Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Rindu


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Hallo..?" ucap seseorang diseberang sana lagi. Dan Intan masih tetap dengan kediamannya. Hingga suara itu memanggil namanya, baru dia tersadar dari kebisuannya.


"Intan, apa kau di sana sayang?" tanya Dirganta.


Panggilan sayang membuat Intan mati kutu, dia malu juga salah tingkah.


"I..ya..iya aku disini" jawab Intan dengan gugup. Jantung tolonglah kerja samanya.


"Syukurlah, aku kira aku tidak akan bisa menghubungimu lagi. Maafkan aku, selama seminggu ini aku tidak pernah menjemput atau datang ke rumahmu. Aku bahkan tidak pernah menghubungimu lagi dari nomor lama ku."


"Memangnya kenapa? Ada apa dengan nomor lamamu? Dan juga kenapa kau tidak pernah ke rumah lagi. Kau menghilang bagai ditelan bumi. Dan kenapa kau menghubungi ku dengan kode negara lain?"


"Maafkan aku, aku ada di Landon sekarang. Kami ada urusan penting, dan aku tidak bisa menunda pekerjaan ini. Aku sudah membeli nomor baru, tapi kau tidak pernah membalas pesan juga mengangkat panggilanku. Jadi aku tidak tau bagaimana cara memberitahumu."


"Ya, baiklah. aku juga tidak bisa marah padamu, dan itu juga bukan salahmu sepenuhnya. Aku yang tidak teliti untuk melihat pesanmu. Maafkan aku."


"Tidak, tidak. kenapa kau jadi minta maaf padaku. Aku yang seharusnya meminta mama atau papa memberitahumu tentang kepergian ku. Atau bahkan meminta tolong pada dokter Guna untuk memberitahu mu, tapi aku hanya berbuat dengan bodoh dengan berharap kau membalas pesanku. Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu di sana? kau baik-baik saja kan? Kau tau aku sangat mengkhawatirkan mu."


"Aku baik-baik saja. Bahkan aku sangat baik sekarang. Hanya saja terkadang aku cukup kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang harus aku lakukan."


"Kau jangan terlalu memaksakan tubuhmu, aku tidak ingin kau sakit nanti. Karena aku berada jauh darimu."


"Jadi kau berharap jika kau disini aku sakit begitu?"


"Tidak, kapan aku mengatakannya?"

__ADS_1


"Perkataanmu tadi bisa membuatmu salah mengartikannya. Kau bertanya tentang kabar ku sedangkan kau tidak memberitahu kabarmu padaku?"


Terdengar suara tawa Dirganta diseberang sana. Membuat Intan jadi kesal.


"Aku baik-baik saja. Dan terima kasih untuk perhatiannya, aku tau dibalik kalimat itu Kau ingin aku cepat kembali karena sudah sangat merindukanku kan?"


Astaga, darimana datang kepercayaan diri orang ini. Apa karena suhu udara di sana mempengaruhi pikirannya? Jadi dia sedikit tidak waras? Dirganta harus memeriksa otaknya setiba kembali dari sana.


Tapi Intan tersenyum. Dia tidak bisa bohong tentang perasaannya, ada rasa rindu yang teramat dihatinya. Ditambah dia sudah lama tidak bertemu dengan pemuda tampan diseberang telepon sana.


"Aku tidak merindukan mu asal kau tau itu. Jadi buanglah kepercayaan dirimu itu. Mungkin kau yang ingin cepat-cepat pulang karena terlalu merindukan ku kan."


"Tentu saja, aku tidak bisa berbohong jika menyangkut tentang itu. Aku memang sangat sangat merindukanmu, aku merindukan wangi mu, merindukan suara mu, merindukan kecantikan mu, juga...merindukan bibir manismu itu."


"Hei, kau dasar mesum. Darimana kau belajar berbicara mesum seperti itu? Udara juga cuaca di sana pasti sudah mengotori otakmu."


Dirganta tertawa, sangat senang menggoda gadis nya itu. Andai saja dia ada didekat gadisnya saat ini, pasti dia dapat melihat pipi Intan yang sudah bersemu merah menahan malu. Memikirkannya saja sudah membuat Dirganta hilang akal.


"Aku tidak mau, kau lakukan saja sendiri. Sudahlah, aku tidak mau lagi berbicara denganmu."


