikir bagaimana kalau mereka besar. Kamu tahu sendiri ‘kan di negara +62, bagus saja kadang masih dibully, apalagi kalau memang sudah ada peluang untuk membully-nya.”
“Maaf, Mas.” Maya menatap tidak enak kepada suaminya, “kalau begitu ganti saja. Belum dicatat sama perawat juga, kok. Mau namanya siapa?”
“Aku saja yang berikan cewek, kamu yang cowok,” ujar Arland diangguki Maya.
“Eum ... kalau begitu ada akses bulenya, ya. Soalnya aku enggak nyangka dia bisa kebulean banget gini,” ujar Maya takjub.
“Kan dari aku, Sayang,” ujar Arland geli.
“Kamu saja, deh. Aku susah mikir,” ujar Maya kepada suaminya. Takut kalau nama yang ia pilih terdengar jelek lagi.
“Alexandre Christie Sammuel dan Alexandria Christi Sammuel. Nama panggilan mereka Alex dan Alexa,” ujar Arland.
Maya tersenyum. Kalau nama yang sekarang terdengar dari orang luar negeri. Didukung dari paras wajah bayi kembarnya. Mereka memang akan menduga jika putra dan putrinya berasal dari luar negeri.
“Alex dan Alexa,” ujar Maya mengulangi menyebut nama bayinya.
***
Seminggu di rumah sakit akhirnya Maya dan Arland bisa pulang ke rumah mereka. Lalu, setelah tujuh hari mereka mengadakan akikah untuk buah hatinya.
Tetangga mereka banyak yang datang juga dari rekan bisnis keluarganya. Orang tua Arland pun datang, tetapi sorenya mereka kembali karena tidak bisa meninggalkan terlalu lama pekerjaannya.
Apalagi ada dua adik Arland yang masih sekolah dan belum bisa terlalu mengurus diri. Jadinya, mereka hanya sebentar saja.
__ADS_1
“Duh, kirain benaran Hartono sama Hartini,” celutuk Aya.
“Diganti, lagian wajah Mas Arland itu murung banget. Kata Mas Arland kasihan nanti besarnya dibully. Aku juga pikir-pikir benar adanya. Kasihan nanti,” ujar Maya saat di kamar bersama Aya.
Alden sendiri di atas kasur sambil menatap bayi mungil itu. Dia menjadi kalem saat berada di dekat bayi Maya. Terlihat begitu suka dengan sepupunya.
“Kapan menyusul?” tanya Maya menggoda Aya. Ia mendengar dari Arin kalau Aya kepingin juga punya anak kembar.
“Huh, Adek masih umur 2 tahun lebih. Belum bisa dapat adik. Tunggu dia umur 5 tahun dulu. Pasti menyusul,” ujar Aya.
“Kenapa tunggu 5 tahun, Kak? Adek tergolong pintar, loh untuk anak seusia dia. Lebih cepat tangkap di sekitarnya, pintar banget,” ujar Maya.
Aya bisa melihat itu. Bahkan saat ia membawa Alden posiandu banyak Ibu-ibu mengatakan jika putranya sangat pintar untuk ukuran anak 2 tahun.
Dokter pun mengatakan jika putranya sangat aktif dan smart. Kalau masalah kepintaran Aya tidak meragukan, apalagi suaminya memang cerdas.
“Tetap saja dia juga menangis rewel kalau moodnya rusak. Liat saja nanti kalau anak kamu sebesar Adek. Apalagi dua begitu,” ujar Aya.
“Jangan doain begitu, Kak.” Maya menatap kesal kakak iparnya. Aya tertawa dan ikut menatap bayi kembar Maya.
***
Aya pulang ke rumahnya. Langsung ke kamar mandi bersama Alden. Ken sendiri duduk di sofa menonton.
Setelah memakaikan piama lucu yang berbentuk kelinci, ia menurunkan Alden dari kasur. “Sama Ayah dulu. Itu ... coba ke Ayah,” ujar Aya.
“Aaaa!” racau Alden. Ia berjalan begitu lucu. Ia terlihat seperti kelinci yang sedang melompat-lompat.
