Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Nomor baru


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Intan berjalan pagi menghirup udara perkotaan yang sudah lama tidak ia rasakan karena liburannya. Ya, liburan singkat itu telah selesai dan disinilah dia. kembali ke tempat asalnya. Dengan baju sport yang sedikit kebesaran dan rambutnya yang sengaja ia gerai membuat penampilannya memukai para pejalan kaki.


Sesekali ia tersenyum ketika beberapa pejalan kaki melihatnya penuh tawa, sepertinya karena sepanjang jalan, senyuman di wajahnya tidak pernah luntur.


Banyak juga yang menyapa dirinya sepanjang jalan. Itu sama sekali tidak membuatnya masalah. Yang membuatnya masalah adalah kenapa pria itu tidak menampakkan diri dan mencemaskannya. Jika pria itu tidak mengetahuinya, itu sangatlah tidak mungkin mengingat Intan sudah lama tidak mengiriminya pesan.


Pemuda itu bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Apa perasaannya pada Intan sudah pudar? Intan rasa tidak mungkin, mengingat bagaimana Dirganta memperlakukannya selama ini.


Mobil sport merah melaju dengan kencang membuatnya menoleh ke jalan raya karena suara mobil itu yang menurut Intan cukup mengganggu. Intan mengumpat pelan, telinganya cukup sakit mendengar suara mobil itu. Hingga umpatannya terhenti melihat sosok pria tak jauh darinya tengah memandanginya sambil tersenyum.


"Soni?" Katanya, pria itu mengangguk membuat Intan berlari menghampirinya dan memeluknya erat.


"Hei, kau kenapa? kau sangat merindukanku ya?"


Intan hanya tertawa dan melepaskan pelukannya. "Aku merindukanmu, kenapa kau ada disini? bukankah kau masih ada pekerjaan di daerah sana?"


"Tentu, tapi aku bosan jika harus berdiam diri disana. Jadi aku ke kota untuk menyelesaikan urusan ku sebentar, sebelum kembali ke sana."


Intan menarik lengan Soni untuk jalan kaki bersama. "Dimana kamu tinggal? Apa di sekitar sini?" Tanya Intan antusias.


Satu minggu, Pemuda di sampingnya ini selalu menemani Intan berkeliling, Dan saat harus menyudahi liburannya, sebenarnya Intan cukup sedih. Karena harus berpisah dengan orang sebaik Soni.


Pria itu mengangkat bahunya membuat Intan cemberut tapi ia kembali tersenyum.


Intan mengikuti Soni masuk ke dalam sebuah restoran. Keduanya mencari meja kosong dan duduk disana. Seorang pelayan datang, menanyakan pesanan mereka.


Pesanan datang. Intan menatap makanan didepannya dengan binar. Ia sangat lapar, waktu juga sudah menunjukkan pukul 1 siang, dan berarti waktu istirahat telah tiba.


Restoran itu cukup ramai karena banyaknya anak muda, pekerja kantoran yang makan siang disana.


"Makanlah berapa pun kau mau, aku melihat kau seperti orang yang tidak pernah makan saja melihat makanan itu.."

__ADS_1


Intan langsung mengalihkan tatapannya dari makanan ke Soni yang terlihat hendak tertawa. "Tentu saja, aku akan memesan banyak makanan sampai kau bangkrut."


"Oh ya, aku tidak akan bangkrut hanya karena memberimu makan." Soni tertawa membuat Intan bertambah kesal." Ngomong-ngomong. Apa pekerjaan mu? Maaf, aku lupa bertanya saat itu." ucap Soni menyuapi makanan ke mulutnya.


"A...akhhmmuuu sseskkhhaaramm sedang kooaahhmmsss." ucap Intan dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Habiskan dulu makananmu, aku seperti berbicara dengan kucing, kau tau."


Intan menelan makanan yang dia kunyah.


"Aku sekarang sedang koas, kau tau kan bagaimana jika ingin mendapatkan sertifikat kedokteran. Banyak perjalanan yang harus di lewati."


Soni mengangguk mengerti. "Kau benar, pasti melelahkan buatmu kan. Secara lihatlah tubuh kurus mu ini,kau pasti sangat tertekan."


Intan melototkan matanya. Hell, dia langsing bukannya kurus, apa laki-laki didepannya ini tidak bisa membedakannya.


