
...🍁🍁🍁🍁...
Dirganta benar-benar serius dengan ucapannya. Setiap hari ia akan menjemput Intan dirumahnya dan mengantarnya ke rumah sakit begitupun sebaliknya, Ia akan menjemput Intan di rumah sakit dan mengantarnya pulang. Tapi terkadang Dirganta akan membawa Intan pergi ke mall ataupun taman.
Ketika makan siang Dirganta akan datang dan membawakan makan siang untuk Intan. Dan semua itu sudah menjadi kebiasaan untuknya.
Namun hari ini Dirganta tak terlihat batang hidungnya. Intan sudah melihat-lihat apakah Dirganta datang atau tidak, namun ternyata tidak.
Intan juga sudah terbiasa makan siang dengan Dirganta. Ya walaupun dia belum menerima Dirganta namun jika diperlakukan manis setiap hari siapa yang tidak akan luluh.
Intan pun memilih pergi ke kantin dan makan di sana. Setelah selesai Intan pun kembali bertugas.
Tak terasa malam telah tiba. Semua pekerjaan Intan juga sudah selesai. Intan menunggu Dirganta namun mobilnya tidak juga terlihat. Intan pun memilih untuk naik taxi.
Intan sampai dirumahnya dan langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu Intan mendaratkan bokongnya pada kursi taman dibelakang rumah mereka. Intan melihat ponselnya. Tidak ada telepon ataupun pesan dari Dirganta.
"Sebenernya dia kemana sih. Kok ngilang gini? Apa dia udah nyerah ya?" Intan melihat nomor Dirganta hendak menghubungi namun ia mengurungkan niatnya kembali.
"Masak semudah itu si buat nyerah. Kalo gitu siapa coba yang akan percaya kalo bener-bener cinta." Intan yang terlanjur kesal pun kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Besok harinya tetap sama. Dirganta tak menghubunginya maupun mengirim pesan padanya. Intan semakin resah. Hari ini adalah hati minggu jadi ia libur. Intan pun berniat untuk pergi ke apartemen Dirganta untuk mengecek apakah Dirganta baik-baik saja atau tidak.
Intan telah siap dengan pakaian casual nya. Intan memanggil taxi untuk mengantarnya ke sana.
"Disini aja pak. Makasih ya pak." Intan membayar taxi nya dan langsung berjalan agak cepat menuju apartemen Dirganta.
Intan mengetuk pintu didepannya tapi tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Intan pun memencet bel namun hasilnya tetap sama.
"Apa dia gak ada di apartemen ya." Pun Intan menghela nafasnya dan akhirnya pergi dari sana.
Intan kembali memesan taxi dan pergi menuju suatu tempat.
Intan sampai ditempat tujuannya. Intan pun memencet bel pintu rumah besar didepannya ataukah bisakah disebut mansion? Karena rumah itu sangat besar.
Tidak lama pintu besar itupun terbuka.
"Selamat siang non. Ada yang bisa bibi bantu?" Tanya seorang paruh baya, mungkin pelayan itu di rumah itu.
__ADS_1
"Oh iya bi. Saya lagi cari Dirganta. Apa Dirganta ada didalam ya?" tanya Intan ada paruh baya itu.
"Oo den Dirganta. Den Dirga.."
"Siapa bi?" Ucapan pelayan itu terpotong oleh suara seorang wanita paruh baya cantik yang terlihat sedang menuruni tangga.
"Oh ini nyonya, Ada yang nanyain den Dirganta." kata pelayan itu.
Ratna pun melihat siapa gerangan tamu yang datang, ia cukup terkejut kemudian senyum lebar terbit dibibirnya.
"Saya kenal dia bi. Bibi lanjutin pekerjaan aja.
"Iya nyonya." Pelayan itu pun pamit undur diri.
"Loh Intan. Kok gak langsung masuk? malah berdiri diluar gitu. Ayo masuk sayang." Ratna menghampiri Intan dan langsung memeluk gadis itu.
Intan membalas pelukan Ratna.
"Maaf tante, Siang-siang Intan udah ganggu." ucap Intan dengan segan.
