
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part48
Betapa bahagianya Nyonya Rahardian saat mendapat kabar dari suaminya jika minggu depan mereka akan ke Korea.
Ia senyum-senyum sendiri membuat Atma dan Tian menggelengkan kepala. Meski Aya memiliki anak, dia tak ubahnya seperti remaja SMA.
Apalagi wajahnya yang baby face dan tubuhnya yang mungil. Tidak akan ada yang menyangka dia sudah punya buntut satu.
“Yang mau ke Korea padahal Adek belum umur 5 tahun,” sindir Maya.
“Allah maha membolak-balikkan hati umatnya,” ujar Aya dengan tatapan menggoda. Akhirnya ia bisa ke sana.
Segala persiapannya telah ia siapkan. Kebutuhannya selama di sana dan beberapa pakaian tebal untuk Alden, Ken dan untuknya sendiri.
Ken yang duduk tidak jauh dari istrinya hanya menggelengkan kepala. Ia memilih family time secepatnya karena ada projek yang harus ia selesaikan dalam dua bulan.
***
“Sayang, kamu pakai baju putih yang di atas kasur, ya. Aku mau kita couple,” ujar Aya yang sibuk membenahi pakaian putranya.
Ia memasangkan topi kupluk bertuliskan nama ‘Alden Rahardian’ warna perpaduan hitam putih. Aya juga memakai kupluk dengan tulisan namanya.
“Nah, pakai kacamata, Dek,” ujar Alya. Ia memasangkan kacamata hitam pada Alden. Alden menurut saja karena melihat bundanya juga memakai kacamata.
Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengulum senyum melihat Aya dan Alden. Mereka terlihat kompak sekali.
Dari semalam Aya memperlihatkan antusiasinya untuk liburan. Meski ia tidak menjalani honeymoon di awal pernikahannya, tetapi family time kali ini ia anggap hadiah komplit.
Setelah Ken sudah siap. Ia turun ke bawah. Di sana ada keluarganya. Mereka akan mengatar Ken ke bandara bersama Aya dan Alden.
***
“Ingat, ya, jaga anak sama istri kamu. Jangan tinggalin istri kamu, Nak. Ingat Aya itu lemah dalam berbahasa, apalagi otaknya suka hang,” ujar Arin kepada Ken. Bibir Aya mengerucut mendengar perkataan ibunya.
“Ma, kalau bahasa Korea, Aya cukup kuasai beberapa kosa kata, kok,” ujar Aya membela dirinya.
“Sudah ... sudah ... Mama percaya, kok, menantu Mama paling the best,” sela Dewi membuat Aya langsung memeluk mertuanya.
Mereka saling berpelukan sebelum pergi. “Kiss bye Kakek sama Nenek, Dek,” ujar Ken.
Aya mencontohkannya. Menempelkan tangannya dan menariknya, “Muachh.”
__ADS_1
Alden mengikutinya, “Mmuah!” Mereka tertawa gemas melihat tingkah Alden. Sebelum mereka benar-benar menghilang.
***
Untuk keluar negeri sendiri ini pertama kalinya untuk Aya. Beda dengan Ken yang sudah sering keluar negeri.
Aya sedikit takut saat pesawat mulai take off. Ken memeluknya bersama Alden. Sampai Aya merasa sedikit tenang.
Di dalam perjalanan, Alden begitu antusiasi. Ia meracau dengan gemas membuat beberapa orang melihatnya dengan tatapan gemas.
Pramugari pun gemas ketika mengantar makanan kepada Aya dan Ken. Alden memang memikat. Apalagi tatapannya.
“Nda, mam,” ujarnya.
“Iya, Sayang. Duduk dulu. Jangan berdiri.” Aya menarik Alden yang berdiri di pangkuan Ken. Alden suka sekali melihat ke arah jendela.
“Aaa ....” Alden membuka mulutnya. Setelah makan, ia terlelap. Kacamata sudah lepas sejak tadi. Alden ingin bebas menatap pemandangan. Apalagi tangannya yang suka menarik-narik kacamatanya. Mungkin sudah pengap.
Setelah Alden tidur. Aya menyusul tidur dan menyandarkan kepalanya di bahu Ken.
***
Aya merasakan tepukan di pipinya. Ia membuka mata dan memejam kembali saat merasa silau. Perlahan nyawanya mulai terkumpul.
“Turun, yuk. Bisa bawa Adek?” tanya Ken. Ia harus membawa kopernya dan tas berukuran sedang warna hitam.
