KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
50


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part50


Setelah menyusuri tepi pantai selama berjam-jam. Pria itu tidak dapat menemukan istrinya. Sudah beberapa orang yang ia tanya hanya mengatakan jika istrinya berjalan ke arah kanan.


Namun, ia tidak menemukannya. Bahkan matahari mulai terbenam. Meninggalkan warna jingga yang membalut awan. Memesona, tetapi tidak mampu membuat pria yang menggendong putranya terpaku.


Fokusnya sudah hilang sejak istrinya tidak kembali-kembali. Pikiran buruk silih berganti merasuki kepalanya.


“Bunda kamu ke mana, ya, Dek?” gumamnya.


“Nda,” racau Alden.


Keberadaan Aya belum Ken tahu. Dengan terpaksa ia kembali ke hotel membawa buah hatinya. Apalagi angin malam di pantai tidak bagus. Bisa-bisa putranya masuk angin.


Sesampai di hotel, Ken menyeduh susu formula untuk Alden. Terpaksa hampir seharian Alden tidak minum ASI karena keberadaan bundanya belum diketahui sampai saat ini.


“Ya ... aaaa,” racau Alden.


Ken segera memberinya susu. Duduk di samping putranya. Tangannya mengelus kepala Alden. Namun, pikirannya berkelana memikirkan istrinya.


“Apa Aya tersesat?” batin Ken. Akan tetapi, tempat penjual bebek-bebek itu sangat dekat dari tempat berteduhnya. Tidak mungkin jarak sedekat itu Aya tersesat, kecuali ia pergi jauh.


“Di Korea dia bisa apa?” resah Ken, “Hanya Anyyeong dan ABS yang dia tahu. Aya benar-benar payah dalam berbahasa asing. Hufghh ... lindungi istriku, ya, Allah.”


Ken sulit bergerak karena ada Alden. Membawa Alden ke mana-mana saat cuaca di luar sana begitu dingin, ia takut. Saat ini ia berusaha menghibur putranya.


Setelah susu Alden habis, Ken memandikan putranya dan membalutnya handuk putih. Ia membawa Alden ke atas kasur dan mengambil tas kecil berisi perlengkapan Alden.


Minyak telon ia oleskan di seluruh tubuh putranya. Lalu, ia memberinya bedak baby. Memakaikan putranya kaus kaki kecil dan piama yang lembut dan tentunya nyaman.


Begitu selesai, Ken mengganti bajunya juga. Lalu, memakai mantel. Ia memasang topi rajut di kepala Alden. Mereka keluar kembali. Mencari Aya.


***


“Kira-kira ke mana dia?” batin Ken gelisah.


Ia kembali ke area pantai. Berharap istrinya ia temukan. Namun, pupus saat ia kembali bertanya. Ia membawa Alden duduk dan memeluk erat putranya.

__ADS_1


“Tuan, apa tidak masalah membawa putra Anda ke pantai malam-malam begini? Di sini sangat dingin,” ujar seseorang membuat Ken menoleh. Tentu Ken sangat mengerti walau orang di depannya menggunakan bahasa Korea.


“Ah, ya. Saya mencari istri saya. Dia mungkin tersesat sejak tadi pagi dia belum kembali. Dia juga tidak tahu bahasa Korea.”


“Aigoo (astaga), sepertinya wanita di ujung sana yang menangis histeris sejak sore,” ujarnya membuat Ken berdiri. Ada harapan di binar matanya.


“Di mana dia sekarang?” tanya Ken cepat.


“Dia sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi.” Bahu Ken melemas. Malah ia semakin khawatir karena mendengar istrinya menangis sampai sore.


Pasti Aya ketakutan dan itu membuat ia dilanda cemas berlipat-lipat. Ke mana sekarang istrinya? Bisa-bisa ada yang berbuat jahat atau parahnya malah memanfaatkan kepolosan istrinya.


“Ya Allah,” resah Ken. Ia membawa putranya pergi.


***


Sejak tadi wanita yang duduk di kursi besi itu menyita perhatian orang. Untung suara tangisnya sudah redah. Matanya sangat bengkak. Bibirnya melengkung ke bawah.


