KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
26


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part26


Kekesalan bertambah saat istrinya mengadu. Mana orang tua dan mertuanya sejak tadi terus menggodanya. Namun, ia lupa jika Bumil satu ini sangat sensitif.


Setelah acar makan-makan. Mereka kembali ke rumahnya. Naasnya Ken sejak tadi mengetuk pintu kamarnya sendiri.


“Yank ... bukain ... tok tok!” Tangan Ken terasa kebas. Aya menutup pintu kamar mereka.


“Tidur di luar saja. Enggak mau liat kamu!” teriak Aya dari dalam. Bibirnya mengerucut. Ia duduk bersila di atas kasur dan memandang kesal pintu seolah itu adalah suaminya.


Ken membuang napas berkali-kali. Apakah ini warisan leluhur juga? Tidur di luar tanpa selimut atau bantal.


Hampir kehabisan akal menghadapi istrinya bocahnya. Sampai ide berlian muncul di kepalanya. Ken tersenyum dengan smirknya.


“Liat saja, siapa yang bakal luluh dulu,” gumam Ken. Ia turun ke bawah dan berbaring di sofa panjang.


Kaki Ken ditekuknya karena tidak muat di sofa. Matanya mulai terpejam sampai kilat petir menyambar bersamaan dengan suara gemuruh.


Ken masih teta tenang. Sampai suara gerimis mulai terdengar semakin lebat menjadi hujan disertai badai.


Ken berpura-pura tidur saat mendengar suara derap langkah kaki. Ia yakin itu istrinya.


Bugh!


“Awww,” ringis Ken. Dia membuka matanya kesal. Melihat Aya berdiri di dekatnya dan menimpuknya bantal.


“Huwaaa Keeennnn,” teriak Aya kesal. Ingin rasanya ia menjitak suaminya.


“Kenapa datang ke sini? Katanya aku disuruh tidur di luar,” ejek Ken. Masih sebal, entah kenapa dia yang ikut sensitif.


“Aku Cuma anterin bantal,” kilah Aya membuat Ken menyeringai.


Zettt ... kilatan petir bersamaan guntur membuat Aya reflek memeluk suaminya. Apalagi badai begitu kencang. Matanya menatap Ken memelas.

__ADS_1


“Makanya kalau penakut jangan sok-sokan ngusir suami dari kamar. Kamu akhirnya mau ditemani juga, ‘kan,” ejek Ken.


Aya cemberut karena merasa dikalah. Ia terlalu kesal karena Ken membuat pamornya turun. Astaga sejak kapan pamor Aya selalu baik?


“Yauk ke kamar,” ajak Ken.


“Mungkin ini namanya rezeki. Kita coba warisan leluhur kita. Maaf, ya Papa Atma membuat anak Papa begadang lagi, hehehe,” batin Ken.


***


Tidak terasa usia kehamilan Aya menginjak lima bulan. Ia tidak sengidam  dulu. Ken bersyukur akan hal itu.


Ngidam aneh-aneh Aya membuat ia harus ekstra sabar. Walau begitu, Ken tetap kasihan dengan istrinya. Aya terlihat cepat lelah. Soal mual-mual Ken sudah tidak mual seperti dulu.


“Mau aku pijat kaki kamu?” tawar Ken saat melihat istrinya di atas kasur bersandar sambil memegang buka kehamilannya.


“Boleh,” ujar Aya. Kakinya ia luruskan ke paha suaminya. Tangan Ken mulai memijat pelan.


“Ken, kita kok belum bulan madu?” tanya Aya membuat Ken menatapnya dengan alis terangkat. Kenapa lagi bulan madu saat istrinya sudah hamil?


Nilai Aya membuat Ken geleng-geleng kepala. Untung saja, setiap malam ia mengajari Aya. Otak istrinya seperti tidak berfungsi dengan baik.


“Semoga Adek mendapat warisan leluhur kepintar Ayah,” batin Ken. Bisa berabe jika otak istrinya yang sudah memasuki taraf oon.


“Ken,” panggil Aya lembut. Ken yang memijat mengadakan kepala menatap istrinya.


Aya mendorong dirinya semakin dekat dengan suaminya. Tetap membiarkan Ken memangku kedua kakinya. Tangannya terulur menyentuh rahang tegas Ken.


Bibir Aya tersenyum tipis membuat Ken bingung. Sampai ia tersenyum hangat karena kata-kata istrinya. Aya seperti menabur bunga di hati Ken.


“Terima kasih mencintaiku begitu dalam. Aku harap kamu tetap bimbing aku menjadi pribadi dewasa,” ujar Aya.


“Terima kasih kembali mau aku cintai dan mencintaiku.” Tidak ada hari tanpa ucap syukur mereka panjatkan.


Di luar sana begitu banyak rumah tangga yang hancur. Suami yang egois dan istri yang harus merasakan pedihnya diacuhkan suami.

__ADS_1


Di luar sana banyak anak-anak menjadi korban dari hancurnya sebuah rumah tangga. Menyisihkan punding retakan di hati mereka. Pernikahan yang hancur karena pihak ketiga atau pihak ketujuh.


Aya bersyukur walau terkadang ia bertengkar dengan suaminya. Mereka selalu bisa menyelesaikan. Ketika ia patah, ia harus tetap tahu bahwa rencana Allah selalu yang terbaik. Akan ada hikmah di baliknya.


Seperti sekarang, saat ia bertengkar dengan Ken. Ternyata Allah menitipkan malaikat kecil mereka di dalam perutnya.


Ia bukan seorang wanita remaja lagi. Kini ia menjadi istri dan calon Ibu untuk anak-anak mereka. Aya tahu, kesalahan akan selalu ada. Untuk itu ia selalu berserah diri dan berusaha memperbaiki sikapnya.


Walau tetap saja jika sikap polosnya sudah kambuh, bukan dia yang berserah diri lagi. Orang sekitarnya yang berserah diri.


***


Wanita di depannya tengah mengunyah makanannya begitu lahap. Menatap laptopnya yang menayangkan kartun Upin dan Ipin.


Suasana di sini sejuk bersama dengan sepoi-sepoi angin yang membelai lembut surainya. Mengajaknya menari di udara.


“Kak Aya, nanti Adek kalau lahir mau dikasih nama siapa?” tanya Maya.


“Eum ... kalau cewek namanya Kim Ha—“


Pletak!


“Awwww!” Aya mendelik kesal kepada Ken yang baru saja bergabung.


“Enggak ada Kim Kom Kum. Aku sudah mempersiapkan nama untuknya,” larang Ken.


Maya memutar bola matanya melihat pasangan di depannya. Kapan dia coba bisa menikah juga?


“Bagaimana kalau cowok Hartono, panggilan rumahnya Ton, di sekolahnya Ono,” ujar Maya membuat Aya dan Ken menatapnya kesal.


“Dasar jomblo laknat!” teriak mereka berdua.


***


TBC.

__ADS_1


Enggak sabar, ya, Adek lahir, hehehe.


__ADS_2