
...🍁🍁🍁🍁...
Intan dan Dirganta berjalan seiringan di lorong rumah sakit itu. Intan sesekali mengajak Dirganta berbincang namun yang Intan dapat hanya kediaman dan tatapan kesal.
Intan yang tak kehabisan ide pun meminta tolong agar Dirganta mau mengantarnya pulang, karena Intan hari ini tidak membawa mobilnya.
"Dokter mau ya anterin saya pulang!? Soalnya saya gak bawa mobil. Mobil saya mogok jadi saya bawa ke bengkel. Ya? mau ya dok."
Ingin sekali Dirganta menutup telinga atau melakban mulut anita disampingnya ini sangat berisik, dari tadi tidak bisa diam.
"Apa kau tidak bisa diam!! saya sibuk!! Naik taxi kan bisa. Ngapain harus saya yang anterin kamu. Telpon keluarga kamu jemput kamu kan bisa."
Dirganta mempercepat langkahnya, Ia harus segera menjauh dari wanita itu.
Intan yang melintas Dirganta berusaha menjauh darinya pun ikut mempercepat langkahnya.
"Keluarga saya sibuk dok, Dan juga gak mungkin kan saya naik taxi malem-malem. Takutnya nanti saya diculik lagii. Atau yang paling buruk gimana kalo saya di lecehin atau sebagainya. Dokter mau tanggung jawab!!?" Intan tetap berusaha agar Dirganta mau mengantarnya.
"Ngapain saya harus tanggung jawab. Pacar bukan, istri juga bukan. Dan juga gak bakal ada supir taxi yang mau sama kamu. Jadi gak usah parno."
Pintu ruangannya sudah terlihat. Dirganta melangkahkan kakinya lebar-lebar dan akhirnya sampai di ruangan itu.
Dirganta mendudukkan dirinya di kursinya.
Intan masuk dan masih menampilkan wajah memelas nya. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Dokter mau ya, please. Dokter kan senior saya, Jadi kalo terjadi sesuatu pasti dokter Dirganta yang bakal ditanyain."
Dirganta menghela nafasnya, Jika ia masih meladeni wanita itu dipastikan pembicaraan itu tidak akan pernah berakhir.
"Baik, saya bakalan antar kamu. Sekarang pergi selesaikan tugas kamu!!"
"Terima kasih banyak dokter, saya pergi dulu. Bye dokter ganteng."
Intan berlari dari ruangan itu meninggalkan Dirganta yang mengerutkan keningnya. Apa ia tidak salah dengar? Intan menyebutnya ganteng??
Seperti nya Dirganta harus segera memeriksakan telinganya. Ia sudah gila mendengar Intan berkata jika ia tampan.
*****
__ADS_1
Hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul 8 malam. Dirganta sudah menunggu diparkiran itu sekitar 30 menit. Namun yang ditunggu belum juga datang.
"Hah, wanita itu kemana sih. Tapi siang maksa buat dianterin, sekarang malah gak keliatan dimana." Dirganta kembali melihat jamnya. Masih banyak laporan yang harus ia periksa di apartment nya. Tapi lihat wanita itu benar-benar membuat waktunya terbuang sia-sia.
Tak lama terdengar ketukan jendela pintu mobil. Dirganta melihat siapa orang itu dan ternyata wanita tidak tau malu itu, Bahkan wanita itu menampilkan senyum bak tak berdosa.
"Darimana saja kamu!? Saya udah nunggu dari setengah jam yang lalu. Kamu itu benar-benar membuat waktu saya ke buang sia-sia tau gak."
Intan melihat dokter Dirganta kesal pun menggigit bibirnya. Tadi ketika ia ingin pulang, keluarga pasien memanggilnya dan bertanya sesuatu mengenai keluarga mereka yang sakit. Itulah mengapa Intan jadi lama.
"Maaf dok. Tadi ada keperluan yang mendesak. Jadi saya gak bisa pulang cepet. Sekali lagi maaf dokter." Intan benar-benar merasa bersalah.
"Saya gak butuh maaf kamu. Sekarang kamu diam dan pasang sabuk pengaman. Saya bakalan antar kamu pulang, Supaya saya bisa jauh dari wanita kayak kamu."
