Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Dokter senior pengganti


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Intan sampai dirumahnya ketika hari sudah malam. Intan berjalan gontai menuju kamarnya, masuk lalu membaringkan tubuhnya.


"Capek banget, dari pagi sampe malem badan kurus ini gak pernah istirahat. Dokter Gina bener-bener kasi tugas yang banyak. Hah. Rasanya udah gak kuat." Ucap Intan memejamkan matanya.


Terdengar suara pintu terbuka menampilkan sosok ibunya yang sudah berdiri didepannya.


"Sayang jangan langsung tidur ya, yok mandi dulu baru makan. Papa udah nunggu dibawah tu." ucap ibunya mencoba membujuk putri nya itu.


Ibunya mengerti jika putrinya itu sibuk hari ini, pasti sangat melelahkan. Tapi walaupun begitu putrinya itu juga harus ingat kesehatan jangan pernah lupa makan.


"Iya ma, bentar lagi Intan turun. Intan mandi dulu. Mama pergi aja dulu." ucap Intan bangkit lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Intan kini sudah siap dengan pakaian tidurnya. Intan lalu turun kebawah menemui ayah dan ibunya.


"Intan udah dateng sayang. Sekarang ayo kita mulai makannya, perut papa dari tadi udah bunyi." ucap ayahnya bercanda.


Intan dan ibunya hanya tertawa. Papanya terkadang memang suka bercanda.


Makan makan itu kini sudah selesai. Ayah dan ibunya juga sudah kembali ke kamar mereka. Intan lalu melangkahkan kakinya kembali ke kamar.


Intan mendudukkan bokongnya di kursi belajarnya. Lalu melihat laporan yang dikirim dokter Gina padanya. Ia harus memeriksa semua laporan itu malam ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari dan Intan masih memeriksa laporan itu. Matanya sudah berat karena mengantuk. Sering kali ia menguap. Ia benar-benar mengantuk. Tapi jika ia tidak mengerjakannya sekarang, bisa-bisa dokter Gina akan memarahinya.


Dan akhirnya laporan itu selesai jam 4 pagi. Intan lalu meregangkan otot nya lalu berjalan kearah kasur yang terlihat empuk itu. Ia merebahkan tubuhnya dan mulai menyelimuti dirinya. Intan pun tertidur dengan lelap.


*****


Cahaya matahari memasuki kamar bernuansa ala-ala princess itu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi tapi sang pemilik kamar belum juga membuka matanya. Ia masih bergulung nyaman dengan selimutnya.


Hingga ibunya mengetok pintu kamar itu, tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Ibunya pun memasuki kamar itu dan menemukan jika putrinya masih tertidur lelap.


"Sayang bangun. Kamu mau terlambat hah. Ayo bangun." ucap ibunya lembut menggoyang tubuh putrinya itu.


Intan yang merasa terganggu pun membuka matanya. Ia melihat ibunya yang duduk atas kasur dan menatapnya.

__ADS_1


"Mama ngapain disini? Intan masih ngantuk. Bentar lagi ya banguninnya." ucap Intan membalikkan tubuhnya.


"Lihat tuh ke jendela matahari udah nongol. Kalo mau terlambat ya tidur aja lagi." Kata ibunya lalu pergi dari kamar itu.


Intan lalu membuka matanya dengan lebar. Ia melihat ke arah jendela dan membulatkan mata, matahari sudah naik. Intan lalu melihat jam yang ada di atas nakas nya dan membuka mulutnya. Ternyata sudah jam 8 lewat 15. Astaga ia bisa terlambat.


Intan lalu berdiri dan berlari kearah kamar mandi. Hanya perlu waktu 15 menit untuk ia bersiap. Intan lalu menuruni tangga dan tidak melihat papanya, "Kayaknya papa udah berangkat kekantor deh." ucapnya.


"Ma, Intan sarapan dirumah sakit aja ya. Intan udah terlambat soal nya." Ucap Intan berlari kearah mobilnya.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jangan sampai ia terlambat. Ia tidak ingin nilainya buruk nanti.


Terdengar bunyi ban berdecit dari mobil yang melaju cepat itu. Intan keluar dan langsung berlari kedalam rumah sakit itu. Intan melihat jika pintu lift sebentar lagi akan tertutup. Ia pun mempercepat larinya dan menahan pintu lift itu dengan kakinya.