“Uhhhh ... muach ... wangi banget, Sayang,” ujar Ken sambil membawa Alden ke pangkuannya.
Ia langsung mengganti chanelnya menjadi kartun. Terdengar racauan Alden menimpali TV. Ken menikmati suara putranya.
Melihat putranya tenang saja, Aya segera memakai baju. Ia memakai handbody dan bedak malam. Lalu, memakai piamanya.
Ia ikut bergabung di sofa. Untuk makan malam, ia kenyang karena sebelum pulang, ia makan di rumah Maya.
Ken sendiri juga sudah makan. Hanya lebih dulu pulang. Tentunya ia sudah pamit kepada istrinya. Takut dicari ke mana-mana.
Seperti ini kegiatan mereka di malam hari. Menonton bersama atau bermain dengan Alden. Bahkan Ken akan menjadi kuda-kuda untuk putranya.
Hanya sesederhana itu yang ia lakukan, tetapi membuat Aya dan Alden tertawa. Apalagi ketika Ken menggelitik Aya, Alden akan ikut menggelitik Aya. Seperti saat ini.
__ADS_1
“Hahahah ampunhh Mas hahaha,” ujar Aya sambil tertawa tak mampu menahan geli.
“Ndaaa aaaaa hahaha,” racau Alden.
“Ayooo serang Bunda hahaha,” ujar Ken.
Ken berhenti saat melihat istrinya sudah kewalahan. Ia mencium bertubi-tubi wajah Aya membuat Alden mengikutinya.
Aya tersenyum lebar. Tangannya merentang. Ken baru mau memeluk Aya, tetapi putranya lebih dulu.
“Hahaha kalah start,” ejek Aya.
Ken berpura-pura ingin menarik putranya. Alden berteriak-teriak bersama Aya. Aya mengeratkan pelukannya.
Ken ikut berbaring di samping istrinya. Ia memindahkan Alden di atas perutnya. Terlihat Alden senang berada di atas perut ayahnya.
“Suka banget, ya, Adek kuda-kudaan,” ujar Aya sambil menyengir.
“Kamu juga suka kuda-kudaan enggak?” tanya Ken jahil. Maksudnya tentu lain.
“Suka banget,” jawab Aya polos. Dia mengingat Atma sering juga menjadikan dirinya kuda-kuda atau dia dibawa ke wahana permainan.
“Mau kuda-kudaan sama aku enggak?” tanya Ken sambil menahan senyumnya.
“Memangnya kamu kuat? Aku sama Adek bisa kamu tahan?” tanya Aya.
“Kuda-kudaannya enggak bawa adek, Yang. Akan tetapi, baru bikin adek-adek,” ujar Ken.
Aya langsung bangun dan menggelitik Ken. “dasar mesummmm!” teriak Aya.
Alden ikut menggelitik Ken. Tawa Ken pecah. Istri polos dan anak yang menggemaskan sudah cukup untuknya.
“Ish, kalau sama kamu bukan kuda-kudaan lagi. Akunya kamu kudain,” ujar Aya cemberut. Ken menariknya. Masih ada sisa tawa Ken.
***
TBC.
Tolong bagi yang baca CB KENAYA di brandaku atau liminasi pribadiku 😌🙏 Jangan share dengan cara copas dan bawa ke kolom komentar di sini. Sedih pas buka komentar liat ada yang copas part 47 dan 48. Selain up di sini memang aku up di Fbku sendiri. Part di sana cepat karena aku up memang banyak. Gak seperti di sini jeda beberapa jam dengan sengaja.
Share boleh dengan cara tekan tombol share, bukan dengan cara copas dan bawa ke komentar. Jujur saja, aku sudah mau lompati part 47 dan 48. Percuma up kalau duluan dishare cara copas.
__ADS_1
Enggak ada 'kan salahnya kalau kalian mau beritahu Reader lain tinggal katakan mau baca partnya cepat dan gak sabar cek akun penulisnya. Bukan malah copas. 😌 Maaf, ya, yang cara sharenya dengan copas aku block. Mau baca part cepat di akunku.
Bagi yang mau baca CB-nya Maya dan Arland insha'Allah akan rilis.