Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Perasaan mendalam


__ADS_3

Intan tersenyum saat mobil Dirganta telah sampai di depan rumahnya. Dirganta lebih dulu turun, membuka pintu mobil untuk Intan.


"Silahkan tuan putri." ucap pemuda yang saat ini berlagak seperti seorang pangeran yang sedang menyambut seorang putri.


Intan yang mendapat perlakuan seperti itu pun hanya menurut, Intan keluar dari mobil sambil menyambut uluran tangan Dirganta.


Keduanya berjalan menuju pintu yang menjulang tinggi didepan mereka. Intan memencet bel agar mama nya segera membuka pintu.


Tak lama seorang paruh baya yang walaupun sudah berumur wajahnya tetap cantik, dan wajah itu sangat mirip dengannya.


"Tumben kamu pulangnya lama sayang. Kalian dari mana? kok baru pulang sekarang?" tanya Sari menatap kedua muda mudi didepannya.


"Tadi Intan ada janji makan malam ma, trus Dirganta jemput Intan. Sekalian deh pulang dari sana kita pergi jalan-jalan dulu."


"Ya udah kalo gitu ayo cepet masuk, makasih ya nak Dirganta udah anterin anak tante ini."


Dirganta tersenyum, tidak mungkin dia membiarkan Intan pulang sendirian. Sedangkan tujuannya adalah untuk mendekati Intan.


"Iya tante, sama-sama. Saya juga kan udah janji buat jagain Intan, dan juga saya lagi berusaha supaya Intan mau nerima saya tante."


Sontak saja ucapan Dirganta membuat kedua bola mata Intan. Apa Dirganta gila? kenapa laki-laki didekatnya ini mengatakan hal itu di depan mamanya. Astaga, dia sangat malu sekarang.


"Enggak ma, Dirganta pasti udah capek banget. Makanya ucapannya jadi ngelantur gitu. Kayaknya Dirganta harus balik sekarang deh, soalnya dia tadi bilang ada hal penting yang harus dia kerjain."


Intan mendorong kecil tubuh Dirganta. Sembari menggerakkan mulutnya agar Dirganta segera pulang.


Dirganta tertawa kecil, Pasti gadis yang mendorongnya ini sedang malu, Dirganta yang ingin mendapat amukan besok dari Intan pun mengiyakan apa yang Intan katakan.


Dirganta pamit pada mama Intan, masuk kedalam mobilnya dan mulai meninggalkan pekarangan rumah itu.


"Ciee ada yang mintak kepastian nih. Kasihan lo Dirganta kalo digantung terus, jangan sampai kamu nyesel kalo ada yang deketin Dirganta nanti."

__ADS_1


Kali ini wajah Intan benar-benar merah seperti tomat.


"Bukan gitu ma, Intan masih pengen fokus buat cita-cita Intan. Kalo pun Dirganta nemu perempuan lain juga gak papa. Intan kan gak bisa berbuat banyak kalo gitu."


"Udah ah, Intan capek. Mau tidur, selamat malam mama ku sayang." Intan mengecup pipi mamanya dan berlari menuju kamarnya.


"Kejadian baru patah hati." Sari menggelengkan kepalanya. Dia pun mengunci pintu, kemudian masuk juga ke dalam kamar.


Intan meletakkan tasnya di atas nakas, merebahkan diri sejenak di atas kasur empuknya. Perkataan mamanya terngiang-ngiang didalam kepalanya.


"Gimana kalo yang diucapin mama terjadi, gak mungkin kan Dirganta kepincut sama perempuan lain sedangkan dia bilang klo dia suka sama aku?"


Intan menggigit kukunya resah. Ia tidak tau apa yang membuat dirinya resah juga..takut? Tidak, Intan tidak mungkin takut jika Dirganta menemukan perempuan lain.


"Tenang Intan, Dirganta aja gak pernah Deket sama perempuan lain di rumah sakit. Dirganta pasti gak mudah di rayu kok. Iya, Dirganta pasti bakalan jadi milik aku suatu saat nanti, tapi bukan sekarang."


Intan menutup wajahnya dengan telapak tangannya mencoba memikirkan hal yang dia rasakan. Munafik jika Intan mengatakan dia tidak menyukai Dirganta lagi, Bahkan mungkin sekarang rasa cintanya juga ikut membesar.


