Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Malam sebelum permulaan


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Dirganta sampai di rumah orang tua nya. Ia melihat ke sekeliling rumah besar itu tapi tak melihat siapa pun.


"Kemana mereka semua pergi? apa mama sama papa belum pulang ya?"


Dirganta pun pergi kearah taman belakang tempat dimana kedua orang tuanya biasa menghabiskan waktu. Dan benar tebakannya. Ia menemukan kedua orang tuanya di sana.


"Ma, pa! Dirganta udah dateng."


Ibu dan ayahnya yang melihat ia datang pun tersenyum lebar. Putra mereka ini memang sangat jarang berkunjung ke rumah mereka. Putranya itu selalu beralasan jika ia sibuk.


"Dirganta sayang. Gimana keadaan kamu. Mama kangen banget sama putra mama yang nakal ini." Ibunya memeluk erat dirinya. Namun dengan sekuat tenaga ibunya juga malah mencubitnya.


"Anak nakal. Apa kamu gak inget kalo kamu masih punya orang tua? Kamu jarang banget dateng liat mama sama papa. Kalo anak mama banyak gak masalah kalo kamu gak dateng. Tapi ini anak mama cuma satu. Dan itu pun jarang ketemu." cecar ibunya panjang lebar.


"Maaf ma. Dirganta sibuk banget di rumah sakit. Ditambah rekan Dirganta cuti, jadi mahasiswi yang ikut dia sama Dirganta dulu."


Mendengar itu ibunya tersenyum lebar.


"Cantik gak mahasiswi nya? Siapa tau bisa jadi pacar kamu. Mama juga mau dong punya calon mantu. Ya kan pa?" Ibunya menatap ayah nya yang sibuk membawa koran. Namun ketika mendengar penuturan istrinya ia jadi sedikit tertarik dengan pembicaraan itu.


"Bener ma. Temen-temen papa juga selalu cerita kalo anaknya udah punya calon. Cuma papa yang gak pernah cerita."


Kedua paruh baya itu berusaha menggoda putra nya itu. Memprovokasi agar putranya mau mencarikan mereka calon menantu.


"Gak cantik. Malah biasa aja, Dirganta gak berminat sama wanita kayak gitu. Cerewet banget lagi."


Ibu dan ayahnya saling memandang, mereka harus mencari tau siapa wanita itu. Melihat reaksi Dirganta sepertinya putra mereka sedikit tertarik pada mahasiswi itu.


"Jangan gitu dong. Nanti kena karma beneran suka gimana. Kalo mama sama papa sih gak masalah. Yang mending kami punya menantu, terus punya cucu."


"Dah ah. Dirganta capek. Mau ke kamar dulu."


Orang tua nya yang melihat Dirganta pergi pun hanya tertawa pelan. Mereka yakin kalo Dirganta sudah mulai tertarik dengan mahasiswi yang dikatakan putranya itu.

__ADS_1


*****


Jan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Keluarga itu pun memulai makan malam dengan tenang. Tak terdengar gurauan atau pun perdebatan di sana.


Kedua orang tuanya memang mengajarkan agar tidak berbicara ketika makan.


Makan malam itu pun telah selesai. Mereka bertiga duduk diruang tamu yang berada di rumah besar itu.


"Gini sayang, mama itu punya temen. Anaknya itu juga dokter disalah satu rumah sakit di Yogyakarta. Jadi gimana kalo kalian saling kenal. Siapa tau cocok."


Ini lah alasan Dirganta jarang pulang ke rumah mereka. Ibunya akan selalu berusaha menjodohkan nya dengan anak temannya.


"Ma. Ini udah modern, udah gak zaman buat perjodohan. Lagi pula Dirganta juga masih banyak impian yang belum ke capai. Jadi mama sabar aja. Kalo jodoh gak bakal kemana kok."


"Kalo gak ada lagi yang mau diomongin Dirganta ke kamar dulu. Bye ma, pa."


Dirganta melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Ia akan menginap malam ini.


