
Intan berjalan masuk kerumahnya dengan gontai. Ia sangat lelah setelah menyelesaikan semua tugasnya. Intan membutuhkan kasur sekarang juga.
"Capek banget. Mau mandi, ngisi perut, mau tidur juga." Namun saat hendak menaiki tangga matanya melihat punggung seseorang yang sangat dikenalinya sedang membantu ibunya memasak di dapur.
"Ma, Intan udah pulang." ucap Intan mencoba membuat kedua orang yang asyik itu melihat kearahnya.
Kedua orang yang berbeda usia itu serempak melihat kearahnya.
Dirganta terlihat lucu dengan mengenakan apron berwarna merah muda.
"Kamu udah pulang sayang? Kok mama gak denger suara mobil kamu? Sekarang ayo cepetan naik, bersihin diri dulu. Habis itu turun kebawah ya. Kita sarapan bareng." Sari tersenyum kearah putrinya yang terlihat sangat lesu. Putrinya itu pasti kelelahan.
"Iya ma. Intan naik dulu." Intan segera melarikan kakinya menuju kamarnya. Intan masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya.
"Apa aku salah liat ya? Kok Dirganta bisa ada di rumah si? Kok mama sama papa gak kabarin kalo dia dateng?" Intan tetap berada pada posisinya. Ia masih tidak percaya dengan penglihatannya.
"Tanya nanti aja deh. Mending sekarang mandi dulu. Badan udah lengket banget."
Pun Intan segera membersihkan dirinya. Intan mengenakan baju santai karena hari sudah malam. Intan pun segera turun kebawah tak ingin membuat kedua orang tuanya menunggu lama.
"Itu dia, Intan udah turun. Sekarang ayo kita mulai makan malamnya." seru ibunya dengan riang.
Semuanya pun makan dengan candaan, sesekali terdengar papa nya dan Dirganta yang berbicara tentang bisnis. Intan hanya diam memakan makan malamnya.
Makan malam itu pun telah usai. Orang tuanya sudah pamit agar tidur terlebih dahulu. Kini tinggallah Intan dan Dirganta duduk berdua di teras rumah besar itu.
Keduanya hanya diam. Tak ada yang mau memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Ehkem. Saya..minta maaf kalo saya dateng ke rumah kamu tapi gak bilang sama kamu dulu Intan." Dirganta melihat kearah lain, tak ingin terlihat gugup.
"Gak papa kok dok. Lagian ini rumah orang tua saya. Bukan rumah saya." Intan tidak tau apa tujuan Dirganta datang kerumahnya. Yang jelas, dia sudah terlanjur membenci pemuda di sampingnya ini.
"Saya cuma mau bilang semoga kamu betah ditempat koas kamu yang sekarang." Dirganta akhirnya melihat kearah Intan. Ia hanya melihat tatapan Intan yang terlihat bodo amat?
"Saya betah kok dok. Di sana banyak banget yang welcome sama saya." Intan tersenyum tipis. Ia terpaksa berbohong, tidak mungkin jika Intan mengatakan ia tidak betah, ia kesepian. Tidak!! Dirganta hanya boleh tau jika ia sangat senang ditempat barunya.
"Syukurlah. Saya khawatir kamu gak nyaman koas di sana. Kalo kamu mau pindah, saya bisa kok ngajuin kamu buat koas di rumah sakit keluarga saya lagi." Dirganta berharap Intan mengatakan iya, namun ternyata harapannya pupus dengan penolakan Intan.
"Maaf dok. Terima kasih. Saya kan tadi udah bilang kalo saya senang juga betah di sana. Jadi tidak ada alasan saya buat pindah tempat lagi." Intan berdiri dari duduknya.
"Kalo gak ada yang perlu diomongin sebaiknya dokter Dirganta pulang sekarang. Gak baik kalo tetangga saya lihat. Ini juga udah malem, dokter pasti capek seharian kerja." Intan tersenyum kearah Dirganta.
