
...🍁🍁🍁🍁...
"Dokter Gina saya minta maaf kalo saya banyak salah. Saya berterima kasih, berkat dokter saya jadi mendapat banyak ilmu yang berharga." Intan menarik nafasnya mencoba tenang.
"Saya udah ngajuin surat permohonan buat pindah tempat koas dok. Dan telah disetujui. Jadi mungkin ini pertemuan terakhir kita." Intan menghapus air matanya yang turun dengan sendirinya. Intan sudah menganggap dokter Gina sebagai kakaknya, ia sangat sedih ketika harus mengatakan ini.
"Apa kamu serius dengan ucapan kamu? Apa di rumah sakit ini ada yang buat kamu gak nyaman sehingga kamu mau pindah?" Dokter Gina berjalan ke dekat Intan.
"Saya udah pikirin matang-matang dok. Semua tenaga medis di rumah sakit ini baik sama saya, tapi ada alasan yang membuat saya harus pergi."
"Kalo gitu saya gak bisa apa-apa. Semoga kamu dapat teman yang baik di sana ya. Dan juga jaga kesehatan, semoga kita bisa ketemu lagi." Dokter Gina memeluk Intan dengan erat, Intan pun membalas pelukan itu.
"Kalo gitu saya permisi dok."
Intan pun pergi dari sana, namun saat ingin masuk kedalam lift, Intan kaget karena terdapat Dirganta di dalam lift, Intan kembali menormalkan ekspresinya. Intan masuk kedalam, berdiri tanpa menghiraukan Dirganta.
Tadi kedua orangtuanya menelponnya dan mengatakan ada hal penting yang harus mereka katakan. Dirganta pun berniat pulang cepat hari ini. Namun saat pintu lift terbuka dilantai delapan, Dirganta dikagetkan karena Intan yang akan masuk kedalam lift.
Dirganta pun heran. Intan terlihat cuek padanya, seakan mereka tidak saling kenal. Apa Intan se marah itu padanya? Dirganta tau kesalahan tidak bisa dimaafkan, tapi setidaknya mereka kan masih bisa menjadi teman ditempat kerja.
Intan merasa tidak nyaman. Dirganta dari tadi hanya memperhatikannya, Intan tidak tau harus bagaimana. Untuk mengurangi rasa canggung Intan pun memulai percakapan.
"Dokter Dirganta, saya mau meminta maaf jika saya selalu membuat kesalahan. Saya berterima kasih karena dokter udah banyak bantu saya. Setidaknya sebelum saya pergi, saya ingin membuat kesan yang baik di rumah sakit ini."
Pintu lift pun terbuka. Namun sebelum keluar Intan berkata "Saya bersyukur karena udah pernah kenal sama dokter yang kompeten, baik juga bertanggung jawab dalam bertugas . Sekali lagi terima kasih dok. Saya pamit." Intan pun segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Intan hendak membuka pintu mobilnya, namun lengannya ditahan oleh seseorang.
__ADS_1
"Apa maksud kamu dengan pamit? Apa kamu akan pergi? Bukan kah koas kamu masih lama disini?" Dirganta terus memberikan pertanyaan.
"Koas saya memang belum selesai dok. Tapi saya udah gak bisa di rumah sakit ini. Saya juga udah ngirim surat permintaan ke universitas saya juga rumah sakit ini. Saya kesini cuma mau pamit dengan beberapa rekan serta dokter Gina." Intan mencoba tersenyum walaupun berat rasanya.
"Apa kamu serius? kamu mau pergi? Apa selama ini diantara kita berdua tidak berarti apa-apa buat kamu?"
"Apa dokter lupa dengan kejadian dua hari yang lalu? Dokter yang bilang kalo saya bukan siapa-siapa dokter. Saya juga gak berhak buat ikut campur urusan dokter. Jadi itu semua sudah menjelaskan jika diantara kita berdua tidak ada apapun selain rekan di rumah sakit dok. Dan sekarang tolong lepaskan tangan saya, karena saya harus mengurus kepindahan saya."
Dirganta hanya terdiam. Dirganta pun melepaskan tangan Intan. Intan segera memasuki mobilnya, melajukan nya pergi dari rumah sakit itu. Intan menghapus air matanya. Ia harus segera melupakan cintanya.