Ibu dan ayahnya hanya terdiam. Mereka sudah berusaha mengenalkan putranya dengan anak teman atau rekan bisnis mereka. Namun putra nya itu selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Tapi pa, umur Dirganta itu udah Mateng buat nikah. Mama juga mau dong gendong cucu kayak temen-temen mama."


"Iya papa ngerti. Tapi gak mungkin kan kita terus paksa Dirganta. Nanti Dirganta malah benci lagi sama kita." Kedua paruh baya itu pun larut dalam pikiran masing-masing.


Dirganta memegang pembatas balkon itu. Ia benar-benar pusing dengan perjodohan itu. Ia sudah sering kali menolak tapi ayah dan ibunya selalu berusaha agar ia mau dijodohkan.


Dirganta mengambil ponselnya lalu tanpa sadar menghubungi seseorang.


Ponsel itu bergetar sebentar menandakan jika orang yang dihubungi mengangkat panggilan itu.


Dirganta melihat siapa orang yang tidak sengaja ditelpon nya itu. Matanya membulat sempurna. Kenapa ia malah menelpon wanita itu.


Terdengar suara seseorang diseberang sana.


"Halo?"

__ADS_1


"Halo apa ada orang?" "Ada perlu apa ya dok?"


"Dokter ini udah malem. Saya ngantuk. Malam dok."


Namun sebelum panggilan itu terputus Dirganta memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Maaf Intan. Tapi ponsel saya dipegang sama keponakan saya. Mungkin dia yang gak sengaja hubungin kamu. Maaf udah ganggu waktu istirahat kamu."


Dirganta mematikan panggilan itu. Ia harus berbohong dengan mengatakan keponakan. Sedangkan anak ayah dan ibunya hanya dirinya seorang.


Tidak mungkin jika ia mengatakan jika dirinya yang salah pencet. Bisa-bisa wanita itu akan besar kepala nanti.


Dirganta pun memutar tubuhnya kearah kasur empuk yang sudah menunggunya. Ia membaringkan tubuhnya memejamkan mata dan masuk kedalam mimpi.


Sementara wanita yang tak sengaja dia hubungi tetap terjaga. Matanya tidak bisa tidur.


"Kenapa Dirganta hubungin aku ya? Apa Dirganta udah mulai suka sama aku?"


Intan tersenyum-senyum sendiri memikirkan nya.


Saat ia ingin tidur ponselnya berbunyi, dirinya melihat siapa yang sudah mengganggu waktu tidur nya, Tapi matanya membulat. Ia tidak menyangka jika dokter tampan itu yang menghubunginya.


Intan mengatur nafas, menormalkan detak jantungnya lalu mengangkat panggilan itu.


Tapi tak terdengar suara siapapun. Intan berulang kali mengatakan halo tapi tak ada sautan. Namun ketika dirinya ingin mengakhiri panggilan itu. Dirganta malah mengatakan jika keponakannya yang menghubunginya.


"Gak papa kalo keponakan Dirganta yang hubungin aku. Yang penting dihubungin. Dan juga keponakannya tau siapa calon aunty mereka."


Intan benar-benar sudah tidak waras. Senyumnya tidak pernah luntur. Ia terus melihat riwayat panggilan itu. Ia ingin berteriak kencang karena kegirangan. Namun ia tidak mungkin melakukannya, Kedua orang tuanya sudah tertidur. Lagi pula tetangganya bisa-bisa marah padanya nanti.


"Astaga. Gimana ya besok. Jantung tolong berhentilah berdetak kencang. Rasanya mau mati karena terlalu seneng."


"Besok aku harus bangun pagi. Bantu mama masak, dan juga siapin bekal dan makan siang buat dokter tampan ku. Dirganta perjuanganku mulai besok akan dimulai. Kuharap kamu bersiap-siap karena sebentar lagi kamu juga akan suka sama aku."


"Tidur sekarang deh. Supaya gak ada kantong mata besok. Aku harus selalu terlihat cantik dan segar. Gak boleh lesu, harus bersinar."

__ADS_1


Dikamar masing-masing mereka berdua beristirahat dengan tenang. Banyak hal yang akan terjadi. Dan besok adalah hari permulaan.


__ADS_2