
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part32
Malam ini Ken meminta Maya cepat pulang. Dia sudah membicarakan kepada orang tuanya. Ternyata Dewi dan Tian menyambut senang. Apalagi Maya tidak menolak, dan mempercayakan semua.
Perjodohan mereka tidak terlalu ribet karena kebetulan orang tua pria itu adalah mitra kerja sama Tian yang baru-baru ini pulang dari Inggris.
Mereka sepakat dan untuk itu. Ada jamuan makan malam antar keluarga. Sekaligus untuk Maya ta’aruf dengan calonnya.
“Assalamualaikum,” salam Maya. Ia masuk dan menyalami orang tuanya dan juga kepada tamunya.
“Wa’alaikum salam,” jawab mereka serentak.
Maya izin ke kamarnya dan mengganti pakaian. Acara di sekolahnya menyita waktu. Untuk itu ia sedikit telat walau sudah terbilang ia mengusahakan kepulangannya dengan cepat.
Maya mengenakan gamis berwarna coklat berpadu cream. Hijab panjang yang menjuntai dan menutup auratnya. Tidak lupa kaus kaki yang ia kenakan.
Ia turun dan menyunggingkan senyum tipis. Sejujurnya Maya dilanda rasa cemas. Apalagi terlihat pria paruh baya di depannya terlihat bukan orang Indonesia.
“Sayang, kenalin ini teman Papa. Namanya Uncel Frian Sammuel dan Aunty Nazwa Zaira,” ujar Tian.
“Salam kenal Aunty dan Uncel. Nama saya Maya Syakira Rahardian,” ujar Maya.
Frian dan Nazwa tersenyum lembut. Mereka melihat Maya begitu sopan. Untuk kisah Maya mereka pun tidak keberatan. Tidak sekali pun mereka menganggap Maya anak yang terlahir karena kesalahan. Setiap bayi yang hadir pasti sudah direncanakan oleh Allah.
“Maaf, ya, putraku belum sampai. Dia bilang sudah dalam perjalanan ke sini. Katanya tadi ada urusan sebentar,” ujar Nazwa tidak enak.
“Tidak apa-apa,” ujar Dewi. Mereka akhirnya berbincang-bincang. Maya yang anaknya ramah dan ceria mudah berbaur.
“Assalamualaikum,” salam seseorang membuat mereka sontak menoleh. Mata Maya membulat. Jangan bilang pria yang dijodohkannya adalah ....
“Arland, kamu kenapa telat?” tanya Nazwa kepada putranya.
Bahu Maya merosot. Ya, ternyata yang dijodohkannya adalah Arland Sammuel. Pria yang ia panggil Bule Kesasar.
Arland juga terkejut, tetapi ia bisa menyamarkan ekspresinya. Mendekat ke sana dan menyalami mereka satu per satu.
Matanya menatap tajam Maya, begitu pun sebaliknya. Mereka sama-sama mengibarkan bendera perang.
“Maya, kenalkan ini putra Uncel. Namanya Arland Sammuel,” ujar Frian. Maya terpaksa menyunggingkan senyumnya.
Ia menangkupkan tangan di depan dada. Walau ingin sekali tangannya melayang menimpuk wajah datar di depannya.
__ADS_1
“Aish, Bang Keeeennn. Kenapa juga harus jodohin sama Ahjussi,” batin Maya.
“Ck, Mom bagaimana, sih. Katanya dia jodohin aku sama Ukthy baik-baik. Ini mah Ukthy bar-bar,” batin Arland.
Mereka meninggalkan Maya dan Arland. Meski masih bisa mereka pantau. Akan tetapi, obrolan keduanya tidak dapat mereka dengar.
Maya sendiri tidak mau bicara dan Araland juga malas bicara dengan Maya. Masih tidak percaya. Bagaimana rumah tangganya kalau jodohnya adalah Maya? Gadis remaja yang sangat ingin nama anaknya Hartono.
“Saya tidak akan menerima perjodohan ini andai saya tahu jika Ahjussi adalah orang dijodohkan dengan saya,” ujar Maya membuat Arland menatapnya sinis.
“Menurut kamu, saya mau berjodoh denganmu? Andai saya tahu jika orang yang mau dijodohkan dengan saya adalah bocah bau kencur, saya tidak akan mau,” tandas Arland.
Mereka sama-sama membuang pandangan. Menyesal karena menerima perjodohan tanpa melihat orangnya lebih dulu. Mereka hanya percaya pilihan keluarga mereka pasti yang terbaik, sedangkan bagi mereka ini bukan yang terbaik, melainkan yang terbalik.
Malam itu terpaksa mereka berpura-pura bahagia. Yang membuat mereka kesal, ternyata pernikahan keduanya ingin dipercepat.
“Ma, bukannya biar setelah aku lulus saja?” tanya Maya.
