Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Berdua


__ADS_3

Intan menatap kagum pemandangan didepannya. Dirganta ternyata benar-benar membawanya menghabiskan waktu berdua. Tunggu? Berdua? Lupakan itu dulu. Sekarang adalah waktu bersenang-senang.


Intan melihat pantai yang sangat indah itu. Pasir halus berwarna putih. Air laut yang berwarna biru juga burung-burung yang terlihat terbang disekitaran pantai.


"Apa kamu suka?" Dirganta datang dengan membawa dua buah kelapa. Ia lalu menyerahkan satu buah pada Intan.


"Suka banget. Makasih ya dok. Saya udah lama mau ke pantai tapi belum sempat karena banyak tugas." Intan tersenyum tulus pada Dirganta. Intan pun mengambil kepala yang diberikan Dirganta padanya. Meminum air nya. Ah.. Rasanya sangat segar.


"Udah berapa kali aku bilang. Jangan panggil aku dokter. Panggil aku Dirganta. Kamu juga udah gak koas di rumah sakit kami kan. Jadi panggil namaku." Dirganta mendudukkan dirinya disamping Intan.


Keduanya pun menghabiskan waktu berdua. Intan berlari-lari kecil dipinggir pantai. Sesekali tertawa saat air laut hendak mencapai kakinya.


Dirganta melihat itu pun tersenyum. Dan akhirnya Dirganta mendekati Intan. Intan yang melihat Dirganta berjalan kearahnya pun tersenyum, namun senyumnya seketika luntur. Mulutnya terbuka lebar, Syok. Dirganta memercikkan air laut padanya.


Intan yang kesal pun membalas perbuatan Dirganta. Keduanya berlari-lari, saling kejar mengejar. Mereka tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dua orang yang berbeda usia itu terlihat sangat bahagia.


Intan melihat pakaian nya juga pakaian Dirganta yang sudah basah karena bermain air laut. Tadi mereka terlihat seperti anak kecil.


Kini keduanya duduk diatas pasir menghadap matahari tenggelam.Sinar matahari berwarna jingga itu terlihat sangat indah. Air laut yang berwarna biru pun berubah menjadi warna jingga karena sinar matahari itu.


Intan melihat kearah Dirganta.


"Terima kasih, karena udah bawa aku kesini. Aku bahagia banget hari ini." Intan tersenyum tulus. Intan berharap Dirganta akan selalu seperti ini padanya.


"Sama-sama. Aku kan udah bilang, kalo aku akan berusaha buat dapetin kamu. Dan aku gak bohong ketika ngomong gitu." Dirganta pun ikut tersenyum.


"Sekarang udah mau malem. Mending kita cari restoran yang deket sini buat ngisi perut dulu. Kamu pasti udah laper kan?" tanya Dirganta.


"Enggak. Siapa bilang aku laper." Tiba-tiba terdengar suara perut yang meminta untuk diisi. Wajah Intan sudah berwarna merah menahan malu. Kenapa perutnya ini tida bisa diam.


Dirganta tertawa membuat Intan bertambah malu "Tapi perut kamu gak bisa boong lo. Sekarang ayo kita cari makan." Dirganta menggenggam tangan Intan menyusuri tepi pantai mencari tempat makan terdekat.


Intan melihat tangannya yang digenggam pun tersenyum. Hatinya berbunga diperlakukan seperti itu.


Akhirnya setelah berjalan agak jauh sedikit keduanya menemukan tempat makan. Dirganta pun menarik kursi untuk Intan.

__ADS_1


"Tunggu disini ya. Biar aku pesenin makanan."


Intan hanya mengangguk sebagai jawaban. Intan memeluk dirinya. Angin malam membuatnya kedinginan karena pakaian nya yang masih agak basah.


Tiba-tiba sebuah jaket tebal sudah terlampir dipundaknya. Intan melihat siapa yang sudah meletakkan. Ternyata Dirganta.


"Aku takut kamu sakit. Di sana ada yang jualan baju. Jadi aku nanya apa dia juga jualan jaket dan ternyata ada."


"Terus kamu gimana? Pakaian kamu juga kan ikut basah tadi." Intan menatap Dirganta dengan sedih. Tidak mungkin jika hanya dirinya yang merasa hangat sedangkan Dirganta masih kedinginan.


