Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Dekat


__ADS_3

Intan tersenyum dikala melihat Dirganta yang sudah menunggu didepan pintu rumahnya. Intan segera berjalan kearah Dirganta.


"Pagi. Maaf ya udah nunggu lama."


Dirganta melihat penampilan Intan dari atas ke bawah. Intan terlihat berbeda hari ini. Terlihat..lebih cantik?


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Intan melihat penampilannya. Ia memang berdandan sedikit juga mengenakan pakaian yang berbeda seperti pakaian biasanya.


"Enggak kok. Kamu keliatan cantik banget pagi ini. Sekarang ayo kita berangkat."


Dirganta membukakan pintu mobil untuk Intan. Intan masuk kedalam dan Dirganta langsung menutup pintu mobil itu.


Dirganta berjalan memutari mobil dan masuk, duduk di kursi kemudi. Dirganta menyalakan mobilnya. Kedua insan itu memulai pagi dengan perasaan bahagia.


"Kamu nanti pulang jam berapa?" ucap Dirganta tetap fokus pada jalan.


"Gak tau. Tapi nanti kalo udah mau pulang aku kabarin." Intan melihat jalanan yang padat ketika pagi hari karena banyaknya pekerja juga anak sekolah dan mahasiswa yang berangkat.


"Ya udah. Tapi nanti makan siang aku gak bisa dateng ya. Soalnya ada pasien yang harus di operasi nanti."


Intan hanya mengangguk.


Mobil yang dibawa Dirganta pun telah sampai didepan rumah sakit. Intan keluar dari mobil. Melambaikan tangannya pada Dirganta dan segera berjalan memasuki rumah sakit tempat ia koas.


Setelah memastikan Intan sudah masuk, Dirganta pun akhirnya pergi menuju rumah sakit tempat ia bekerja.


Intan berdiri didepan lokernya. Mengambil peralatan yang akan ia gunakan.


"Cie yang tadi dianterin pacarnya."


Intan melihat siapa yang mengatakan itu. Ternyata teman koas nya yang lain.

__ADS_1


"Apaan sih. Itu bukan pacar aku. Kami cuma temenan kok." Intan tak ingin menatap temannya itu.


"Udah gak usah malu. Temen kok tiap hari dianter jemput. Lagi pula keliatannya itu dokter ganteng deh. Baik lagi." Perempuan bernama Riana itu tersenyum menggoda Intan.


"Kalo gak percaya ya udah. Dia emang udah nembak. Tapi aku tolak." Intan berjalan meninggalkan Riana.


"Loh kok kamu tolak si. Nanti ada yang ambil gimana? Sayang loh kalo gak di pacarin." Riana agak sedikit berlari mengejar Intan.


"Kalo kamu mau ambil aja." Intan tetap tak menghiraukan Raina. Tapi setelah mengatakan itu ia menyesal. Tidak mungkin ia membiarkan Dirganta diambil orang. Intan sudah berusaha membuat Dirganta mencintainya. Masa harus diambil orang gitu aja. Kan gak mungkin.


"Bener ni ya. Kalo gitu mana dong nomor telepon nya?" Raina menyerahkan ponselnya pada Intan.


"Mending cepetan kerja deh. Nanti kena marah dokter senior baru tau rasa." Intan segera berjalan menjauh dari Raina. Temannya itu benar-benar bisa membuat mood nya jadi turun drastis padahal masih pagi.


Intan berusaha untuk tetap tenang. Pun Intan segera menyelesaikan semua tugasnya.


Saat sedang asyik memeriksa laporan yang ditugaskan padanya. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Intan melihat siapa yang datang ternyata ibu Bagas dan juga Bagas.


"Intan. Maaf mengganggu kamu. Mama aku dari tadi pengen banget ketemu sama kamu." Bagas mendorong kursi roda mamanya memasuki ruangan itu.


Bagas yang tak punya pilihan lain pun membawa mamanya untuk menemui Intan. Bagas bertanya pada perawat di rumah sakit itu apa mereka tau dimana Intan. Namun mereka menjawab tidak tau. Saat ingin menyerah, akhirnya ada seorang dokter yang lewat dan mengatakan keberadaan Intan.


