Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Pertemuan tidak sengaja


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Intan terbangun dari tidurnya karena cahaya matahari pagi yang mulai masuk kedalam kamarnya.


Intan berulang kali menguap, Ia sangat mengantuk. Intan melihat jam di atas nakas, ternyata sudah pukul 9 pagi.


Intan bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk mandi, Intan pun turun kebawah menemui kedua orang tuanya.


"Pagi ma, papa dimana?" Intan bertanya pada ibunya karena tidak melihat ayahnya dimeja makan itu. Tidak mungkin kan ayahnya pergi ke kantor sedangkan hari ini adalah hari minggu.


"Papa lagi di taman belakang, nyantai" ucap Ibunya mengambil sarapan untuknya.


"Oh ya ma, Intan kok bisa ada dikamar? Yang anterin Intan semalem siapa?" Intan benar-benar tidak ingat, Yang ia tau hanya Dirinya sudah berada didalam kamar itu, dengan pakaian yang surah berganti.


"Emang kamu gak inget siapa yang anterin kamu?" Ibunya mengangkat-ngangkat alisnya, mencoba menggoda Intan.


"Kalo Intan inget gak mungkin Intan nanya ma. Mama juga kan tinggal jawab aja. Atau dokter galak itu nelpon mama sama papa buat jemput aku ya??" Tanya Intan penasaran.


Jika benar Dirganta menelpon kedua orang tuanya untuk menjemputnya, Dirganta benar-benar keterlaluan. Ia sudah lelah membersihkan ruangan itu, Tapi malah gak dianterin pulang. Gak bertanggung jawab banget.


"Bukan sayang. Semalem nak Dirganta yang anterin kamu pulang, Mama denger suara ketukan pintu, pas mama buka eh udah ada kamu di gendongan nak Dirganta."


Intan yang mendengar itu pun tersedak. Astaga!!!!! Apa ia tidak salah dengar? Dirganta, dokter yang terkenal dingin, irit bicara, tempramen buruk itu nganterin dia pulang, Yang paling bikin tercengang adalah ia digendong oleh dokter itu.


"Ah gak mungkin deh dokter Dirganta gendong aku. Di rumah sakit aja dia selalu marahin aku ma." Adu Intan.


"Masa sih? mama liat Dirganta kayak orang baik kok. Bahkan semalem ia makan malam disini. Ngobrol juga bareng papa."


Intan tersedak untuk yang kedua kalinya.


"Hati-hati dong sayang kalo makan." Ibunya mengambil air minum dan memberikannya pada Intan.


Intan meminum air yang berikan ibunya sampai tak tersisa. Ia masih belum percaya dengan yang ibunya katakan. Tapi jika benar, ia sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan Dirganta.


"Kok mama gak bangunin Intan sih. Kalo mama bangunin kan Intan bisa makan malam bareng sama Dirganta."


"Kamu semalem tidur pulas banget sayang. Mama gak tega buat bangunin kamu. Tapi tenang aja, Papa udah ajak Dirganta buat makan malam lagi lain waktu. Jadi jangan berkecil hati ya."

__ADS_1


Intan hanya mengangguk. Ia sudah lelah membujuk Dirganta agar mau makan malam dengan keluarganya, namun dokter dingin itu malah berulang kali menolak ajakannya.


Tapi kenapa disaat ia tertidur dokter dingin itu malah mau. Ia jadi tidak bisa lebih dekat dengan dokter dingin itu. Malah orang tua nya yang tambah dekat dengan Dirganta. Bukan dirinya.


"Kesel banget deh. Kok aku malah ketiduran semalam. Kalo gak ketiduran kan pasti udah tambah deket. Makan malam bareng. Trus pas mau pulang dianterin sampe depan, Kening dikecup. Aahhhh Indah banget imajinasi aku."


Intan kembali menendang-nendang angin.


"Udah lah. Lupain aja dulu, sekarang gimana kalo aku pergi shopping ke mall. Bosen kalo di rumah aja, mending belanja mumpung hari libur."


Intan mengganti pakaian nya, mengambil tas lalu turun kebawah mencari ibunya.


"Ma, Intan pergi ke mall ya. Mau belanja, udah lama gak pergi."


"Ya udah, hati-hati ya. Jangan lupa beliin mama sama papa sesuatu."


Intan mengangguk lalu berjalan kearah mobilnya yang sudah diperbaiki. Intan memasang sabuk pengaman lalu pergi meninggalkan rumahnya menuju mall terdekat dari rumahnya.


