Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Tak terduga


__ADS_3

Hari ini Intan telah siap dengan setelan kemejanya. Intan mengambil tas juga kunci mobil kemudian turun kebawah.


Kedua orang tuanya memang tidak dirumah, karena papanya ada pekerjaan diluar kota, jadi mamanya harus ikut menemani suami yang dia cintai itu.


Intan melajukan mobilnya menuju mall terdekat, waktu memang sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan Intan sudah merasa lapar. Intan memberhentikan mobilnya diparkiran mall dan langsung turun memasuki mall yang mulai ramai pengunjung walaupun masih siang.


Intan memasuki sebuah coffee shop. Dia mendudukkan dirinya di sana, ditemani secangkir kopi juga roti sebagai sarapan karena Intan belum memakan apapun.


Intan menyalakan ponselnya, mencari notifikasi dari pemuda tampan yang ada dipikirannya, namun nihil. Mata Intan tak melihat adanya pesan dari pemuda itu.


Intan mengerutkan keningnya.


"Tumben Dirganta belum kabarin aku. Biasanya pagi banget aja dia udah ngirim pesan."


Intan hendak menghubungi Dirganta namun dia kembali mengurungkan niatnya.


"Jangan deh, nanti dia malah kegeeran lagi karena di hubungin lebih dulu."


Intan kembali meletakkan ponselnya, menyesap aroma kopi yang sangat harum masuk kedalam Indra penciumannya.


Intan menyeruput kopinya dan juga mulai memakan roti yang dia pesan. Setelah selesai dengan kopi juga rotinya, Intan membayar tagihannya dan mulai meninggalkan mall tersebut.


Intan menatap pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan. Hari ini Intan berniat ingin pergi ke sebuah pedesaan yang cukup terkenal karena suasana yang asri juga nyaman untuk menenangkan diri.


Perjalanan cukup jauh. Namun Intan bersyukur tidak ada macet atau apapun yang akan membuat dia bertambah lama di perjalanan.


Intan menepikan mobilnya saat dia telah sampai di sebuah motel yang berada di desa tersebut.


Motelnya terlihat sangat nyaman. Banyak tanaman juga binatang di sana. Namun tenang saja, tidak ada hewan buas.


Intan berjalan menuju resepsionis motel itu, kemudian resepsionis itu menunjukkan dimana letak kamar yang akan Intan tempati. Intan memang sudah memesan kamar secara online, jadi dia tidak perlu repot-repot.

__ADS_1


Intan merebahkan dirinya di atas kasur yang sangat nyaman itu. Suara burung juga serangga-serangga kecil terdengar saling bersautan memenuhi keheningan yang tercipta.


Intan bangkit untuk membereskan baju-baju yang akan dia pakai selama di desa itu. Dan tebak, hanya kedua orang tuanya yang tau jika dia liburan ke desa ini. Dirganta bahkan tidak tau jika dia merencanakan semua ini.


"Dirganta pasti marah kalo tau aku pergi liburan tapi gak bilang dia dulu." ucap Intan sembari meletakkan barang-barangnya.


"Tapi gak papa. Kalo dia tau, nanti dia nyusul lagi. Aku kan mau sendiri dulu. Gak pengen diganggu hal luar."


Intan membuka jendela yang berada di kamarnya itu. Intan menghirup udara segar di pedesaan itu. Intan memang tak salah pilih. Rasanya badannya ikut rileks karena udara yang dia hirup.


Intan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di balkon kamarnya. Intan menutup matanya sejenak. Rasanya sangat nyaman setelah berkendara lumayan jauh.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sepertinya dia sudah tertidur tadi.


Intan bergegas keluar untuk makan siang. Perutnya sudah berbunyi karena lapar, ia juga baru hanya memakan satu buah roti hari ini.


"Isi perut dulu deh, setelah itu baru tidur bentar. Nanti sore baru keliling desa ini."


