
Intan melihat Dirganta terlihat asyik mengobrol ditelepon. Dia diacuhkan. Dari tadi Intan hanya diam. Intan memutar kedua bola matanya malas. Jika seperti ini dia tidak akan mau pergi.
Dirganta yang melihat Intan kesal pun segera memutuskan panggilan itu. Maafkan aku membuatmu bosan.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Intan selidik.
"Apa kau masih ingat dengan wanita yang kau selamatkan dulu? Dia menghubungi ku untuk bertanya hal yang tidak penting." Dirganta tidak peduli apa yang dikatakan wanita itu padanya. Ini waktunya dengan gadisnya dan dia tidak ingin diganggu.
"Tidak penting? Tapi kau terlihat sangat antusias berbicara." Intan menyipitkan matanya berusaha membuat Dirganta terpojok.
"Sudahlah. Jika aku menjawab semua pertanyaan mu kapan kita akan berangkat."
Intan pun akhirnya menutup mulutnya. Ia tidak akan bertanya lagi. Dirganta benar. Jika ia terus bertanya kapan mereka akan berangkat.
Malam ini Dirganta mengajaknya untuk pergi menonton. Intan yang mendapat ajakan itu pun sangat antusias. Dan disinilah mereka sekarang. Dirganta memberhentikan mobilnya diparkiran mall.
Intan turun dari mobil. Dirganta menggenggam tangan Intan. Keduanya pun berjalan memasuki mall menuju bioskop.
"Kamu tunggu disini dulu ya. Aku mau beli tiket sama cemilan itu."
Intan hanya mengangguk. Intan memperhatikan banyak pasangan yang ingin menonton. Intan pun akhirnya kembali memperhatikan Dirganta yang terlihat sedang antri untuk membeli popcorn.
Sekitar setengah jam, Dirganta pun datang dengan membawa dua tiket juga popcorn yang terlihat sangat banyak. Apakah mereka bisa menghabiskannya?
"Ayo. Aku sudah dapat tiketnya."
Intan tersenyum. Keduanya pun masuk untuk menonton film The Twilight Saga : Breaking Dawn Intan memang sangat menyukai film tentang kisah cinta manusia dengan vampir itu.
Intan dan Dirganta duduk di kursi mereka. Tidak lama film pun mulai. Dirganta melihat kearah Intan yang terlihat sangat excited. Dirganta tersenyum tipis. Ia ikut bahagia jika Intan bahagia.
Sebenarnya Dirganta tidak pernah menonton film itu. Dulu Dirganta bahkan sangat susah menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Dirganta hanya akan belajar, berkumpul bersama teman-temannya dan bekerja paruh waktu di perusahaan kakeknya.
Sedangkan Intan. Ia akan menghabiskan waktunya dengan berbelanja, pergi dengan teman-temannya, Melakukan banyak hal namun ia tidak pernah lalai dengan sekolahnya. Intan akan selalu belajar agar kedua orang tuanya bangga padanya.
Intan mengambil popcorn, memakannya dengan rakus. Ia bahkan tidak sadar jika telah menghabiskan setengah dari tempat popcorn besar itu. Dirganta melihat itu hanya diam. Dirganta tak ingin mengganggu Intan menikmati filmnya.
__ADS_1
Dirganta melihat kearah lain. Dirganta membulatkan matanya ketika melihat sepasang kekasih yang berada didepan mereka tengah asyik berciuman. Apa mereka tidak takut jika ada orang yang melihat? Dirganta pun kembali mengubah arah pandangannya dengan melihat kearah Intan.
Ada keinginan untuk mencium Intan disini, tapi ia tidak mungkin melakukannya. Dirganta tak ingin membuat Intan kembali marah padanya. Dirganta harus menahan segala keinginannya.
Satu setengah jam telah berlalu dan akhirnya film itu telah selesai. Intan bertepuk tangan melihat ending dari filmnya. Akhirnya Bela dengan Edward dapat bahagia bersama putrinya.
Intan melihat kearah Dirganta.
"Kemana semua popcorn nya apa kau yang memakan semuanya? Kau bahkan tidak menyisakan ya untukku." ucap Intan kesal.