Intan mendengar itu tertunduk sedih. Sepertinya Dirganta memang sosok yang sulit untuk didekati. Tempramen nya juga buruk. Salah sedikit akan langsung disemprot.
Mobil itu berhenti disebuah rumah besar dikawasan elit di Kota Jakarta.
"Makasih ya dokter Dirganta udah mau anterin saya, Dokter gak mau masuk dulu?"
"Gak!! Makasih. Saya langsung pulang saja."
Dirganta langsung melakukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Intan.
"Jahat banget sih. Judes!! bikin kesel aja. Gak ada gitu ucapin selamat malam, Babai sayang atau kata romantis lain gitu. Ini malah langsung pergi aja."
Intan menggerutu sepanjang jalan masuk dirumahnya.
"Sayang siapa itu yang anterin kamu?? Pacar kamu ya!? Akhirnya anak mama udah punya pacar."
Sebelum Intan menjawab mamanya sudah lebih dulu berlari memanggil papanya.
"Pa? papa Intan tadi anterin sama pacarnya. Kayaknya dokter juga deh." Ucap mamanya Heboh.
"Ma, ma tenang dulu ya. Jangan buat Intan jadi malu. Emang bener yang dibilang mama, kalo kamu udah punya pacar sayang?" tanya papanya.
"Enggak pa, itu bukan pacar Intan. Itu dokter senior Intan di rumah sakit. Mobil Intan mogok, Intan bawa ke bengkel. Jadi Intan minta tolong ke dokter Dirganta buat anterin Intan." Intan mencoba menjelaskan kepada kedua orang tua nya. Tapi sepertinya itu tidak berhasil.
"Jadi namanya Dirganta. Lain kali ajak makan malam disini dong sayang. Mama sama papa kan juga mau kenal."
__ADS_1
"Gak bisa ma, dokter Dirganta itu cuek banget, buat anterin Intan aja harus dibujuk-bujuk dulu." Intan mendudukkan dirinya di kursi diruang makan itu.
"Mama yakin kok, nanti juga Dirganta bakal gak cuek lagi sama kamu sayang. Dan juga bakalan suka sama anak mama. Yang penting harus tau jaga diri."
Intan mengangguk, Mereka lalu melanjutkan makan malam itu dengan tenang.
Intan berbaring lelah di kasur empuknya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Intan mengambil ponselnya lalu menghubungi Dirganta.
Tanpa sepengetahuan Dirganta, Intan diam-diam menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Dirganta. Akibatnya nomor Dirganta telah berada di ponselnya.
Intan tersenyum. Ia akan tetap berusaha mendekati Dirganta.
Intan menghubungi Dirganta. Panggilan pertama tidak diangkat, begitu juga dengan panggilan kedua. Intan sudah putus asa.
Namun pada panggilan ketiga panggilan itu diangkat.
"Halo? ini nomor siapa?"
"Halo? ada orang gak? kalo mau iseng saya tutup ya."
Intan dari tadi hanya diam pun langsung membuka mulut nya.
"Ini saya dok, Intan." Intan menjawab dengan gugup.
"Darimana kamu tau nomor saya? Dan apa ada hal penting jadi kamu menghubungi saya?"
"Saya dapet nomor dokter dari dokter Gina, Siapa tau nanti ada hal mendesak, jadi saya nyimpen nomor dokter." Intan tidak tau harus membuat alasan apa. "Dokter Gina maafin Intan ya, udah bawa-bawa nama dokter." ucap Intan dalam hati.
"Saya lagi sibuk! Jadi kalo cuma mau bicara hal yang gak penting gak usah telepon. Buang waktu saya."
Dirganta memutuskan panggilan itu.
"Wanita itu maunya apa sih, setiap saat selau ganggu mulu." Dirganta melanjutkan kembali pekerjaannya. Setiap malam, ia akan selalu begadang hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya telat waktu.
Sementara dikamar serba pink itu, tampak lah seorang gadis yang sedang kesal.
"Kok main matiin aja sih. Capek-capek ngumpulin keberanian buat nelpon malah dimatiin."
__ADS_1
Intan meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kesal.
"Awas aja ya, kalo dokter Dirganta udah klepek-klepek sama aku, aku bakalan balas dendam. Dokter Dirganta tunggu aja....."