
Akhirnya Dirganta telah diperbolehkan pulang. Dirganta sebenarnya tidak ingin berlama-lama di rawat, namun Intan terus saja berusaha membujuknya agar dirinya mau.
Dirganta pun tak memiliki pilihan lain selain menurut, Dirganta tidak mau membuat Intan sedih karena keras kepalanya.
Dirganta sekarang sedang duduk di sofa apartment nya sambil menonton televisi. Gadis itu menyuruhnya agar bersantai saja sedangkan dia memasak makan malam untuk keduanya. Intan memnag belum pulang ke rumahnya.
Intan memotong juga meracik bahan-bahan dan bumbu dengan telaten. Intan mencicipi masakannya. Dan rasanya sempurna. Intan pun menata makanan yang telah dia buat di atas meja dengan rapi.
Intan melepas apron yang dia kenakan, kemudian berjalan kearah Dirganta yang terlihat sedang asyik menonton siaran TV diruang tengah.
"Dir. Makan malamnya udah siap." sapa Intan.
Dirganta yang mendengar namanya dipanggil pun segera menoleh kearah asal suara. Dirganta melihat Intan yang sudah berdiri tepat dibelakangnya. Tak ingin membuat gadisnya menunggu, Dirganta pun segera berjalan menyusul Intan yang sudah lebih dulu pergi menuju meja makan.
Dirganta melihat jajaran masakan yang telah tersaji di atas meja. Apa Intan berniat membuat keduanya muntah karena makan banyak? Ayolah. Mereka hanya berdua dan makanan yang tersaji di sana sangat banyak.
"Kamu beneran masak ini semua?" tanya Dirganta melihat kearah Intan yang sudah lebih dulu mendudukkan dirinya di kursi.
Intan membalas tatapan Dirganta.
"Iya, kenapa? Apa ada yang salah?" Intan melihat masakannya. Kemudian mengerutkan keningnya berfikir. Tidak ada yang salah dengan masakannya.
"Enggak, bukan gitu. Maksud aku kita kan cuma berdua. Jadi kalo sebanyak ini gak mungkin dong makanannya bakalan habis." Dirganta mendudukkan dirinya di kursi didepan Intan.
"Udah makan aja. Ini gak banyak kok." Intan mengambil nasi untuk Dirganta kemudian mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
Dirganta pun diam tak ingin berkomentar lebih takut membuat Intan tersinggung. Dirganta mengambil lauk kemudian mulai memakan makan malamnya.
Dirganta meresapi rasa juga kenikmatan yang tercampur didalam mulutnya. Masakan Intan memang tak perlu diragukan lagi. Dirganta selalu ketagihan jika sudah dimasakkan sesuatu seperti saat ini.
Tak terasa makanan yang dikatakan banyak itu pun telah habis tak tersisa. Dirganta tak menyadarinya, Namun Intan tersenyum tipis. Dia tau jika Dirganta akan sangat menyukai masakannya. Intan juga sudah lapar dari tadi, itulah sebabnya dia memasak banyak makanan.
__ADS_1
Dan lihatlah, Dia benar. Makanan itu sudah ludes. Intan berdiri ketika Dirganta telah menghabiskan sisa makanan di piringnya. Intan membereskan semua alat makan yang kotor.
Dirganta melihat Intan yang kini sedang mencuci piring pun tersenyum. Keduanya sudah seperti suami istri sekarang. Seorang suami yang telah selesai makan malam masakan istrinya. Dan seorang istri yang sedang membersihkan alat makan yang mereka gunakan.
Intan me lap tangannya yang basah dan mengambil kopi hitam yang telah dia buat. Intan membawa kopi itu menuju ruang tamu tempat Dirganta tadi menonton tv.
Intan meletakkan kopi itu di atas meja dan mendaratkan bokongnya tepat disamping Dirganta. Keduanya menonton film bergenre romansa.
Intan yang hanyut dalam film itu pun tanpa sadar menyenderkan kepalanya pada bahu Dirganta.
Dirganta yang mendapat hal seperti itu berusaha menahan apa yang dia pikirkan. Dirganta kembali berusaha fokus pada filmnya.
