
Hari ini semua tenaga medis sudah harus kembali ke rumah sakit. Rumah warga yang rusak juga sudah diperbaiki.
Obat-obatan pun sudah di berikan pada kepala desa itu apabila ada warga yang membutuhkan.
Saat ini Dirganta sedang menunggu Intan didalam mobil yang akan membawa mereka kembali ke kota. Intan sudah pergi dari tadi, dan sampai sekarang belum kembali.
Dirganta sendirian didalam mobil itu. Dia sangat bosan.
"Dia pergi kemana sih? Lama banget. Dari tadi pergi belum kembali juga." Dirganta melihat keseliling nya namun memang Intan tak terlihat dimana pun.
Seseorang tiba-tiba berdiri di samping Dirganta.
"Dokter, saya mau ngucapin terima kasih karena dokter dan yang lainnya udah bantuin desa kami." wanita itu menatap Dirganta dengan kagum.
"Oh ya dok apa saya boleh minta nomor telepon dokter? Karena luka saya, jadi saya harus pergi ke kota untuk berobat. Sedangkan di kota saya gak kenal siapapun."
Dirganta sebenarnya malas meladeni wanita di dekatnya ini, namun setelah menimang apa yang diucapkan wanita itu ia pun mengiyakan saja.
"Ya udah. Ini nomor telepon saya. Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa hubungi kesini saja." Dirganta menyerahkan kartu namanya pada wanita itu.
Wanita itu langsung saja mengambil kartu nama itu.
"Terima kasih dok. Oh ya dok. Nama saya Anggun dan nama dokter?"
"Nama saya Dirganta. Dan jika kamu tidak memiliki keperluan lagi, silahkan turun dari mobil ini. Saya gak mau ada gosip yang menyebar nanti." ucap Dirganta dengan kesal.
Wanita ini sangat terlihat modus padanya, namun Dirganta mengingat jika dia adalah seorang dokter. Dan sudah menjadi tugasnya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Anggun pun yang mendapat tanggapan seperti itu memilih untuk pamit pergi dari sana. Ia tersenyum licik, langkah awal sudah berjalan dengan mulus. Tinggal menjalankan langkah selanjutnya. Dia tidak peduli jika Dirganta secara terang-terangan mengusirnya. Yang jelas, dia akan berusaha mendapatkan Dirganta.
__ADS_1
Dari tempatnya Intan dapat melihat wanita yang ia tolong turun dari mobil yang akan ia dan Dirganta naiki.
Intan mengerutkan keningnya. Apa yang dilakukan wanita itu? Kenapa dia turun dari mobil itu? Bukankah di dalam mobil itu hanya ada Dirganta? Intan jadi kesal. Apa wanita itu berniat mendekati Dirganta? Dan juga Intan tidak bisa melihat wajahnya jadi tidak tau siapa wanita itu.
Intan dengan kesal kembali ke mobil dan langsung mendudukkan dirinya di samping Dirganta.
"Maaf lama, tadi banyak anak-anak yang gak mau ditinggal. Aku jadi kasihan sama mereka." Intan mengatakan itu dengan nada bodo amat.
Dirganta yang mendengar itu mengerutkan keningnya, ada apa dengan gadis disampingnya? Sebelum pergi gadis itu baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu tadi?
"Ada apa? Kenapa dengan wajahmu? Kau terlihat kesal? Apa ada yang mengganggumu?" Dirganta menatap gadis itu heran.
"Gak ada. Cuma bete aja. Oh ya, tadi aku liat kok ada perempuan yang turun dari mobil ini? kok dia bisa masuk ke mobil ini tadi, dia juga bukan tenaga medis deh? Dan juga kenapa gak ada yang larang dia masuk?" Intan menunggu jawaban dari Dirganta. Tapi Dirganta hanya diam. kemudian tertawa.
