
Tepat hari ini seorang gadis yang baru saja lulus kedokteran akan mulai melakukan Koas disalah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Ia juga sudah siap dengan pakaian dokternya.
Dan gadis itu bernama Intan. Intan menarik nafasnya, mencoba agar tak gugup nantinya. Ini merupakan pengalaman pertamanya, jadi tidak boleh terlalu gugup. Atau semuanya akan menjadi kacau.
"Aku harus semangat. Jangan gugup, semua bakalan baik-baik aja kok. Ayo Intan, kamu pasti bisa." ucap Intan mencoba menyemangati dirinya.
"Sayang cepat turun, sarapan udah jadi ni." teriak ibunya dari lantai satu. Rumah mereka terdiri dari dua lantai, Dan kamar Intan terletak dilantai dua rumah itu. Intan merupakan satu-satunya putri kedua orang tuanya. Bisa dibilang dia tidak ada saingan.
"Iya ma, Intan udah siap. Bentar lagi turun." Balas Intan berteriak. Namun salah sangka, dia tidak membentak ibunya.
Intan memandang dirinya lagi di cermin, Ia sudah terlihat cantik juga anggun. Intan pun melangkah keluar dari kamar itu lalu menuruni tangga menuju ruang makan.
"Pagi pa pagi ma." sapa Intan mencium pipi ayah dan ibunya. Ia lalu mengambil tempat duduk di depan ibunya.
"Pagi sayang, Hari ini kamu udah mulai koas nya ya?" tanya sang ayah menatap putrinya. Walaupun dia sudah tau, dia ingin putrinya kembali memberitahunya.
"Iya pa. Intan gugup takut salah, nanti senior-senior nya malah gak mau ngajarin. Gimana kalo nilai Intan jelek, bisa-bisa Intan gak bakalan jadi dokter deh.." ucap Intan sambil memakan makanannya.
"Gak usah gugup sayang. Anak mama kan anak pintar, Pasti bakalan bisa kok. Yang penting nurut dan mau belajar, Dokter senior nya juga pasti maklumin kok kalo ada salah." ucap ibunya mencoba menyemangati Intan.
"Iya ma." Intan kembali melanjutkan makannya. Semoga nanti dia tidak berbuat kesalahan.
Kegiatan makan itu pun telah selesai, Intan lalu berpamitan pada ayah dan ibunya.
"Intan berangkat dulu ya pa ma. Bye. Love you." ucap Intan melambai, mengambil kunci mobil lalu berlari kearah mobil kesayangannya.
Mobil itu adalah hadiah yang diberikan oleh papanya ketika dia dinyatakan lulus saat mendaftar di kedokteran. Dan sampai sekarang, mobil itu tetap dia gunakan.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Intan pun menambah kecepatannya. Ia takut terlambat, Tidak mungkin kan hari pertamanya ikut koas dia malah terlambat. Apa kata senior-seniornya nanti.
Intan menghentikan mobilnya ketika ia sudah sampai diparkiran rumah sakit itu. Rumah sakit dengan nama Rumah Sakit Kusuma itu terlihat sangat besar dan megah, Pantas saja rumah sakit ini termasuk salah satu rumah sakit ternama dan terbesar di Jakarta. Intan memang tidak salah pilih.
Intan lalu berjalan melangkah menuju lobi. Namun dari sisi kirinya tiba-tiba lewat seorang laki-laki berjalan dengan cepat, mungkin ia sedang buru-buru, pikir Intan.
__ADS_1
Laki-laki itu juga mengenakan pakaian dokter sama sepertinya, "Apa ia juga salah satu mahasiswa yang ikut koas?" Tanya Intan dalam hati.
Saat laki-laki itu masuk kedalam lift dan berbalik memencet tombol lift, Intan akhirnya dapat melihat wajah itu. Wajah laki-laki itu sangat tampan, Intan baru melihat ada mahasiswa kedokteran yang setampan dia.
Pintu lift itu pun tertutup. Intan berdecak sebal. Ia belum puas memandangi wajah tampan itu.
"Siapa ya namanya, dia tampan banget. Apa aku baru saja cinta pandangan pertama?" Gumam Intan berbicara sendiri. "Aku harus tau namanya segera. Tunggu aku tampan. Aku datang."
Intan pun melangkahkan kakinya masuk kedalam lift, Ia memencet tombol yang ada di sana. Lift itu pun membawanya kelantai 8.
