
Intan menyembulkan kepalanya dari pintu kamar mandi, Iya lupa mengambil pakaian gantinya tadi. Dan itu semua gara-gara Dirganta yang tiba-tiba menggendongnya kedalam.
Dirganta terlihat asyik membaca kertas-kertas ditangannya. Dan Intan tidak tau dimana baju ganti untuknya.
"Psst...Pssttt Dirganta... Dirganta.." panggil Intan, Namun Dirganta tidak mendengar yang ia ucapkan.
"Dirganta.." panggil Intan kembali namun agar keras dari sebelumnya. Dan ia bersyukur karena Dirganta mendengarnya.
"Ada apa?" Dirganta menatap Intan heran karena gadis itu hanya mengeluarkan kepalanya saja.
"Kenapa kau hanya mengeluarkan kepalamu saja? Kau seperti seorang gadis yang sedang mengintip seorang pemuda."
Intan mendengar itu jadi kesal. Untuk apa dia harus mengintip seseorang.
"Aku lupa bertanya dimana baju ganti untukku." Intan memegang handuk yang ia kenakan dengan erat. Ia takut handuk itu terlepas.
Dirganta mengangkat semua kantong ditangannya.
"Apa ini yang kau cari Intan?" Dirganta menampilkan senyum penuh niat.
"Jika kau mau ambillah kemari." Dirganta menaik-turunkan alisnya menggoda Intan.
"Dasar mesum. Cepat berikan aku pakaian itu. Atau aku akan masuk angin nanti." ujar Intan dengan kesal.
Dirganta tertawa melihat wajah Intan yang terlihat menggemaskan ketika sedang kesal.
"Ini ambil. Kan udah aku kasih. Tinggal ambil aja kok."
"Kalo gak dikasi aku bakalan pulang trus gak pernah mau ketemu kamu lagi." ancam Intan yang sudah habis kesabaran. Dia sudah lelah jika harus berdiri seperti ini sambil memegang handuknya.
Dirganta yang takut akan ancaman Intan pun melemparkan pakaian Intan sehingga pakaian itu tidak sengaja malah terlempar ke wajah Intan dan terjatuh ke lantai.
Intan menganga tidak percaya pada apa yang dilakukan Dirganta. Intan tidak bisa lagi ia sudah berada di fase marah bukan kesal lagi. Intan dengan cepat mengambil pakaiannya yang tergeletak dilantai dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
Dirganta melihat itu semua menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak sengaja melempar itu ke wajah Intan. Semoga Intan dapat memaafkannya nanti. Dirganta harus menyiapkan mentalnya dulu sebelum Intan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Intan kesal bukan main. Dia menatap dirinya di cermin.
"Bisa gak sih pagi gak usah bikin kesel. Udah dijagain semalaman paginya malah ngajak ribut." Intan menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menetralisir amarahnya.
Intan mulai mengenakan bajunya. Namun ketika melihat ke cermin, ternyata baju yang dia kenakan terbalik. Yang hadap depan malah dia bukan jadi kebelakang. Intan membuka baju itu dengan kesal.
Kenapa paginya harus seburuk ini. Tadi Dirganta dan sekarang karena baju sialan yang berada ditangannya.
Intan pun kembali mengenakan bajunya. Intan melihat dirinya di cermin. Ia sudah selesai sekarang. Tidak ada lagi drama baju terbalik. Intan pun akhirnya keluar dari kamar mandi.
Intan melihat Dirganta yang menatap dirinya dengan tatapan?? bersalah? Intan tidak peduli akan hal itu. Intan pun mendudukkan dirinya disamping Dirganta dan langsung mengambil sarapan di atas meja, tanpa permisi langsung memakan sarapannya.
Dirganta yang melihat cara makan Intan yang seperti sedang menahan sesuatu pun merasa bersalah. Intan pasti marah padanya. Dirganta tak menyangkal jika dirinya salah, karena itu memang salahnya.
Selesai makan Intan pun langsung berdiri mengambil ponselnya. Dia terduduk di atas kasur rumah sakit, memainkan ponselnya.
Dirganta menghela nafasnya. Pun Dirganta berjalan menghampiri Intan. Dia ikut mendudukkan dirinya disamping Intan. Kasur itu memang terbilang cukup besar untuk 2 orang karena kamar tempatnya dirawat adalah kamar VIP.
"Maafin ku ya, aku gak bermaksud buat lempar pakaian kamu ke muka kamu. Aku gak sengaja. Beneran deh." ucap Dirganta dengan tatapan memelas.
Intan hanya acuh tak acuh. Tidak akan semudah itu untuk mendapatkan maafnya. Intan hanya menatap ponselnya, walaupun ia juga tidak tau apa yang harus dia lihat di ponselnya. Itu hanya sebagai alasan sibuknya.
"Maafin aku ya. Aku mohon. Aku gak sengaja tadi. Gimana kalo sebagai permintaan maaf aku, aku bakalan bawa kmu ke suatu tempat nanti. Atau kamu mau pergi kemana? Aku bakalan bawa kamu ke sana."
Jika rayuan yang dia katakan tidak berhasil, Dirganta sudah tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia memang tidak pernah berurusan dengan wanita. Jadi dia sangat payah jika meminta maaf pada wanita.
