Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Cinta yang mendalam


__ADS_3

Dirganta menatap ponselnya kesal. Tidak, Tidak akan dia biarkan Intan mencari laki-laki lain, Hanya dia yang akan menjadi calon suami Intan. Iya. Hanya dirinya seorang.


Terdengar pintu kamar hotel yang diketuk, Dirganta berjalan membuka pintu dan melihat seorang wanita berdiri disana dengan pakaian yang cukup ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ingin sekali Dirganta mendorong wanita itu pergi. Dia sangat risih.


Wanita yang bernama Ica terus menatap Dirganta dengan mata yang tidak bisa lepas dari wajah itu. "Wajah pemuda ini sangat tampan." Pikirnya.


"Ada Apa?" Tanya dokter tampan itu.


Mata Ica mengerjab dua kali pertanyaan pemuda itu membuatnya langsung tersadar akan keterdiamannya.


"Ah, maaf kan aku. Aku ingin meminta tolong meminjam ponsel sebentar karena ponsel ku tertinggal di dalam taxi. Aku harus menghubungi asisten ku."


"Apa kau tidak bisa meminta tolong pada pihak hotel? Kau mengganggu waktu berharga ku." ucap Dirganta ketus.


"Oh ya ampun. Kau benar, aku berada di hotel sekarang. Maafkan aku. Aku sangat sering lupa dimana aku berada." Ica merasa tidak enak hati. Mengapa sifat pelupa nya ini datang di tidak waktu yang tepat. Ica sangat malu.


"Sekarang bisa kau pergi. Aku sibuk." Dirganta menutup pintu dengan kesal. Bayangkan saya, pihak hotel pasti akan membantu wanita itu namun wanita yang dia lupakan nama nya itu malah meminta tolong padanya. Ini hotel, bukan apartemen. Astaga. Mood Dirganta benar-benar hancur, Perkataan Intan yang tadi masih berada jelas dipikiran nya dan sekarang wanita sinting itu malah memperburuk mood nya.


Dirganta memilih menghubungi Radit. Tadi Radit berpesan ingin keluar sebentar. Dia suntuk jika harus terus berada di dalam kamar hotel.


"Kau dimana?"


"Aku sedang berada di cafe mengapa? kau ingin menyusul atau berpesan sesuatu?"


"Aku juga sudah muak berada dikamar hotel ini. Aku akan menyusul mu. Kirimkan padaku lokasi kau berada, aku akan bersiap-siap."


"Baiklah."


Dirganta menyimpan ponselnya. Mengambil kemeja berwarna navi, menggulung lengan sedikit. Dia terlihat tampan sekarang.

__ADS_1


Taxi yang sudah dia pesan telah sampai. Saat Dirganta masuk kedalam tiba-tiba pintu di sebelahnya terbuka. Masuk lah seorang wanita yang sangat ingin dia kubur hidup-hidup.


"Kenapa kau masuk kesini? Ini taxi ku. Kau bisa memesan taxi lain." ucap Dirganta dengan nada marah bercampur kesal.


"Aku melihat kau naik taxi ini dan aku ikut masuk. Akan sangat lama jika aku harus menunggu taxi lain. Kau mau kemana? Aku ingin mencari udara segar diluar sana." jawab Ica.


"Tapi aku tidak ingin satu taxi dengan mu. Kau sangat tidak menarik dimata ku. Bahkan kurasa setiap melihatmu mata ku jadi sakit." ucap Dirganta sambil menunjuk matanya.


Ica terkekeh pelan. Dirganta sangat lucu. Ica pikir Dirganta adalah tipe orang yang sangat dingin, ternyata tidak. Ya, walaupun Dirganta selalu ketus padanya tapi tidak masalah. Ngomong-ngomong kenapa dia tau nama Dirganta? itu adalah karena dia juga sama dengan Dirganta, dia juga seorang dokter yang ingin bertugas disini. Dan dia telah melihat biodata dari Dirganta, itu lah mengapa dia tau."


Dirganta memilih mengalah. Dia diam, tidak ingin menambah pembicaraan. Wanita disampingnya ini sangat cerewet. Kupingnya terasa panas. Jika gadisnya yang cerewet Dirganta bersumpah dia pasti akan mendengarkan semua yang dikatakan oleh Intan. Namun ini bukan gadisnya, bukan cintanya apalagi bukan masa depannya.


"Berhenti." Dirganta memilih turun disini. Dia akan berjalan kaki saja, jaraknya juga tidak terlalu jauh lagi. Dirganta tidak sanggup jika harus lebih lama berada satu taxi dengan wanita lain. Dia tidak bisa.