*****


Intan melihat-lihat toko-toko yang ada di pusat perbelanjaan itu. Ia bingung harus membeli apa.


"Selamat datang mbak, Ada yang bisa kami bantu." Penjaga toko itu datang menghampirinya.


"Saya mau lihat-lihat aja dulu mbak. Nanti kalo saya butuh sesuatu saya bakal bilang kok."


Penjaga toko itu mengangguk lalu pergi dari tempat Intan berdiri.


Intan pergi ketempat dimana baju santai berada.


"Kayak nya beli yang ini deh. Soalnya cantik banget. Mbak saya ambil yang ini ya."


Penjaga toko itu pun datang lalu mengambil pakaian yang Intan mau,lalu membawanya ke meja kasir.


Intan membayar belanjaannya lalu pergi melangkah menuju sebuah cafe.


Intan melihat-lihat meja yang kosong, namun retina matanya menatap seorang pemuda yang duduk sendirian disudut cafe itu.


Intan tersenyum lalu melangkah kearah pemuda itu.

__ADS_1


"Loh kok dokter Dirganta ada di sini? Dokter ngapain ke mall? Mau belanja juga ya?" Tanpa permisi Intan mendudukkan bokongnya di kursi yang ada didepan Dirganta.


Dirganta yang melihat tamu tak diundang itu pun mengerutkan keningnya. Mengapa wanita ini selalu ada dimana-mana. Sangat membuat mood jadi buruk.


"Ini kan tempat umum. Jadi terserah saya dong kalo saya mau dimana aja." Jawab Dirganta acuh.


"Iya sih. Dokter gak salah. Dokter udah pesen? Mau saya pesenin gak?"


"Saya udah pesen tadi. Dan juga masih banyak meja kosong. Ngapain kamu duduk dimeja saya."


Intan berdiri. "Kan ini tempat umum dok. Jadi terserah saya mau duduk dimana aja. Lagian kan kita saling kenal."


Intan pergi dari sana tanpa menghiraukan tatapan kesal dari Dirganta. Intan hanya terkekeh pelan.


Makanan mereka berdua telah datang. Mereka memakan makanannya dengan tenang. Intan tak bersuara seperti biasanya karena ia sudah sangat lapar. Sedangkan Dirganta, ia memang tak akan pernah mau memulai pembicaraan.


Setengah jam kemudian, Dirganta sudah selesai dengan makanannya. Ia memang hanya memesan satu menu saja. Tidak seperti Intan yang memesan sampai 3 menu hanya untuk dirinya.


Dirganta benar-benar tidak bisa menganggap remeh wanita didepannya jika sudah menyangkut makanan. Benar-benar rakus.


Dirganta memperhatikan wanita didepannya dengan teliti. Ternyata jika sedang tidak memakai pakaian khusus dokternya, Intan sangat cantik.


Wajah polos tanpa make up menor nya sangat cantik. Dirganta baru melihat Intan yang berpenampilan seperti ini.


Intan yang melihat Dirganta memperhatikannya pun tersenyum. Sepertinya Dirganta terpesona dengannya.


"Dokter kok ngelamun sih. Lagi mikirin apa? Jangan bilang kalo dokter lagi mikirin saya ya" Tanya Intan dengan tangan yang bertumpu dimeja. Membuat lamunan Dirganta buyar seketika.


Dirganta yang ketahuan memperhatikan Intan pun hanya berdehem.


"Siapa yang mikirin kamu. Saya cuma mikir kok kamu kurus gini, makannya malah banyak banget."


Intan yang mendengar itu seketika berubah kesal. Apa Dirganta secara tidak langsung mengatainya rakus??


"Saya emang banyak makan dok. Tapi saya juga olahraga. Makanya saya tetep langsing. Dan juga saya perlu makan banyak supaya bisa hadapin sifat dingin dokter itu."


Setelah mengucapkan itu Intan mengambil belanjaannya dan berlari dari sana. Sebelum Dirganta marah padanya.


Dirganta yang mendengar itu pun menggelengkan kepalanya. Intan ternyata sudah berani mengatainya. Tapi kenapa tiba-tiba ia tidak marah atau kesal. Ia bahkan merasa sedikit senang karena Intan sudah berani bicara seperti itu padanya.

__ADS_1


Apa yang terjadi pada dirinya..????


__ADS_2