Masih ada isak tangisnya yang keluar. Akibat menangis tersedu-sedu. Sejak tadi kedua pria di depannya menghela napas.


“Bagaimana cara mengajaknya berinteraksi? Dia tidak mengerti bahasa Korea dan bahasa Inggris,” ujar pria yang memiliki kulit putih sedikit pucat.


“Tidak ada KTP-nya. Ponselnya pun tidak ada. Aku tidak tahu cara menghubungi keluarganya,” ujar pria yang bernama Park Han. Dia polisi di sini.


“Em ... what is your name?” tanya Park Han.


Mata bulat Aya mengerjap. “My name is Aya,” ujarnya membuat kedua polisi itu bernapas lega. Setidaknya ada harapan saat gadis di depannya tahu artinya.


Aya memilin bajunya. Ia membutuhkan Ken saat ini. Tidak suka menjadi pusat perhatian sejak tadi. Apalagi ia tidak tahu apa yang mereka semua ucapkan.


Yang ditahu pria di depannya sempat membahas yellow ***. Membuat Aya merasa kesal. Dia mengira disamakan dengan ***.


“Can you speak Indonesia?” cicit Aya. Matanya memelas membuat kedua pria itu mengerjap salah tingkah. Sungguh sial sekali karena wajah Aya terlihat imut dan menggemaskan.


“Im sorry,” ujar mereka membuat Aya menatapnya kesal.


“Dasar kalian hiks, memintaku mengerti bahasa kalian sedangkan bahasaku sendiri tidak kalian pahami. Kenapa lelaki bisa seegois ini sama wanita? Ingin dimengerti, tetapi tidak mau mengerti hiks,” sungutnya mulai menangis.


“Miss, please don’t cry,” ujar Pak han mulai panik. Suara tangis Aya begitu kencang begitu masuk tadi, jangan sampai membuat tangisnya kembali pecah.

__ADS_1


Aya menatap sekelilingnya. Ia mengusap kasar air matanya. Ia menghela napas. Semoga saja berhasil.


“Do you know Rahardian group? This my laki hiks ...” Mereka saling memandang. Seolah tatapan mereka mengatakan, 'what laki?'


“This my Husband,” ralatnya cepat.


“Im Indonesia. Im wife Kenan Rahardian. Emm ... i’m ... i’m apaan, dah. Ngomong bahasa Inggris kayak susahnya cari alasan saat telat di kelas Ken,” gerutunya.


“Omongannya sangat kacau sekali. Tetapi, coba cari Kenan Rahardian. Dia mengatakan Rahardian group. Carilah perusahaan itu dan info Kenan Rahardian,” ujar Park Han.


“Rahardian group tidak asing. Kita coba buktikan, apakah benar perusahaan yang ia maksud perusahaan bergensi itu. Bisa saja kebetulan nama pemimpinnya sama. Aku pernah mendengarnya.”


Mendengar nama suaminya disebut Aya bernapas lega. Apalagi melihat mereka mengetik sesuatu di komputer. Aya memajukan wajahnya mengintip.


Di sana foto Ken muncul. Membuat Aya segera memutari meja dan menunjuknya.


“This my husband,” ujar Aya.


“Astaga, ternyata dia istri dari perusahaan besar. Aku tidak begitu yakin tadi saat dia mengatakannya. Cepat hubungi,” ujar Park Han.


“Please sit down please,” ujar Park Han.


Aya menggelengkan kepala, “Please dont suruh-suruh me hiks.”


Nada pertama sudah terhubung, akan tetapi itu nomor sekretaris Ken. Segera mereka meminta nomor Ken.


Aya terpaksa duduk saat ditarik. Ia menatap tidak sabaran. Sampai mereka menyerahkan teleponnya kepada Aya.


"Halo, Tuan. Kami dari kantor polisi di Seoul. Mohon gunakan bahasa Indonesia. Ada yang ingin bicara dengan anda."


"Ya, baik."


“Halo, dengan siapa?” tanya Ken.


“Hiks dengan Aliya Atma Rahardian, istrimu Ken hiks.”


***


TBC.

__ADS_1


Tinggal beberapa part aku tamatkan. Ditunggu saja Squeelnya. 😇


__ADS_2