
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part43
Dengan malas-malasan Aya menggoreng udang untuk Ibu hamil yang bertamu sore-sore begini. Katanya ngidam mau makan udang goreng, tetapi yang masakin Aya.
“Ini bener Hartono yang mau, ‘kan? Bukan karena kamu sendiri,” ujar Aya sambil meletakkan udang di depan Maya.
“Iyalah, Kak. Kemauannya Hartono,” ujar Maya.
Aya duduk dan menatap Maya yang begitu lahap makan. “Btw, May, kok kamu manggil anakmu Hartono? Memangnya sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Aya.
“Belum tahu, Kak. Masih kecil jadi gak tahu dia cewek apa cowok. Cuma suka saja manggil dia Hartono. I’m felling good,” ujar Maya sambil menyengir.
“Ilih, filling giid. Kalau cewek ya kasihan harapanmu pupus,” ejek Aya.
Maya hanya mengibaskan tangannya dan lanjut makan. Tidak peduli ocehan kakak iparnya. Mau ngomong apa saja terserah bagi dia. Masuk kanan keluar kiri.
Aya meninggalkan Maya saat mendengar tangis putranya. Sepertinya sudah bangun. Di sana Alden duduk dengan wajah cemberutnya.
Matanya sembap dan ia langsung memeluk Aya saat melihat ibunya. Menyembunyikan wajahnya. Langsung Aya menepuk-nepuk pelan bokong putranya.
Ia turun ke bawah. Sambil sedikit mengayun-ngayun tubuhnya. Takut putranya mengalami badmood bangun tidur.
Dia mendudukkan Alden di atas meja. Memberinya air putih. Alden langsung meneguknya rakus.
“Adek mau makan udang enggak, Sayang?” tanya Maya sambil menyodorkan Alden udang, “dia boleh makan udang, ‘kan, Kak?”
“Boleh,” ujar Aya. Ia meraih sendok Maya saat melihat putranya tak kunjung membuka mulut. Ia menyuapi putranya.
Perlahan mood Alden kembali. Ia mulai ceria dan membantu Maya menghabiskan udangnya.
***
Jam 08:00 malam, Ken baru tiba di rumah. Ia masuk dengan raut wajah lelahnya. Melihat Aya dan Alden bermain.
Aya hanya melirik sekilas suaminya dan fokus kepada putranya. Ken sendiri yang terlalu lelah, hanya berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Suara gemercik air terdengar. Aya menghela napas. Ken tidak mengaktifkan ponselnya membuat Aya sedikit merajuk.
Khawatir karena tidak biasanya suaminya tidak memberinya kabar jika telat pulang. Apalagi ponselnya tidak aktif. Takutnya terjadi apa-apa.
Ken keluar dari kamar mandi dan berjalan ke lemari. Mengambil satu set pakaian santainya. Ia menghampiri istri dan anaknya setelah mengeringkan rambut.
“Cup ... Adek lagi main apa?” tanya Ken.
“Aaa,” ujar Alden. Ia mengangkat mobil-mobilannya. Aya semakin dongkol karena suaminya tidak mengatakan apa pun.
“Minta disunat kali, ini, Ken,” batin Aya kesal.
Ia beranjak ke kasur dan tidur lebih dulu. Ken masih asyik bermain dengan putranya. Lelahnya selalu terbayar jika bermain dengan Alden.
__ADS_1
Melihat Maya Alden sudah sayu dan beberapa kali bibir mungil putranya menguap. Ia mengangkatnya dan ke kasur.
Besok juga hari libur, jadi ia sengaja tidur larut malam. Beberapa hari ini pun ia menghabiskan banyak waktu di kampus dan kantornya.
“Dasar suami kurang peka,” batin Aya. Ia tidak tidur. Masih gelisah dan berbalik melihat Ken dan Alden saling memeluk.
***
Alden dan Ken berjalan-jalan di taman rumah mereka. Menikmati panas matahari di pagi hari. Beberapa kali suara tawa mereka terdengar.
Aya masih kesal dan memutuskan ke kamar. Ia lebih baik mencuci pakaian kotor mereka. Tangannya meraih jas Ken.
“Hem, lah, kok baunya kek parfum cewek?” gumam Aya.
Bibirnya langsung cemberut. Matanya memanas. Pikirannya sudah menjalar ke mana-mana. Apalagi akhir-akhir ini Ken cuek dengannya.
Ia meremas kuat jas Ken dan membawanya ke laundry di rumah mereka. Air matanya menetes. Ia menangis tanpa suara.
“Apa Ken selingkuh?” batin Aya.
“Hiks pasti selingkuh hiks apalagi aku gini-gini saja. Enggak make up, pakaian selalu pakaian rumah hiks apalagi aku sering ngurus Alden daripada dia hiks,” isaknya.
Bayangan wanita mudah nan cantik berseliwer di kepalanya. Ken populer. Banyak mahasiswi baru yang cantik-cantik.