"Kamu gak tau aja kalo seharian ini saya ada di rumah kamu. Bukan di rumah sakit." tekan Dirganta dalam hati. Tapi ia tidak mungkin mengatakannya. Bisa-bisa Intan akan berfikir ia tidak bisa jauh darinya.
"Iya kamu benar. Kayaknya saya harus pulang sekarang. Kalo gitu saya pamit dulu ya. Sampai jumpa." Dirganta pun berlalu pergi dari sana.
Intan berdiri didekat pembatas balkon. Menatap hamparan bintang.
"Sebenernya Dirganta mau apa sih. Bukannya dia bilang gak suka sama aku? Tapi ngapain dia dateng ke rumah lagi. Kalo gini caranya, kapan aku bisa move on dari dia."
"Tuhan. Tolong jangan buat aku kembali mengingat perasaan itu. Karena rasanya capek banget suka sama orang yang gak pernah anggap kita ada."
Setelah mengatakan itu, Intan pun masuk kedalam kamarnya dan memilih untuk tidur.
*****
__ADS_1
Dirganta masuk kedalam kamarnya, mendudukkan dirinya pada kursi kerjanya. Ponsel yang berada di atas meja berbunyi. Dirganta mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya, ternyata itu sahabatnya.
"Hallo Rang? Ada apa? Apa kamu udah tau dimana Intan koas?" Dirganta segera berjalan kearah balkon kamarnya.
"Sabar dulu dong. Tenang. Aku udah tau dimana Intan koas. Intan koas di rumah sakit Nusantara Indah dan pasti kmu udah tau kan dimana itu. Tapi yang menarik adalah kemarin ada seorang pemuda yang dateng ke rumah sakit itu bawa ibunya yang pingsan. Setelah ibunya selesai dioperasi, dia minta tolong sama Intan untuk jaga ibunya seben..."
"Terus apa yang selanjutnya? Langsung ke intinya aja." Dirganta memotong perkataan sahabatnya itu. Ia tidak suka bertele-tele. Dan kenapa juga sahabatnya ini bertele-tele?.
"Iya iya. Pemuda itu kayaknya tertarik sama Intan. Dan kayaknya gak lama lagi, pemuda itu bakalan ngajak Intan buat ketemuan deh. Mungkin ngajak makan atau sebagainya, sebagai bentuk rasa terima kasih."
Dirganta mengepalkan tangannya. Ia tidak rela jika ada yang mendekati Intan. Hanya dia yang boleh. Kenapa selalu ada penghalang dalam kisah cintanya.
"Apa kau tau siapa pemuda itu?" tanya Dirganta penasaran siapa yang telah berani mendekati gadisnya. Tunggu? Gadisnya? Ya Dirganta telah menyadari perasaannya terhadap Intan. Walaupun belum bisa dikatakan cinta, Tapi ia sudah menyukai gadis itu. Dan mungkin sudah lama, tapi dia tidak menyadarinya.
"Kau akan terkejut jika aku mengatakan siapa pemuda itu." Rangga tidak ingin membuat sahabatnya itu kembali ada masa lalunya.
"Katakan saja siapa dia!!"
"Dia Bagas dan kau pasti mengenalnya." ucap Rangga dengan hati-hati.
Dirganta terdiam sejenak mencoba menepis apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa dia selalu ingin merebut orang yang ku suka. Apa dia tidak kapok dengan pelajaran yang ku berikan dahulu?" ucap Dirganta dalam hati seraya menggenggam pembatas balkon dengan erat.
"Terima kasih atas informasinya. Bayaran nya bakalan aku kasi nanti. Aku tutup dulu." Dirganta langsung mematikan panggilan itu.
"Kenapa selalu kau. Kenapa kau selalu menjadi penghalang dalam hubunganku?"
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau yang mendapatkan Intan. Hanya Dirganta Rymon Kusuma yang bisa mendapatkan seorang Intan Areza Putri. Ya hanya diri ku yang boleh."
Dirganta tersenyum sinis. Ia pun kembali masuk ke kamarnya dan juga beristirahat. Karena besok adalah hari yang panjang..