
Intan mempercepat langkahnya saat lokernya sudah terlihat dekat. Intan mengatur nafasnya, kemudian membuka lokernya dan mengambil apa yang dia butuhkan lalu meletakkan apa yang tidak dibutuhkan.
Intan segera pergi dari sana untuk melakukan tugasnya. Dia ngos-ngosan. Intan sepertinya membutuhkan air minum saat ini.
Tiba-tiba seseorang menyerahkan sebotol air mineral padanya. Intan masih setia berjalan, dan orang itu berjalan ke samping tubuhnya.
Intan melihat siapa orang itu dan ternyata itu adalah Bagas.
"Ini minum. Kayak kamu habis dikejar banteng aja deh. Ngos-ngosan gitu."
Intan mengambil air mineral yang di sodorkan Bagas kemudian langsung meminumnya. Ah..Rasanya sangat lega.
"Kenapa kamu ke sini? Dan juga ini masih siang. Bukannya mama kamu udah pulang ke rumah kalian ya." ucap Intan tanpa melihat lawan bicaranya. Intan hanya fokus pada jalannya saja.
Bagas melihat wajah Intan. Ah, rasanya sangat sesak. Ia merindukan gadis didepannya. Bagas sudah lama tidak melihat Intan. Kemarin Bagas datang ke rumah sakit ini, namun perawatan yang mengenal Intan berkata jika Intan tidak masuk.
Bagas pun akhirnya mengalah dengan perasaannya. Bagas pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke perusahaannya.
"Aku ke sini ada urusan sebentar. Oh ya, mama aku ngajak kamu makan malam nanti. Kamu gak ada janji kan nanti malam?" tanya Bagas menunggu jawaban dari gadis yang terlihat cemas dari raut wajahnya.
"Aku gak ada janji kok nanti malam. Tapi maaf ya, aku harus pergi. Aku buru-buru soalnya. Bye." Intan berbelok ke lorong kanan, berbeda dengan Bagas.
"Nanti aku kirim alamatnya." teriak Bagas pada Intan. Intan hanya mengacungkan jempol nya sebagai jawaban.
Bagas menghela nafasnya. Ia harus segera kembali dan mengatakan kepada mamanya jika Intan bersedia makan malam di rumah mereka.
Bagas berjalan dengan ekspresi wajah yang terlihat bodoh. Sesekali dia akan tersenyum dan ketika tersadar dia akan menormalkan kembali ekspresi nya. Bagas bersenandung ria sembari berjalan menuju mobilnya.
Bagas pun melanjutkan mobilnya dengan pelan meninggalkan rumah sakit..
*****
__ADS_1
Intan berjalan dengan lesu menuju ruangannya. Intan memang sudah memiliki ruangan sendiri, dia bersyukur karena bisa koas di rumah sakit yang sangat memperhatikan calon dokter muda Sepertinya.
Intan merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Intan menyenderkan punggungnya pada kursi di ruangannya. Ia sangat lelah juga lapar. Pagi tadi karena terburu-buru ia hanya memakan satu buah roti. Dan sekarang perutnya berteriak meminta untuk diisi.
Intan berdiri dari duduknya. Ia harus mengisi perut nya sekarang. Pun Intan pergi menuju kantin yang berada di rumah sakit itu.
Intan memesan makanan yang akan dia makan dan mencari tempat duduk untuknya. Intan mendudukkan dirinya saat ada satu meja yang masih kosong.
Kantin rumah sakit ini memang ramai jika sudah masuk makan siang.
Intan mengambil ponselnya saat ponsel itu bergetar didalam saku jasnya. Intan melihat siapa yang menghubunginya ternyata Dirganta. Apa pemuda itu tidak ada kerjaan? jangan tanya kenapa Intan mengatakan itu karena Dirganta akan selalu menghubunginya jika sudah masuk waktu makan siang.
Ketika Intan masih koas di rumah sakit keluarga Dirganta, pemuda itu selalu terlihat sibuk. Tidak ada waktu bahkan untuk mengirim pesan. Namun lihatlah sekarang, ketika Intan sudah pindah, pemuda itu selalu punya waktu luang bahkan tidak jarang Dirganta akan datang ke rumah sakit dia koas hanya untuk makan siang bersama.
Intan mengangkat panggilan itu dan langsung terdengar suara diseberang sana.
"Hallo, apa kau sudah makan siang?"
"Belum, aku ada di kantin, dan makanan nya belum datang. Aku masih nungguin. Kalo kamu gimana? Kamu udah makan siang?"
