Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Ditolak


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Dirganta tersenyum ketika melihat Intan yang terlihat sedang menuruni tangga. Intan sangat cantik. Pagi sekali ia sudah sampai di rumah gadis itu dengan alasan ingin menjemput Intan.


Kedua orang tua Intan pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka malah bahagia jika ada laki-laki yang memperlakukan putri mereka dengan baik.


"Selamat pagi Intan." sapa Dirganta tersenyum. Ibu Intan memintanya untuk sarapan bersama dan tidak mungkin ia menolak ajakan itu.


Intan yang mendengar namanya disebut pun segera melihat siapa. Sontak matanya membulat. "Apa yang dilakukan Dirganta pagi ini dirumahnya? Apa ia sudah gila?" pikir Intan dalam hati. Tidak mungkin kan jika ia langsung mengatakannya, Bisa-bisa mamanya akan menceramahi nya untuk sopan pada tamu.


"Udah siap sayang? Sekarang ayo duduk. Kita sarapan bareng, Dirganta udah tunggu kamu dari tadi. Katanya bisa yang bakalan anter kamu ke rumah sakit." Sari menggoda putrinya dengan mengedipkan sebelah mata.


Intan melihat itu jadi salah tingkah. Apa yang dilakukan mamanya. Bisa-bisa nya mamanya menggodanya didepan Dirganta.


"Pagi pa, pagi ma." Intan mengecup pipi papa juga mamanya. Dan segera mengambil tempat duduk agar mereka bisa memulai sarapan.


Diruang makan itu sesekali terdengar candaan juga godaan dari Sari.


Dan akhirnya sarapan itu pun selesai. Kini Intan telah berada didalam mobil Dirganta. Dirganta ternyata serius ketika mengatakan akan mengantarnya.


"Saya turun didepan aja dok. Gak enak kalo ada yang lihat nanti." Intan menunjuk tempat yang ia sebutkan. Ia tidak mau jika banyak gosip tentangnya yang diantar oleh laki-laki.


"Saya kan bilang mau antar kamu. Jadi saya harus antar kamu sampai rumah sakit." Dirganta tak mendengarkan perkataan Intan. Dirganta memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah sakit. Dirganta keluar dan membukakan pintu untuk Intan.


Intan yang melihat itu semua jadi takut jika ada yang melihat. Intan pun segera keluar, berterima kasih dan segera berlari sebelum ada yang melihat mereka.


Dirganta terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan gadis itu. Ia jadi semakin suka..


Intan akhirnya sampai didepan lokernya.


"Syukur aja gak ada yang lihat. Bisa gawat kalo digosipin." Intan pun mengambil alat-alat yang akan ia gunakan. Dan segera pergi mengerjakan tugasnya.


Tidak terasa hari sudah siang. Saatnya istirahat.

__ADS_1


Intan melangkahkan kakinya masuk ke kantin. Memesan makanan dan menunggu.


Intan mengambil ponselnya dan melihat-lihat apakah ada pesan yang penting atau tidak.


Kursi didepannya tiba-tiba diduduki oleh seseorang. Intan menegakkan kepalanya dan terkejut siapa yang didepannya.


"Hai. Kita ketemu lagi. Gak papa kan kalo saya duduk disini." Pemuda itu tersenyum pada Intan.


"Oo hai!. Gak papa kok. Duduk aja." Intan tersenyum tipis.


"Kamu mau makan siang? Kebetulan saya juga belum makan siang." Bagas benar-benar payah dalam memulai topik pembicaraan. Ia pasti terlihat bodoh sekarang.


"Maaf kalo saya keliatan bodoh. Saya jarang berinteraksi dengan perempuan kecuali membahas bisnis." Bagas menatap Intan yang terlihat tertawa setelah ia mengatakan itu.


"Enggak kok. Kan kita juga belum terlalu deket jadi itu hal biasa sih menurut aku."


"Terima kasih."


"Gimana keadaan mama kamu? Apa ada perubahan?" Intan melihat pemuda didepannya dengan penasaran.


"Mama aku udah baik-baik aja kok. Dan tadi mama udah sadar. Makanya aku pergi ngisi perut dulu." Bagas menepuk pelan perutnya.