“Dipikir-pikir, hal baik enggak boleh ditunda, Sayang.” Maya mengembuskan napas pasrah.
Ia akan mengamuk kepada Ken setelahnya. Memberinya jodoh yang bukan tipenya sama sekali. Bayangannya Ken akan menjodohkannya dengan seorang guz.
“Ck, aku kira Bang Ken jodohkanku dengan seorang Guz, ternyata dia jodohkan dengan orang Gazzz,” batin Maya kesal.
***
“Cerewet banget, sih, May,” kesal Ken.
“Abang, ya! Kenapa jodohin aku sama Bule kesasar?” tanya Maya marah.
“Apa-apa?” tanya Aya yang baru ikut bergabung. Ia segera duduk sambil menimang putranya.
“Masa aku dijodohkan sama Bule Kesasar, Kak,” adu Maya membuat Aya tertawa bahagia.
“Hahaha, sudah, May. Aku bilang juga semoga jodoh. Lagian keren tahu kalau punya anak namanya Indonesian kebarat-baratan,” ujar Aya membuat hati Maya dongkol.
Ken hanya mendengkus dan mendekati istrinya. Ia lebih memilih bermain dengan bayi mungilnya. Mengabaikan kedua wanita itu yang tengah berdebat tentang Mr. Arland.
***
Di sebuah cafe yang cukup klasik, dua pria yang tengah duduk sambil menikmati coffe. Ken memutuskan untuk mengajak bertemu Mr. Arland.
Mendengar adiknya begitu tidak suka dengan Mr. Arland. Apalagi cerita istrinya membuatnya harus mengambil tindakan ini.
__ADS_1
“Ada apa, Pak Ken?” tanya Arland masih formal.
“Tidak usah formal. Aku kira usia kita tidak jauh beda,” ujar Ken membuat Arland mengangguk, “aku mengajak kamu ketemuan untuk membahas perjodohan antara kamu dan adikku.”
“Kenapa dengan perjodohan kami?” tanya Arland.
Tangan Ken mengetuk-ngetuk pelan cangkirnya. Matanya menatap pria itu dengan tenang. “Sebagai seorang Kakak tentu berat juga melepas adiknya ke tangan orang lain. Akan tetapi, aku tahu masa depan adikku akan lebih cerah bila bersamamu,” ujar Ken.
“Jangan buat dia menangis karena air matanya sudah sering tumpah. Jangan melukainya karena hampir semua luka ia rasakan. Jangan biarkan ia kesepian, karena sepi selama ini menjadi sahabat baiknya,” ujar Ken membuat Arland diam. Masih mencoba mengerti. Benarkah Maya yang sakras, berani menatapnya tajam, seperti itu?
“Bukan berarti kamu harus menjadi sosok suami yang sempurna. Cukup jaga hatinya agar tidak retak kembali.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya. Aku hanya ingin kamu tahu jika kami berdua sering terlibat cekcok,” ujar Arland jujur.
“Aku tahu.” Dia tahu semarah apa pun Maya, dia tahu adiknya pasti sangat menghargai namanya pernikahan.
Akhirnya sore itu mereka habiskan mengobrol. Untuk memperbaiki hubungan mereka yang pernah renggang karena perasaan Arland kepada Aya.
Ternyata mereka punya hobi yang sama. Mungkin memang asyik jika ada anggota baru di keluarga mereka.
Lalu, Ken pamit pulang karena Aya sudah menelepon. Istrinya memintanya singgah membeli es krim.
Meninggalkan Arland yang masih dilanda rasa bimbang. Dia tidak yakin, tidak bertengkar dengan Maya. Gadis itu suka sekali mencari gara-gara dengannya.
Bruk!
Arland langsung berdiri saat seseorang menumpahkan minumannya. Ia memejamkan mata. Lalu, ia menoleh.
“Kamu!” pekiknya.
“Eh, dengar, ya. Saya kesandung gara-gara kaki kamu sendiri! Kenapa kaki di samping. Bukan di bawa meja?!” Arland menatap kesal gadis di depannya.
“Ck, saya baru mau berdiri!” Arland menatap tajam Maya. Namun, gadis bertubuh mungil ini tidak takut. Justru dia mengangkat dagu tinggi-tinggi karena Arland lebih tinggi darinya. Apalagi pria itu blasteran.
“Yak! Ahjussi, salahkan dirimu,” ujar Maya tidak mau kalah.
“Ck, dasar Ukthy bar-bar,” ejek Arland membuat Maya sudah kesal sampai ke ubun-ubun.
Seorang pegawai datang menghampiri mereka. Ia tersenyum tidak enak, “Tolong Mbak, Mas, selesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah. Pengunjung menjadi tidak enak.”
“Rumah tangga dari Hongkong!” teriak mereka berdua. Keduanya sama-sama meninggalkan cafe.
***
__ADS_1
TBC.