
...🍁🍁🍁🍁...
Pagi ini Intan telah siap dengan baju santainya. Hari ini tenaga medis yang ikut bertugas kemarin diperbolehkan untuk libur.
"Pagi ma, pagi pa." Intan mendudukkan dirinya didepan ibunya.
"Pagi sayang. Ayo makan sarapannya." Ibunya mengambilkan sarapan untuknya.
"Oh ya ma, semalem siapa yang anterin Intan pulang?"
"Dirganta yang anterin kamu semalem, bahkan dia juga gendong kamu ke atas, sepatu dilepas, di selimutin lagi. Setelah itu dia langsung pulang katanya mau istirahat."
Kemudian hanya ada keheningan. Mereka sarapan dengan tenang, setelah selesai ayahnya pamit untuk pergi kekantor.
Intan kembali kedalam kamar, ia harus menulis laporannya. Koas nya juga sebentar lagi selesai.
"Apa aku masih bisa ketemu Dirganta ya kalo koas nya udah selesai?" Intan menyalakan laptopnya, memulai tugasnya.
Ponselnya berbunyi memecah keheningan didalam kamar itu. Intan mengangkat nya, melihat siapa yang menelpon. Senyum terbit dibibir ya. Masih siang dan Dirganta sudah menelponnya.
"Halo?"
"Kamu udah bangun? Oh ya saya juga mau bilang. Koper kamu ada di apartment saya. Jadi nanti kalo kamu ada waktu, kamu datang untuk mengambilnya."
"Udah, aku udah bangun dari tadi. Bentar lagi aku ke sana kok."
Panggilan itu terputus. Intan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah menghabiskan lebih kurang 2 jam tugasnya pun akhirnya selesai. Intan segera bergegas untuk bersiap-siap dan turun kebawah.
"Ma, Intan pergi ke apartment Dirganta dulu ya. Intan mau jemput koper Intan yang kebawa sama Dirganta." Intan berjalan menghampiri ibunya.
"Iya hati-hati sayang. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."
Intan pun menjalankan mobilnya menuju alamat Dirganta...
Intan telah sampai didepan apartment Dirganta. Intan mengetuk pintu didepannya. Tidak lama Dirganta tampak membuka pintu dengan keadaan rambut yang masih basah seperti habis mandi.
__ADS_1
"Ayo masuk. Maaf saya habis mandi." Dirganta mempersilahkan Intan untuk masuk kedalam apartment nya.
Intan tersenyum lalu masuk kedalam, mendudukkan dirinya di sofa yang berada diruang tamu apartment mewah itu.
"Sini handuknya." Intan meminta handuk yang dipegang Dirganta. "Kamu duduk di sini, rambutnya biar aku bantu keringin." Intan menunjuk lantai didepannya.
Dirganta tidak menjawab, namun segera duduk ditempat yang ditunjuk Intan. Dirganta menyerahkan handuk kering itu pada Intan.
Intan mulai menggosok-gosok handuk itu pada rambut Dirganta. Intan terlihat seperti seorang ibu yang mengeringkan rambut anak laki-lakinya.
"Nah selesai. Kamu udah sarapan?" Intan bertanya ada Dirganta.
"Saya belum sarapan." Dirganta memang belum sarapan pagi. Ketika bangun tidur Dirganta langsung menghubungi Intan, memberitahu tentang kopernya yang berada di apartment nya.
"Ya udah, sekarang kamu tunggu disini. Aku mau masak sarapan dulu buat kamu." Intan pergi menuju dapur. Membuka kulkas, melihat apa yang bisa ia masak.
Bahan masakan tidak banyak di sana. Intan memutuskan akan memasak nasi goreng saya. Intan pun mengambil bahan-bahan yang ia perlukan dan mulai mengolahnya menjadi sebuah masakan yang tentu saja akan terasa enak.
Setelah bergutat kurang lebih satu jam, nasi goreng buatannya pun sudah siap. Intan juga menyiapkan secangkir kopi untuk Dirganta.
Tidak lama Dirganta pun datang keruang makan, mendudukkan dirinya. Dan tanpa basa basi langsung memakan nasi goreng dihadapannya.
Intan melihat itu kesal. Apa tidak ada kata terima kasih atau sebagainya? Intan pun pergi sana. Menuju ruang tamu, menyalakan tv dengan volume yang keras.