Setelah menemukan tempatnya. Intan berterima kasih pada penjaga itu dan masuk ke dalam tempat makan di depannya.


Intan mulai mengambil apa saja yang akan dia makan, membawanya menuju meja yang yang tersedia dan mulai menyantapnya.


Sekali-kali Intan memikirkan Dirganta. Sampai sekarang pemuda itu belum juga menghubunginya. Intan jadi sedikit agak gelisah. Tidak biasanya Dirganta tidak menghubunginya.


Intan mengenyahkan pikirannya. Mungkin saja Dirganta memiliki pekerjaan yang mendesak, jadi tidak sempat untuk mengiriminya pesan. Ya bisa saja karena itu.


Intan kembali melanjutkan makannya. Setelah makanannya habis, Intan kembali menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat berat.


*****


Dirganta menatap ponselnya yang sama sekali dia ada jaringan. Memang salahnya asal pergi tanpa persiapan terlebih dahulu. Dan kenapa pekerjaan itu harus tiba-tiba seperti ini.

__ADS_1


Ya, Dirganta saat ini sudah berada di Inggris. Jam 5 pagi seseorang menghubungi nya dan meminta dia untuk segera bersiap-siap karena ada hal yang mendesak.


Saat Dirganta bertanya, orang itu malah menyuruhnya untuk jangan banyak bertanya dan segera mengemasi barang-barangnya jika dia tidak ingin tertinggal pesawat.


Dirganta pun akhirnya mengalah. Dan lihat, Dia bahkan belum mengirimi Intan pesan satu pun hari ini. Bagaimana jika Intan marah padanya? atau hal lain yang membuatnya harus mengubur perasaannya?


Tidak. Tentu saja tidak. Tapi bagaimana jika Bagas malah mencoba mendekati gadisnya selagi dia berada di luar negeri? Dirganta harus menyuruh sahabatnya itu untuk mengawasi Intan.


Dirganta menyeret kopernya menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mereka. Dirganta hanya menatap jalanan tanpa minat sedikitpun.


Banyak orang yang akan bahagia jika pergi ke luar negeri seperti dirinya. Namun dia tidak bahagia sedikitpun. Disaat gadis yang dia cintai entah sedang apa dan dimana.


Pertanyaan itu seolah berputar dalam otaknya. Dirganta harus segera membeli kartu SIM untuk dpat mengirim Intan pesan.


Didalam mobil itu hanya ada keheningan karena Dirganta secara tak sadar menampilkan aura yang cukup menyeramkan.


Dirganta sampai di kamar hotel yang akan di tempati selama berada di Inggris. Rasanya sangat bosan saat kita tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh orang yang kita cintai.


Dirganta sudah menyuruh temannya untuk membeli kan nya kartu SIM, tapi sampai sekarang, temannya itu belum juga kembali. Rasanya sangat frustasi.


"Intan, kamu sekarang lagi ngapain? Tolong tunggu aku ya. Sebentar lagi aku bakalan hubungin kamu." monolog Dirganta sendiri pada dirinya.


Dirganta berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena dia terakhir mandi adalah pada saat dia masih di Indonesia.


Setelah mandi, Dirganta pun membaringkan dirinya di atas kasur yang empuk itu. Dirganta menutup matanya sejenak. Mungkin dia masih mengalami jetlag karena penerbangan tadi.


Tanpa sadar, Dirganta telah tertidur. Temannya yang pergi untuk membeli kartu SIM itu pun udah kembali.


Radit yang melihat temannya itu tertidur tidak ingin berusaha membangunkan. Radit tau jika Dirganta pasti lelah saat ini.


Radit meletakkan kartu SIM yang dia beli di atas meja. Setelah itu, dia pun keluar menuju kamarnya sendiri untuk ikut beristirahat juga, karena tubuhnya juga lelah setelah menempuh penerbangan itu.

__ADS_1


__ADS_2