Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Salah paham?


__ADS_3

Intan berdiri di samping Dirganta. Dirganta menyuruh nya agar memperhatikan apa ia yang lakukan. Namun fokus Intan bukan apa yang disampaikan Dirganta, melainkan fokus pada wajah tampan didekatnya ini.


"Duh, dari jarak segini aja udah ganteng banget. Bisa-bisa aku bakalan penyakit jantung ni kalo gini terus. jantung please kerja sama. Jangan buat malu, gimana kalo Dirganta denger nanti." ucap Intan dalam hati.


"Apa kamu udah ngerti apa yang saya sampaikan?" tanya Dirganta kepada wanita di sampingnya ini, Tapi tidak ada respon balik yang ia dapat.


Dirganta melihat gadis didepannya yang terlihat sama sekali tidak memperhatikan apa yang dia jelaskan.


"Kamu bener-bener nguji kesabaran saya ya. Dari tadi kamu juga bengong aja. Apa kamu paham dengan yang saya sampaikan?" Tanya Dirganta membuat lamunan Intan buyar.


"Maaf dok. Sa-saya tadi banyak pikiran dok. Bisa tolong ulangi lagi dokter." pinta Intan.


Dirganta mendengar itu menjadi kesal. Jika gadis didekatnya ini tidak mendengarkannya untuk apa dia sampai menjelaskan semuanya, hanya buang-buang waktu.


"Saya gak punya waktu buat orang kayak kamu. Sekarang catat semua laporan ini dan jangan keluar kalo belum selesai." ucap Dirganta keluar dari ruangannya meninggalkan Intan sendiri.


Intan melihat Dirganta keluar pun membuka mulutnya. Ia lalu melihat apa yang Dirganta suruh.


"Astaga banyak banget, kalo gini kapan selesai nya. Atau temenin kek disini. Ini malah ditinggal, untung cinta."


Intan pun mendudukkan dirinya di kursi kerja Dirganta. Intan kemudian memeriksa dan mencatat semua laporan itu.


Hari sudah sore ketika Intan melihat kearah jendela di ruangan itu.


"Udah sore tapi belum selesai. Gimana ni. Capek banget tangan aku juga udah sakit, ayang Dirganta bener-bener nyiksa aku kalo gini. Setidaknya temenin kek atau bawa makanan gitu."


Intan menarik nafasnya lelah lalu kembali melanjutkan tugasnya. Dia harus tetap semangat. Demi masa depannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Intan sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Dirganta.


Intan meregangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk.


"Udah malem lagi mending pulang sekarang. Pasti udah sepi banget ni rumah sakit. Dirganta juga gak keliatan dari tadi."

__ADS_1


Intan pun membereskan semuanya kemudian mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu menuju lift.


Didalam lift itu hanya ada dia sendiri.


"Jangan takut. Gak usah takut. Udah biasa kok." ucap Intan mencoba menenangkan dirinya. Jantungnya lumayan berdegup kencang.


Tiba-tiba lift yang membawanya berhenti.


"Lah kok berhenti, apa ada orang yang mau masuk ya? Tapi kok pintunya gak kebuka malah tetep nutup." Intan mencoba menormalkan detak jantungnya yang bertambah kencang. Bulu-bulu halus ditangannya berdiri, meremang. Ia merinding.


Tak lama lift itu kembali turun. Intan bernafas lega, Lift itu pun telah sampai dilantai satu.


Intan lalu mempercepat langkahnya menuju parkiran. Namun saat mencari kunci mobilnya didalam tas ia dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.


Intan melihat ke sekeliling tapi tidak ada orang. Apa dia salah dengar? atau dia berhalusinasi? Namun suara itu kembali terdengar.


"Siapa? Apa ada orang?" tanya Intan berteriak. "Gak usah iseng deh, Jangan nakut-nakutin." ucap Intan mencoba berani. Diparkiran itu memang tak terlihat ada orang, mobil yang terparkir bahkan sangat sedikit.