Dirganta yang mendengar itu pun heran. Apa gadis itu tidak sadar jika ia yang menghabiskan semua popcorn itu?
"Apa kau tidak merasa kenyang setelah menghabiskan semua popcorn itu? Kau bahkan tidak membiarkan tanganku menjangkaunya."
Intan jadi salah tingkah. Astaga ia sangat malu sekarang. Bisa-bisa nya ia menuduh Dirganta seperti itu padahal dia yang menghabiskan semuanya.
"Ekhem. Filmnya sudah selesai. Ayo kita keluar." Intan menarik pelan tangan Dirganta.
Dirganta tersenyum. Ia tau jika Intan pasti sedang malu sekarang. Dirganta hanya diam saat Intan menarik pelan tangannya.
"Ayo kita makan. Apa kau lapar?"
Intan mengangguk. Dirganta pun membawa Intan menuju tempat makan terdekat agar mereka bisa segera mengisi perut. Padahal Intan sudah menghabiskan semua popcorn yang ia beli, tapi gadis itu masih lapar. Dirganta sudah tak habis pikir.
Dirganta dan Intan pun telah sampai disebuah cafe. Dirganta memesan makanan dan Intan sudah lebih dulu mencari tempat duduk untuk keduanya.
Setelah memesan, Dirganta pun menghampiri Intan. Dirganta duduk didekat Intan.
"Kamu beneran masih laper? Aku liat kamu makan banyak tadi."
Wajah Intan kembali memerah. Kenapa Dirganta mengungkit masalah popcorn itu lagi.
"Udah deh. Diam aja. Jangan buat aku malu, aku laper banget ni."
Setelah menunggu akhirnya makanan keduanya pun sampai. Intan bersorak riang ketika bau makanan lezat itu sampai di hidungnya.
__ADS_1
Intan segera menyantap makanannya.
Dirganta terkekeh pelan ketika melihat Intan yang memakan makanan nya dengan rakus seperti tidak pernah diberi makan."Gak usah cepet-cepet makannya. Nanti kamu tersedak lagi."
Intan yang merasa bodo amat pun tidak mendengarkan Dirganta hingga akhirnya yang dikatakan Dirganta benar terjadi.
"Uhuk uhuk uhuk.." Intan memukul pelan dadanya ketika makanan yang ia makan membuatnya tersedak.
Dirganta segera memberikannya air minum.
"Kan udah aku bilang. Makannya gak usah gitu. Gak ada yang akan ambil makanan kamu kok."
Intan hanya diam tak ingin terlihat bertambah malu. Pun Intan memakan makanannya dengan tenang kali ini.
Makanan keduanya telah habis. Kini Dirganta dan Intan sedang dalam perjalanan menuju rumah Intan. Hari sudah semakin malam. Intan tak mau membuat kedua orang tua apalagi mamanya cemas padanya.
Mobil Dirganta berhenti tepat didepan rumah Intan. Intan dan Dirganta pun keluar dari mobil.
"Aku masuk duluan ya. Makasih buat malam ini." Intan melambai tangannya pada Dirganta.
"Iya. Sama-sama."
Namun saat hendak pergi, tangan Intan tiba-tiba ditarik sehingga badannya kembali menghadap Dirganta. Intan membulatkan matanya. Dirganta mengecup keningnya. Intan masih terpaku ditempatnya.
"Terima kasih kembali karena udah mau nonton sama makan malam sama aku. Sekarang masuk, udara malam udah makin dingin ni." Dirganta memutar tubuhnya masuk kedalam mobilnya.
Mobil Dirganta sudah tak terlihat lagi. Intan yang tak melihat mobil Dirganta lagi pun segera sadar. Intan menepuk pelan pipinya.
"Ngapain sih berdiri didepan sini sendiri."
Intan akhirnya masuk kedalam rumahnya. Kedua orang tuanya mungkin sudah tidur. Menuju berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Intan meletakkan tas selempang nya juga melepas sepatunya.
Intan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Intan memegang keningnya yang dikecup Dirganta tadi. Wajahnya jadi memanas memikirkan itu. Intan senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
Intan menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Ia harus segera tidur sekarang karena besok ia masih harus ke rumah sakit untuk koas.
__ADS_1