
Intan duduk dimeja resepsionis rumah sakit ia koas. Intan sudah 3 hari koas di rumah sakit ini. Rasanya sangat hampa juga sepi. Intan yang biasanya akan selalu mengekori Dirganta juga dokter Gina, sekarang sudah tidak bisa.
"TOLONG DOKTER, PERAWAT, SIAPA PUN CEPAT BANTU IBU SAYA."
Intan yang sedang termenung pun terkejut dengan suara teriakan itu. Intan segera berlari kearah seorang pemuda yang sedang menggendong ibunya yang tampak tak sadarkan diri.
"Tuan, Silahkan letakkan ibu tuan di atas brankar ini." Pinta Intan.
Pemuda itu meletakkan ibunya di sana.
Intan beserta perawat lain pun mendorong brankar itu menuju ruang IGD.
"Tuan, sebaiknya tuan menunggu diluar saja. Supaya dokter bisa menangani pasien dengan tenang." Intan menatap pemuda didepannya yang tampak sangat khawatir.
"Baik, tolong selamatkan ibu saya. Saya akan membayar berapa pun agar ibu saya selamat." Pemuda itu menatap juga menatap Intan dengan memohon. Dimata pemuda itu terlihat keputusasaan.
"Baik tuan. Kami akan berusaha sebaik mungkin." Intan masuk kedalam, ikut membantu dokter yang terlihat fokus menangani pasien paruh baya itu.
Dua jam telah berlalu, lampu merah yang berada di pintu IGD itu pun telah berubah warna menjadi hijau menandakan bahwa operasi telah selesai.
Pasien pun telah dipindahkan ke kamar rawat inap. Pemuda itu menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Maaf tuan, tapi dokter meminta anda agar segera ke ruangannya." Intan berdiri, tersenyum kearah pemuda itu.
"Baik, tolong jaga ibuku sebentar." Pemuda itu pergi meninggalkan Intan bersama ibunya yang terlihat lemah berbaring di atas kasur di kamar VVIP itu.
"Nyonya, kau harus bertahan. Putramu terlihat sangat mengkhawatirkan mu. Kau sangat beruntung memiliki putra yang sangat menyayangimu."
Intan masih setia mengajak paruh baya itu berbicara, walaupun ia tau. Hanya dirinya sendiri yang akan berbicara. Tiba-tiba pintu kamar rawat inap itu terbuka menampilkan sosok pemuda tadi.
"Terima kasih karena sudah mau menjaga ibuku. Oh ya perkenalkan aku Bagas dan kau?" Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Intan.
__ADS_1
Intan masih setia menatap tangan itu.
"Oh ya, maaf. Nama ku Intan. Ya, kau bisa memanggilku Intan." Intan membalas uluran tangan Bagas.
"Apa kau seorang dokter disini?" Pemuda itu memperhatikan Intan. Jika diperhatikan gadis didepannya ini ternyata terlihat sangat cantik.
"Aku hanya sedang koas disini. Masih belum menjadi dokter." Intan tersenyum tipis menanggapi Bagas.
"Oo maaf. Aku pikir kau sudah menjadi dokter."
"Belum dan tidak akan lama lagi. Oh ya karena kau sudah disini. Sebaiknya aku pergi sekarang. Permisi."
Bagas tersenyum saat melihat Intan yang sudah pergi dari kamar itu.
"Sepertinya aku sudah mulai tertarik padanya." Bagas kembali tersenyum seperti orang bodoh, seakan tersadar. Bagas pun mendudukkan dirinya di samping ibunya.
*****
Dirganta bahkan sudah bertanya pada dokter Gina dimana rumah sakit tempat Intan koas. Namun dokter Gina mengatakan jika ia tidak tau, Intan tidak mengatakannya padanya.
Dirganta juga akhir-akhir ini selalu tidak fokus. Bahkan kemarin saat rapat dengan dokter-dokter lain, Dirganta hanya diam. Tidak mendengarkan apa yang disampaikan dokter yang lainnya. Pikirannya hanya tertuju pada gadis itu seorang.
"Sepertinya aku harus mengambil cuti sementara waktu." Dirganta mengambil kunci mobilnya dan pergi dari rumah sakit itu.