“Hiks ingin nabok Ken kalau dia benaran selingkuh,” isaknya kesal.
Ia menyelesaikan cepat cuciannya dan ke belakang menjemurnya. Lalu, ia menyiapkan sarapan untuk Ken dan Alden.
“Nda,” panggil Alden.
Aya menoleh dan melihat putranya sedang menarik-narik dasternya. Ia menunduk. Bingung kenapa putranya bisa ke dapur.
Ia mengedarkan pandangan dan melihat Ken sedang menelepon. Jelas sekali pria itu tertawa. Hati Aya semakin sedih.
“Adek duduk dulu di sana, Sayang. Nanti Bunda panggil. Di sini bahaya nanti kena percikan minyak,” ujar Aya.
“Nda,” panggil Alden. Ia minta digendong. Dengan terpaksa Aya menggendong putranya.
Tubuhnya sedikit menjauh dari wajan. Takut Alden kena percikan minyak. Pasti putranya akan menangis.
“Sini sama Ayah,” ujar Ken ingin mengambil Alden. Aya tidak bergeming.
“Sini Adek, kamu memangnya mau masak sambil gendong Adek?” tanya Ken.
Aya mengadakan kepala. Berusaha menghalau air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Tidak ada jawaban dari Aya, Ken berjalan ke depannya. Aya langsung memalingkan wajah. Ken langsung menangkup wajah istrinya.
“Kenapa nangis?” tanya Ken lembut.
Air mata Aya semakin deras keluar. Bibirnya bergetar. Dengan lembut Ken memeluknya.
__ADS_1
“Aku nyakitin kamu, Sayang?” tanya Ken.
“Kamu selingkuh,” ujar Aya membuat Ken melepas pelukannya. Ia menatap istrinya datar.
“Selingkuh sama siapa? Kamu aneh-aneh. Aku tidak mungkin selingkuh. Kamu tahu aku ‘kan cintanya sama kamu,” ujar Ken sedikit kesal. Tidak terima dia dituduh selingkuh.
“Terus kenapa bisa jas kamu melekat banget bau parfum cewek?” tanya Aya kesal.
Terlihat kerutan kecil di kening Ken. Ia mencoba mengingatnya, “Kemarin ada acara di kampus. Tahu sendiri anak-anak pada mau ambil foto. Jadinya, nempel-nempel karena ruangan di bawah dekat lab kecil. Kamu tahu, ‘kan?”
Aya tentu ingat kalau ruangan dekat lab sempit dan kecil. Di sana hanya sebagai tempat pengalihan saja pada beberapa anak magang di kampusnya.
“Jadi, ceritanya semalam enggak ngomong sampai pagi karena cemburu?” tanya Ken. Aya memukulnya kesal.
Plak!
“Aw KDRT, Sayang,” ujar Ken.
Ia mencolek dagu Aya. “Duh, jadi kamu cemburu? Kok gemes, sih. Kalau aku mau selingkuh bukan sama cewek, tetapi sama janda di dekat gang sana,” ujar Ken menggoda istrinya.
“Ck, jahat banget, sih! Noh, sana selingkuh sama janda kembang biar kamu berkembang sekalian di sana!” Tawa Ken meledak.
“Hahaha ....” Ken menghentikan tawanya saat mencium bau gosong.
“Astaga! Ikanku gosong!” pekik Aya. Ia memberikan putranya kepada Ken. Terburu-buru mematikan kompornya.
“Gara-gara bahas janda, ikannya jadi gosong,” rutuk Aya. Ia memperlihatakan ikannya yang berbuah hitam.
“Makanya kalau ada apa-apa tanya dulu sama suami. Kualat ‘kan nunduh suami. Syukur ikan kamu yang gosong, bagaimana kalau kena azab mukamu yang gosong,” ujar Ken.
“Ish, doanya jelek banget. Ingat ucapan adalah doa,” ujar Aya.
“Aku kutip ucapanmu Nyonya Rahardian. Kalau mengatakan aku selingkuh bisa-bisa aku beneran selingkuh,” ujar Ken membuat Aya langsung memeluknya erat.
Aya menatap memelas suaminya, “Jangan selingkuh, apalagi memadu aku.”
“Iya, enggak bakal. Istriku enggak ada duanya. Mana mungkin aku selingkuh,” ujar Ken membuat Aya tersenyum.
“Makan apa, dong? Ikannya sudah hangus,” ujar Ken.
“Makan garam saja. Katanya cinta, garam pun akan terasa lezat jika makan berdua,” ujar Aya.
“Siapa yang bilang?” tanya Ken.
“Aku baca quotes,” jawab Aya polos.
“Enggak ada ahlak yang buat quotes. Mana bisa garam lezat. Cinta enggak bikin kenyang, Sayang. Sana masak lagi.” Ken meninggalkan Aya yang cemberut.
***
TBC
__ADS_1
Jejaknya.