Intan keluar dari lift dan langsung pergi mencari ruangan dokter Gina, Dokter Gina adalah senior yang akan membimbing dia selama ia koas di rumah sakit itu.
Intan berjalan dan bertanya pada salah seorang perawat yang kebetulan lewat didekatnya.
"Maaf mengganggu sebentar, Apa kakak tau dimana ruangan dokter Gina? Saya adalah mahasiswi yang akan dokter Guna bimbing." ucap Intan menatap perawat didepannya. Sepertinya usia mereka tidak berbeda jauh.
"Kau tinggal lurus saja, Lalu belok kiri. Nanti kau akan bertemu pintu yang bertuliskan dokter Gina." ucap perawat itu tersenyum sambil menunjukkan jalan.
"Baiklah. Terima kasih." ucap Intan membalas senyuman perawat itu.
Intan mengetuk pintu itu. Menunggu suara seseorang dari dalam ruangan itu. Tak lama seseorang yang berada didalam itu pun menyuruhnya masuk.
"Masuklah." ucap dokter Gina.
Intan membuka pintu itu, berdiri di depan meja dokter Gina. "Selamat pagi dokter Gina. Saya Intan, Mahasiswa koas yang akan anda bimbing." ucap Intan memperkenalkan diri.
"Duduk lah Intan, tidak usah canggung begitu." pinta Gina.
Intan pun mendaratkan bokong nya di kursi yang berada didepan meja dokter Gina.
"Baiklah, hari ini kau hanya perlu menemaniku untuk memeriksa beberapa pasien. Jadi kau juga bisa belajar dari sana." ucap dokter Gina dengan senyuman diwajahnya.
"Baik dokter Gina." ucap Intan membalas senyuman itu.
__ADS_1
*****
Saat ini Intan dan dokter Gina sedang berjalan menuju ruangan dimana pasien-pasien itu dirawat. Namun saat hendak berbelok ke lorong kiri Intan menabrak sesuatu yang keras.
"Apa kau buta? Kau bahkan tidak melihat jalan hah!! Bagaimana jika kau menabrak pasien bukan aku." ucap lelaki itu marah.
Intan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Maafkan saya dokter. Saya benar-benar tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya." ucap Intan bersungguh-sungguh.
"Sudahlah Dirganta, Intan juga tidak sengaja. Kenalkan ini Intan, Mahasiswi koas yang akan menjadi asisten ku untuk sementara waktu." ucap Gina memperkenalkan Intan.
"Aku tidak peduli siapa dia. Yang jelas dokter Gina harus mengajarinya agar melihat jalan dengan benar. Dia bahkan tidak bisa fokus, laku bagaimana jika dia menjadi dokter nanti." ucap dokter laki-laki itu.
"Sekali lagi saya lihat kamu gak fokus, saya bakalan ajuin perpindahan kamu. Permisi." ucap Dirganta berjalan cepat pergi sana.
Melihat dokter itu yang sudah pergi Intan pun kembali menaikkan pandangannya. Ia lalu melihat siapa dokter yang ia tabrak tadi. Mata serta mulut nya membulat. Ternyata yang dia tabrak barusan adalah dokter tampannya.
Lelaki itu berarti bukan mahasiswa yang sedang koas, tapi seorang dokter. Bahkan merupakan senior. Intan berteriak dalam hati.
"Mm.. dokter Gina, siapa dokter tadi? Kalo dilihat-lihat tempramen nya sangat buruk. Apa pasiennya gak serangan jantung kalo dia kayak gitu?" Ucap Intan mencoba mencari informasi tentang dokter tampan itu.
"Itu dokter Dirganta, Sifatnya memang seperti itu. Ia sangat dingin dan irit bicara, Banyak dokter wanita dan perawat yang menyukai nya tapi dia tidak pernah tertarik dengan siapapun." ucap Gina menjelaskan siapa Dirganta.
"Bahkan ada rumor yang mengatakan jika dia tidak tertarik pada wanita. Jadi kalo kamu ketemu dia mending kamu menghindar aja. Dia bakalan cecar siapapun yang berbuat salah di rumah sakit ini."
"Baik dok, saya bakalan inget." balas Intan.
"Sekarang ayo kita pergi."
Intan hanya mengangguk. Sekarang ia tau siapa nama dokter tampan itu. Dirganta. Intan akan mengingat nama itu. Ah, begini rasanya saat jatuh cinta..
______________________________________________
__ADS_1
Hallo selamat datang di cerita ku. Semoga kalian suka ya..
Terima kasih..