
Intan melihat rumah besar di depannya dengan kagum. Atau bisa juga rumah besar itu di sebut mansion. Intan turun dan membayar taksinya, Setelah selesai dia pun hendak berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba Intan di kejutkan dengan seorang pelayan yang berdiri di dekat tiang teras rumah besar itu sambil tersenyum lebar ke arahnya.
"Ya Tuhan. Kapan dia berdiri di sana, aku bahkan tak melihatnya tadi. Kirain hantu. Ngagetin aja deh." ucap Intan di dalam hati.
Intan membalas senyum pelayan itu.
"Silahkan masuk nona. Tuan muda dan nyonya sudah menunggu nona dari tadi." Pelayan itu membukakan pintu padanya, kemudian menuntunnya masuk menuju ruang makan.
Dan benar, Bagas dan ibunya telah menunggu nya dengan senyum lebar ditujukan padanya.
Intan tersenyum canggung, karena telah membuat ibu dan anak itu menunggu nya.
"Maaf tante, Intan lama dateng nya. Pasti tante sama Bagas udah nungguin Intan lama ya. Pekerjaan Intan baru aja selesai soalnya."
Lana tersenyum pada Intan.
"Gak perlu sungkan gitu. Gak papa kok, tante sama Bagas juga gak nunggu lama. Sekarang ayo duduk, kita mulai makan malamnya."
Pun Intan mendudukkan dirinya di salah kursi di sana. Namun tak jauh dari kursi Lana.
Bagas diam-diam dari tadi selalu memperhatikan Intan sejak gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Walaupun baru pulang bekerja, Intan masih terlihat cantik juga menggemaskan. Ah, jika seperti ini terus kapan dia bisa berjauhan dari Intan.
Ketiga orang itu pun memulai makan malam mereka.
"Gimana makanannya sayang? Enak gak? Kalo gak enak biar tante suruh pelayan biar di buatin masakan yang lain." tanya Lana melihat Intan yang sepertinya kurang bernafsu dalam memakan makanannya.
Intan seketika melongo.
"Enggak kok tante, makanannya enak. Intan cuma merasa kecapean dong, jadi mungkin makan agak lelet sedikit. Maaf tante.."
Intan bukan tak menyukai masakan itu. Intan seperti merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi dia tidak tau apa itu. Intan juga bahkan lupa mengabari Dirganta jika dia akan pergi makan malam di rumah Bagas. Bagaimana jika Dirganta datang ke rumah sakit untuk menjemputnya.
"Intan, kau harus tenang. Jangan panik, Dirganta pasti sudah pulang. Kau hanya perlu minta maaf dan masalah pun selesai. Ya hanya seperti itu." ucap Intan dalam hati tak ingin membuat siapapun mendengar apa yang dia katakan.
Intan menarik nafasnya pelan, kemudian mulai menyantap makanannya dengan lahap. Tidak ingin membuat ibu Bagas sedih karena apa yang dia lakukan.
Makan malam itu pun telah selesai, kini Intan dan Lana sedang berbincang di ruang tamu sedangkan Bagas izin pergi sebentar untuk mengangkat telepon dari sekretaris nya.
__ADS_1
"Tante kagum sama kamu sayang, di usia kamu yang masih muda kamu udah jadi seperti ini. Kamu juga gadis yang baik, rajin, dan sangat cantik. Andai aja tante punya anak perempuan."
Intan yang merasa di sanjung-sanjung terlalu berlebihan pun merasa kurang nyaman. Dia tidak terlalu seperti yang di katakan ibu Bagas. Dia hanya seorang putri yang berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
"Kan nanti tante bakalan punya menantu. Bagas pasti pilih calon istri yang sesuai sama keinginan tante, karena aku lihat Bagas sayang banget sama tante." ucap Intan berusaha membuat ibu Bagas tidak bersedih.
Seketika senyum lebar terbit dibibir wanita paruh baya itu.
"Gimana kalo kamu jadi menantu tante. Tante juga merasa kalo tante sama kamu udah deket banget."
Lana menggenggam Intan seraya memberi tatapan memohon. Intan tidak tau harus mengatakan apa, dia tidak tega mengubah tatapan mata itu.
Saat hendak menjawab pertanyaan Lana tiba-tiba terdengar suara yang sangat dia kenali menyahut dari arah pintu.
"Tante, maaf mengganggu waktu tante sama pacar saya. Tapi saya kesini buat jemput Intan soalnya udah malem banget."
Intan membulatkan matanya, Kenapa Dirganta bisa ada disini. Perasaan Intan tidak memberi tahu siapapun jika dia pergi makan malam ke rumah Bagas. Dan lihat tatapan yang menusuk itu.