Aya mengendong Alden. Ia turun dan menunggu suaminya. Sampai datang Ken dengan koper dan tasnya.
Di sana sudah ada sopir yang menunggu mereka. Aya ikut menunduk saat sopir itu menyapa mereka. Aya semakin takjub. Akhirnya ia bisa mendengar orang Korea langsung berbicara tanpa di balik layar.
“Ya, selamat siang. Bisakah Anda mengantar kami di hotel Inmora?” tanya Ken membuat Aya menoleh. Bibirnya terbuka saat mendengar suaminya begitu fasih berbahasa Korea.
“Aaaaa Mas! Kamu kok tahu bahasa Korea?” tanya Aya memekik senang. Alden sampai menggeliat dalam tidurnya karena terganggu pekikan bundanya.
“Tahulah, aku ‘kan Oppamu,” goda Ken. Aya tertawa dan begitu senang. Fakta baru yang ia tahu. Pantas saat dia memaki Ken dengan bahasa Korea laki-laki itu akan menarik hidungnya atau menjitaknya.
***
Aya mengempaskan tubuhnya di atas kasur. Lelah, tetapi senang. Ia memiringkan tubuhnya menatap Alden yang masih terlelap.
Ken bergabung dengan istrinya setelah menyusun baju-baju mereka. Tidak banyak bawaannya, hanya beberapa baju tebal, mantel, jaket dan juga keperluan mandi mereka.
Aya juga membawa beberapa camilan dan biskuit. Susu formula untuk putranya juga dan 2 pak popok bayi.
__ADS_1
***
Malam ini Ken mengajak istrinya keluar bersama dengan putranya. Mereka turun ke bawah. Hotel Inmora dilengkapi dengan restoran yang menyediakan makanan halal untuk mereka yang beragama Islam.
“Habis makan kita ke mana?” tanya Aya di sela-sela makannya.
“Habis makan kita di kamar dulu. Kasihan Adek masih capek. Besok baru kita jalan-jalan. Mau ke mana saja, aku turuti. Asal jangan aneh-aneh,” ujar Ken.
“Iya, deh.”
Mereka kembali ke kamar. Namun, terpaksa Ken harus keluar sebentar karena putranya mencari mainan. Ia membelikan beberapa mobil-mobilan dan juga robot untuk Alden.
Alden kembali bermain sementara Ken dan Aya duduk di dekat putra mereka. Sesekali Aya ikut bermain. Mengajak putranya balapan.
“Hoam.” Alden langsung memeluk Ken. Menyandarkan kepalanya. Matanya terlihat sayup-sayup. Dengan sayang Ken mengusap punggung putranya.
Ia membawa Alden ke atas kasur. Bersamaan Aya yang ikut berbaring juga. Setelah Alden terlelap, Ken dan Aya terlentang. Menatap langit-langit kamar mereka.
“Mas, kalau bukan 5 tahun umur Adek kita ke sini, berarti kita punya anaknya dipercepat, dong?” tanya Aya.
“Ya begitu. Biar Adek sekolahnya bisa jaga Adiknya juga.” Aya mengangguk.
“Hufgh ... maunya kembar kayak Maya,” ujarnya sambil menoleh. Memelas seolah Ken bisa mengabulkannya.
“Jitak, ini,” ujar Ken datar, “mana bisa kembar. Meski Papa kamu narapidana di hati Mama kamu, gak ada turunannya, Yank. Meski Papaku mantan playboy, gak ada karma leluhur kita bisa punya baby dua.”
“Aku habis cari di google cara punya anak kembar tanpa ada faktor genetik,” ujar Aya sambil menyerongkan tubuhnya menghadap Ken.
Ken ikut menyerongkan tubuhnya menghadap istrinya, “Google lagi. Enggak bisa, kalau pun ada caranya kemungkinan kecil berhasilnya sangat sedikit.”
“Mang napa, sih, sombong amat,” ujar Aya. Ken menarik pipi istrinya membuat Aya meringis.
“Berapa pun yang diberikan Allah. Kembar atau tidak, rezeki itu harus disyukuri,” ujar Ken membuat Aya mengangguk.
“Ya sudah. Ayo kita buat rezekinya banyak-banyak.” Mata Aya sudah berbinar. Menatap Ken seolah Ken adalah makanan terlezat.
“Harus beronde-ronde. ” seringai Ken muncul. Aya mengedipkan mata membuat Ken tertawa pelan.
“Dengan senang hati, Oppa. Bekerja sama sampai projek kita dikatakan positif,” jawab Aya membuat Ken kembali tertawa.
***
TBC.
__ADS_1