
Dirganta menatap ponselnya lama. Dia sudah mencoba menghubungi Intan, namun gadisnya itu tetap tak bisa di hubungi. Terkadang panggilannya terhubung, namun terkadang tidak.
Apakah Intan marah padanya? karena tidak memberi kabar kemarin. Entah lah, itu hanya tebakannya yang bisa saja salah. Bisa saja gadis itu sedang sibuk sekarang.
Entah dimana gadis itu sekarang. Dirganta sangat merindukan suara gadis yang dia cintai itu. Bahkan Dirganta tidak bernafsu untuk sarapan tadi pagi.
Jika dia pulang, itu hanya akan menambah masalah nantinya. Dirganta sudah tau tujuan mereka ke negara ini. Dan itu tidak dapat di tinggalkan begitu saja. Intan juga pasti akan marah jika dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Dirganta menghela nafasnya lelah. Pemuda itu kemudian menyimpan ponselnya kembali didalam saku jaket tebalnya, Di negara dia berada sedang turun salju.
Andai saja dia pergi bersama gadisnya itu, pasti akan menjadi liburan yang menyenangkan. Ah, membayangkan nya saja sudah membuat dia sangat bersemangat.
****
Sementara disebuah ruangan atau lebih tepatnya kamar terlihat seorang perempuan yang masih menutup matanya, mungkin masih menyelami alam mimpi.
Kuregangkan oto-ototku cukup lama merasakan nyamannya berada di kasur yang sangat empuk saat ini. Perlahan aku membuka mata dan melihat sekelilingku sangat asing.
"Tidak! Aku dimana? Astaga apa yang terjadi!" Teriak Intan mencoba mengenali tempat itu, namun nihil.
"Tidak perlu berteriak. Tidak ada yang akan berbuat jahat padamu." Kata seseorang, aku menoleh kesamping.
Intan mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa yang berbicara barusan, tapi dia benar tidak tau. Dia tidak mengenal pemuda itu.
"Seharusnya kau berterima kasih atau paling tidak mengucapkan selamat pagi pada orang yang telah menolong mu." ucap pemuda itu.
Intan bergehem pelan, merasa tidak enak.
"Tunggu! kau barusan mengatakan menolong ku? Menolongku dari apa? aku tidak ingat jika aku mengalami suatu hal."
Pemuda itu tampak mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah itu meletakkan ponselnya dan kembali menatap mata Intan.
"Nona, jika kau lupa. Kau meminum sesuatu dari seorang penjaga saat kau sedang bersantai di tepi pantai."
__ADS_1
"Kau bahkan tidak tau jika minuman itu sudah dicampur dengan obat tidur. Dan kau hampir saja dibawa oleh seseorang jika aku tidak melihat dan menyelamatkan mu. Jadi kau seharusnya berterima kasih padaku." sambung pemuda itu.
Intan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lidahnya kelu untuk mengatakan sesuatu.
"Te..terima kasih sudah menolongku, aku tidak tau harus membalasnya seperti apa." Intan menatap pemuda itu tidak enak hati.
Bayangkan saja bagaimana dia berteriak tadi pagi. Astaga, itu memalukan.
"Oh ya, aku belum mengenalkan nama ku. Nama ku Soni. Kau bisa memanggilku dengan nama itu. Dan kau?" tanya pemuda itu pada Intan yang masih duduk di atas kasur.
"Oh ya, nama ku Intan. Kau juga bisa memanggilku Intan." Intan tersenyum tipis pada Soni.
"Nama yang cantik seperti orangnya." gumam Soni pelan, sehingga Intan tidak mendengar apa yang dia katakan.
Pintu diketuk dari luar, Soni berdiri dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Terlihat seorang resepsionis berdiri dengan membawa troli berisi makanan. Mungkin untuk sarapan.
Setelah Soni mengucapkan terima kasih, resepsionis itu pun pamit undur diri.
Soni membawa sarapan itu ke dekat Intan.
