Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Demam


__ADS_3

Intan sampai di rumah sakit tempat ia dulu koas atau bisa dikatakan tempat Dirganta bekerja. Dia bersyukur jika pekerjaannya cepat selesai, ia jadi bisa untuk melihat Dirganta. Intan langsung memasuki rumah sakit itu dan memasuki lift menuju ruangan Dirganta.


Intan masuk kedalam ruangan Dirganta tapi tak melihat orang yang dia cari dalam ruangan itu. Intan mengerutkan keningnya heran.


Intan mengambil ponselnya mencoba menghubungi Dirganta. Dering pertama terdengar menandakan jika panggilan itu terhubung. Intan bersyukur karena ponsel Dirganta aktif.


Intan mengerutkan keningnya. Dia seperti mendengar suara dering ponsel. Intan menurunkan ponselnya dari telinganya.


Dan mencari asal suara. Suara dering ponsel itu seperti dering telepon Dirganta.


Intan menyusuri ruangan Dirganta mencari asal suara. Namun saat ia yakin jika asal suara itu dari mana, didepannya malah ada rak buku.


"Gak mungkin kan kalo teleponnya di letakan disini gitu aja. Tapi suaranya dari sini."


Intan mencari-cari ponsel Dirganta. Dirganta membolak-balik buku-buku di rak itu. Namun saat menggeser sebuah buku, Intan dikejutkan dengan kejadian didepannya.


Rak buku itu tiba-tiba terbelah menjadi dua menampilkan sebuah ruangan lain di ruangan itu. Intan sebenarnya takut, tapi dia memberanikan dirinya untuk masuk kedalam ruangan itu.


Saat masuk mata Intan membulat, di atas kasur didalam ruangan itu Intan melihat Dirganta yang terlihat sedang tertidur dengan nyenyak.


Intan mendekati Dirganta. Intan mengerutkan keningnya. Dirganta terlihat bergumam pelan dalam tidurnya dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Intan tidak merasakan panas di ruangan itu malah dia merasa jika ruangan itu terlalu dingin.


Intan yang penasaran apa yang terjadi pun memegang tangan Dirganta. Intan membulatkan matanya. Intan memegang kening Dirganta. Tubuh Dirganta panas, sepertinya laki-laki itu terkena demam.


Intan mencoba membangunkan Dirganta, namun sang empu tidak juga terbangun. Intan mencoba mengangkat Dirganta tapi tidak bisa, laki-laki itu terlalu berat untuknya. Intan yang bertambah panik juga khawatir pun segera berlari keluar ruangan mencari bantuan.


Intan meminta tolong pada dua orang OB yang kebetulan melewati ruangan Dirganta. Intan memanggil keduanya masuk dan meminta tolong untuk memindahkan Dirganta keruangan lain untuk memeriksa kondisi Dirganta.


Intan bernafas lega, Dirganta sudah dipindahkan kesebuah kamar VIP, dokter juga sudah memeriksa pemuda itu. Dokter mengatakan jika Dirganta hanya demam biasa dokter juga mengatakan jika Dirganta sebaiknya banyak beristirahat.


Setelah dokter pergi Intan mendudukkan dirinya di kursi disamping tempat tidur Dirganta. Infus terlihat terpasang ditangan laki-laki itu. Intan memegang tangan Dirganta.


"Kamu kok gak bilang kalo kamu sakit. Gimana kalo aku gak hubungin dokter Gina tadi, dan juga gimana kalo aku gak dateng kamu pasti kesakitan banget."


Pintu kamar inap itu tiba-tiba terbuka menampilkan sosok kedua orang tua Dirganta.


"Sayang, Gimana keadaan Dirganta? Apa yang dokter bilang?" Ratna berjalan menghampiri Intan.


Intan berdiri dari duduknya, tidak sopan jika dia duduk sedangkan kedua orang tua Dirganta malah berdiri.


"Kata dokter, Dirganta cuma demam biasa tante. Dia juga harus banyak istirahat supaya cepat sembuh."


Ratna menggenggam tangan putranya.

__ADS_1


"Kok manggil tante lagi si. Panggil mama sama papa aja ya. Mama itu khawatir sama Dirganta, Dirganta itu jarang banget sakit. Makanya Mama sama papa langsung kesini buat mastiin keadaan Dirganta."


Perbincangan itu pun berlanjut. Sesekali Ratna akan bercerita tentang Dirganta ketika masih berada di bangku sekolah. Intan tertawa tidak menyangka jika Dirganta akan seperti yang di ceritakan Ratna.


Malam semakin larut. Kedua orang tua Dirganta pun pamit pulang, kedua paruh baya itu menitipkan Dirganta ada Intan. Intan juga sudah berbicara pada kedua orang tuanya. Intan mengatakan jika tidak bisa pulang karena harus menjaga Dirganta yang terkena demam di rumah sakit.


Intan bersyukur karena mamanya meminta tolong supir mereka untuk mengantar pakaian ganti untuknya.


Intan memasuki kamar mandi di kamar inap itu. Intan pun mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah lengket itu.


Setelah selesai, Intan kembali mendudukkan dirinya disamping Dirganta.


"Selamat tidur ya. Semoga kamu cepat sembuh. Love you Dirganta."


Intan berjalan kearah sofa, membaringkan tubuhnya di sana. Intan menyelimuti dirinya dan mulai memejamkan mata untuk tidur.