Dirganta melihat itu semua terheran. Apa dia melakukan kesalahan-kesalahan lagi? Ia sudah sangat lapar. Itu lah sebabnya Dirganta langsung makan tanpa berbicara terlebih dahulu.
Dirganta kini telah menghabiskan nasi goreng serta kopinya. Dirganta berjalan kearah Intan dan mendaratkan pantatnya tetap di samping Intan.
"Terima kasih buat sarapannya. Rasanya enak." Ia tau Intan kesal dan dengan mengatakan kalimat itu. Intan akan kembali seperti semula.
"Saya kesel kalo kamu kayak gitu. Orang udah masakin dengan susah payah malah langsung makan aja tanpa ngomong sesuatu." Intan mengerucutkan bibirnya.
"Iya saya minta maaf. Sebagai permintaan maaf saya, saya bakalan bawa kamu ke suatu tempat."
Senyum yang tadinya hilang kini terbit kembali. Intan dengan cepat mengambil tasnya.
"Kalo gitu ayo kita berangkat." Intan menarik tangan Dirganta pergi sana.
__ADS_1
"Tunggu, tv nya belum dimatiin. Saya juga mau ambil kunci mobil dulu dikamar. Kamu tunggu disini."
Intan mengangguk sebagai jawaban.
Keduanya pun menaiki lift untuk turun ke parkiran. Intan sangat bersemangat.
Keduanya masuk kedalam mobil, memasang sabuk pengaman. Dan mulai pergi meninggalkan kawasan apartment elit itu menuju suatu tempat.
"Emang kita mau kemana sih?" Intan melihat kearah Dirganta yang sedang fokus menyetir. Jika sedang fokus seperti ini Dirganta pasti akan terlihat jauh lebih tampan, walaupun dirinya memang selalu tampan.
Akhirnya kedua sampai pada sebuah taman yang sepi, tidak banyak orang di sana.
"Kok aku malah dibawa kesini sih. Tempat nya juga sepi." Intan melihat keseliling, memang tidak ada orang.
"Kamu bakalan tau nanti. Sekarang ayo turun."
Dirganta pun menuntun jalan Intan, berjalan lumayan jauh ketengah taman.
Saat keduanya telah sampai Intan melihat hal didepannya dengan takjub. Sangat indah..
Didepannya terdapat sebuah danau, di sekeliling danau terdapat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Di danau itu juga terlihat banyak ikan yang berenang ke sana kemari.
"Cantik banget. Kok kamu tau kalo ada tempat secantik ini di taman ini. Bukannya taman ini udah jarang ya dikunjungi orang?" Intan menatap Dirganta yang juga tengah menatapnya.
"Tempat ini memang udah lama gak dikunjungi masyarakat lagi. Tapi saya selalu datang kesini. Saya juga bayar orang buat menjaga danau dan sekitarnya supaya tetap bagus." Dirganta tersenyum kearah Intan. Melihat gadis didekatnya tersenyum bahagia membuat ia juga ikut bahagia.
"Kalo gitu sekarang ayo kita kelilingi tempat ini." Intan menarik tangan Dirganta. Dirganta hanya diam. Keduanya berjalan mengelilingi tempat itu, bercerita sesekali tertawa bersama.
Dirganta rasa baru kali ini ia dapat tertawa lepas seperti ini. Tidak sia-sia ia membawa Intan ketempat ini. Tempat dimana Dirganta akan membuang lelah juga penatnya.
Intan adalah gadis yang baik juga ceria. Intan mampu membuat orang lain yang tadinya tidak bersemangat kembali mendapatkan semangatnya. Intan juga selalu menabur keceriaan dimana pun dirinya berada. Sepertinya Dirganta sudah benar-benar tertarik dengan gadis itu.
Dirgantara menggenggam tangan Intan. Dirganta akan mencoba menerima Intan dalam hidupnya walaupun bayangan masa lalu tetap menghantuinya.
Intan melihat tangannya yang digenggam oleh Dirganta, Akhir-akhir ini keduanya tambah dekat. Intan berharap Dirganta akan segera mencintainya. Agar semua yang ia lakukan tidak sia-sia.
Intan akan membuat senyum Dirganta kembali, seperti yang dikatakan dokter Gina tempo hari padanya. Intan berjanji ia akan mewujudkannya...
__ADS_1