"Kurasa tidak perlu, aku bisa kembali ke hotelku dan membersihkan diri di sana." Intan tidak ingin menambah beban pada pemuda tampan di depannya. Walaupun dia tidak bisa bohong jika Dirganta lebih tampan dari pada Soni.
"Aku mengatakan itu sebagai perintah, bukan bertanya."
Setelah mengatakan itu, Soni langsung keluar dari kamar hotel itu. Meninggalkan Intan dengan sejuta perasaan tidak enak.
Intan mengambil sarapan itu dan mulai memakannya. Dia memang sangat lapar sekarang.
Tak lama terdengar ketukan pintu, Intan membuka pintu dan terlihat seorang laki-laki paruh baya tersenyum manis ke arahnya.
"Nona, saya di perintahkan tuan untuk memberikan anda ini." paruh baya itu memberikan sebuah Tote bag padanya.
Intan menerima Tote bag itu, setelah mengucapkan terima kasih. Intan pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Dan disinilah Intan sekarang, berdiri di depan cermin sambil melihat bagaimana tampilan dirinya. Pakaian yang diberikan asisten Soni sangat nyaman.
Intan memasukkan pakaian kotornya kedalam tote bag itu. Pintu tiba-tiba terbuka. Intan sedikit terkejut, bisa-bisanya pemuda itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bagaimana jika dia masih mengenakan handuk tadi.
"Maaf mengagetkan mu, apa kau sudah selesai? Jika sudah, aku ingin mengajakmu untuk berkeliling desa ini."
Intan berfikir sejenak, tidak ada salahnya menerima ajakan Soni kan. Toh dia memang akan pergi berkeliling.
Intan mengangguk, mengambil tasnya kemudian berjalan lebih dulu di bandingkan Soni.
Soni mengikuti langkah Intan di belakang, Bolehkah dia jujur? Sepertinya, dia sedikit tertarik pada gadis yang berjalan di depannya ini.
Soni tersenyum tipis, sudah lama dia tidak merasakan yang namanya menyukai seseorang. Namun bisa saja perasaan yang dia alami saat ini hanya karena perasaan ingin melindungi gadis itu kan? Ya bisa saja begitu.
Soni membuka pintu mobilnya, Intan masuk kemudian memasang sealbelt. Soni berjalan menuju kursi pemudi. Kemudian mulai menjalankan mobil itu.
Intan menatap hamparan pepohonan yang menghiasi jalanan. Rasanya sangat damai, Ini alasan dia ingin berlibur disini. Di kota, pemandangan serta udaranya terasa sangat berbeda.
"Apa kau warga sekitar sini? Atau hanya wisatawan yang ingin berlibur?" tanya Soni membuyarkan lamunan Intan.
"Aku dari kota. Aku datang kesini karena ingin menenangkan pikiran dari pekerjaan ku. Dan ya, disinilah aku sekarang." jawab Intan tersenyum pada pemuda itu.
Intan tidak tahu, jika senyuman itu membuat perasaan pemuda di sampingnya bertambah tidak menentu. Jantungnya berdetak bertambah kencang.
"Baguslah, kau sudah memilih tempat liburan yang tepat. Aku juga sebenarnya disini karena mengurus pekerjaanku."
Intan menatap Soni yang tampak fokus mengemudi.
"Aku pikir kau asli daerah sini. Makanya kau mengajakku untuk berkeliling. Kau juga terlihat sangat hapal daerah ini."
"Ya, walaupun aku bukan dari daerah ini. Aku sangat mengenali daerah ini. Jadi kau tenang saja, kita tidak akan tersesat."
Intan menghela nafasnya tenang. Pikirannya terkadang memang sangat parno. Tidak salah jika dia takut tersesat. Karena keduanya yang bukan warga asli daerah ini.
__ADS_1
Keduanya tampak menikmati waktu. Tak terkecuali Intan. Gadis itu bahkan melupakan ponselnya. Entah sudah berapa panggilan juga pesan dari nomor tidak di kenal di ponselnya.
Dan sudah bisa di tebak siapa nomor tidak dikenal itu...