Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Ungkapan perasaan


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Intan termenung dikamar nya. Besok adalah hari terakhir dokter Dirganta menjadi dokter seniornya. Setelah ini mereka pasti akan jarang bertemu.


"Gimana ni? Bahkan sampe sekarang aku belum juga ngungkapin perasaan aku." Intan menutup matanya. Ia bingung harus bagaimana.


"Besok hari terakhir bareng Dirganta. Setelah ini gak tau apa bakal tetep deket lagi atau enggak."


Intan mengambil ponsel nya berniat menghubungi Dirganta namun ia mengurungkan niatnya. Intan kembali meletakkan ponsel itu di atas nakas.


"Mending tidur aja dulu. Besok bakalan jadi hari yang menyedihkan."


Intan mengambil selimut. Menyelimuti dirinya, menutup mata dan pergi menuju alam mimpi.


*****


Intan menuruni tangga dengan lesu. Ibu dan ayahnya yang melihat dia tidak bersemangat pun terheran.


"Kenapa sayang? kok lesu gitu. Apa kamu gak enak badan?" Ibu Intan menempelkan telapak tangannya pada kening Intan. Suhu tubuh Intan normal, tidak ada masalah.


"Gak ada ma. Lagi gak mood aja hari ini."


Intan mendudukkan dirinya di samping ibunya. Mengambil sarapan dan mereka pun memulai sarapan pagi itu dengan tenang.


"Intan berangkat dulu ya ma. bye ma pa."


Intan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Intan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia sedih, besok dokter Gina akan kembali. Hari ini terakhirnya dekat dengan Dirganta.


Mobil yang dibawa Intan sampai diparkiran rumah sakit tempat ia koas. Intan turun dan berjalan lesu menuju lift.


Rekan-rekannya yang melihat ia berjalan lesu pun ikut terheran. Tidak biasanya Intan seperti kurang bersemangat. Biasanya ia akan memulai hari dengan ceria.


Intan sampai di ruangan Dirganta masuk kedalam, namun tak melihat Dirganta didalam. Intan mengerutkan keningnya.


"Apa Dirganta belum dateng ya? Tumben banget. Biasanya dia bakalan cepet dateng."


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Dirganta yang selalu terlihat tampan.


"Dokter Dirganta baru nyampe ya? Tumben banget telat." Intan melipat tangannya di dada, merasa bangga karena datang lebih dulu.


"Kamu pikir kamu lebih dulu nyampe? Saya udah lama nyampe, tadi ada perawat yang minta tolong jadi saya pergi bantuin dia."

__ADS_1


Intan mendengar itu pun jadi malu. Ia mengatakan Dirganta terlambat, padahal Dirganta yang lebih dulu sampai dari pada dirinya.


"Sekarang kamu pergi, periksa pasien yang lain. Saya masih ada rapat dengan dokter ahli lain. Ingat jangan lalai lagi, hari ini terkahir kamu sama saya."


Dirganta pergi dari ruangan itu, meninggalkan Intan yang masih tidak tau perasaannya seperti apa.


"Gimana ni? Pusing banget deh."


Intan mengambil peralatannya dan pergi menjalankan tugas nya.


Intan memasuki kamar nenek yang dulu mengobrol dengannya.


"Siang nek. Gimana keadaan nenek hari ini? Apa nenek ngerasa lebih baik?" Intan berjalan kearah nenek itu.


"Udah mulai membaik kok nak."


Intan mulai memeriksa nenek tua itu dengan telaten. Walaupun ia masih mahasiswi tapi kemampuannya tidak bisa dianggap remeh.


"Udah selesai nek. Nenek jangan banyak pikiran lagi ya. Juga harus banyak-banyak istirahat. Supaya keadaan nenek semakin membaik lagi."


Intan tersenyum mengambil kursi dan duduk di samping nenek itu.


"Iya. Makasih ya nak. Oh ya gimana hubungan kamu sama dokter itu. Apa udah ada kemajuan?" Nenek itu tersenyum menggoda Intan.


"Belum nek. Bahkan hari ini Intan terakhir sama dokter Dirganta. Setelah ini Intan bakalan sama dokter Gina lagi." ucap Intan sedih.


"Gak usah sedih. Apa dia udah tau kalo kamu ada perasaan sama dia?" Nenek itu berusaha menghibur Intan.


"Belum sih nek. Intan masih takut kalo ungkapin perasaan Intan. Intan juga bingung harus ngapain."