Pintu lift itu terbuka kembali, Ia lalu masuk kedalam dan memencet tombol menuju lantai 8.


Intan memundurkan tubuhnya dan bersandar di dinding lift dingin itu. Intan mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Seorang laki-laki tampan melihat itu semua dan berkata.


"Masih koas aja udah dateng kesiangan. Gimana kalo udah jadi dokter beneran. Kalo saya jadi dokter Gina, saya pasti udah kirim surat pemberhentian kamu." Ucap lelaki itu dengan sinis.


Dirganta melambaikan tangannya ke wajah Intan.


"Apa kamu melamun hah? Ini udah lantai 8, cepet keluar. Saya mau naik ke lantai ke 10. Bener-bener gak konsentrasi." decak Dirganta membuyarkan lamunan Intan.


Intan lalu menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar terlihat bodoh sekarang.


"Maaf dokter Dirganta, saya melamun tadi. Kalo begitu saya permisi." ucap Intan membungkukkan badannya dan berlari keluar lift menuju ruangan dokter Gina.


Intan mengetuk dan masuk kedalam ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya tapi tak melihat dokter Gina di ruangan itu.


Tak lama seorang perawat masuk ke dalam dan berkata.


"Dokter Gina berpesan jika beliau mengambil cuti. Mertuanya sakit, jadi beliau tidak dapat hadir. Beliau juga mengatakan jika anda akan dibimbing dokter senior lain selama ia cuti."


"Ngomong-ngomong siapa ya dokter senior itu jika boleh tau." tanya Intan kepo.

__ADS_1


"Saya gak tau. Tapi yang jelas saat ini anda diminta pergi keruangan nya yang terletak dilantai 10. Mari saya antar."


Intan dan perawat itu pergi menuju lantai 10. Tempat dimana senior lain yang akan membimbing Intan.


"Nah ini ruangannya. Saya cuma bisa anter sampai sini. Soalnya saya masih banyak kerjaan." ucap perawat itu.


"Gak papa kok. Makasih ya udah anterin." ucap Intan berterima kasih.


Perawat itu pun pergi meninggalkan Intan sendiri didepan ruangan senior itu. Intan jadi gugup. Kira-kira dokter senior yang mana yang akan jadi pengganti sementara dokter Gina.


"Semoga aja bukan dokter killer. Bisa-bisa aku cepat tua nanti karena stres."


Intan pun menarik nafasnya dalam-dalam, memberanikan dirinya untuk masuk kedalam ruangan itu.


Intan mengetuk pintu itu dengan hati-hati, tapi tidak ada tanggapan dari dalam ruangan itu.


Intan kemudian mengetuk lagi tapi hasilnya sama.


"Belum ketemu aja udah buat emosi." Intan lalu mengetuk pintu lagi. Tak lama terdengar sautan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Intan membuka pintu itu dan masuk kedalam.


"Selamat siang dokter. Saya Intan, mahasiswi koas yang akan dokter bimbing." ucap Intan memperkenalkan dirinya sopan.


Dokter itu hanya diam. Intan jadi dibuat kesal. Dokter ini bener-bener nguji kesabaran dia.


"Oh jadi kamu mahasiswi yang akan jadi asisten saya selama seminggu. Saya bakalan ajarin kamu gimana jadi dokter yang taat peraturan." ucap dokter didepannya.


Intan lalu mengangkat kepalanya dan melihat siapa dokter itu. Matanya sontak membulat dan mulutnya terbuka lebar.


Kenapa dokter senior penggantinya malah Dirganta. Jika begini ia tidak akan pernah fokus. Tapi tunggu, kalo dokter seniornya Dirganta, Intan bakalan terus ada dideketnya dong.


"Tuhan benar-benar sayang ama aku. Kalo gini caranya, Aku malah punya kesempatan besar buat deket sama dokter tampan ku ini." ucap Intan bersorak dalam hati.


"Mulai sekarang, kamu akan saya bimbing. Kamu juga harus menuruti peraturan saya. Apa kamu mengerti." ucap Dirganta tidak menatap lawan bicaranya.


Intan hanya mengangguk. Ia sangat sedang sekarang. Yang penting sekarang ia harus memikirkan cara

__ADS_1


bagaimana membuat Dirganta membalas perasaannya.


__ADS_2