*****


Dirganta mengerjabkan matanya saat sinar matahari masuk kedalam retina matanya. Dirganta memegang kepalanya yang sakit. Dirganta melihat tangannya yang sudah terpasang infus.


Dirganta mengerutkan keningnya. Kapan ia dipindahkan ke sini. Seingatnya ia sedang tertidur di kamar yang berada di ruangan nya.


Dirganta melihat kearah sofa, Di atas sofa itu terlihat seorang gadis yang meringkuk seperti janin. Gadis itu pasti kedinginan.


Dirganta berjalan kearah Intan. Dirganta tersenyum melihat Intan yang terlihat menggemaskan ketika tidur. Dirganta menggendong Intan ala bridal style. Dirganta meletakkan Intan di kasur tempat ia tidur tadi.


Dirganta lalu menyelimuti Intan kemudian mengecup kening itu sebentar. Dirganta mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, Menghubungi supir keluarga mereka untuk membawa baju ganti wanita juga makanan untuk sarapan.


Seorang perawat masuk kedalam kamar inap Dirganta, Dia terkejut melihat Dirganta yang berdiri didekat ranjang dengan infus yang telah terlepas dari tangannya. Perawat itu juga melihat jika di atas kasur itu malah seorang perempuan yang terlihat tidur dengan pulas.


"Sstttt...Letakin pakaian juga makanannya di sana. Setelah itu pergi, jangan sampai membuat kekasih saya terbangun."


Perawat itu mengangguk mengerti. Dia meletakkan pakaian ganti untuk Dirganta juga sarapan pagi di atas meja didekat sofa. Setelah itu ia permisi untuk pergi.


Dirganta mengambil pakaian itu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merasa badannya sangat lengket karena bekum mandi dari semalam.


Setelah selesai Dirganta keluar dan melihat keatas ranjang dan ternyata Intan masih tertidur. Gadis itu nampaknya sangat pulas. Apa semalam dia begadang untuk menjaganya?


Dirganta mendudukkan dirinya di sofa, mengambil sarapannya dan mulai memakannya.


Ketika sarapannya sudah habis, pintu kamar itu terbuka. Supir yang ia minta untuk membawa pakaian juga makanan sudah tiba. Supir keluarganya memberikan pakaian juga makanan itu pada Dirganta dan pamit keluar.


Dirganta melihat jam yang ada di ponselnya. Ternyata masih jam 7 pagi. Dirganta pun tak berniat untuk membangunkan Intan. Biarlah gadis itu bangun sendiri, Dirganta tak mau menganggu tidur gadis yang dia cintai.

__ADS_1


Dirganta mengambil obatnya dan meminumnya. Dia harus segera sembuh. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Dirganta juga tak mau membuat Intan kelelahan karena menjaganya.


Intan menggeliat, Dia mencoba membuka matanya walaupun sulit karena ia masih mengantuk. Intan Menutup mulutnya saat ia menguap.


Ahh, rasanya sangat nyaman tidur di atas kasur empuk ini. Seketika mata Intan terbelalak, Tunggu!!! Kasur empuk? Intan melihat jika dirinya ternyata tidur di atas kasur Dirganta. Tapi kenapa bisa? Siapa yang memindahkannya? Tidak mungkin kan Dirganta yang mengangkatnya. Dan juga dimana pemuda itu.


Bukankah Dirganta masih demam. Saat Intan masih bergejolak dengan pikirannya, pintu kamar itu terbuka. Dirganta tersenyum seperti orang tak bersalah pada Intan.


"Kamu udah bangun?" Dirganta mendudukkan dirinya di sofa.


"Kenapa aku bisa tidur disini? Dan juga kok kamu udah pergi keluar? Kamu kan masih sakit. Sekarang ayo kembali ke atas kasur ini." Intan menepuk-nepuk tempat disampingnya.


"Aku udah baikan kok. Dan juga kan masih ada kamu di sana." Dirganta mengambil map berisi laporan, ia tadi pergi ke ruangannya untuk mengambil laporan itu.


"Siapa yang mindahin aku ke sini?" tanya Intan penasaran.


Dirganta mengubah arah pandangannya dari laporan ditangannya menjadi menatap wajah gadis baru bangun tidur itu.


"Menurut kamu siapa?"


Intan mengerutkan keningnya mencoba berpikir.


"Yang pasti bukan kamu. Kamu kan lagi sakit, jadi gak mungkin kuat buat gendong aku."


Setelah mengatakan itu Intan dibuat terkejut oleh Dirganta. Laki-laki itu tiba-tiba menggendongnya.


"Sekarang kamu tau kan siapa yang mindahin kamu. Sekarang ayo mandi." Dirganta membawa Intan ke kamar mandi.


Intan berubah panik. Apa maksud Dirganta dengan mandi.


"Udah, udah. Disini aja."


Intan memberontak. Dirganta pun menurunkan tubuh gadis itu.


"Sekarang keluar. Aku mau mandi dulu." Intan mendorong Dirganta untuk keluar.


"Gak papa kok. Aku bisa temenin kamu mandi."


Wajah Intan berubah semu. Apa yang dikatakan Dirganta. Apa dia sudah gila.


"Dasar mesum.. Sekarang keluar dari kamar mandi!!"


Dirganta tertawa pelan mendengar teriakan Intan. Ia pun akhirnya kembali mendudukkan dirinya di atas sofa, membaca kembali laporan di atas meja sembari menunggu gadis nya selesai dengan ritual mandinya.

__ADS_1


__ADS_2