Bagas dan mamanya pun langsung menuju dimana Intan berada. Dan disinilah ibu dan anak itu berada.


"Eh gak papa kok. Pekerjaan aku juga gak terlalu banyak." Intan berjalan kearah mamanya Bagas. Berjongkok didepan mama Bagas karena mamanya memakai kursi roda.


"Hallo tante. Gimana perasaan tante? Apa tante udah merasa lebih baik?" Intan memegang tangan mama Bagas.


"Udah nak. Makasih ya karena udah bantuin tante. Kamu ternyata cantik banget persisi kayak yang dibilang Bagas." Mama Bagas melihat wajah putranya.


Bagas yang mendengar itu pun membulatkan matanya. Kenapa mamanya malah mengatakan itu pada Intan. Ia jadi malu.

__ADS_1


"Iya Intan emang cantik ma baik hati lagi." Bagas menatap Intan dengan kagum.


"Tante kesini mau berterima kasih sekalian mau ajak kamu makan malam di rumah tante. Tapi tenang aja bukan nanti malem kok. Kapan Intan bisa aja." Mama Bagas tersenyum pada Intan.


"Iya tante. Kapan Intan bisa, Intan bakalan dateng kok." Intan membalas senyuman mama Bagas.


"Kalo gitu kami pergi dulu Intan. Mama harus istirahat lagi. Aku takut penyakit mama dateng lagi." Bagas kembali mendorong kursi roda mamanya meninggalkan ruangan tempat Intan berada.


Intan menutup pintu ruangan itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun saat hendak duduk pintu yang ia tutup tadi kembali terbuka menampilkan sosok Dirganta yang berjalan kearahnya.


"Loh kok kamu disini? Bukannya tadi pagi kamu bilang kamu gak bisa dateng ya." tanya Intan melihat Dirganta yang duduk di sofa yang disediakan di ruangan itu.


"Iya. Tapi ternyata operasinya dipercepat jadi udah selesai deh. Oh ya kamu belum makan?" Dirganta melihat tumbukan kertas-kertas berisi tulisan-tulisan yang tertumpuk di atas meja didepan Intan.


"Bentar lagi. Aku masih banyak kerjaan ni. Kalo kamu laper, kamu duluan aja. Nanti aku nyusul." Intan berharap Dirganta pergi mengisi perut lebih dulu. Intan tidak mau Dirganta menahan lapar hanya karena dirinya.


"Aku belum laper. Jadi bakalan disini buat tungguin kamu." Dirganta mengambil ponselnya. Memainkan permainan yang berada di ponselnya.


Intan melihat itu hanya menghela nafas pasrah. Pun Intan kembali melanjutkan pekerjaannya. Intan memeriksa laporan ditangannya dengan serius. Ia tidak boleh keliru sedikit pun.


Intan melihat kearah Dirganta yang asyik bermain game. Bukankah terbalik? Biasanya dalam novel romantis sang tokoh laki-laki yang akan bekerja dan sang tokoh perempuan akan menunggu si laki-laki selesai dengan pekerjaannya sambil bermain ponsel atau bahkan menonton.


Tapi ternyata itu tidak berlaku untuk mereka berdua. Intan tersenyum geli memikirkannya. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya.


Satu jam berlalu akhirnya pekerjaan Intan telah selesai. Saatnya mengisi perut yang telah berbunyi dari tadi. Intan berdiri berjalan menghampiri Dirganta.


"Dir. Pekerjaan aku udah selesai. Ayo makan siang."


Dirganta yang melihat Intan sudah selesai pun menyimpan ponselnya.


"Ayo.." Dirganta menggenggam tangan Intan. Menariknya pelan berjalan menuju kantin.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat keduanya. Banyak yang iri dengan pasangan itu. Laki-laki tampan dengan perempuan cantik. Sangat serasi.


Namun tidak dengan seorang pemuda yang berdiri disebuah lorong. Ia mengepalkan tangannya. Tidak rela saat gadis yang ia sukai diambil orang lain. Ia pun lebih memilih untuk pergi dari sana...


__ADS_2