"Hari ini kan hari terakhir kamu sama dokter Dirganta, gimana kalo hari ini aja kamu bilang sama dokter Dirganta. Siapa tau nanti dia juga suka."


Seketika raut wajah Intan berubah setelah mendengar itu. Senyum terbit dibibir merah muda itu. Setelah tugasnya selesai ia akan bicara dengan dokter Dirganta.


"Iya juga ya nek. Kalo gitu Intan pergi dulu nek. Intan harus segera selesain tugas Intan. Bye nek. Makasih."


Nenek tua itu tersenyum melihat Intan yang terlihat sangat bahagia. Semoga dokter itu membalas perasaan anak baik seperti Intan.


*****


Intan saat ini berada di toilet. Tugasnya sudah selesai. Hari juga sudah mulai sore. Dan ia masih gugup sampai sekarang.

__ADS_1


Intan melihat dirinya di cermin.


"Kok kayak dekil banget sih. Harus dandan dikit ni supaya Dirganta terpana. Siapa tau nanti ia malah suka lagi"


Intan memoleskan make up tipis pada wajahnya. Ia sudah sedikit merapikan pakaiannya. Intan memegang dadanya. Jantungnya berdetak kencang. Ia jadi semakin gugup.


"Ayo Intan. Kamu pasti bisa. Gak boleh mundur."


Setelah menyemangati dirinya. Intan pun keluar dari toilet itu menuju ruangan Dirganta.


Intan berdiri didepan pintu ruangan itu. Tiba-tiba rasa gugup menyerangnya kembali. Intan menarik nafasnya dalam-dalam. memejamkan mata. Lalu mulai membuka pintu itu.


Intan melihat dokter Dirganta yang sibuk dimeja kerja nya. Tanpa basa basi pun ia berkata.


"Dokter Dirganta saya suka sama dokter bahkan sejak pandangan pertama dok."


Dirganta yang mendengar itu pun mengangkat pandangannya dan melihat siapa yang mengucapkan hal konyol itu. Namun ia cukup syok ternyata itu Intan.


Dirganta yang tak tau harus mengatakan apapun mengusir Intan.


"Kalo kamu cuma mau ngomong hal konyol sebaiknya kamu keluar dari ruangan saya. Saya lagi sibuk!!"


Intan yang mendapat penolakan pun kesal. Ia sudah berusaha mengumpulkan keberanian. Bahkan berdandan. Tapi malah ini yang ia dapat.


Intan mengepalkan tangannya. Ia benar-benar kesal juga sakit hati. Kenapa sangat sulit mendekati Dirganta.


"Kalo dokter belum mau nerima perasaan saya gak papa. Tapi saya gak bakal nyerah. Saya bakalan buat dokter klepek-klepek sama saya. Ingat itu dokter Dirganta. Saya pamit pulang."


Intan berjalan keluar membanding pintu. Pergi meninggalkan rumah sakit itu. Ia harus pergi menenangkan diri. Namun jika ia pulang ke rumah orangtuanya pasti cemas nanti. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih.


Intan pun melajukan mobilnya menuju taman terdekat dari sana.


Sementara disebuah ruangan bernuansa putih itu duduklah seorang pemuda yang heran. Ada apa dengan Intan. Bukankah sudah jelas jika ia tidak menyukai wanita itu. Tapi wanita itu malah terlihat kesal bahkan membanting pintu ruangannya.


Dirganta benar-benar tidak mengerti bagaimana seorang Intan. Sangat sulit tertebak. Tapi apa benar Intan menyukainya? Ia bahkan tidak pernah bersikap lembut pada Intan. Apa benar cinta itu buta??


Intan jika diperhatikan memang terlihat cantik. Apalagi setelah pertemuan keduanya di mall kemarin, Dirganta bahkan tidak bisa tidur. Dia kepalanya hanya ada Intan.


Dirganta menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika ia juga tertarik pada wanita itu. Tidak. Dirganta pasti salah.


Dirganta kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia harus segera pulang. Tadi ibunya menelpon dan memaksanya agar pulang ke rumah mereka. Dirganta sudah menolak, tapi Ibunya selalu punya cara agar ia tidak bisa menolak perkataan ibunya.

__ADS_1


Intan menatap danau didepannya. Ia sudah duduk di taman itu sekitar satu jam. Ia benar-benar patah hati. Ia ditolak mentah-mentah. Namun ia tidak akan pernah menyerah. Ia akan membuat Dirganta membalas perasaannya.


Karena dia hanya akan menikah dengan Dirganta seorang.


__ADS_2