Sedangkan Dirganta hanya terdiam melihat mobil Intan yang sudah tak terlihat lagi. Dirganta pun ikut memasuki mobilnya melajukan nya menuju sebuah tempat yang akan membuat ia sedikit tenang.
Dirganta memasuki tempat yang ramai oleh pengunjung itu. Banyak pemuda pemudi di sana. Namun tidak sedikit juga paruh baya yang bermain wanita ditempat itu.
Dirganta mendudukkan dirinya di kursi bar.
Seseorang datang menepuk pundak Dirganta.
"Dir, aku pikir kau tidak akan pernah datang lagi ketempat terkutuk ini." Sahabat Dirganta datang mendudukkan dirinya di samping Dirganta.
"Jangan mengganggu ku, pergilah." Dirganta mengusir sahabatnya itu. Dirganta mengambil gelas yang berisi minuman yang diberikan bartender dan langsung meminumnya sampai habis.
"Apa kau sedang ada masalah? tidak biasanya kau akan datang kesini dan minum. Atau apa kau sedang patah hati?" Sahabatnya yang bernama Rangga itu pun mencoba mencari tau apa yang terjadi pada Dirganta.
"Patah hati? bahkan aku tidak mencintainya. Dia hanya orang asing bagiku. Satu gelas lagi." Dirganta pun kembali meminum gelas keduanya.
"Orang asing? tapi kau seperti ini karenanya. Apa dia menolak mu? atau kau yang menolak dia? Apa dia cantik?" Rangga berusaha mengorek informasi tentang gadis itu. Rangga yakin, Dirganta seperti ini pasti karena gadis itu.
__ADS_1
"Dia? dia sangat cantik juga menggemaskan. Dia juga selalu tersenyum pada orang lain, tapi sekarang aku membuat senyumannya hilang. Aku berbuat salah padanya." Dirganta yang mulai mabuk pun tidak tau apa yang ia katakan.
"Kenapa? apa kau selingkuh darinya? atau kau berniat menciumnya tapi dia tidak mau?"
"Dia bukan kekasihku. Aku hanya tertarik padanya. Dia berbeda dengan gadis yang pernah kutemui. Tapi aku dengan lancang menamparnya, dia masuk kedalam ruangan itu. Dia bahkan mengatakan Raina sudah meninggal dan tidak akan pernah kembali lagi padaku." Dirganta kembali meminum minumannya entah sudah gelas ke berapa.
" Kau memang salah." Rangga pun ikut meminta segelas champagne pada bartender. "Apa kau sudah meminta maaf padanya?"
Dirganta menggeleng.
"Belum, aku tidak berani mengatakan itu. Dia bahkan sudah tidak koas di rumah sakit keluargaku lagi."
"Tunggu!! Koas?? dia masih mahasiswi? jadi kau tertarik dengan gadis muda? Berapa umurnya?" Rangga menaik-turunkan alisnya.
"Ia bukan mahasiswi lagi. Dan juga umurnya sekarang mungkin menginjak usia 23 tahun. Jarak umur kami hanya 8 tahun." Dirganta mengedikkan bahunya.
"Kau sudah seperti pedofil. Saran ku, kau harus tau bagaimana perasaanmu padanya. Dan cobalah untuk melupakan masa lalu mu. Aku tau itu berat untukmu, tapi kau tidak akan bisa mengubah apapun. Selagi gadis itu masih mau mencintaimu maka balas lah cintanya." ucap Rangga memberi nasehat pada sahabatnya itu.
Rangga sebenarnya kasihan pada sahabatnya itu. Sejak kejadian yang menimpanya dia tidak pernah mau dekat dengan perempuan manapun. Dirganta akan selalu membuat pembatas dengan perempuan yang berusaha mendekatinya. Bahkan mereka sudah berusaha menjodohkan Dirganta dengan banyak perempuan, tapi Dirganta akan selalu menolak.
"Malam ini lupakan semuanya. Kita hanya akan minum saja. Sekarang bersulang."
Dirganta yang sudah mabuk pun akhirnya tumbang. Rangga yang masih tersadar pun membantu Dirganta untuk pulang.
"Kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri. Lupakan dia, karena jika kau tau dia bahagia tanpa dirimu, kau akan semakin terluka."
Rangga harus tetap menyimpan rahasia itu dari Dirganta...
__ADS_1