Dirganta pasti marah padanya karena tak memberi tahunya lebih dulu.
Intan yang mendapat pertanyaan mendadak pun tiba-tiba lidahnya menjadi kelu. Apa yang harus dia katakan. Dan juga kenapa Dirganta mengatakan jika mereka pacaran. Intan menatap Dirganta dengan kesal.
"Bukan gitu kok tante, saya sama Dirganta itu cuma.."
"Cuma belum publis aja tante. Intan gak mau kalo hubungan kami sampe buat aktivitas dia di rumah sakit terganggu." sela Dirganta. Dirganta membalas tatapan Intan dengan puas.
Lana mengangguk mengerti.
"Maafin tante ya, karena ucapan tante tadi. Tante gak tau kalo kamu udah punya pacar." Lana menatap Intan dengan tatapan bersalah. Pupus sudah niatnya untuk menjadikan Intan sebagai calon menantunya.
"Oh ya, nak Dirganta belum makan malam? Kalo mau nak Dirganta bisa makan malam di sini aja." ucap Lana hati-hati. Dia tau jika persahabatan Dirganta dan anaknya sudah lama terputus.
Lana sudah menganggap Dirganta seperti anaknya sendiri, namun karena kejadian itu. Dirganta tak pernah lagi menunjukkan diri padanya. Pemuda itu tak pernah lagi datang atau bahkan mengirimi nya pesan seperti dulu.
"Enggak usah tante. Dirganta cuma mau jemput Intan aja kok." Dirganta menatap kedua orang berbeda usia itu dengan senyuman yang berusaha dia berikan.
Intan yang mengerti kode yang diberikan Dirganta pun berdehem pelan.
__ADS_1
"Maaf tante, karena Dirganta udah di sini. Jadi Intan mau pamit pulang dulu."
"Ya udah, ayo tante anter sampai depan."
Intan dan Lana pun berjalan menuju pintu. Dirganta sudah lebih dulu berdiri dekat mobil membuka pintu mobil untuk Intan.
"Makasih ya udah mau makan malam di rumah tante. Maaf kalo ada perkataan tante yang buat kamu kurang nyaman."
"Enggak kok tante. Aku juga berterima kasih karena udah ajak aku makan malam disini dan makanannya juga enak banget. Kalo gitu Intan pergi dulu. Bye tante."
Setelah keduanya berpelukan Intan pun masuk kedalam mobil. Dirganta menutup pintu mobil itu, berjalan memutari mobil. Melambaikan tangan pada Lana kemudian ikut masuk kedalam mobilnya.
Dirganta tanpa berkata sepatah katapun langsung menjalankan mobilnya dengan cepat membelah jalanan kota Jakarta yang masih ramai walaupun malam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Intan merasa bersalah. Dirganta dari tadi hanya diam tak bersuara.
"Dir, kamu marah ya sama aku." tanya Intan hati-hati berusaha memulai pembicaraan.
Namun yang dia dapat malah diam nya Dirganta. Pemuda itu tak merespon nya sedikitpun.
Intan yang ikut kesal pun memilih menatap ke arah jendela mobil. Ikut diam tak bersuara. Dirganta yang melihat Intan tak lagi bersuara pun seketika merasa bersalah. Dia tak bermaksud mendiamkan Intan, dia hanya kesal karena Intan pergi tanpa mengabarinya. Dan bahkan makan malam di rumah Bagas, musuh bebuyutannya.
Dirganta menghela nafasnya.
"Maafin aku ya, aku gak bermaksud buat diemin kamu. Aku cuma kesel aja karena kamu pergi gak ngabarin aku. Aku udah cari-cari kamu di rumah sakit tapi kamu gak ada."
Intan yang mendengar perkataan Dirganta pun seketika membalikkan tubuhnya.
"Iya aku tau, aku juga salah karena gak bilang dulu sama kamu. Aku minta maaf."
"Ya udah, kan sekarang kita udah sama-sama minta maaf. Berarti kita udah baikan kan ya." Intan memberikan jari kelingkingnya sebagai tanpa jika keduanya telah berbaikan.
Dirganta menautkan jari kelingking keduanya. Setuju dengan yang Intan katakan. Dia juga tidak bisa marah terlalu lama pada gadis yang dia cintai ini.
Intan tersenyum saat Dirganta menautkan jari mereka. Dia jadi lega karena sudah berbaikan.
Didalam mobil itu pun di penuhi dengan obrolan yang hanya keduanya tahu. Intan bercerita panjang lebar begitu pun dengan Dirganta. Keduanya menghabiskan perjalanan dengan perasaan yang semakin dalam..
__ADS_1