Dirganta menyerahkan uang pada sopir taxi itu. Berterima kasih dan keluar. Berjalan menuju cafe dimana Radit berada.


Sesampainya Dirganta di cafe itu. Matanya langsung menemukan dimana Radit berada. Dirganta berjalan menuju meja Radit.


Dirganta mendudukkan dirinya tepat didepan Radit. Seorang pelayan datang bersiap mencatat pesanan Dirganta. "Satu ice americano please."


Pelayan itu pamit setelah mencatat pesanan Dirganta.


"Kau ada masalah? Atau hal lainnya? Wajahmu terlihat tidak bersemangat, ada apa?"


Dirganta membuang nafasnya kesal.


"Aku bertemu seorang perempuan gila. Apa kau tau? dia mengetuk kamar ku untuk meminjam ponsel, padahal dia bisa meminta tolong pada pihak hotel. Tidak hanya itu, ketika aku naik taxi dia juga masuk kedalam taxi yang sama. Hari ku yang suram sudah bertambah suram."


Dirganta yang sudah terlanjut kesal pun tanpa sadar mengambil kopi Radit yang berada didepannya.

__ADS_1


Radit terkekeh pelan. "Astaga, yang benar saja. Kau pasti ingin melempar wanita itu sekarang, sangat terlihat dari wajahmu." Radit cukup tau dengan sifat Dirganta, keduanya berteman sudah cukup lama. Dan dia tau Dirganta tidak suka jika seorang perempuan ingin dekat-dekat dengannya selain keluarga nya. Tidak dia suka.


Seorang pelayan datang dan mengantar pesanan Dirganta. Dirganta meminum ice americano pesanannya. Rasanya sangat segar saat pikiran berantakan.


"Ngomong-ngomong apa perempuan itu cantik? jika benar siapa tau kau berjodoh dengannya."


Dirganta tersedak mendengar perkataan Radit.


"Yang benar saja, kau pikir aku ingin berjodoh dengan perempuan itu? sampai mati pun aku tidak akan mau."


Radit mendengar itu sontak tertawa. Ah, Dirganta tidak berubah. Dirganta masih menjadi seorang pemuda yang tak tersentuh.


"Bagaimana jika hal yang tak kau inginkan terjadi, aku akan menjadi orang pertama yang tertawa terbahak-bahak didepan mu." Radit semakin tertawa.


Dirganta memutar bola matanya malas. Membayangkannya saja dia sudah merinding. Namun seketika dia tersenyum, membayangkan bagaimana jika dia dan Intan sudah menikah. Hari-hari nya yang suram pasti akan bersinar. Bermain bersama anak-anak mereka yang lucu. Astaga Dirganta semakin merindukan Intan. Rasa rindunya bertambah menggebu-gebu.


"Aku sudah memiliki kekasih. Dan aku tidak tertarik dengan secantik apapun perempuan diluar sana. Karena bagiku yang tercantik adalah kekasihku sendiri." ujar Dirganta menyombongkan Intan.


Sontak perkataan Dirganta membuat Radit sedikit menyimburkan air dari dalam mulutnya. Apa ini? Apa pemuda didepannya ini adalah Dirganta?


"Kau bercanda? Sejak kapan? tidak maksudku bagaimana bisa?" pertanyaan beruntun dari Radit bukan tanpa alasan. Radit tau jika Dirganta tidak bisa melupakan masa lalunya. Seperti seorang pemuda yang cinta mati kepada kekasihnya yang sudah mati.


Dirganta mendengar itu sontak mengerutkan keningnya bingung. Apa dia terlihat bercanda? Untuk apa dia bercanda masalah hati. Dan juga perasaan nya pada Intan bukan sesuatu hal yang harus di ragukan. Dia bersungguh-sungguh.


"Tidak, aku tidak bercanda. Aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Ah, ku rasa aku akan gila karena terlalu mencintainya. Aku akan mempertemukan kalian jika kita sudah kembali ke Indonesia." ujar Dirganta mantap.


****


Sementara disebuah kamar dimana Intan sedang tertidur lelap tiba-tiba saja tenggorokan nya gatal, batuk pun menderanya. Langsung saja Intan mengambil air minum di atas nakas. Meminum sampai tandas.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? apa ada yang membicarakan ku?"


Intan tidak peduli, matanya sangat mengantuk. Intan kembali membaringkan tubuhnya untuk kembali tidur dan masuklah dia kedalam mimpi indahnya.


__ADS_2