
...🍁🍁🍁🍁...
Intan tak berhenti tersenyum ketika mengingat dm nya yang dibalas oleh Dirganta, jika terus begini rencananya agar dekat dengan Dirganta akan semakin berjalan mulus. Para pasien yang berpapasan dengan ia pun terheran melihat ia senyum-senyum sendiri.
Tak terkecuali seorang nenek yang saat ini sedang ia periksa.
"Nak Intan lagi jatuh cinta ya. Tadi dari nenek perhatiin senyum-senyum sendiri mulu." Seorang nenek yang terbaring di atas brankar ruang inap itu bertanya pada Intan.
"Eh kok nenek tau, saya seneng banget nek. Soalnya orang yang saya suka udah mulai peka. hehehe." Intan mendudukkan bokongnya dikursi yang berada di samping brankar nenek itu.
"Kalo gitu bagus dong, apa orang nya juga kerja disini?" tanya nenek itu sambil berbisik.
"Bener nek, orangnya juga kerja disini. Namanya dokter Dirganta. Nenek jangan kasi tau orang lain ya, ini rahasia kita berdua." balas Intan dengan berbisik.
"Tenang aja, nenek bakalan jaga rahasia kok. Nenek juga doain semoga kamu sama dokter Dirganta berjodoh."
"Amiin nek, terima kasih doanya."
"Kamu ngapain masih disini? Apa kamu gak tau kalo masih banyak pasien yang harus diperiksa." Ucap seorang lelaki yang baru masuk ruangan itu.
"Maaf dok, saya tadi lagi ngobrol sama pasien nenek ini dok."
"Sekarang juga menghadap keruangan saya!!!" Dirganta keluar dari ruangan itu, berjalan kedalam lift dan naik kelantai dimana ruangannya berada.
Intan yang melihat Dirganta sudah pergi pun kembali menatap sang nenek.
"Maaf nek, Intan harus pergi soalnya dokter Dirganta kalo marah serem."
__ADS_1
"Iya nak pergi aja, tapi apa itu dokter yang nak Intan suka?" Nenek itu berusaha menggoda Intan.
Intan tersipu malu, "Ia nek. Itu dokter Dirganta, dokter yang Intan ceritain tadi. Kalo gitu Intan pamit dulu ya nek. Kalo butuh sesuatu nenek tinggal pencet tombol yang disamping nenek itu." Intan menunjuk letak tombol yang dimaksud, lalu keluar dari ruangan itu. Ia harus cepat pergi sebelum Dirganta bertambah marah.
Intan sampai dilantai dimana ruangan Dirganta berada, ia segera mempercepat langkahnya, Intan mengetuk pintu itu lalu masuk kedalam. Intan melihat dokter Dirganta sudah duduk dikursi kebanggaannya.
"Maaf dokter, tapi ada apa ya dokter manggil saya?" Intan hanya menatap pemuda yang duduk didepannya ini.
"Kamu tau gak sih salah kamu!? kamu itu selalu aja lamban kalo kerja, kamu pikir pasien lain gak nungguin kamu. Saya kasi kamu peringatan ya, kalo kamu masih gini saya akan kirim surat ke universitas kamu buat narik kamu kembali." Dirganta hanya menatap Intan dengan marah. Ia sudah cukup bersabar selama ini.
"Maaf dokter, saya gak bakalan ulangi lagi. Saya bakalan kerja dengan giat sekarang. Sekali lagi mohon maaf dokter." Intan menundukkan kepalanya, Dirganta jika marah benar-benar mampu membuatnya tak berkutik.
"Sekarang pergi, lihat kondisi pasien lain. Jika saya lihat kamu masih lalai, ancaman saya akan berlaku."
Intan pamit undur diri dan pergi dari sana.
*****
Jam makan siang Intan masuk kembali kedalam ruangan Dirganta.
"Dokter ini udah jam makan siang, dokter mau makan siang bareng gak?" Intan menatap Dirganta penuh harap. Ia sangat berharap jika Dirganta mau menerima ajakannya.