"Gak ganggu sama sekali kok. Kamu cari Dirganta? Ayo masuk. Duduk dulu, Tante panggilin Dirganta dulu ya."
"Intan mau jus jeruk aja tante." jawab Intan dengan senyum tipis.
Ratna pun memanggil seorang pelayan untuk membuatkan minuman yang diinginkan Intan dan pergi dari sana untuk memanggil Dirganta.
Seorang pelayan datang dengan membawakan secangkir minuman untuk Intan. Intan berterima kasih lalu meminum minuman itu.
Intan gugup. Sangat gugup malahan. Intan tidak tau harus mengatakan apa pada Dirganta. Tidak mungkin jika ia mengatakan ia mengkhawatirkan Dirganta, atau yang lebih parah merasa kehilangan?
"Enggak enggak. Aku cuma khawatir kalo dia sakit atau sebagainya. Cuma itu." monolog Intan sendiri.
Tidak lama terdengar suara kaki yang melangkah cepat kearahnya. Dari arah samping tiba-tiba seseorang memeluknya dengan erat.
Intan terkejut tentu saja. Ia mematung. Intan melihat siapa gerangan dan terkejut dengan Dirganta yang memeluknya di rumah laki-laki itu. Apa laki-laki itu gila.
"Dokter, ini rumah orang tua dokter. Tolong lepasin, saya gak mau ada yang liat." cicit Intan pelan.
__ADS_1
Dirganta pun melepaskan pelukannya.
"Maafin saya. Habisnya saya rindu banget sama kamu Intan. Maafin saya, saya sibuk banget jadi gak bisa nganter, jemput atau bawain makan siang buat kamu." Dirganta mendudukkan dirinya di samping Intan.
"Ekhen Ekhem. Maafin mama ya kalo mama ganggu. Tapi ini udah siang ni. Kalian laper kan? Ayo kita makan siang bareng di taman." Ratna menghampiri kedua insan itu.
"Iya ma. Mama duluan aja. Dirganta sama Intan bentar lagi nyusul kok." Dirganta tersenyum kearah mamanya.
"Iya iya. Dasar anak muda."
"Kamu kok tau aku ada disini? Apa jangan-jangan kamu rindu ya sama aku?" tanya Dirganta dengan senyum licik dibibir nya."
Intan yang mendapat pertanyaan tak terduga pun langsung gugup bukan main. Pipinya berubah semu.
"Enggak kok. Sa..saya cuma mau ketemu sama tante Ratna. Dokter jangan kepedean deh. Kayaknya tante Ratna udah lama nunggu. Saya duluan dok."
Intan segera pergi dari sana sebelum Dirganta memberikan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya semakin gugup.
Dirganta melihat itu terkekeh pelan. Ia tau jika Intan malu mengatakannya. Pipi gadis itu bahkan sudah bersemu merah.
Dirganta pun menyusul Intan ke taman.
"Nah ayo. Dirganta udah dateng. Sekarang kita mulai makan siangnya." Ratna pun mengambilkan nasi untuk suami dan putranya.
"Sayang, mana piringnya biar tante ambilin nasinya."
"Gak usah tante, terima kasih. Biar Intan aja." Intan pun mengambil nasi untuknya.
Keempat orang itu pun makan dengan lahap. Sesekali terdengar rayuan dari Dirganta kepada Intan. Intan hanya bisa diam. Dirganta benar-benar tidak mengerti kondisi dan situasi.
"Setelah ini kalian mau kemana sayang?" tanya Ratna pada Intan.
"Saya mau lang.." Belum selesai Intan berbicara, Dirganta sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Kita mau jalan-jalan ma. Intan katanya mau ngabisin weekend sama Dirganta, ya kan sayang?" Dirganta tersenyum jahil kearah Intan.
Intan mengepalkan tangannya dibawah meja. Dirganta benar-benar licik dan pandai memanfaatkan situasi.
__ADS_1
"Hehe. Iya tante." jawab Intan dengan senyum canggung.
"Awas aja nanti." gumam Intan pelan agar tidak ada yang mendengarnya...