"Astaga jadi kmu bete cuma gara-gara perempuan tadi? Dia itu perempuan yang kamu tolong. Jadi akibat luka yang ia dapat. Dia harus pergi ke rumah sakit yang ada di kota. Jadi dia minta nomor telepon aku, soalnya katanya di kota dia gak kenal siapapun"
Namun jawaban Dirganta malah membuat Intan semakin kesal.
Dirganta melihat itu gemas sendiri. Sepertinya gadis itu sedang cemburu berat. Dirganta melihat apakah ada orang atau tidak. Setelah memastikan tidak ada orang, Dirganta pun mengecup bibir itu secepat kilat.
Intan yang tak siap pun membulatkan matanya. Apa Dirganta sudah gila menciumnya disini? Bagaimana jika ada yang melihat mereka.
"Kamu udah gila ya? Gimana kalo ada yang lihat kita? Pasti di rumah sakit bakalan penuh sama gosip tentang kita." Intan melihat sekeliling apakah ada orang lain atau tidak ternyata tidak ada orang. Syukurlah.
"Kenapa harus takut? Aku udah pastiin kalo gak ada orang yang bakal liat. Dan juga kalo ada yang liat pun aku gak masalah."
Pun Intan hanya memilih diam. Dirganta pasti akan selalu punya jawaban untuk apa yang dia katakan, jadi lebih baik diam saja.
Keduanya pun larut dengan pikiran masing-masing. Setelah semua tenaga medis masuk kedalam mobilnya masing-masing.
__ADS_1
Rombongan itu pun berangkat, kembali ke kota.
*****
Hari sudah malam ketika rombongan yang berisikan tenaga media itu sampai didepan rumah sakit. Dirganta melihat kesamping nya, ternyata gadis itu masih tertidur.
Setelah semua sudah turun, Dirganta pun menggendong Intan turun, berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di sana. Sebelum mereka sampai supir yang ada dirumahnya sudah lebih dulu membawa mobilnya ke rumah sakit.
Dirganta mendudukkan Intan, memasangkan sabuk pengaman. Ia kemudian pergi mengambil barang-barang mereka. Dan meletakkannya di bagasi mobilnya.
Dirganta melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai padat. Dirganta menatap wajah Intan yang tertidur. Gadis itu bahkan tidak terbangun ketika di pindahkan.
Dirganta tersenyum tipis. Intan memang seseorang yang spesial. Berbeda dengan perempuan lain. Dirganta menggelengkan kepalanya kembali pada kenyataan. Dirganta memfokuskan perhatiannya kembali pada jalanan.
Mobil Dirganta pun sampai didepan rumah kedua orang tua Intan. Dirganta kembali menggendong Intan. Mengetuk pintu.
Pintu kayu besar didepannya pun terbuka, menampilkan Ibu Intan yang tengah tersenyum kearahnya.
"Nak Dirganta, kalian udah nyampe. Ayo langsung bawa Intan keatas aja ya." Dirganta mengangguk. Ia membawa Intan keatas, membaringkan gadis itu pada kasurnya, lalu menyelimutinya.
Setelah puas menatap gadis itu, Dirganta pun turun kebawah.
"Tante Dirganta langsung pulang aja ya. Soalnya Dirganta masih capek, mau istirahat."
"Iya. Hati-hati ya. Dan terima kasih karena udah mau jaga Intan." Ibu Intan melambaikan tangannya saat Dirganta keluar dari rumahnya.
Dirganta pun pergi dari rumah itu.
Dirganta kini telah sampai diparkiran Apartment nya. Dirganta menurunkan kopernya dari bagasi, Namun ia melihat sebuah koper yang sangat ia kenali. Ia melupakan koper Intan.
__ADS_1
"Kopernya malah kebawa lagi, tapi biarin aja deh. Besok suruh dia jemput aja kesini."
Dirganta membawa kopernya dan koper Intan ke apartemennya. Dirganta pergi membersihkan dirinya. Kemudian beristirahat setelah menjalankan tugas yang menguras tenaga mereka...