"Ya udah kalo gitu istirahat aja dulu. Nanti jangan lupa makan siang ya, nanti sakit lagi. Aku juga yang repot."
"Kalo aku sakit kamu bakalan selalu ada di dekat aku. Dan juga kamu kan yang mau jaga aku, berarti kamu juga khawatir sama aku."
Intan tersipu malu. Bisa-bisanya Dirganta mengatakan itu padanya.
"Udah ya, makanan aku udah dateng. Bye." Tanpa menunggu jawaban Dirganta, Intan langsung mematikan panggilan itu.
Jika masih di biarkan, Dirganta pasti akan selalu merayunya. Dia memang mengkhawatirkan Dirganta, Intan tidak bisa munafik jika soal itu. Tapi itu bukan berarti Intan menerima Dirganta menjadi kekasihnya.
Intan masih harus berfikir untuk kedepannya. Jika seperti ini terus, lama-lama dia akan luluh kembali dan menerima Dirganta.
__ADS_1
Lamunan Intan buyar saat seorang pelayan yang bekerja di kantin itu mengantarkan pesanannya. Intan berterima kasih pada pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, Intan pun mulai menghabiskan makan siangnya.
Akhirnya perutnya telah terisi. Intan juga sudah kenyang. Pun dia beranjak dari sana karena jam waktu istirahat akan segera berakhir.
Dirganta akhirnya tersenyum lega saat semua pekerjaannya telah selesai. Dirganta mengemasi semua barang-barangnya, mengambil kunci mobil bersiap untuk menjemput Intan.
Dirganta mengendarai mobilnya dengan penuh semangat. Kenapa tidak bertemu beberapa jam saja rasanya sangat merindukan gadis itu. Apa dia sudah terkena sihir gadis itu? Entah lah. Dirganta tidak peduli. Yang harus dia pikirkan adalah bagaimana secepatnya agar Intan dapat menerimanya sepenuhnya.
Mobil Dirganta telah sampai di rumah sakit tujuannya. Dirganta keluar dari mobil dan langsung pergi menuju ruangan Intan. Dirganta membuka pintu ruangan itu tapi ternyata kosong.
"Kemana dia pergi? Apa pekerjaannya belum selesai?" Dirganta mengambil ponselnya mencoba menghubungi Intan. Tapi ponsel Intan malah tidak bisa di hubungi.
Dirganta mengacak rambutnya kesal. Kemana gadis itu pergi? Tidak biasanya Intan akan pergi tanpa memberitahunya.
Dirganta pun bertanya pada perawat dan dokter yang lewat. Mereka mengatakan tidak tau keberadaan Intan. Namun saat hendak pergi, Seorang perempuan datang menghampiri Dirganta.
"Dokter Dirganta ya?" tanya perempuan itu sambil menampilkan senyum menawan yang dia punya, tapi tak membuat Dirganta tertarik sedikitpun.
Dirganta mengerutkan keningnya heran. Dia tidak mengenal perempuan di depannya. Dan di lihat dari penampilannya sepertinya perempuan ini juga mahasiswa yang koas seperti Intan.
"Oh maaf dok, saya pasti buat dokter heran ya. Dokter cari Intan kan? Intan dari tadi udah pulang dok, dia naik taksi. Tapi saya tadi denger kalo dia ada janji makan malam."
Dirganta bertambah heran. Perasaannya dia tidak mengajak Intan makan malam. Dan juga, siapa yang telah berani mengajak gadisnya itu makan malam.
"Apa kamu tau dengan siapa dia akan makan malam?" tanya Dirganta tak sabar. Dia harus segera menyusul Intan ke sana.
"Saya gak tau dok. Tapi lelaki itu sering banget dateng ke rumah sakit ini buat cari Intan. Oh ya, kalo gak salah dulu ibunya juga di rawat di sini. Dan Intan juga yang bantuin mereka. Tunggu kayak nya saya inget deh siapa namanya. Oh ya namanya Bag..."
Sebelum perempuan itu menyelesaikan omongannya. Dirganta sudah lebih dulu berlari ke arah mobilnya.
Sial. Kenapa Bagas mengajak Intan makan malam. Apa dia berniat untuk merebut Intan dari nya? Apa dia tidak puas dengan merebut kekasih Dirganta yang dulu.
__ADS_1
Dirganta menggenggam setir kemudi dengan erat. Sepertinya Dirganta harus memberi pelajaran pada orang yang telah dengan berani mencoba mendekati gadisnya.
"Bagas, aku gak bakalan biarin kamu buat merebut orang yang aku cintai lagi. Gak akan pernah."