"Gak papa kok. Aku gak kedinginan. Ayo kamu mau berbagi jaket sama aku? Aku bisa kok pake jaketnya dan meluk kamu." Dirganta tersenyum menggoda.


Intan yang mendapat jawaban tak terkira pun langsung malu, tersipu. Apa yang dipikirkan Dirganta.


"Enggak. Jaketnya cuma milik aku." jawab Intan jutek.


Seorang pelayan pun membawakan pesanan mereka. Intan dan Dirganta pun makan berdua dengan pemandangan tepi pantai dibawah rembulan juga hamparan bintang-bintang yang seakan menambah kesan romantis ada keduanya.


"Setelah ini aku bakalan anter kamu pulang."


Dirganta melihat kesamping nya dan ternyata Intan sudah tertidur. Pasti gadis itu lelah setelah bermain di pantai tadi.


Mobil Dirganta memasuki pekarangan rumah Intan. Dirganta turun dan langsung membuka pintu sebelah Intan. Mengambil gadis itu dan menggendongnya.


Pintu besar didepan Dirganta terbuka. Sari yang melihat anaknya tertidur pun menggelengkan kepalanya.


"Anak ini selalu nyusahin orang. Masuk aja nak Dirganta." Sari membiarkan Dirganta mengantar Intan ke kamarnya.


"Terima kasih ya nak Dirganta karena udah anter Intan. Kamu udah makan malam?


"Udah tante. Oh ya tante. Tapi aku sama Intan pergi ke pantai, jadi baju Intan basah. Nanti tante tolong bangunin Intan buat bersihin tubuhnya ya tante. Oh ya, Dirganta pulang dulu soalnya besok ada pekerjaan. Bye tante."


Mobil Dirganta pun sudah tak terlihat. Sari menutup pintu rumah mereka dan berjalan naik keatas menuju kamar putrinya.


"Sayang bangun mandi dulu ya. Intan bangun sayang." Sari menepuk pelan lengan Intan agar putrinya itu segera bangun.

__ADS_1


Dirganta benar-benar perhatian pada putrinya. Tanpa diminta tolong pun ia akan membangunkan putrinya agar mandi dulu baru kemudian kembali tidur.


Ah. Dirganta ternyata mencintai putrinya.


Intan pun membuka matanya dengan malas.


"Udan nyampe rumah ya?" Intan mendudukkan dirinya dengan malas.


"Iya. Dirganta tadi anter kamu setelah itu langsung pulang. Sekarang mandi ya biar gak sakit nanti."


Sari pun keluar dari kamar putrinya menuju kamarnya untuk beristirahat.


Intan menutup mulutnya saat kantuk kembali datang. Terdengar bunyi notifikasi pada ponselnya. Intan mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah pesan yang masuk.


Intan membuka pesan itu dan tersenyum. Ternyata itu pesan dari Dirganta yang menyuruhnya untuk membersihkan diri dulu sebelum kembali tidur. Pun Intan membalas pesan Dirganta.


Intan berdiri, berjalan kearah kamar mandi. Intan melepaskan jaket yang masih ia kenakan.


"Jaket ini harus dijaga baik-baik." Intan menyimpan jaket pemberian Dirganta di lemarinya. Ia tidak akan mencucinya.


Setelah ritual mandinya selesai. Intan pun kembali berbaring di kasurnya yang nyaman itu.


Intan memejamkan matanya dan mulai masuk ke alam mimpi.


Dirganta masuk kedalam apartment nya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu Dirganta duduk, mengecek semua pekerjaannya. Dirganta melihat ponselnya apakah Intan sudah melihat pesannya atau belum. Dan ternyata sudah.


Dirganta melihat balasan Intan. " Iya-iya aku mandi dasar cerewet." Dirganta tersenyum. Ia bersyukur jika hubungan keduanya semakin hari bertambah baik.


Jika begini terus ia akan semakin dekat dengan tujuannya. Ia akan mendapatkan Intan.


Dirganta melihat jam. Hari sudah semakin larut. Dirganta kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah selesai Dirganta merenggangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Pun Dirganta berjalan kearah ranjangnya, berbaring dan tertidur...

__ADS_1


__ADS_2