"Kamu gak liat saya masih sibuk, kalo saya laper saya pasti pergi makan kok. Dan gak usah ngajak saya, saya gak mau orang di rumah sakit ini bergosip tentang saya." Dirganta menolak ajakan itu dengan mentah-mentah.
Intan yang mendengar itu pun kesal. Dirganta benar-benar keterlaluan. Intan jadi semakin semangat untuk mendekati pemuda itu.
"Kalo gitu saya pergi dulu dokter, Selamat makan siang tapi untuk nanti."
__ADS_1
Intan keluar dari ruangan itu, berjalan kelantai dimana kantin berada. Intan melihat hidangan apa saja yang tersedia di kantin rumah sakit itu.
Setelah memilih makan siangnya Intan pun membawa nampan makanannya menuju sebuah meja yang terletak disudut kantin itu.
Ia mendudukkan dirinya di sana dan mulai memakan makan siang nya, saat hendak berdiri seseorang tiba-tiba lewat dari samping tubuhnya.
Intan yang terkejut pun hampir jatuh, Intan melotot kan matanya.
"Kalo jalan lihat-lihat dong, gimana kalo saya jatuh tadi, punya mata kok gak dipake." Intan melihat pemuda didepannya dengan kesal. Namun saat pemuda itu membalikkan tubuhnya matanya kembali membulat. Astaga kok malah dokter Dirganta sih, gimana ni.
"Emang sifat kamu emang gini ya? Judes banget. Ganggu ketenangan orang lain. Saya liat kamu udah selesai makan, makanya saja juga mau makan dimeja ini." Dirganta mendudukkan bokong nya dikursi yang berada diseberang Intan.
"Maaf dokter, saya gak tau kalo dokter yang lewat. Dokter juga ngapain lewat situ sih, kalo saya jatoh tadi gimana, emang dokter mau tanggung jawab?." Intan membela dirinya. Ia merasa dirinya tidak salah. Dan memang gak salah.
"Saya gak peduli, lagi pula ngapain saya harus tanggung jawab, kalo kamu baik-baik aja. Sekarang kamu pergi! saya mau makan. Kalo kamu tetap disini nafsu makan saya jadi hilang." Dirganta mengusirnya terang-terangan, Intan merasa harga dirinya benar-benar di injak-injak. Ia tidak terima!!
"Kalo gitu saya gak bakalan pergi kalo dokter Dirganta yang terhormat juga gak pergi. Saya bakalan tetap disini, saya juga gak papa kalo liatin dokter makan." Intan melipat tangannya di dada, menantang Dirganta.
"Kamu benar-benar cari masalah ya, kamu emang gadis keras kepala."
"Kalo menurut dokter Dirganta saya keras kepala gak papa, terserah dokter aja." Intan tersenyum tipis "Yang penting dokter Dirganta mau sama saya." Lanjut Intan dalam hati.
"Terserah kamu, saya lagi males ladenin celotehan yang gak berguna kamu."
Dirganta menyantap makan siangnya dengan lahap, Sebenarnya ia sudah lapar dari tadi, tapi karena ia tidak mau digosipkan aneh-aneh makanya dia menolak ajakan itu. Lagi pula harga dirinya bisa-bisa turun jika ia pergi dengan perempuan didepannya ini.
Bagaimana pun ia telah memarahi perempuan ini tadi, jadi kalo ia menerima ajakan itu perempuan didepannya ini pasti berbangga hati nantinya.
__ADS_1
Intan memperhatikan dokter Dirganta, dokter didepannya ini kenapa semakin tampan???? semakin hari ia jadi semakin cinta. Ahh Intan sudah tidak sabar menunggu hari dimana Dirganta klepek-klepek dengannya. Secepatnya Intan harus bisa dekat dengan dokter tampan itu. Jika perlu dia harus segera menyatakan perasaannya, Siapa tau dengan itu dokter Dirganta akan mau menerima dirinya dan perasaannya.