Matanya kemudian melihat kearah sudut parkiran itu. Di sana terparkir sebuah mobil berwarna hitam. Tapi karena cahaya yang minim, Intan tidak tau siapa pemilik mobil itu.


Intan sudah memasuki jalan raya. Intan menormalkan detak jantungnya dan menarik nafasnya. "Itu siapa sih. Gak mungkin juga hantu, Tapi cuma bayangan item doang. Bikin takut aja. Ah bodo amat la, sekarang yang penting harus sampai rumah dulu."


Sementara diparkiran rumah sakit Dirganta menatap mobil yang sudah pergi itu. Alisnya berkerut heran.


"Dia kenapa sih, kok kayak ketakutan gitu. Padahal aku cuma mau nanya apa tugas yang aku kasih udah selesai atau belum." ucap Dirganta mengingat teriakan Intan tadi.


"Emang gadis aneh."


Dirganta lalu memasuki mobilnya, melajukan nya membelah jalanan padat kota Jakarta menuju apartemennya.


*****


Intan kini sedang bersantai di atas kasur empuk miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, terlalu dini jika ingin tidur. Intan memang selalu tidur di atas jam 10 malam karena semenjak kuliah, Intan harus selalu belajar.

__ADS_1


"Dirganta tadi pergi kemana ya? kok gak balik-balik lagi? Apa dia udah pulang ya." Intan menatap langit-langit kamarnya.


"Nomor telepon nya juga gak ada, Coba cari di Instagram deh, siapa tau nemu."


Pun Intan mengetikkan nama Dirganta di sana, dan keluar. Syukurlah jika Dirganta memiliki akun media sosial. Intan pun membuka akun itu tapi keningnya malah berkerut.


"Ini bener akunnya? kok gak ada foto sama sekali sih. Tapi pengikutnya lumayan banyak juga." Ucap Intan heran.


"Coba dm deh, siapa tau dibales." Intan lalu mengirim pesan pada Dirganta. Intan gugup bukan main. Tapi sudah lama menunggu Intan tak kunjung mendapat balasan.


"Apa mungkin cuma akun fans dia doang ya. Atau bener akunnya tapi dia lagi sibuk."


Saat tengah asyik melamun Intan merasakan jika ponselnya dipegangnya bergetar. Intan lalu melihat layar ponselnya, matanya membulat sempurna. Intan langsung mendudukkan dirinya.


"Apa ini, ini bener gak sih?? Ini gak mimpi kan? Dirganta bales dm aku?? Oh may God harus bales apa ni."


Intan merasa sebentar lagi jantungnya akan meledak, Ia bahkan senyum-senyum sendiri sudah seperti orang gila.


"Hmm tenang, tenang jangan panik. Harus tetap santai. Tapi kalo gini gak bisa santai. Aaaa." Intan menyembunyikan kepalanya dengan bantal lalu berteriak tak ingin kedua orangtuanya mendengar teriakannya. Intan benar-benar terlihat seperti ABG yang baru puber.


Intan pun memutuskan untuk tidak membalas dm itu lagi, Ia memilih untuk tidur.


"Sekarang mending tidur dulu deh, tapi kalo gini gak bisa tidur. Ah gak tau."


Intan meletakkan ponselnya di atas nakas, pun dia menutup matanya, mencoba tidur walaupun sulit.


Sementara disebuah apartment terlihat seorang laki-laki yang sedang duduk di atas ranjang king size itu.


"Kok bisa ke pencet emot lambai sih. Pasti nanti orangnya bakal salah paham lagi."


Saat hendak menghapus pesannya, Dirganta kalah jauh. Intan ternyata sudah membaca apa yang dia kirim. Dirganta lalu hanya membiarkan pesan itu.


Dirganta meletakkan ponselnya di atas nakas. Membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata menuju alam mimpi.

__ADS_1


Malam itu keduanya memulai kesalahpahaman yang berujung pada takdir yang membuat mereka selalu terikat.


__ADS_2