Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Orang tua Intan


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Intan dari tadi hanya mengikuti Dirganta, bak anak ayam yang mengekor induknya. Dirganta bahkan sudah menyuruhnya pergi dan mengusirnya. namun ia tidak mau.


"Dokter mau ya datang ke rumah saya. Mama sama papa saya undang dokter buat makan malam sebagai tanda terima kasih karena udah mau anter saya kemarin." Intan menampilkan raut wajah memohon.


"Saya gak bisa. Dan katakan pada kedua orang tua mu tidak perlu mengadakan makan malam hanya untuk berterima kasih, Karen kamu yang memaksa saya."


Dirganta hanya acuh, ia tetap pelaksanaan pekerjaan walaupun ada lalat pengganggu (jahat banget Intan dibilang lalat). Dirganta dari tadi sudah mencoba sabar. Namun Intan tetap tak memberinya waktu tenang.


"Keputusan buat nerima permintaan dokter Gina salah besar. Malah jadi Boomerang." Dirganta menghela nafasnya.


"Apa dokter tega biarin kedua orang tua saya udah capek-capek masak buat dokter tapi dokter gak mau nerima ajakan mereka, pasti mereka sedih banget nanti. Intan mencoba mendramatisir keadaan agar Dirganta mau.


"Saya udah bilang kalo saya gak bisa. Kalo kamu masih bersikeras saya bakalan kirim surat ke universitas kamu." Ucap Dirganta mencoba mengancam Intan.


"Dokter gak bisa gitu dong. Kan ini urusan pribadi, masak harus sampai kirim surat ke universitas. Dokter ni jahat banget."


Intan dibuat kesal. Dirganta pasti selalu mengancamnya seperti ini .


"Yaudah kalo dokter gak mau, saya cuma bisa berharap sampai disini. Terima kasih. Dah dok!"


Intan pergi dari sana melangkah menuju kantin, Ia mendudukkan dirinya ditempat biasa ia makan siang.


"Kok perkataan aku tadi ambigu ya. Saya cuma bisa berharap disini?? Kok kayak pacar yang udah nyerah sampai sikap cowok nya sih."


Intan menggunakan kepalanya.


"Walaupun Dirganta suatu saat nanti jadi pacar aku, aku gak bakalan nyerah gitu aja. Masak udah dapetin dengan susah payah, malah mau nyerah gitu aja. Kan gak mungkin."


Saat Intan sedang asyik melamun terdengar teriakan seseorang yang memanggil namanya.


Intan melihat siapa yang memanggil nya, sontak matanya membulat. Ya Tuhan, berapa lama dia sudah tidak melihat orang yang berlari kearah nya itu.


Intan berdiri dan langsung memeluk orang didepannya.


"Astaga, aku gak nyangka banget kalo kita bakalan ketemu disini. Aku rindu banget." Orang itu memeluk Intan dengan erat.


Perpisahan mereka sudah cukup lama. Bahkan mereka tidak pernah berkirim pesan atau komunitas lainnya.


"Aku juga rindu banget, udah lama kita gak ketemu. Kamu apa kabar? Dan ngapain kamu kesini?"


Intan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia terharu, Ia dan sahabatnya itu sudah berpisah 5 tahun. Ketika bangku sekolah, Sahabatnya itu harus ikut pindah dengan orang tua nya karena pekerjaan ayah sahabatnya itu.


"Kamu kerja disini Tan?" Tanya Liora, sahabat Intan.


"Enggak kok, masih koas. Tapi gak lama pasti aku bakalan kerja disini juga. Doain ya" Intan tidak percaya jika sahabat ini tengah duduk dihadapannya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong ngapain kamu kesini? Siapa yang sakit?"


"Mama aku sakit Tan, jadi dirawat disini. Kami udah pindah kesini sekitar satu tahun yang lalu. Kondisi mama tiba-tiba drop." Liora menundukkan kepalanya sedih atas apa yang dialami ibunya.


"Yang sabar ya Ra, pasti tante Ima bakalan cepet pulih kok. Kamu tenang aja." Intan menggenggam tangan sahabatnya itu, berusaha membuat sahabatnya itu terhibur dan menguatkan.


"Makasih ya Tan, oh ya. Aku boleh minta nomor telepon kamu gak sih. Siapa tau nanti kau butuh."


Intan mengambil ponselnya dan menyerahkan nya pada Liora.


"Boleh lah, kok jadi sungkan gini sih. Santai aja."


"Yaudah kalo gitu aku pergi dulu ya, Mau liat keadaan mama dulu. Bye Intan."


Intan melihat sahabatnya itu sampai tak terlihat lagi, baru berdiri meninggalkan kantin itu.


*****


"Kamu dari mana aja, kamu gak tau kalo pekerjaan kamu banyak. Kamu malah pergi entah kemana."


Intan baru sampai di ruangan itu namun Dirganta sudah lebih dulu mencecarnya dengan banyak nya pertanyaan.


"Saya dari kantin dok. Saya laper, trus sahabat lama saya dateng. Kami ngobrol bentar. Baru saya langsung kesini. Intan berusaha menjelaskan pada Dirganta.