Intan terkekeh pelan melihat tingkah pemuda itu. Keduanya pun tanpa sadar mulai mengobrol dengan santai.


Tanpa keduanya sadari Dirganta melihat itu dengan tangan terkepal. Ia sudah jauh-jauh datang untuk mengajak Intan makan siang bersama. Namun gadis itu malah makan siang dengan Bagas atau bisa dibilang mantan sahabatnya.


Keduanya tampak mengobrol dengan asyik. Dirganta pun berjalan kearah keduanya. Dirganta tanpa permisi langsung duduk di samping Intan.


"Sayang. Kok kamu makan siang duluan si. Aku udah jauh-jauh lo dateng kesini demi makan siang bareng." Dirganta menggenggam tangan Intan. Sengaja menunjukkan seakan dia dan Intan mempunyai hubungan.


Intan terdiam. Apa Dirganta hantu? pemuda disampingnya ini selalu ada dimana pun dia berada.


"Hai Bagas. Lama gak ketemu, gimana kabar kamu? Apa kamu udah bahagia sekarang?" Dirganta tersenyum sinis pada Bagas.

__ADS_1


Bagas yang melihat tangan Dirganta yang menggenggam tangan Intan pun mengepalkan tangannya dibawah meja. Kenapa Dirganta selalu mengambil orang yang di cintai.


"Kalian saling kenal?" Intan mencubit paha Dirganta kencang sehingga genggaman itu terlepas.


"Dia itu sahabat aku pas kuliah sayang. Atau aku bisa bilang mantan sahabat." Dirganta menaikkan sebelah alisnya.


"Iya. Kita dulu sahabatan. Tapi karena masing-masing udah sibuk jadi sekarang udah jarang ketemu." Bagas tersenyum tipis.


"Bagas. Kenalin ini pacar saya namanya Intan. Dan kamu mungkin udah kenalkan makanya kalian bisa makan siang bareng." Dirganta membalas senyuman Bagas. Apa laki-laki itu pikir ia bisa mengambil Intan darinya. Tidak akan pernah!!


"Bagas maaf. Tapi kayaknya kami ada sesuatu hal yang penting. Kalo gitu kami pergi dulu ya." Intan menarik tangan Dirganta pergi dari menuju taman. Ia harus meluruskan semua ini.


"Dokter kok ngomong gitu si. Gimana kalo orang-orang berpikir kita ada hubungan." Intan menatap Dirganta dengan kesal.


Dirganta yang ditatap demikian pun hanya mengedipkan bahunya. Dirganta mendudukkan dirinya di kursi taman.


"Bagus dong kalo gitu. Jadi gak akan ada laki-laki yang berani deketin kamu."


Intan terkejut tentu saja. Apa Dirganta lupa, jika dirinya yang mengatakan mereka tidak akan pernah ada hubungan.


"Dokter bercanda ya? Kan dokter yang bilang klo diantara kita gak ada hubungan apa-apa. Dokter juga bilang kalo dokter gak tertarik sama saya."


"Saya bilang itu karena saya lagi emosi. Dan sekarang saya mau kamu jadi pacar saya. Saya suka sama kamu." Dirganta tersenyum kearah Intan. Akhirnya ia mengutarakan perasaannya. Intan pasti menerimanya dan langsung memeluknya.


"Dokter gila ya. Maaf ya dok. Saya udah gak suka lagi sama dokter. Jadi lebih baik dokter sekarang kembali ke rumah sakit. Jam istirahat udah selesai."


Intan pun berjalan cepat pergi dari sana. Meninggalkan Dirganta yang terkejut dengan jawaban Intan. Apa dia baru saja ditolak? Tidak mungkin. Intan tidak mungkin menolak perasaannya.


"Dia bilang dia udah gak suka sama aku? Gak! Gak mungkin. Gak mungkin perasaan dia pudar secepat itu." Dirganta melihat punggung Intan yang semakin lama semakin jauh.


"Intan. Apa kamu pikir kamu bisa pergi dari saya? Saya akan buat kamu jatuh cinta lagi sama saya. Kamu tunggu aja. Kamu gak akan bisa menolak perasaan saya lagi."


Setelah mengatakan itu, Dirganta pun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Kembali ke tempat ia bekerja..

__ADS_1


__ADS_2