Intan hendak menghubungi Dirganta namun dia mengurungkan niatnya kembali. Kalo dia yang lebih dulu menghubungi Dirganta, Dirganta pasti berfikir jika dia mudah di rayu. Tidak tidak, Tenang Intan. Kau harus bersabar.


Intan berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Dia bahkan lupa jika dia belum membersihkan diri sama sekali.


Tiba-tiba ponsel yang dia genggam bergetar, membuat Intan terkejut. Intan melihat siapa yang menghubunginya. Senyum langsung terbit di wajah nya yang tertekuk dari tadi.


Intan mengatur nafasnya, berusaha tenang. Pun dia mengangkat panggilan itu.


"Hallo..?" ucap Intan pada pemuda di sebarang sana.


"Haloo Intan, kamu udah tidur? Maaf ya aku hubungin kamu jam segini. Aku cuma resah aja kalo belum dengar suara kamu."


Intan menahan senyumannya. Tahan Intan tahan, jangan sampai membuat Dirganta tidak nyaman. Intan ingin sekali berteriak mendengar perkataan Dirganta.

__ADS_1


"Masa sih, kayaknya dulu kamu gak kayak gini deh. Bahkan dulu aku yang selalu hubungin kamu." ucap Intan memancing Dirganta.


"Itu dulu, dulu aku belum nyadar kalo aku punya perasaan sama kamu. Aku juga dulu mikir kalo kamu cuma penasaran aja sama aku. Tapi lama kelamaan aku nyadar kamu perasaan kamu sungguhan sama aku."


Setelah itu hanya ada keheningan. Intan tidak tau harus berkata apa. Namun saat hendak berbicara, Intan kembali mendengar suara Dirganta.


"Sekarang aku udah tau bagaimana perasaan aku sama kamu, Aku beneran udah jatuh sama kamu. Aku sangat mencintaimu Intan. Dan aku berharap kamu juga bakalan balas dan terima perasaan aku suatu saat nanti."


"Sekarang kamu tidur ya, oh ya jangan lupa mandi. Aku tau kamu belum mandi dari tadi. Bau nya kecium sampe kesini."


Setelah mengatakan itu Dirganta menutup panggilan itu.


Intan membuka mulutnya. Intan menghirup aroma tubuhnya. Tidak bau, Intan tau jika dia belum mandi. Tapi walaupun begitu dia tidak akan berbau busuk. Dirganta sukses membuat dia kesal.


Intan meletakkan ponselnya sembarang, mengambil handuk dan berjalan kesal kearah kamar mandi.


Intan membersihkan dirinya, dia bahkan memakai sabun yang banyak. Setelah selesai dengan ritual mandinya. Intan mengambil pakaian tidurnya dan memakainya.


Intan membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Rasanya sangat nyaman. Tubuhnya terasa sangat lelah.


Intan mengambil selimut, menyelimuti tubuhnya sampai perut, kemudian mulai memejamkan matanya. Tak lama Intan pun tertidur dengan pulas nya.


Sementara disebuah ruang kerja Dirganta menatap layar ponselnya. Apa yang sudah dia katakan? Dirganta tak bermaksud mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dirganta telah melakukan kesalahan besar.


Kemana sikap dinginnya yang dulu? apa benar jika sifat yang dia jaga itu sudah mencair karena bertemu dengan sosok perempuan yang selalu memancarkan cahaya yang mampu menyilaukan mata.


Dirganta memandang foto gadis cantik itu. Dirganta tersenyum tipis. Dirganta mengambil foto Intan saat gadis itu sedang tertidur di mobilnya. Saat lampu merah, Dirganta yang tak tahan dengan wajah polos juga menggemaskan Intan pun mengambil ponselnya dan memotret wajah gadis itu.


"Kayaknya aku benar-benar udah jatuh sama kamu Intan. Aku udah gak tau bagaimana cara aku buat dapetin kamu. Sekarang aku cuma bisa berikan ini sama kamu, namun saat aku udah capek. Aku akan langsung datengin kedua orang tua kamu."


Dirganta menyimpan ponselnya, Kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena merindukan suara gadis yang dia cintai..

__ADS_1


__ADS_2