"Tidak, tidak. Jangan tutup dulu teleponnya, aku masih ingin berbicara denganmu. Kemana kau pergi selama seminggu ini? Apa kau menikmati liburanmu?"


Intan membulatkan matanya, dari mana Dirganta tau Intan pergi liburan. Astaga, bisa gawat jika Dirganta sudah tau. Intan sudah memikirkan banyak alasan jika suatu saat nanti Dirganta tau tentang liburannya, tapi itu untuk suatu saat nanti bukan untuk sekarang.


Intan menggigit kukunya gugup. Memikirkan alasan ternyata lebih sulit dari pada memikirkan tentang pelajaran.


"Da..dari mana kau tau jika aku pergi liburan?" tanya Intan hati-hati.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tau sayang, banyak mata-mata yang akan mengawasi kegiatanmu. Jadi kau tidak perlu mencari alasan untuk membohongiku. Aku tau semua yang kau lakukan tanpaku."


"KAU GILA!!! kau mengawasi ku seperti seorang stalker Dirganta, aku tidak suka jika kau seperti itu. Dan juga kau bukan suami bahkan kekasihku. Jadi kau tidak berhak melakukan itu padaku." Intan benar-benar dibuat kesal oleh Dirganta. Emosinya bahkan sudah hampir naik kepermukaan.


"Untuk sekarang aku masih belum menjadi suamimu, tapi nanti jika kau sudah siap. Aku akan melamar mu, dan untuk menjadi kekasih. kau yang menolak cintaku. Rasanya sangat sakit asal kau tau. Dan untuk mata-mata yang aku katakan, aku hanya menyuruh mereka mengikuti mu jika kau sedang sendiri, aku tidak ingin kau terluka. itu saja. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang privasi mu."


"Yang jelas sekarang, kau harus bersiap menerima hukumanku, karena telah berani menghabiskan liburanmu dengan laki-laki itu. Aku orang yang sangat pencemburu asal kau tau. Dan aku tidak ingin orang yang aku cintai dekat dengan lelaki lain."


"Hukuman? kenapa aku harus menerima hukuman? Kau yang tanpa memberitahu ku, jadi jangan salahkan aku jika aku dekat dengan lelaki lain. Jadi berlama-lama saja di sana. Agar aku bisa dekat dengan banyak lelaki tampan."


Terdengar Geraman diseberang sana. Intan tertawa puas dalam hati. Salah Dirganta sendiri memancing emosinya.


"Tidak boleh. Kau tidak boleh dekat dengan lelaki lain, aku akan segera pul.."


"Kau tidak bisa melarang ku. Bye aku ingin pergi mencari lelaki tampan. Selamat tinggal."


Intan mematikan panggilan itu sepihak. Intan tertawa terbahak-bahak, Antai Dirganta berada didekatnya. Intan pasti puas melihat wajah menahan kesal juga marah itu. Membuat Dirganta cemburu memang mudah. Dan sifat cemburu Dirganta adalah hal yang disukai oleh Intan.


Intan memegang perutnya yang sakit karena tertawa tadi. Air matanya bahkan sudah keluar.


"Astaga. Aku tidak pernah tertawa seperti ini sebelumnya. Dan ini berkat memikirkan wajah Dirganta saat ini."


Intan mengambil ponselnya, melihat banyak pesan dari Dirganta. Pesan yang menyuruhnya agar tetap dirumah dan jangan coba-coba untuk dekat ataupun bertemu dengan laki-laki lain.


Intan memilih untuk tidak membalas pesan itu. Biarkan saja, itu akibat karena telah berani pergi tanpa memberitahu nya. Jadi jangan salahkan dirinya.


Intan menggosok tangannya. Udara malam seakan menusuk masuk kedalam tulangnya. Intan segera berdiri, menutup pintu balkon, meletakkan ponselnya di atas nakas.

__ADS_1


Intan menarik selimut tebalnya. Ah..rasanya sangat hangat. Juga nyaman. Entah kenapa, setelah mendengar suara Dirganta dia jadi tenang. Bahkan mungkin tidurnya akan sangat nyenyak nanti.


Intan mematikan lampu utama di kamarnya, hanya ada lampu tidur dengan cahaya yang remang-remang. Intan menutup matanya dan mulai masuk kedalam mimpi indahnya...


__ADS_2