"Kau tidak tau jika banyak perempuan diluar sana yang menginginkan body seperti ku, dan juga menjadi dokter adalah cita-cita ku. Aku sangat mencintai pekerjaan ku."


"Apalagi semenjak aku mengenal dokter tampanku, Ah sial, aku sangat merindukan Dirganta." ucap Intan dalam hati.


Keduanya telah siap makan siang, Soni pamit lebih dulu karena ada pekerjaan penting yang menunggunya.


Intan menunggu taksi yang sudah dia pesan di aplikasi online. Taksi pun datang, Intan masuk dan taksi itu mulai melaju membelah jalanan kota.


Intan ingin pergi shopping. Sangat membosankan saat tidak ada yang bisa di hubungi dan juga ajak melepas kebosanan.


Kedua orang tuanya belum juga kembali. Dan Dirganta yang menghilang entah kemana.


Intan menatap mall didepannya. Rasanya seperti hidup kembali. Intan. memasuki mall itu dan berjalan ke salah satu toko yang menjual banyak pakaian dengan harga yang tentunya mahal.


Intan melihat-lihat koleksi di toko itu. Setelah mendapatkan banyak pakaian yang terdiri beberapa jenis, Intan pun membawa pakaian itu ke ruang ganti untuk mencobanya.


Dan setelah mencoba semuanya. Pilihan Intan jatuh kepada sebuah dress berwarna biru muda, dengan belahan panjang sampai pahanya.

__ADS_1


Intan membawa dress itu ke kasir, mengeluarkan kartu kredit nya untuk membayar dress yang dia mau itu.


Intan memasuki banyak toko, mulai dari pakaian, sepatu, tas, bahkan perhiasan. Beginilah dia juga sudah ke mall. Tidak tahan melihat banyak barang yang sangat cantik.


Bahkan saking asyiknya, Intan tak sadar jika hari sudah mulai malam. Intan membawa belanjaannya menuju sebuah restoran untuk mengisi perut, sebelum kembali ke rumah.


Sambil menunggu pesanannya. Intan mengecek ponselnya kembali, Dirganta tetap tak memberinya kabar. Apa pemuda itu sudah tau jika Intan pergi liburan tanpa memberitahunya? Dan itu membuatnya marah? Tapi tidak mungkin.


Lagi pula, dari mana Dirganta akan tau. Dan juga jika Dirganta dia pasti menyusulnya kesana, bukan malah menghilang seperti saat ini.


"Menyebalkan.."


Setelah menyelesaikan ritual makan malamnya, Intan akhirnya pulang.


Intan meletakkan belanjaannya dilantai. Tubuhnya pegal, apalagi kakinya. Mungkin karena terlalu banyak bergerak.


Pikiran Intan tetap menerawang memikirkan laki-laki yang bisa memporak-porandakan perasaannya. Intan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Intan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di balkon kamarnya. Intan menatap hamparan bintang yang terlihat sangat intan di atas sana. Intan kembali melihat ponselnya. Astaga, dia tidak bisa seperti ini. Sangat menyebalkan jika harus melihat ponsel terus menerus.


Intan yang bosan pun memilih membuka pesan-pesan yang menumpuk karena banyak pesan yang belum dia buka selama dia liburan.


Saat tengah asyik melihat-lihat pesan. Kening Intan berkerut, melihat sebuah pesan dengan kode nomor luar negeri, bukan kode Indonesia.


Intan ingat, tidak ada temannya ataupun keluarganya yang diluar negeri, ataupun sedang liburan di luar negeri.


Intan yang penasaran pun membuka pesan itu. Matanya sontak membulat sempurna. Astaga. Kenapa dia baru melihat pesan itu sekarang. Kenapa tidak dari 4 hari yang lalu.


"Intan bodoh, kau sangat bodoh." rutuk Intan pada dirinya sendiri.


Intan menghubungi nomor itu, dering pertama, kedua, ketiga, tidak ada jawaban. Sampai dering ke empat membuat jantung Intan berdegup kencang.


"Halloo.."

__ADS_1


Suara itu. Suara yang sangat Intan rindukan. Astaga, rasanya air matanya ingin keluar sebentar lagi. Kenapa baru sekarang dia mendengar suara yang sangat dia rindukan itu....


__ADS_2