Dirganta melihat-lihat keberadaan sahabatnya, namun sahabatnya itu tidak terlihat. Dirganta pun melangkahkan kakinya menuju ruangan VIP tempat biasa mereka berkumpul.
Dan ternyata benar dugaannya. Sahabatnya itu berada di ruangan itu.
"Hei, Kenapa kau tidak menghubungi ku jika kau ingin datang kemari." Rangga terkejut melihat Dirganta yang tiba-tiba datang ke bar tempat mereka biasa berkumpul padahal ini masih siang.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku." Dirganta mengambil minuman yang terletak di atas meja didepannya dan meminumnya.
__ADS_1
"Apa? Kau ingin aku membuntuti seseorang? atau yang lainnya?" Rangga pun ikut mengambil gelas yang berisi minuman didepannya.
"Aku ingin kau mencari tau dimana tempat Intan koas. Aku sudah bertanya pada orang yang dekat dengannya di rumah sakit, tapi mereka semua menjawab jika mereka tidak tau."
"Astaga. Ternyata kau benar-benar tertarik padanya, Aku pikir kau hanya bercanda mengatakannya saat kau mabuk. Ternyata sahabatku yang dingin ini sudah mulai melupakan mantan kekasihnya." Rangga tersenyum tipis pada sahabatnya itu. Ia ingin tau bagaimana tanggapan Dirganta saat ia kembali menyebut mantan kekasih Dirganta.
"Semenjak Intan hadir di hidupku aku sudah mulai melupakannya. Tiga hari ini pikiranku hanya Intan seorang. Aku bahkan tidak fokus bekerja saat dalam pikiranku hanya ada dirinya." Dirganta menatap kearah gelas yang ia pegang, pikirannya berkelana jauh.
"Tenang saja. Aku akan membantumu mencarinya. Oh ya, bukankah kau bisa bertanya pada orang tuanya. Kenapa kau tidak pergi saja kerumahnya?" ucap Rangga melihat Dirganta yang tampak kembali bersemangat saat mendengar hal yang ia katakan.
"Kau benar. Aku bisa datang kerumahnya dan bertanya pada kedua orang tuanya. Terima kasih atas saran mu sahabatku. Lain kali aku akan mentraktir mu. Sampai nanti." Dirganta segera pergi dari sana. Melajukan mobilnya cepat menuju rumah Intan.
Rangga menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kau bukan hanya tertarik, tapi kau sudah mulai menyukainya. Namun kau tidak menyadari itu. Semoga kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu kawan."
*****
Dirganta memencet bel pintu rumah Intan. Tidak lama pintu didepannya terbuka menampilkan ibu Intan yang terlihat terkejut dengan kedatangannya.
"Nak Dirganta. Kok bisa kesini? Bukannya ini masih jam kerja ya? Intan juga gak ada di rumah." Ibu Intan menatap Dirganta dengan penasaran.
"Iya tante saya tau. Saya cuma mau bertamu. Hari ini pekerjaan saya udah selesai semua, jadi saya gak tau harus pergi kemana. Makanya saja datang kesini." Dirganta terpaksa berbohong. Tidak mungkin kan jika ia mengatakan ia sudah meninggalkan semua pekerjaannya dan malah memberikannya pada dokter yang lain.
"Kalo gitu silahkan masuk. Gak usah sungkan. Tunggu sebentar ya. Tante mau panggil papa Intan dulu." Ibu Intan mempersilahkan Dirganta untuk masuk dan segera pergi memberitahu jika Dirganta datang kerumahnya.
"Sayang. Dirganta ada diruang tamu tuh. Temenin ngobrol ya, katanya pekerjaan udah selesai semua. Makanya ia datang kesini."
"Iya ma." Papa Intan segera pergi menyusul Dirganta yang sudah duduk di sofa ruang tamu mereka.
Kedua laki-laki yang berbeda usia itu pun berbincang dengan serius. Marga melihat itu semua tersenyum. Sepertinya Dirganta akan sangat cocok jika bisa bersanding dengan putrinya. Dirganta juga terlihat sangat baik.
__ADS_1
"Semoga keduanya berjodoh."