Intan menghela nafasnya pasrah. Sudah lah tidak ada gunanya jika harus merajuk, Lagi pula Dirganta kan akan membawanya pergi, jadi tidak sia-sia jika dia mendiami Dirganta.
"Iya aku maafin. Tapi kamu janji ya bawa aku ke tempat yang kamu sebut tadi." Intan menatap Dirganta dengan tatapan menyelidik.
Dirganta tersenyum. Akhirnya rayuannya bisa diandalkan. Dia bersyukur jika Intan tidak seperti gadis lain yang sangat susah dirayu ketika merajuk.
"Iya aku bakalan bawa kamu ke sana kok. Kalo kamu mau hari ini juga aku bisa bawa kamu."
Intan mendengar itu membulatkan matanya. Tidak. Ia tidak mau jika pergi sekarang. Apa pemuda didekatnya ini gila? Dia baru demam panas tadi malam, dan Dirganta malah ingin membawanya hari ini. Bagaimana jika dirinya kembali demam nanti? Tidak, tidak! Intan tidak mengkhawatirkan nya, Intan hanya tidak ingin jika harus berjaga sepanjang malam lagi.
__ADS_1
"Enggak. Aku gak mau sekarang. Aku masih capek, tidur aku juga kurang semalem karena harus jagain kamu."
"Tapi aku udah sehat kok. Lihat, badan aku juga udah gak panas lagi." Dirganta mengambil tangan Intan dan menempelkannya di keningnya.
Memang benar jika panas tubuh Dirganta sudah turun. Tapi tetap saja. Intan tidak mau mengambil resiko.
"Enggak. Aku gak boleh kemana-mana dulu. Kamu harus bener-bener sehat 100 persen baru boleh keluar dari rumah sakit."
Dirganta tersenyum. Dia bahagia jika Intan mengkhawatirkannya. Berarti perasaan Intan padanya belum pudar. Dia hanya harus menunggu kapan Intan dapat menerima perasaannya. Dan jika saat itu telah terjadi Dirganta akan langsung mengikat Intan dalam hubungan yang sebenarnya.
Intan melihat Dirganta yang senyum-senyum sendiri jadi heran. Apa otak Dirganta bermasalah? Pemuda didekatnya ini dari tadi hanya tersenyum seperti orang bodoh. "Apa yang ada dipikirannya?" pikir Intan dalam dalam hati.
Dirganta yang melihat Intan memandangnya seperti terheran pun kembali menormalkan ekspresinya. Dirganta berdehem pelan.
"Sekarang kamu kemana? Apa kamu mau pulang atau tetap disini sama aku?"
"Aku disini aja dulu. Kamu kan gak ada yang jagain. Gimana kalo kamu demam panas lagi nanti. Syukur aja tadi malam aku bisa nemuin kamu dikamar itu." Intan berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.
Dirganta mengerutkan keningnya. Dari mana Intan tau kamar yang berada di ruangan nya?
"Kamu tau kamar itu dari mana? Dan juga kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di rumah sakit ini. Bukannya kamu lagi koas?"
Intan gelagapan. Tidak mungkin jika dia mengatakan bahwa Dia Menghubungi dokter Gina untuk menanyakan keberadaan Dirganta. Bahkan yang lebih parah dia datang kesini adalah karena dokter Gina mengatakan jika ada seorang wanita yang masuk kedalam ruangan Dirganta.
"Gak ada, aku cuma ngajak kamu makan malam. Tapi pas masuk kedalam ruangan kamu, kamu nya malah gak ada. Trus pas aku telepon ponsel kamu bunyi, aku cari-cari asal bunyinya. Tapi malah berhenti di rak buku. Aku pikir aku Letakin ponsel kamu di sana. Tapi pas aku lagi bolak lagi buku tiba-tiba rak itu malah berbelah jadi dua. Aku kaget. Pas aku masuk, aku lihat kamu tidur. Tapi kamu kayak bergumam pelan gitu. Pas aku cek ternyata kamu badan kamu panas banget. Aku jadi minta bantuan, dan mereka bantu. Itu dia mengapa kamu bisa ada disini."
Intan menarik nafasnya setelah bercerita panjang lebar. Dia memang menghilangkan sebagian cerita asli agar Dirganta tidak terlalu merasa percaya diri.
Dirganta yang mendengar cerita panjang Intan hanya mengangguk. Dia sebenarnya sedang menahan tawa sekarang. Gadis itu bercerita tiada henti. Intan ternyata memiliki nafas yang cukup panjang sehingga bisa menceritakan itu tanpa ada jeda.
"Iya aku percaya kok."
Intan mendengar tanggapan Dirganta jadi kesal kembali. Dia sudah bercerita panjang lebar tapi tanggalan yang dia dapat hanya itu? Tidak ada yang lain? Berterima kasih padanya karena telah menemukannya? Atau pun meminta maaf karen telah direpotkan.
Intan benar-benar sudah habis pikir. Intan pun memukul-mukul pelan lengan Dirganta.
__ADS_1
Dirganta yang mendapat serangan tiba-tiba pun meminta ampun. Pukulan Intan memang tidak sakit sama sekali. Tapi itu sudah membuatnya kegelian.
Keduanya pun tertawa bersama. Intan yang tetap memukul-mukul pelan Dirganta dan Dirganta yang mencoba menahan geli yang dia rasakan..