Film yang keduanya tonton telah selesai. Dirganta tak merasakan gerakan juga suara lagi dari Intan. Dirganta melihat wajah Intan dan ternyata gadis itu sudah tertidur. Pasti Intan lelah setelah seharian menjaganya.
Dirganta menggendong Intan ala bridal style kemudian melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dirganta membaringkan Intan di atas kasurnya, kemudian ikut membaringkan diri disamping gadis itu. Dirganta menyelimuti dirinya dan Intan, lalu berbalik kearah Intan agar bisa memeluk gadis itu.
Dirganta mengecup sayang kening Intan kemudian ikut menyusul gadis itu menuju alam mimpi.
Intan mengerjabkan matanya ketika sinar matahari mengganggu tidurnya. Intan berusaha merenggangkan tubuhnya namun tertahan saat dia merasakan kehadiran seseorang disampingnya.
Intan melihat Dirganta yang masih tertidur. Intan tersenyum tipis. sepertinya dia ketiduran tadi malam.
Intan pun melihat jam di atas nakas. Senyumnya langsung luntur begitu saja. Intan membulatkan matanya. Astaga sudah jam 9 pagi dan ia baru terbangun.
Intan segera bergegas berdiri dan berlari kearah kamar mandi. Jangan sampai dia terlambat, walaupun sudah dipastikan jika dia akan terlambat.
Dirganta yang mendengar suara gaduh pun membuka matanya dengan pelan. Dirganta melihat kesamping dan ternyata Intan sudah tidak ada di sana.
Terdengar suara air dari kamar mandi. Sepertinya gadis itu sedang mandi.
Dirganta bangkit dan berniat mengambil pakaiannya agar dia bisa mandi di kamar mandi bawah. Namun saat melewati pintu kamar mandi. Pintu itu tiba-tiba terbuka menampilkan sosok Intan yang hanya mengenakan sehelai handuk berwarna putih.
__ADS_1
"Astaga. Kenapa kau berdiri di sana. Menyingkirkan, aku sudah terlambat." Intan buru-buru masuk kedalam walk in closet mencari pakaian yang bisa dia gunakan.
Setelah mendapatkannya Intan segera memakainya dengan cepat berlari menuju cermin agar dia bisa sedikit berdandan.
Intan melihat Dirganta yang sudah selesai membersihkan diri. Tak lama Dirganta pun telah siap dengan pakaian dokternya begitu juga dengan Intan.
Intan segera berjalan cepat turun kebawah. Dirganta yang melihat Intan seperti tergesa-gesa pun segera menyusul gadis itu.
Intan mengenakan sepatunya dengan cepat. Saat hendak membuka pintu apartment Dirganta, Tangannya tertahan oleh tangan seseorang.
Intan melihat Dirganta dengan kesal. Apa pemuda itu tidak tau jika dia sudah terlambat. Namun lihatlah pemuda di depannya malah menahannya.
"Ada apa? Aku sudah terlambat. Aku tidak mau membuat dokter senior ku memarahiku dan membuat nilai ku jadi jelek." ucap Intan dengan kesal.
"Baiklah. Aku akan mengantar mu. Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang berani memarahi mu." Dirganta melepaskan genggaman tangannya pada tangan Intan.
Intan yang melihat tangannya tak dipegang lagi pun segera berjalan cepat menuju lift. Intan melihat mobil Dirganta dan langsung masuk kedalam mobil itu.
Dirganta hanya berjalan santai. Tidak seperti Intan yang berjalan cepat seperti dikejar oleh penjahat. Dirganta masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mobilnya.
Mobil-mobil di apartment itu memang selalu dipanaskan oleh satpam sebelum dipakai.
Dirganta melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Intan koas.
Intan menggigit kukunya saat rasa gugup sekaligus takut menyerangnya. Kenapa dia bisa bangun terlambat?
Mobil yang keduanya kendarai sudah sampai didepan rumah sakit. Intan dengan cepat mengambil tasnya dan segera berlari keluar masuk kedalam rumah sakit itu.
Dirganta hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan gadis itu tidak berterima kasih padanya.
Dirganta tersenyum memaklumi. Biarlah tidak ada ucapan terima kasih atau sebagainya. Dirganta tau bagaimana perasaan Intan saat ini. Gadis itu pasti sangat takut sekarang.
__ADS_1
Dirganta kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat dia bekerja.