"Saya gak peduli kamu dari mana! Yang jelas kalo kamu udah lalai lagi. Kamu benar-benar minta dihukum ya."


Intan yang melihat Dirganta berjalan kearahnya pun jadi gugup. Jantungnya berdegup kencang. "Jantung tolong kerja samanya." ucap Intan dalam hati.


Dirganta memajukan wajahnya, membuat Intan semakin gugup.


"Sekarang kamu bersihin ruangan saya. Tapi ingat jangan sampai ada barang yang tercecer atau hilang."


Setelah mengatakan itu Dirganta pun pergi meninggalkan Intan yang membulatkan matanya.


Astaga dia berpikir jika Dirganta akan menciumnya, seperti di drakor-drakor atau pun novel romantis. Namun ternyata ia salah. Apanya yang dicium, ia bahkan harus membersihkan ruangan yang penuh dengan dokumen ini.


Intan memijit pelipisnya pelan. Ia benar-benar akan pingsan. Intan menarik nafasnya dan mulai membersihkan ruangan itu.


Setelah kurang lebih 3 jam, Intan sudah selesai membersihkan ruangan itu. Intan meregangkan ototnya. Jika Ia tidak harus membaca satu-satu dokumen itu untuk memisahkan mana yang bisa dibuang atau tidak, Hukumannya pasti akan cepat selesai.


"Pinggang ku bener-bener sakit. Istirahat disini dulu deh."


Intan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan itu. "Rasanya enak banget." Saking nyamannya Intan bahkan tak sadar jika ia sudah tertidur.


Dirganta melihat jam tangannya, hari sudah malam. Ia baru teringat jika ia memberi Intan hukuman.


Dirganta harus mengecek apakah Intan sudah selesai atau belum.

__ADS_1


Dirganta pun mempercepat langkahnya, membuka pintu itu lalu masuk kedalam.


Ruangan itu sudah bersih dan rapi. Ekor matanya tak sengaja seorang wanita yang tertidur di sofa ruangan kerjanya.


"Makah tidur, bukannya pulang!! Hei, bangun. Kamu mau nginep disini? " Dirganta mencoba membangunkan Intan, Tapi sang empu tak mau membuka matanya.


"Wanita ini benar-benar nyusahin banget."


Dirganta menggendong Intan, Ia terpaksa melakukan ini. Ingat ia hanya terpaksa.


Dirganta mendudukkan Intan di kursi samping kemudi, memasangkan sabuk pengaman, Lalu ikut masuk kedalam mobil.


Melakukan mobil itu membelah jalanan padat Kota Jakarta.


Dirganta melihat kesamping nya, Intan masih tertidur lelap. Apa wanita itu terlalu lelah? Apa ia memberikan hukuman yang terlalu berat? Jika ia maka Dirganta sudah keterlaluan.


Dirganta memperhatikan wajah tidur polos wanita itu. Jika diperhatikan wajahnya ternyata cukup cantik dan imut.


Dirganta menggelengkan kepalanya. Apa yang ia pikirkan. Apa ia berpikir jika Intan cantik dan imut??? Tidak mungkin.


Dirganta menambah kecepatannya. Ia harus segera sampai di rumah wanita itu.


Dirganta membuka sabuk pengaman Intan lalu menggendong wanita itu turun. Dirganta menendang pelan pintu rumah itu, agar sang pemilik rumah keluar.


Tak lama, seorang paruh baya membuka pintu.


"Astaga Intan, kamu kenapa nak?" Wanita paruh baya didepannya terlihat panik.


"Tenang aja tante. Intan baik-baik aja kok. Dia cuma ketiduran aja." Dirganta menjawab pertanyaan Wanita paruh baya didepannya. Sepertinya wanita itu adalah Ibunya Intan.


"Pa, papa ayo turun sini." Ibu Intan memanggil suaminya untuk turun kebawah.


"Ada apa ma? kok teriak-teriak?" Ayahnya berjalan kearah mereka.


"Ini pa, Kata dokter tampan ini, Intan ketiduran. Papa gendong intan ke kamar ya."


Ayah Intan membawa putrinya itu ke kamar, lalu turun kembali kebawah.


"Terimakasih dok, karena udah bawa putri saya pulang. Maaf repotin dokter. Oh ya, nama dokter tampan siapa ya?" Ibunya benar-benar kepo. Baru kali ini putrinya diantar seorang laki-laki bahkan menggendong putrinya yang tertidur itu.


"Nama saya Dirganta tante. Saya dokter senior nya Intan." Ucap Dirganta memperkenalkan diri.


"Dokter yang kemarin anter anak saya juga ya? Oh ya maaf dok, Dokter mau masuk dulu gak? Saya udah masak banyak buat dokter. Ayo ayo masuk dulu dok, gak udah sungkan."


Ibu Intan menarik Dirganta masuk. Dirganta hanya diam, tidak berani menolak.


Mereka memakan makan malam itu dengan berbagai perbincangan. Melupakan Intan yang tertidur di kamar....

__ADS_1


__ADS_2